Archive for 2013-01-13

Cahaya, Ini Tentang-Mu

By : Ave Ry
Cahaya..

"Masih adakah?"

Garis tipis membentuk seulas senyum sejenak mewarnai wajah, ambigu. Berapa banyak judul buku yang telah ia lumat, termasuk yang berada diatas pangkuannya sekarang, Defence oh the Muslim Lands and Lovers of the Paradise Maidens karya Syaikh Abdullah Azzam tidak juga membuat hatinya luluh, terang bercahaya. Sebaliknya, mata gadis itu terlihat sendu, letih dan murung diliput kegelapan.

Rihana, Duroru Qolbii…

Surat yang semoga sampai kepadamu kali ini terhitung adalah surat yang ke – 60 dariku tanpa satupun jawaban. Aku ikhlas, Wallahi! Aku tau keputusan ini sangat menyesakkan dadamu dan membuat kesedihan yang tidak hanya kau tapi juga aku rasakan. Aku hanya berharap agar kau tetap berada dalam naungan hidayah-Nya.

Hari ini, tepatnya tiga jam yang lalu. Aku dan rombongan tiba di Peshawar. Kau tau bagaimana berartinya hal ini untukku. Berada bersama para mujahideen di Baitul-Anshar  atau kalau kau mendengar dari mulut-mulut asing, mereka menyebutnya Mujahideen Service Bureu . Wajah-wajah yang keimanan melingkupi sanubari mereka. 

“Lalu, Apa yang harus aku lakukan? “

Kerinduan bercampur baur dengan kemarahan. Dilemparkan kertas yang sudah usang itu keatas pembaringannya. Tidak akan lama, beberapa menit kemudian kertas itu akan diraihnya juga seperti biasa. Kemudian disimpan dengan baik didalam sebuah kotak yang penuh berisi surat-surat ‘cinta’ dari suami yang ia tau kebaikan dan kelembutan hatinya, namun kukuh dan ketegasan sikap adalah hal yang tak dapat ia pahami hingga saat ini.

“Tujuh tahun, bayangkan! Tidak perlu kalian mengucapkan kata setia. Apa yang kuperoleh dari kesetiaan selama tujuh tahun menunggu penuh dengan kecemasan. Kalian pikir surat-surat murahan semacam itu dapat mengobati rasa lelahku?”

Ketika amarah memenuhi benak dan alasan tidak dapat lagi ia rangkumkan, maka jalan terakhir yang terlintas adalah menggugat!

***

“Mama tidak dapat mencegah keputusanmu juga tidak dapat menolak kerasnya sikap Papa kepadamu. Kamu adalah putri kesayangan kami. Tapi keputusanmu untuk menikah dengan Ja’far sangat menyakitkan kami Iria..”

Sikap lemah lembut ibu yang menatapnya kala itu membayang, merasuk jiwanya dan kemudian menghadirkan rasa sesal. Tapi sesal untuk apa? Sesal karena menikah dengan seorang mujahid atau sesal akan keimanan yang baru tujuh tahun ini menggelutinya?

“Astaghfirullah, Sabar Rihana.. Kakak bukan sedang melakukan pariwisata. Bukankah surat-suratnya selama ini begitu lengkap memberitahukan keberadaannya kepadamu? Bertahun-tahun ia berada di Afghanistan, berkeliling ke seluruh pelosok negeri mengunjungi hampir seluruh propinsi dan wilayah dari mulai Logar, Kandahar, pegunungan Hindukush, lembah Panshir, Kabul sampai Jalalabad. Bahkan istirahat kurasa tidak pernah terpikir olehnya. Dan yang kutahu sekarang ia berada di Peshawar, kemungkinan bersama mujahidin dari seluruh pelosok dunia.”

Cahaya.. 

“Aku membutuhkanmu, sungguh!”

 Remuk bathinnya membayangkan wajah Ja’far yang sudah bertahun-tahun meninggalkannya menuju medan pertempuran. 

Harapan melimpah ruah pada waktu pria yang saat itu mengkhitbah dirinya.  Tujuh tahun pernikahan mereka yang hanya satu kali menghadirkan sentuhan pada waktu ijab qabul dilakukan disebuah masjid kecil di sudut kota Jakarta yang bising dengan penghuni dari beragam jenis manusia. Ketika sebelumnya pria dengan wajah putih memerah mengubah namanya dari Iriana Xaverry menjadi Shafiyyah Rihana dan dengan begitu rambut yang senantiasa bergelombang indah itu tidak lagi tampak, berganti dengan Jilbab panjang berwarna pucat.
Saat ini berbeda dengan dulu. Kesetian bahkan sekarang berubah menjadi keikhlasan menjadi pertanyaan. Apakah bukan karena wajah tampan dan gagahnya saja aku dulu mau menikah dengannya sampai aku bertaruh nyawa dengan menukar keimananku?

“Rabbighfirlii..”

***

“Rihana, apa kau sudah menerima surat dari kakak? Aku cemas.. tidak seperti biasanya. Sudah lima bulan aku tidak mendengar kabar dari kawan-kawan disana. Aku tidak tau keberadaan kakak saat ini.”

Cahaya..

“Lingkupi aku dengan terangmu. Kecemasan mereka tidak sama dengan  kecemasanku. Bahkan kebutuhan mereka akanmu tidak sebanding denganku”

Mata sendu itu kini tengah memperhatikan sekeliling kamar yang suram dengan tirai-tirai tidak terawat dengan benar. Bunga? Entah layu sejak kapan. Cermin? Entah juga masih bisa digunakan. 

Qum..!!

“Kau berteriak cahaya.. cahaya.. tapi apa langkahmu untuk memperolehnya?”

“Senyummu tidak berguna, bahkan perbuatan baik yang kau lakukan hanya sebatas penghilang gundah gulana”

Suara hati terkadang bisa lebih tajam dari pada sumiran orang-orang disekeliling bahkan orang-orang terdekat. 

Jendela kusam, lantai berdebu, aneka perabot yang menyedihkan menyiratkan keputus-asaan penghuninya.

Yaa ayyuhal muddatsir

Qum, Fa andzir!

Wa Rabbuka Fa Kabbir

Wa tsiyabaka Fa thahhir

Wa rujza Fahjur

Wa la tamnun tastaktsir

Wa li Rabbika Fashbir…

***
Wajah itu.. Penuh goresan dan luka mendalam, kantung mata melengkung dan rahang yang  cekung semakin menambahkan kesedihan luar biasa. Tapi, mata kelabu yang meneduhkan itu masih tetap sama seperti tahun-tahun penuh beban yang dapat ia ingat

Wajah itu milik Ja’far

Di masjid ini, pertama kali ia melihat wajah itu. Ketika tangannya terulur memberikan kantung plastik penuh berisi kebutuhan pokok. Tangannya yang telanjang bergetar hebat tatkala sebuah tatapan menusuk, menghujam jantungnya. Dari mulai saat itulah pertemuannya dengan pemilik wajah itu berbuah harapan. 

Aneh..

Harapan apa itu yang terselip? Seorang sepertiku yang memberikan bantuan kepada orang-orang ini dengan pamrih. Tingginya air yang melanda, bau busuk sampah juga tubuh-tubuh lusuh tidak menjadi halangan untuk menyebarkan keselamatan, pikirnya kala itu.

Tapi keanehan apa yang mampu menghalangi-Nya?

Buktinya setelah itu di masjid yang sama, tangannya berkeringat tatkala sang pemilik wajah menggenggamnya untuk pertama kali dan satu-satunya.. setelah kemudian meninggalkannya untuk sesuatu yang asing baginya.

 “Ya habibty, taukah anti berapa lama ana merekam wajah ini didalam benak ana. Sebentuk wajah hati dengan rona merah di pipi. Kapanpun kegelisahan datang, rekaman itu selalu hadir membawa suasana yang baru saat ini ana tau. Suasana damai, penuh dengan luapan emosi cinta.”

Tangisnya pecah, air matanya tumpah. Kerinduan yang berbalut dengan keraguan kini sirna berganti kebahagian yang menjalar dari mulai pelupuk mata sampai ke relung terdalam hatinya.

“ Uhhibuki misla maa anti ” 

“ Uhiibuki kaifa ma kunti ” 

“ Wa mahma kaana ,mahmaa saara “

“ anti habibaty anti ” 

“  Zawjaty… ” 

Dengan tertatih laki-laki dihadapannya itu berjalan dengan kaki yang tidak sempurna kearahnya. Kayu penyangga bertengger mesra di ketiaknya. Terlihat menyedihkan? Tidak! Laki-laki itu malah terlihat penuh wibawa

Saat ini malahan gadis yang kini senantiasa menghiasi masjid dengan lantunan Al Qur’an memandu anak-anak kecil yang giat mempelajarinya bersyukur, memuji Tuhannya, memuji Rabbnya.
Cintaku padanya bukan karena wajah maupun fisiknya, kini baru ia sadar. Namun karena imannya.

***

Sore ini penuh dengan sejuta pujian pada Rabb Semesta Alam. Langit biru perlahan berubah menjadi violet. Kicauan binatang langit pun jauh tak terdengar karena petang akan segera menjelang. Malam yang sedianya menyelimuti cahaya terik siang akan segera hadir. Matahari akan tenggelam sebentar lagi bergantian dengan sinar lembut rembulan.

Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya. 
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

“Ampuni aku Tuhan karena tidak mencintai-Mu dengan sempurna. Aku tidak bisa mencegah nafsuku untuk tidak memasukkannya kedalam celah hatiku. Jadikan ia sebagai pendampingku di surga- Mu”

Mata kelabu itu berkaca-kaca..

Dihadapannya, gadis yang terbalut rapat jilbab menuangkan segelas minuman.

“Aku mencintaimu saat ini. Ya, saat ini… Karena bagiku, cinta kepada Dia yang telah melimpahiku dengan cahaya adalah cinta yang sejatinya memenuhi dada kita. Dan untuk itu, aku berikrar akan mencintai-Nya untuk selamanya



 "Tulisan ini diikutsertakan dalam 3 Years of Blogging Giveaway yang diselenggarakan oleh Penghuni 60".


3 Years of Blogging Giveaway Penghuni 60

Rihlah Dalam Pandangan Islam

By : Ave Ry
Beberapa hari yang lalu, saya dan teman-teman melaksanakan perjalanan rekreasi ke Kebun Raya Bogor.

Mumpung pada tanggal satu Januari adalah tanggal merah dan menjadi hari libur nasional, kami melakukan perjalanan yang sudah direncanakan beberapa minggu sebelumnya.

Selain karena untuk mengisi hari libur, perjalanan rekreasi ini juga bermanfaat banyak karena perjalanan kami tidak sekadar have fun, tapi juga diisi dengan materi-materi keislaman oleh seorang pembimbing dan tentunya tilawatil Qur’an bersama-sama.

Saat ada beberapa teman yang menanyakan kegiatan saya saat hari libur tersebut, saya jawab saya sedang RIHLAH. Dari sanalah banyak pertanyaan, apa itu Rihlah? Nah, untuk menjawabnya saya berpikir untuk sekalian saja membuat posting dengan tema Rihlah ini. Barangkali ada juga sahabat Blogger yang belum tahu apa itu Rihlah…

Rihlah adalah Hajatun Basyariah (kebutuhan) karena sebagai manusia kita membutuhkan refreshment baik terhadap jiwa maupun tubuh, refreshment inilah yang disebut rihlah atau rekreasi. Rihlah juga cara yang efektif untuk menghemat biaya pengobatan, dan jangan bakhil untuk rihlah karena biaya yang kita keluarkan untuk rihlah adalah salah satu investasi jangka panjang untuk memelihara kesehatan sambil melihat kebesaran Allah bertambahlah keimanan kita.

Menurut Dr Abdul Hakam Ash-Sha’idi dalam bukunya berjudul Ar-Rihlatu fi Islami, Islam membagi bepergian atau perjalanan dalam lima kelompok:

1.      Bepergian untuk mencari keselamatan seperti hijrah yaitu keluar dari negara yang penuh bid’ah atau dominasi haram.

2.      Bepergian untuk tujuan keagamaan seperti menuntut ilmu, menunaikan ibadah haji, jihad di jalan Allah, berziarah ke tempat-tempat mulia, mengunjungi kerabat atau saudara karena Allah, dan bepergian untuk mengambil ibrah atau menegakkan kebenaran dan keadilan.

3.      Bepergian untuk kemaslahatan duniawi seperti mencari kebutuhan hidup, mencari nafkah.

4.      Bepergian karena urusan kemasyarakatan seperti menengahi pertikaian, menyampaikan dakwah, bermusyawarah.

5.      Bepergian untuk kepentingan turisme atau kesenangan semata.

Tujuan Rihlah


Di dunia, dalam kehidupan manusia, Islam selalu menyerukan agar manusia dalam bepergian dan bergerak menghasilkan kebaikan dunia dan akhirat. Dari maksud tersebut, manusia akan mendapatkan nilai plus pada rihlah. Jadi bukan hanya kesenangan saja yang didapat dari rihlah itu tetapi pahala atau ganjaran dari Allah SWT juga akan diraih. Urusan seorang muslim bergerak dan berpindah-pindah untuk mendapatkan rezeki, menuntut ilmu, melaksanakan haji atau umrah, menjenguk kawan, menjenguk orang sakit dan sebagainya. Semua kegiatan tersebut bernilai ibadah jika tujuan berpergian dalam rangka mencari ridho Allah semata.

Etika Rihlah


Islam membekali para penganutnya dengan berbagai etika rihlah. Antara lain bepergian atau perjalanan hendaknya dilakukan dengan:

1. Niat baik mencari keridhaan Allah SWT.
2. Ikhlas karena Allah,
3. Berakhlak mulia,
4. Berhati-hati dan cermat,
5. Tidak dicampuri dengan kemaksiatan
6. Selalu minta pertolongan kepada Allah SWT.

Lalu, agar rihlah berjalan sesuai niat dan membuahkan hasil yang efektif, maka diperlukan persiapan biaya, medis serta pengetahuan daerah yang akan dituju.

Beberapa keuntungan rihlah

1.      Kesehatan jasmani

Rihlah bagi seorang muslim bukanlah berorientasi berhura-hura untuk menyenangkan hati belaka. Tetapi rihlah adalah salah satu kiat kita dalam menjaga kesehatan, dan memelihara jasmani agar bisa menjadi seorang muslim yang kuat. Setelah badan kita segar, maka diharapkan kita dapat melanjutkan pekerjaan kita dengan kondisi yang lebih baik, sehingga pekerjaan menjadi lebih efektif dan ihsan.

            Di saat-saat Rihlah, kita bisa terbebas dari pekerjaan keseharian yang mungkin       menimbulkan stres pada tubuh yang berakibat pada ketidak seimbangan hormon dalam         tubuh   dan berakibat lebih jauh pada melemahnya ketahanan tubuh. Maka dengan rihlah   diharapkan kita bisa relaks, dan mengendurkan ketegangan-ketegangan atau stress yang    ada, sehingga keseimbangan hormon bisa kembali normal.

2.      Keuntungan ekonomi

Rihlah memang tak selalu harus mengeluarkan biaya untuk ke tempat-tempat pariwisata yang mahal harganya. Akan tetapi untuk mendapatkan suasana baru, acap kali kita dituntut untuk mengeluarkan sedikit uang ke tempat rekreasi misalnya. Dengan pergi ke tempat-tempat rekreasi, tak dapat dipungkiri kita akan mendistribusikan rizki kepada orang-orang yang mencari rizki di sekitar tempat pariwisata. Dan biaya rihlah dapat dipikirkan sebagai biaya preventif dari pengobatan penyakit, yang di masa sekarang makin melambung biayanya. Maka keuntungan secara ekonomi ini, tak hanya dimiliki oleh kita semata tapi pula oleh orang-orang lainnya.

3.      Keuntungan terhadap lingkungan dan hubungan antar pribadi

Rihlah bersama rekan sejawat dan saudara kita sesama muslim pula akan meningkatkan hubungan silaturahmi. Apalagi jika dalam rihlah kita bisa saling bantu membantu untuk mempersiapkan keperluan rihlah, memasak bersama dan sebagainya, tentu akan lebih meningkatkan rasa kerja sama dan ukhuwah di antara kita.

4.      Keuntungan psikologi (ruhiah)

            Keuntungan psikologi atau ruhiah erat kaitannya dengan kesehatan tubuh. Dalam rihlah    kita mengendurkan urat saraf dan mengembalikan keseimbangan hormon, yang erat kaitannya dengan kondisi psikologis seseorang. Apalagi jika dalam rihlah, kita bisa sekalian bertafakur mengagumi kebesaran Allah Dan kita temui banyak hal dan pengalaman baru yang menjadikan hati kita kaya dan bisa berbelas kasih pada orang-orang yang kekurangan, setelah kita disibukkan oleh berbagai kesibukan yang kadang mematikan hati kita sehari-hari.

Itulah diantara beberapa hal mengenai Rihlah. Dari mulai pengertian, Tujuan, Etika sampai Keuntungan Rihlah. Semoga dengan ini semakin banyak sahabat yang berpergian rekreasi bukan hanya sekadar bersenang-senang semata, tapi juga memiliki nilai spiritual. Karena ruh islam sepatutnya tidak ditanggalkan walau dimanapun keberadaan kita.



Tag : ,

- Copyright © Al-Ihtisyam - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -