Archive for 2012-12-30

Sederhanakan Penampilanmu...

By : Ave Ry

Wanita Muslimah yang sadar akan berpakaian dan berpenampilan sederhana, tidak berlebih-lebihan dalam berhias, berpakaian dan berpenampilan.


“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” Al-Ahzab: 33

Allah melarang para wanita untuk tabarruj ( berhias atau berpenampilan yang ditujukan wanita kepada mata-mata orang yang bukan muhrim  ), setelah memerintahkan mereka menetap di rumah. Tetapi apabila ada keperluan yang mengharuskan mereka keluar rumah, hendaknya tidak keluar sembari mempertontonkan keindahan dan kecantikannya kepada laki-laki asing yang bukan muhrimnya. Allah juga melarang mereka melakukan tabrruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliyah terdahulu. Apa maksud tabarruj jahiliyah terdahulu itu?

Mujahid berkata, “Wanita dahulu keluar dan berada di antara para laki-laki. Inilah maksud dari tabarruj jahiliyah terdahulu.”

Qatadah berkata, “Wanita dahulu kalau berjalan berlenggak-lenggok genit. Allah melarang hal ini.”
Muqatil bin Hayyan berkata, “Maksud tabarruj adalah wanita yang menanggalkan kerudungnya lalu nampaklah kalung dan lehernya. Inilah tabarruj terdahulu di mana Allah melarang wanita-wanita beriman untuk melakukannya.”

Ibnu Abu Najih meriwayatkan dari Mujahid, “Janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” Dia (Mujahid) berkata, “Wanita dahulu berjalan-jalan di hadapan kaum (laki-laki). Itulah tabarruj Jahiliyah.”

Dan di antara kerusakan tabaruj yang paling besar adalah penyerupaannya wanita-wanita muslimah dengan wanita kafir, baik dari kalangan orang-orang nashrani maupun selain mereka, seperti dalam masalah berpakaian, dengan memakai pakain pendek dan ketat, tidak menutupi rambutnya, serta membiarkan bagian tubuhnya yang elok di pandang oleh lelaki lain, , padahal Rasulullah saw telah melarang kita untuk menyerupai orang kafir, beliau pernah bersabda:


"Barangsiapa yang menyerupai sebuah kaum maka ia sama seperti mereka". (HR Abu Dawud, Ibnu Hiban dan Imam Ahmad)

Sesungguhnya wanita muslimah akan menghiasi diri dengan perhiasan yang di halalkan dan keindahan yang telah di syari'atkan. Dia juga akan mengenakan pakaian bagus dan menarik, dengan tidak menyimpang dan berlebih-lebihan. Semuanya itu adalah kebaikan yang di halalkan oleh Allah, dan itu pula yang disebut sebagai kesedderhanaan yang di serukan dan di perintahkan oleh Islam.

Yang demikian itulah yang menjadikan perbedaan yang nyata serta menjadikan tampil beda antara wanita yang senantiasa di selimuti dengan kesederhanaan lagi bijak denga wanita yang berlebih-lebihan dan tidak bisa menggunakan akalnya karena telah di perbudak oleh dunia mode yang ala kebarat-baratan dan kemewahan.

Demikian itulah sikap wanita muslimah yang senantiasa menyadari dan memperhatikan petunjuk agamanya serta berpegang teguh pada hukum-hukum agamanya yang penuh toleransi antara sesamanya. Dimana pakaiannya bersih, bagus, menarik, rapi dan wajar yang di kenakan dengan tujuan untuk memperlihatkan dan mensyukuri ni'mat Allah dengan tidak berlebih-lebihan dan sombong serta senantiasa menonjolkan kesederhaannya.

Oleh karena itu setiap wanita muslimah di tuntut untuk senantiasa menghiasi dirinya dengan kehidupan yang penuh dengan kesederhanaan, karena Allah sendiri sangat membenci orang-orang yang suka berlebih-lebihan

Tag : ,

Jangan Habiskan Waktumu Untuk Mengeluh

By : Ave Ry


Islam mengajarkan agar ummatnya tidak berkeluh kesah mengenai masalah dan ujian/cobaan yang sedang dihadapi. Karena dalam hidup di dunia ini tidak akan datar-datar saja, mesti ada ujian cobaan..ada senang dan duka , ada hitam dan putih, ada lapang dan sempit, ada sehat dan sakit dan sebagainya. Oleh kareana itu mengapa harus mengeluh? karena semua itu pasti akan terjadi dalam diri kita ini yang hidup di dunia.

"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir." Al Maariij : 19-21

Memang dalam ayat ini tertera bahwa manusia itu ‘sudah dari sananya suka mengeluh’, tapi Allah menyebutkan pada awal selanjutnya bahwa terdapat pengecualian terhadap orang-orang yang shalat, berinfaq, percaya pada hari pembalasan, takut pada azab-Nya, sampai pada ayat ke 33 dari surah Al Ma’arij ini. Allah SWT menyebutkan bahwa pengecualian itu diperuntukan bagi mereka dan balasan bagi mereka tidak lain adalah surga yang dimuliakan.
Dalam hidup, kita sering sekali mendengar kata-kata keluhan seperti berikut ini atau bahkan kita juga pernah mengucapkannya. Tapi yakinlah bahwa Allah itu Maha pengasih dan Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Sehingga Ia menjawab keluh kesah hamba-Nya secara indah dalam Al Qur'an.

Kenapa aku di uji seperti ini?

Allah menjawabnya di Al Ankabut: 2-3
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi ?Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Kenapa aku tidak mendapat yang aku inginkan?
Allah menjawabnya di Al Baqoroh: 216
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”

Kenapa ujian seberat ini?
Allah menjawabnya di Al Baqoroh: 286
Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Kenapa aku frustasi?
Allah menjawabnya di Ali Imran: 139
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yg paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman”

Aku sudah tak sanggup lagi..!
Allah menjawabnya di Yusuf: 12
“….dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yg kafir.”

Ada sebuah kisah yang sangat menarik . Seorang pria datang menemui Yunus ibn Ubaid. Ia mengeluh di depannya.
“Hidupku susah sekali…,”ujarnya. “Entah aku harus berbuat apa. Hidupku benar-benar susah. Dunia ini begitu sempit untukku. Ah, aku tak tahu harus berbuat apa… Duhai, mengapa ini semua terjadi padaku…,” begitulah ia seperti tidak akan berhenti menyampaikan semua keluhannya.
Yunus ibn Ubaid menarik nafas. Sangat dalam.
“Maafkan aku, saudaraku… Bolehkah aku bertanya padamu??” ujarnya.
“Silahkan, Tuan…”
“Bagaimana jika kedua matamu diganti dengan 1000 dinar? Maukah engkau??” Tanya Yunus ibn Ubaid.
“Apa?? Tidak mungkin, Tuan. Bagaimana mungkin aku mengganti kedua mataku hanya dengan 1000 dinar???!”
“Bagaimana dengan kedua telingamu??”
“Ah, mustahil, Tuan. Bagaiamna aku akan mendengar nanti??”
“Kalau begitu, lidahmu sajalah…”
“Tidak, Tuan. Apakah Anda ingin saya jadi bisu hanya karena 1000 dinar??!”
Begitulah Yunus ibn Ubaid terus mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Hingga akhirnya, Yunus ibn Ubaid mengatakan, “Lihatlah, saudaraku. Kulihat betapa banyaknya nikmat Allah padamu. Lalu mengapa engkau harus mengeluh hingga seolah-olah tidak lagi ada harapan untuk hidup??”
Pria itu tersipu. Lalu pamit meninggalkan Yunus ibn Ubaid.

Karena itu maka mulai dari sekarang jauhilah sikap kita dari sifat keluh kesah karena sedikit hal yang hilang atau berkurang dari kenikmatan yang Allah SWT berikan ternyata karunia-Nya jauh lebih besar lagi dari apa yang luput dari kita. Lagi pula, sejatinya setiap tetes kenikmatan itu berasal dari-Nya juga sehingga kita sebagai hamba seharusnya senantiasa ikhlas apabila sedikit dari banyak itu diambil kembali oleh-Nya
Jika kita pernah mengeluh dalam kehidupan dan menyadarinya, maka segeralah kita beristighfar dan memohon ampunan dari Allah SWT. Semoga Alloh mengampuni dosa-dosa kita yang selama ini sering berkeluh kesah atas setiap permasalahan yang kita hadapi. Semoga juga Alloh SWT meneguhkan dan menegarkan iman kita dalam setiap persoalan dan kesulitan yang kita hadapi.

Tag : ,

Jangan Sia-siakan Waktumu

By : Ave Ry
Banyak yang sering berkata, “Aku nggak ada waktu !”, seakan-akan mereka di dalam sebuah kesibukan yang sangat bermanfaat, akan tetapi kenyataannya ternyata masih banyak waktu mereka yang kosong
Di lain pihak, banyak pula yang ingin “Membunuh waktu…” karena waktu mereka yang sangat terbuang-buang.  mereka bingung mau diapakan waktu tersebut..

Waktu sangat penting, itu terlalu berharga untuk disia-siakan atau diabaikan. Orang bijaksana adalah orang yang memperhatikan waktu dan tidak memperlakukannya sebagai wadah untuk diisi dengan hal-hal murah dan bicara sia-sia.

Hai orang-orang yang beriman , bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, seungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan Al-Hasyr : 18

Al waktu kas saif (waktu ibarat pedang), begitulah pepatah arab menyebutkan. In lam taqtho’hu yaqtho’uka (kalau kau tak memotongnya maka dia yang akan memotongmu).

Memotong waktu itu adalah dengan tidak membiarkannya sia-sia sedang dipotong oleh waktu adalah dibuai oleh waktu dalam kesia-siaan. Karena hidup hanya sebentar, maka bila kita tak memanfaatkannya dengan baik maka kita akan menyesal selamanya.

Ibnu ‘Umar berkata, “Kalau engkau berada di waktu pagi jangan sekedar menunggu datangnya waktu sore. Kalau engkau berada di waktu sore jangan sekedar menunggu datangnya waktu pagi.

Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan gunakanlah masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari. 6053, Kitab ar-Raqaa’iq)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata,

Salah satu bukti kebijaksanaan takdir dan hikmah ilahiyah, yaitu barangsiapa yang meninggalkan apa yang bermanfaat baginya -padahal memungkinkan baginya untuk memetik manfaat itu lantas dia tidak mau memetiknya – maka dia akan menerima cobaan berupa disibukkan dengan hal-hal yang mendatangkan madharat terhadap dirinya. 

Barangsiapa meninggalkan ibadah kepada ar-Rahman, niscaya dia akan disibukkan dengan ibadah kepada berhala-berhala. Barangsiapa meninggalkan cinta, harap dan takut kepada Allah maka niscaya dia akan disibukkan dalam kecintaan kepada selain Allah, berharap dan takut karenanya.
Nikmat waktu adalah nikmat yang sangat besar, akan tetapi banyak orang yang menyia-nyiakannya dengan menghabiskan untuk keperluan yang kurang penting atau bahkan sia-sia. Menyia-nyiakan waktu sangat bertolakbelakang dengan memanfaatkan detik demi detik yang dilakukan para ulama soleh terdahulu, seperti contoh berikut ini.

Ibnu Mas’ud
Beliau salah seorang shahabat Nabi yang mulia, beliau pernah berkata, “Aku belum pernah menyesali sesuatu seperti halnya aku menyesali tenggelamnya matahari, dimana usiaku berkurang, namun amal perbuatanku tidak juga bertambah

Ibnul Khayyath An-Nahwi
Konon beliau belajar di sepanjang waktu, hingga saat beliau sedang berada di jalanan. Sehingga terkadang beliau terjatuh ke selokan atau tertabrak binatang.

Amir bin Abdi Qais
Beliau seorang tabi’in yang zuhud. Ada seorang pria berkata kepadanya, “Mari berbincang-bincang denganku”. Amir bin Abdi Qais menjawab, “Tahanlah matahari (Cobalah hentikan perputaran matahari), jangan biarkan ia berputar, baru aku akan berbincang-bincang denganmu. Karena sesungguhnya waktu ini senantiasa merayap dan bergerak maju, dan setelah berlalu ia tak akan kembali lagi. Maka kerugian akibat tak memanfaatkan waktu adalah jenis kerugian yang tidak dapat diganti atau dicarikan kompensasinya. Karena setiap waktu membutuhkan amal perbuatan sebagai isinya”

Hammad bin Salamah
Musa bin Isma’il At-Tabudzaki pernah menuturkan, “Kalau aku mengatakan kepada kalian bahwa Hammad bin Salamah tak pernah tertawa, niscaya aku tidak berdusta. Beliau itu memang orang  yang sangat sibuk. Kegiatannya hanya meriwayatkan hadits, membaca, bertasbih atau shalat. Beliau membagi-bagi waktu siangnya hanya untuk itu saja”
Muridnya sendiri, Abdurrahman bin Mahdi, pernah menuturkan, “Kalau ada orang yang berkata kepada Hammad bin Salamah, “Engkau akan meninggal besok”, niscaya beliau tidak akan mampu lagi untuk menambah sedikitpun dalam amalnya” (maksudnya, ia pasti segera memaksimalkan amalnya di detik-detik terakhir hidupnya).

Yunus bin Al-Mu’addab menegaskan, “Hammad bin Salamah meninggal dunia saat beliau shalat”. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya
Begitulah sebagian potret kehidupan ulama dalam memanfaatkan waktu, bagaimana dengan kita?

Semoga Allah SWT memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua agar bisa memanfaatkan kesempatan dan keluasan waktu yang diberikan untuk berbekal bagi kehidupan akhirat.
Tag : ,

- Copyright © Al-Ihtisyam - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -