Archive for 2016

You Are What You Read

By : Ave Ry

Setuju atau tidak, "Apa yang kamu baca, itulah yang ada dipikiranmu" ?. Sebenarnya, pernyataan ini menyambung dari quote seorang filsuf asal Jerman, Martin Heidegger ;
“Tell me how you read and I'll tell you who you are.” 
Jadi, saya berasumsi bahwa sebanyak dan sesering seseorang membaca suatu topik maka hal itu akan menjadi sebuah mindset tersendiri baginya. Pola pikir yang terbentuk akibat masukan-masukan eksternal dan akhirnya menghasilkan sebuah opini. Dan pada era digital saat ini, bacaan tentu bukan melulu melalui sebuah buku, ia bisa jadi berbentuk artikel-artikel singkat di media sosial, atau bahkan status, cuitan di Facebook dan Twitter.

Saya kerap mengamati bahwa terdapat kubu-kubu yang masing-masing berdiri diatas prinsip-prinsip, entah itu yang berangkat dari sosial-kemasyarakatan, idealisme penokohan atau keagamaan. Yang satu dengan lainnya unfortunately saling merendahkan. Padahal, jika jawaban ya kita katakan pada pertanyaan saya diatas, tidak perlu sikap atau perkataan buruk kita keluarkan pada seseorang yang berbeda pendapat dengan kita.

Katakanlah, kali ini saya sedang mengambil studi kasus, "Pengaruh News feed pada pengguna Facebook". Sebenarnya seberapa besar News feed ini mempengaruhi opini publik? Besar! Bahkan sangat besar. Tapi bagaimana hal itu terjadi? Technically, Facebook mungkin pada awalnya secara random men-sugesti pertemanan kita. Namun lambat laun, pergerakan like, comment dan status kita akan mengerucut menjadi sebuah skema besar. Maka secara sadar atau tidak, News feed menjadi sebuah channel besar persebaran informasi yang secara pasti melibatkan opini.

Jika kamu penyuka Flora & Fauna, maka bertebaranlah gambar-gambar tanaman dan hewan di News feed. Begitu pula jika kamu bagian dari sebuah kegiatan politik tertentu, tidak akan sulit bagi kamu menemukan kabar terbaru darinya. Nah, inilah dia rumitnya! Seseorang yang berpandangan X misalkan, akan membaca secara terus-menerus kabar-berita tentang pandangan X sehingga hal tersebut menjadi mindset baginya. Lalu seseorang dengan pandangan Y mengatakan bahwa pandangan X salah. Mengapa demikian? Tentu karena ia terus-menerus membaca pandangan Y.

Ironis tidak? Sebagian besar mungkin akan dengan sangat mudah men-justifikasi pemikiran seseorang yang terbentuk karena sumber bacaan. Maka tidak bisa tidak, kita harus lebih banyak membaca bukan hanya dari lingkaran tapi juga disekitar kita. Dengan begitu, seseorang akan menjadi lebih bijak dalam bersikap dan berkata-kata.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana dengan seseorang yang tidak suka membaca!? Wahai, sesungguhnya ia akan menjadi generasi yang mudah terombang-ambing :D

Bi'ah Islamiyah Kita

By : Ave Ry

Bi'ah islamiyah kita, tercarut padu dengan debu. 
Ia bergulung rindu, menggugu kemana ruhnya tertuju?

Duhai, ruh itu bagaikan sebaris tentara. Ia berpadu karena saling mengenal. 
Bahkan, satu kali tatapan seharga ribuan genggaman.

Lalu bagaimanakah kau akan memaksaku, mengenalmu jika tiada bayang terlupuk difikiranku.

Bahasamu dimana berlayar muatan kalbu tidak menyentuh bahkan bila setiap hela-nya berbalut safir.

Maka bi'ah islamiyah kita, disanalah ia mengalir. 
Bergelombang dalam muara kebaikan, terus berdzikir.

Teruntuk wajah-wajah sayu, dan mereka yang lelah dalam tunggu.

Doa rabithoh tercurah padamu. 
Semoga DIA bersama kita selalu, dalam ketaatan dan surga yang kita tuju.


Mensuci Hati, Berlurus Pikir

By : Ave Ry

“Untuk mencapai cara berpikir yang lurus, cara berpikir yang benar, jauhkan dirimu dari hawa nafsu. Karena hawa nafsu lah yang membuat manusia tidak bisa berpikir dengan lurus.”

~ Syaikh Sayyid Syaltut

Dan berapa banyaknya para pengusung Liberalisme yang berdiaspora dan masuk kedalam sel-sel berbagai aliran sesat dan perilaku menyimpang berlindung dibalik tameng akademis/keilmuwan mereka?

Namun sungguh disayangkan, anugrah yang dikaruniakan Tuhan pada mereka malah membuat mereka menjadi agen-agen yang bertugas membelokkan manusia dari kerangka berpikir yang lurus.

Hawa nafsu memiliki peran yang teramat besar dalam menggelincirkan manusia dari fithrahnya. Terlebih lagi jika para pengusungnya menggunakan dalil-dalil agama untuk menambal kesalah-tafsiran mereka.


Allah Subhana wa ta’ala telah memperingatkan manusia bahwa hanya orang-orang yang suci lah, bersih hati dan pikirannya, yang dapat tersentuh oleh Al-Qur’an.



“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.”


(Al-Waqi’ah: 79)



Maka tidak ada jalan lain, kesucian hati dalam rangka menopang cara berpikir yang lurus dan benar sesuai kehendak Sang Pencipta adalah hal yang mutlak dilakukan.



Pada tempat lain Allah Subhana wa ta’ala membimbing kita agar meneladani Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.



(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.”

(Ash-Shaffat: 84)



Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata di dalam tafsirnya, “Yakni dia datang menghadap Allah dengan membawa hati yang selamat dari kesyirikan, syubhat-syubhat, dan syahwat-syahwat yang bisa menghalanginya dari mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Apabila hati seorang hamba telah selamat dari hal-hal di atas, maka hati tersebut akan terhindar dari segala keburukan-keburukan, dan sebaliknya hati tersebut akan memunculkan kebaikan-kebaikan. Dan di antara bentuk keselamatan hati adalah bahwa ia selamat dari perbuatan menipu daya manusia, serta selamat dari hasad dan dari berbagai bentuk akhlak yang tercela.”



Semoga Allah Subhana wa ta’ala menjaga kita dari hawa nafsu yang tercela.



“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar.” (HR. Tirmidzi no. 3591)

- Copyright © Al-Ihtisyam - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -