Agama Yang Diturunkan Allah Swt


Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).
Asy-Syuura : 13


Imam asy-Syaukani dalam menjelaskan ayat ini, dia berkata:
Arti syari'at menurut bahasa Arab adalah, pendapat, agama, dan jalan yang terang. Syari'at juga berarti tempat air yang didatangi oleh para peminumnya. (Dalam bahasa Arab, jalan disebut) syari', karena ia merupakan jalan menuju tujuan. Adapun yang dimaksudkan syari'at di sini -yakni menurut istilah agama- yaitu apa yang Allah syari'atkan (buat peraturan) yang berupa agama, bentuk jama'nya adalah syaro-i'.

(Arti ayat ini) ialah, Kami telah menjadikan kamu –wahai Muhammad- berada di atas suatu jalan yang jelas dari urusan (agama itu) yang akan mengantarkanmu menuju al haq. "Maka ikutilah syari'at itu", yaitu amalkanlah hukum-hukumnya pada umatmu. "Dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui", terhadap tauhidullah dan syari'a-syari'at-Nya untuk hamba-hamba-Nya, mereka adalah orang-orang kafir Quraisy dan yang menyetujui mereka.

Dari keterangan ini, jelaslah bahwa istilah syari'at pada ayat-ayat ini mencakup semua bagian agama yang dibawa Rasulullah Saw, yang berupa Al-Haq (kebenaran) dan Al-Huda (petunjuk), dalam masalah 'aqidah dan hukum-hukum.

Telah Kami Syari’atkan bagi kamu sekalian pada Syari’at ini apa yang telah disepakati oleh semua Syari’at dan agama dalam masalah:

1.      Ushul Al-Aqidah, dasar-dasar/pokok akidah yaitu beriman kepada Allah Swt, para Rasul, para Malaikat dan hari akhir
2.      Ushul Al-Ibadah, dasar-dasar/pokok ibadah yakni mendirikan Shalat, menuanaikan zakat dan berikrar kepada Allah Swt dengan ketaatan
3.      Ushul Al-Akhlaq wa Usus Al-Fadha’il, dasar-dasar/pokok akhlaq dan keutamaan seperti jujur, menepati janji, menyampaikan amanat dan bersilaturahim serta diharamkannya zina, mencuri, merusak harta dan jiwa. Allah Swt telah berwasiat kepada semua nabi untuk menjaga persatuan dan jama’ah dan melarang mereka dari bercerai-berai dan berselisih.

Adapun asas agama yang dibawa oleh semua Nabi & Rasul adalah beribadah hanya kepada Allah Swt semata, Tuhan yang tiada sekutu bagi-Nya (Akidah Tauhid), sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku."
Al-Anbiyaa : 25

Muhammad Rasyid Ridha menyatakan, sesungguhnya sebab Allah Swt mensyari’atkan agama (Islam) itu karena dua perkara pokok, yakni:

1.      Menjernihkan ruh dan memurnikan akal dari noda-noda berakidah kepada kekuatan ghaib yang (dianggap) menguasai makhluk dan mampu mengatur segala yang ada agar selamat dari tunduk dan patuh dan menghambakan diri kepada kekuatan-kekuatan lain yangs etara dengan kekuatan ghaib tersebut atau kepada apa saja yang berada dibawahnya

2.      Merefomasi hati dengan bagusnya tujuan dalam (melaksanakan) semua amal perbuatan dan (dengan) memurnikan niat kepada Allah Swt dan (niat yang baik) kepada sesame manusia
Dalam masalah Ushul Ad-Diin, khususny Tauhid, kita dilarang berselisih paham dan membeda-bedakan antara nabi yang satu dengan nabi yang lain. Adapun perbedaan dalam masalah-masalah cabang (Al-Masa’il Al-Fuar’iyyah), macam-macam bentuk ibadah dengan berbagai rincian dan manhajnya dari syari’ay yang satu ke syari’at lainnya, maka tidaklah menjadi soal sebab hal itu memang menjadi tuntutan perkembangan zaman serta dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan dan kemaslahatan tiap-tiap umat, 

Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,
Al-Ma’idah : 48

Sebagai agama yang disyari’atkan untuk seluruh umat manusia, Islam yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad Saw sudah barang tentu membawa misi yang lebih berat dan menghadapi berbagai problematika hidup dan kehidupan manusia yang lebik kompleks jika dibandingkan denga Islam pada masa-masa Nabi sebelumnya.

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.
Al-Fath : 28

Tujuan Allah mensyari’atkan Islam ini tidak hanya untuk menjadikannya sebagai agama terbaik, menang dan unggul atas seluruh syari’at dan agama lain dimuka bumi namun juga merupakan tujuan paripurna dan klimaks dari seluruh rangkaian riaslah Islam yang dibawa para Nabi yang pencapaiannya khusus diemban oleh dan diamanatkan kepada Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad Saw sebagai risalah terakhir yang sempuran dan universal atau denghan kata lain sebagai pamungkas.

Dalam menafsirkan ‘liyuzhhirohu ‘ala ad-diin kullih’ dalam ayat tersebut Dr. Wahbah az-Zuhaili berkata yakni, untuk menggunggulkannya atas semua jenis agama, dengan menghapus berlakunya apa-apa yang haq dan menampakkan rusaknya apa-apa yang bathil

Dari situ dapat diketahui bahwa ada dua tujuan pokok disyari’atkannya Islam akhir zaman ini, yaitu:
1.      Menghapus ajaran-ajaran Islam yang dibawa oleh nabi-nabi sebelum nabi Muhammad Saw., dalam artian bahwa ajaran-ajaran Islam nabi-nabi terdahulu telah digantikan sepenuhnya oleh ajaran Islam yang beliau Saw bawa dan hanya Islam inilah yang sah dianut oleh umatnya. Dengan demikian, sama seklai tidak bisa diterima bila ada orang mengaku sebagai Muslim pengikut Nabi Isa a.s, Musa a.s, Ibrahim a.s atau lainnya. Namun dalam hal ini Islam tidak menafikan sama sekali syari’at nabi-nabi terdahulu, akan tetapi menempuh langkah-langkah sebgai berikut:

a.       Meniadakan sama sekali ajaran terdahulu yang sudah tidak relevan dan tidak diperlukan
b.      Meniadakan ajaran lama dan menggantinya dengan ajaran baru dalam masalah yang sama
c.       Mempertahankan ajaran terdahulu dan menyempurnakannya, seperti ajaran nabi Ibrahim tentang haji, berkurban dan khitan
d.      Mensyari’tkan ajaran-ajaran baru yang dahulu belum pernah ada; langkah inilah yang terbanyak

2.      Menunjukkan dan menampakkan penyimpangan yang ada pada agama-agama selain Islam, baik yang berkaitan denga masalah akidah, ibadah, muamalah maupun akhlaq.
Ayat ini adalah salah satu ayat yang merupakan hujjah yang sangat besar tentang ketetapan Muhammad Saw sebagai Nabi dan rasul, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya dalam surah yang sama

Demikianlah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, mewahyukan kepada kamu dan kepada orang-orang sebelum kamu.
Asy-Syuura : 3

Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa Dia telah mensyariatkan agama kepada Muhammad saw dan kaumnya sebagaimana Dia telah mewasiatkan pula kepada Nuh dan Nabi-nabi yang datang sesudahnya yaitu Ibrahim, Musa dan Isa as. 

Allah Swt hanya menyebut nama-nama Nabi tersebut ialah karena mereka itu dibandingkan dengan Nabi-nabi yang lain, mempunyai tanggung jawab yang besar dan berat, dan karena ketabahan mereka menghadapi cobaan dan kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan oleh kaum mereka sehingga mereka itu mendapat julukan Ulil azmi dari Allah SWT. Lagi pula agar orang-orang musyrik sadar sehingga mau memeluk agama Muhammad saw.

Ulul Azmi mempunyai makna "yang utama" atau "yang memiliki keteguhan hati". Merupakan nama kehormatan bagi Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Nuh, Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw. karena mereka paling banyak mengalami berbagai cobaan dan penderitaan dalam menegakkan agama Allah, namun mereka tetap sabar dan tabah serta istiqomah. Kata "Ulul Azmi" disebutkan dalam Al Qur'an: 

 

Maka bersabarlah kamu sebagaimana bersabarnya orang-orang yang mempunyai keteguhan hati (al 'azmi) dari Rasul-Rasul, dan janganlah kamu minta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat (azab) yang diancamkan kepada mereka, seakan-akan mereka tidak tinggal (di dunia) kecuali hanya sesaat pada siang hari . (Inilah) suatu penjelasan, maka tidaklah dibinasakan kecuali kaum yang fasik

Al-Ahqaaf : 35
Kesabaran yang ditunjukkan oleh para nabi dan rasul khususnya ulul azmi sangat jauh berbeda dengan kita. Bahkan Rasulullah pernah menyampaikan bahwa yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang seperti mereka. Ketabahan dan kesabaran para nabi dan rasul tersebut dipengaruhi oleh kekuatan keimanan mereka. Mereka meyakini bahwa apa pun bentuk ujian yang diberikan Allah adalah bentuk kasih sayang-Nya.

Dalam ayat ini juga terdapat seruan untuk tidak berpecah belah, Allah Swt telah memerintahkan orang-orang mukmin untuk berjama’ah, melarang untuk berselisih. Seperti yang terdapat dalam sabda Rasulullah Muhammad Saw., Sesungguhnya yang telah membinasakan orang-orang sebelum mereka adalah perpecahan, perdebatan dan tidak mau menerima kebenaran.

Al Qurthubi berkata,“Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan. Karena sesungguhnya perpecahan merupakan kebinasaan dan al jama’ah (persatuan) merupakan keselamatan.” 

Al Qurthubi juga mengatakan,“Maka Allah Ta’ala mewajibkan kita berpegang kepada kitabNya dan Sunnah NabiNya, serta -ketika berselisih- kembali kepada keduanya. Dan memerintahkan kita bersatu di atas landasan Al Kitab dan As Sunnah, baik dalam keyakinan dan perbuatan. Hal itu merupakan sebab persatuan kalimat dan tersusunnya perpecahan (menjadi persatuan), yang dengannya mashlahat-mashlahat dunia dan agama menjadi sempurna, dan selamat dari perselisihan. Dan Allah memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan yang telah terjadi pada kedua ahli kitab”.

Beliau juga mengatakan,“Boleh juga maknanya, janganlah kamu berpecah-belah karena mengikuti hawa nafsu dan tujuan-tujuan yang bermacam-macam. Jadilah kamu saudara-saudara di dalam agama Allah, sehingga hal itu menghalangi dari (sikap) saling memutuskan dan membelakangi.”

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.
Al-An’am : 153

Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi berkata,“Ayat ini memuat perintah agar konsisten terhadap agama Islam, dalam masalah aqidah, ibadah, hukum, akhlaq, dan adab. Ayat ini juga memuat larangan mengikuti selain Islam, yaitu seluruh agama-agama dan sekte-sekte, yang Allah istilahkan dengan ‘jalan-jalan’. (Aisarut Tafasir)

Menjelaskan firman Allah: dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain); Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata,”Yaitu jalan-jalan yang menyelisihi jalan ini.” (Firman Allah: karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya), yaitu akan menyesatkan dan mencerai-beraikan kamu darinya. Maka jika kamu telah sesat dari jalan yang lurus, maka di sana tidak ada lagi, kecuali jalan-jalan yang akan menghantarkan menuju neraka jahim.”


Sumber:
-          Tafsir Maudhu’i al-Muntaha
-          Tafsir Fathul-Qadir
-          Tafsir  Depag RI
-          Tafsir Karimir Rahman
-          Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an
-          Muslim.or.id





5 komentar:

  1. merinding kalo ngeliat ritual-ritual dari agama non islam.

    BalasHapus
  2. keren mbak tulisannya....
    baca http://zonesa.blogspot.com/2011/03/mestikah-agama-mempunyai-kekuasaan.html juga ya...
    :)

    BalasHapus
  3. Agamaku Islam, agama paling Keren gak ngajarin tamak, sombong, berkuasa dll. Tapi liat2 mereka yang tetp beragama nonis tapi berkuasa sok penguasa.. heleh

    BalasHapus
  4. Asslam....."
    Mohon izinnya semua... saya berminat untuk menerapkan ke profil akuan facebook saya... atau membalas kiriman media yg menyinggung tentang semua agama...?!!

    BalasHapus

 

Instagram

Get My G+