Tak Sesederhana Kata “Air”


Alhamdulillah syukur kepada Allah yang telah mencurahkan segala nikmatnya kepada kita, termasuk nikmat air. 

Air memang tampak sederhana, sesederhana kata ‘air’ itu sendiri. Namun ketidakberdayaan makhluk hidup tanpa air semestinya membuat kita berpikir ulang: benarkah air adalah sekedar cairan bening yang biasa saja? Jawabannya sudah pasti: Tidak. Meskipun seringkali kita abaikan dan tak pernah menjadi bahan pemikiran serius, air ternyata menyimpan segudang informasi yang sungguh penting. Dengan memiliki pengetahuan inilah kita akan tahu betapa air, molekul yang hanya tersusun atas dua atom hidrogen dan satu atom oksigen, adalah cairan yang luar biasa. Terlalu banyak keistimewaan air yang mustahil dapat dijelaskan secara panjang lebar.
Kekeringan atau banjir adalah dua bencana akibat air yang sangat kurang atau terlalu berlimpah. Ini adalah isyarat penting betapa air tidak sekedar diciptakan begitu saja. Namun air juga harus ada dalam jumlahnya yang seimbang agar kehidupan di bumi dapat berlangsung dengan baik.



Nampaknya biasa saja...

Tenang yang menghanyutkan, begitulah penggambaran air sebagaimana biasa kita dengar. Air yang cair memang memiliki sifat menghanyutkan. Namun hanya inikah sifat air? Kesederhanaan, penampakan air ternyata menyimpan misteri yang jauh lebih besar lagi. Air ternyata tidak sesederhana wujudnya. Besarnya bencana yang timbul karena ketiadaan ataupun keberadaan air sudah cukup mengatakan kepada kita betapa penting dan luar biasa sifat air sesungguhnya.

Sifat-sifat air telah lama menarik perhatian para ilmuwan. Usaha pertama untuk mengkaji masalah ini secara rinci tertuang dalam sebuah buku yang terbit pada tahun 1832 karya seorang naturalis Inggris, William Whewell, berjudul “Astronomy and General Physics Considered with Reference to Natural Theology”. Whewell mengulas sifat-sifat air dan menemukan bahwa sebagiannya tampak menyalahi sejumlah aturan baku dan hukum alam. Kesimpulan yang ia dapatkan adalah ketidaksesuaian ini justru menjadi sebagai bukti bahwa air telah secara khusus diciptakan agar kehidupan dapat berlangsung.

Air telah diciptakan untuk kehidupan dengan tingkat kesesuaian yang begitu tinggi sehingga tidak mungkin digantikan oleh cairan lain. Sebagian besar planet ini, yang semua cirinya (suhu, cahaya, spektrum elektromagnetik, atmosfir, permukaan, dsb.) sangatlah pas dan sesuai untuk kehidupan, memiliki air dalam jumlah yang sangat tepat sebagaimana yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup. Sangatlah jelas bahwa ini semua tidak mungkin ada dengan sendirinya dan mestilah menunjukkan penciptaan secara sengaja.

Dengan kata lain, segala ciri fisika dan kimia air menunjukkan bahwa air diciptakan secara khusus bagi kehidupan. Bumi, yang sengaja diciptakan agar manusia hidup di dalamnya, dihidupkan dengan air ini yang khusus diciptakan untuk menjadi landasan pokok kehidupan manusia. Dengan air, Allah telah menghidupkan kita, dan dengannya pula Allah telah menumbuhkan makanan yang kita makan dari tanah:

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS 16 : 10-11)

Benih Pengarung Samudra

Sejumlah tumbuhan memiliki benih yang tersebar luas dengan bantuan air. Benih-benih jenis ini biasanya memiliki ciri khusus yang berbeda dengan benih tumbuhan jenis lain. Misalnya, tumbuhan yang menyebarkan benihnya dengan bantuan air memiliki bentuk tertentu yang menjadikan beratnya seringan mungkin dan permukaannya seluas mungkin. Selain itu, jaringan apung penyusunnya dapat berbentuk beragam. Benih memiliki ruangan-ruangan kecil berisi udara yang membentuk sponges, atau berupa udara yang terperangkap dalam rongga tertutup, sehingga benih dapat terapung. Juga, dinding sel jaringan apung memiliki struktur yang mampu mencegah masuknya air ke dalam benih. Selain itu, terdapat rongga tambahan di bagian dalam benih yang melindungi embrio, bagian benih yang berisi seluruh informasi genetis tumbuhan tersebut.

Di antara beragam benih tumbuhan yang tersebar melalui air ini, terdapat benih-benih yang mampu berada di dalam air selama kurang lebih 80 hari tanpa rusak dan tanpa berkecambah dikarenakan strukturnya yang kokoh. Yang paling terkenal di antaranya adalah benih atau buah pohon kelapa. Benih pohon kelapa tersimpan dalam tempurung keras demi keamanannya selama perjalanan. Dalam tempurung keras ini, segala perbekalan yang diperlukan untuk perjalanan jauh telah tersedia, termasuk air. Juga, bagian terluarnya diselaputi lapisan keras dan kuat yang mencegah masuknya air yang dapat merusak benih.

Ciri buah kelapa paling menonjol adalah adanya ruangan-ruangan berisi udara yang membuatnya terapung di air. Karenanya, buah kelapa dapat terbawa ombak lautan hingga ribuan kilometer jauhnya. Ketika terdampar di suatu pantai, buah kelapa ini mulai berkecambah dan tumbuh menjadi pohon kelapa.

Sungguh istimewa bahwa buah kelapa hanya berkecambah segera setelah mencapai daratan. Padahal, sebagaimana diketahui, benih tumbuhan umumnya berkecambah segera setelah menemukan air. Tapi ini tidak berlaku bagi tumbuhan kelapa. Dengan sifat dan strukturnya yang tersendiri, tumbuhan yang menyebarkan benih melalui air memiliki perkecualian. Sebab, jika benih tumbuhan jenis ini berkecambah segera setelah bertemu air, maka benih ini takkan mungkin dapat tumbuh di air sehingga takkan pula bertahan lama. Jika ini yang terjadi, maka tumbuhan tersebut sudah punah dari dulu. Namun, dengan segala sifat dan cara hidup yang telah sesuai dengan lingkungan khasnya, tumbuhan ini dapat terus melangsungkan kehidupannya. Jelas bahwa sifat-sifat dan rancangan cermat dan sempurna ini tak mungkin ada dengan sendirinya sebagaimana pernyataan para evolusionis.

Seluruh sari makanan dan air yang tersimpan dalam benih, jangka waktu perjalanannya hingga mencapai daratan, serta seluruh perhitungan cermat yang dibutuhkan untuk mewujudkan rancangan ini telah ditetapkan oleh Allah. Dia-lah Pemilik kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas.

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Qs 31 : 20)

Kaum Saba Dan Banjir ‘Arim

Saba yang dibangun di selatan jazirah Arab pada abad ke-11 sebelum masehi, adalah sebuah peradaban besar. Al Qur’an memaparkan kisah Ratu Saba dan Nabi Sulaiman secara amat rinci. Namun, terdapat kisah lain dalam Al Qur’an tentang kaum ini, yakni perihal kehancuran dahsyat mereka. 

Naskah tertua yang menyatakan keberadaan Kaum Saba adalah catatan tahunan peperangan dari zaman raja Assyria, Sargon II. Menurut prasasti ini, Sargon menyebut Saba sebagai salah satu negeri yang membayar upeti padanya. Ini adalah catatan tertua yang secara pasti memberitakan adanya negeri Saba. Catatan kuno yang memberitakan kaum Saba menyatakan bahwa, sama halnya dengan bangsa Phunisia, mereka adalah negeri yang melakukan kegiatan perniagaan, dan sejumlah jalur perdagangan terpenting di utara Arab ada dalam kekuasaan mereka. Penduduk Saba terkenal dalam sejarah sebagai bangsa berperadaban. Prasasti dari para penguasa Saba seringkali berbicara tentang "perbaikan", "pembiayaan", "pembangunan".

Bendungan Ma'rib, yang reruntuhannya masih tersisa hingga kini, adalah bukti penting kemajuan teknologi kaum Saba. Berkat bendungan ini, sebuah negeri hijau terhampar di tengah gurun pasir. Ibukotanya, Ma'rib, diuntungkan oleh bendungan ini, dan menjadi makmur karena berbagai keuntungan geografisnya. Kota ini terletak dekat sungai Adhanah. Kaum Saba memanfaatkan letak ini dengan mendirikan bendungan seiring dengan pembangunan peradaban mereka, dan mulai mengairi wilayah tersebut. Pertanian menjadi makmur dan mereka pun menikmati kesejahteraan hidup yang tinggi. 

Ibukota Ma'rib adalah salah satu kota terindah di zamannya. Penulis Yunani, Pliny, yang berkunjung dan sangat memuji negeri ini, mengatakan dalam karyanya tentang hijaunya negeri tersebut. Bendungan di Ma'rib berketinggian 16 meter dengan lebar 60 meter, dan panjang 620 meter. Perhitungan menunjukkan; dua dataran luas di kedua sisi kota mampu diairi bendungan tersebut. Kedua dataran ini terkadang digambarkan dalam prasasti bangsa Saba sebagai "Ma’rib dan dataran kembar". 

Ungkapan "Dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri " dalam Al Qur’an sangat mungkin merujuk pada perkebunan anggur dan kebun-kebun menawan di dua lembah ini. Berkat bendungan dan sarana pengairannya, daerah ini terkenal sebagai yang terbaik pengairan dan kesuburannya di Yaman. 

Ketika kita mempelajari ayat-ayat Al Qur’an berdasarkan temuan sejarah ini, kita dapati kesesuaian besar di antara keduanya. Penemuan arkeologis dan bukti sejarah benar-benar cocok dengan yang tertulis dalam Al Qur’an. Kaum tersebut mengabaikan peringatan nabi yang diutus kepada mereka, dan tidak mensyukuri nikmat Allah, akhirnya mereka dihukum dengan bencana mengerikan. Al Qur’an mengisahkan:

Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. (QS 34:15-17)

Kaum Saba hidup di daerah sangat indah dengan perkebunan anggur dan kebun-kebun subur. Negeri Saba terletak di jalur perniagaan sehingga sangat makmur, dan menjadikannya salah satu kota terkemuka di zamannya. Yang hanya perlu dilakukan kaum Saba dalam kelapangan ini adalah "memakan rezki yang dianugerahkan Tuhan mereka dan bersyukur kepada-Nya." Tapi mereka tidak melakukannya, malahan, seperti yang dikatakan dalam sebuah ayat, "mereka berpaling dari Allah…"

Dengan bendungan Ma’rib yang mereka bangun dengan teknologi sangat maju, kaum Saba memiliki sistem pengairan yang hebat. Tanah yang subur dan penguasaan atas jalur-jalur perdagangan menjadikan mereka memiliki taraf hidup tinggi dan mewah. Akan tetapi mereka berpaling dari Allah, padahal kepada-Nyalah mereka seharusnya bersyukur atas segala kenikmatan tersebut. Karenanya, bendungan mereka jebol, dan banjir ‘Arim menghancurkan segala sesuatu yang mereka miliki.

Reruntuhan bendungan Ma’rib merupakan salah satu karya terpenting kaum Saba . Bendungin ini jebol oleh banjir ‘Aarim sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an, dan semua lahan pertanian diterjang banjir ini. Wilayah Saba hancur karena jebolnya bendungan Ma’rib. Negeri Saba kehilangan pilar-pilar perekonomiannya dalam waktu singkat dan kemudian runtuh sama sekali. Di masa kini, bendungan terkenal kaum Saba tersebut dipergunakan lagi sebagai sarana pengairan.

Keangkuhan atas kemakmuran mereka mengakibatkan mereka merugi. Seluruh negeri diratakan oleh banjir dahsyat. Perkebunan anggur dan kebun-kebun kaum Saba tiba-tiba lenyap terbenam air. Azab yang menimpa kaum Saba dilukiskan dalam Al Qur’an dengan ungkapan, "Sailul ‘Arim," atau Banjir ‘Arim. Istilah Al Qur’an ini juga mengisahkan pada kita bagaimana bencana ini terjadi. Kata "’Arim" berarti "bendungan" atau "tanggul". "Sailul ‘Arim” menjelaskan bagaimana banjir berlangsung setelah jebolnya bendungan.
Arkeolog Kristen, Werner Keller sepakat bahwa Banjir ‘Arim sesuai dengan gambaran Al Qur’an, ia menulis:

Selama 1500 tahun perkebunan rempah-rempah ini tumbuh subur di sekitar Ma’rib. Ini berlangsung sampai tahun 542 sebelum masehi—yakni saat bendungan itu jebol. Gurun pasir tandus perlahan menutupi negeri subur ini dan mengancurkan segalanya. Al Qur’an mengisahkan "Kaum Saba memiliki kebun-kebun indah dengan buah-buahan termahal yang ranum." Namun kaum tersebut berpaling dari Tuhan, sehingga Dia menghukum mereka dengan jebolnya bendungan. Setelah itu tak ada yang tumbuh di kebun-kebun negeri Saba, kecuali pohon berbuah pahit. (Werner Keller, The Bible as History, William Morrow and Company, Inc., New York, 1981, hlm. 216)

Al Qur’an memberitakan kepada kita bahwa Ratu Saba dan kaumnya menyembah matahari sebelum mereka tunduk dan mengikuti Nabi Sulaiman. Berita yang tertera pada prasasti menegaskan kebenaran ini. Dalam prasasti disebutkan bahwa mereka menyembah matahari dan bulan di tempat-tempat peribadatan mereka.
Bendungan, yang dapat dianggap sebagai sumber utama kemakmuran dan kesejahteraan Kaum Saba, juga menjadi jalan kehancuran kaum yang tak bersyukur itu. Setelah bencana Banjir ‘Arim, daerah ini berubah menjadi gurun pasir, dan bersamaan dengan lenyapnya lahan pertanian, kaum Saba kehilangan sumber pendapatan utama mereka. Kaum Saba mendustakan seruan agar beriman dan bersyukur kepada Tuhan, dan mereka pun diazab. Setelah kerusakan parah akibat banjir, kaum Saba mulai bercerai-berai. Mereka tinggalkan rumah-rumah mereka dan mengungsi ke wilayah utara Arabia, Mekkah dan Syria. Ma'rib, yang dahulunya didiami Kaum Saba, kini hanyalah reruntuhan tak berpenghuni, dan sungguh menjadi peringatan bagi siapa pun yang melakukan kesalahan serupa Kaum Saba.

 “ Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? …..
Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan K

0 komentar:

Posting Komentar

 

Instagram

Get My G+