Cahaya, Ini Tentang-Mu

Cahaya..

"Masih adakah?"

Garis tipis membentuk seulas senyum sejenak mewarnai wajah, ambigu. Berapa banyak judul buku yang telah ia lumat, termasuk yang berada diatas pangkuannya sekarang, Defence oh the Muslim Lands and Lovers of the Paradise Maidens karya Syaikh Abdullah Azzam tidak juga membuat hatinya luluh, terang bercahaya. Sebaliknya, mata gadis itu terlihat sendu, letih dan murung diliput kegelapan.

Rihana, Duroru Qolbii…

Surat yang semoga sampai kepadamu kali ini terhitung adalah surat yang ke – 60 dariku tanpa satupun jawaban. Aku ikhlas, Wallahi! Aku tau keputusan ini sangat menyesakkan dadamu dan membuat kesedihan yang tidak hanya kau tapi juga aku rasakan. Aku hanya berharap agar kau tetap berada dalam naungan hidayah-Nya.

Hari ini, tepatnya tiga jam yang lalu. Aku dan rombongan tiba di Peshawar. Kau tau bagaimana berartinya hal ini untukku. Berada bersama para mujahideen di Baitul-Anshar  atau kalau kau mendengar dari mulut-mulut asing, mereka menyebutnya Mujahideen Service Bureu . Wajah-wajah yang keimanan melingkupi sanubari mereka. 

“Lalu, Apa yang harus aku lakukan? “

Kerinduan bercampur baur dengan kemarahan. Dilemparkan kertas yang sudah usang itu keatas pembaringannya. Tidak akan lama, beberapa menit kemudian kertas itu akan diraihnya juga seperti biasa. Kemudian disimpan dengan baik didalam sebuah kotak yang penuh berisi surat-surat ‘cinta’ dari suami yang ia tau kebaikan dan kelembutan hatinya, namun kukuh dan ketegasan sikap adalah hal yang tak dapat ia pahami hingga saat ini.

“Tujuh tahun, bayangkan! Tidak perlu kalian mengucapkan kata setia. Apa yang kuperoleh dari kesetiaan selama tujuh tahun menunggu penuh dengan kecemasan. Kalian pikir surat-surat murahan semacam itu dapat mengobati rasa lelahku?”

Ketika amarah memenuhi benak dan alasan tidak dapat lagi ia rangkumkan, maka jalan terakhir yang terlintas adalah menggugat!

***

“Mama tidak dapat mencegah keputusanmu juga tidak dapat menolak kerasnya sikap Papa kepadamu. Kamu adalah putri kesayangan kami. Tapi keputusanmu untuk menikah dengan Ja’far sangat menyakitkan kami Iria..”

Sikap lemah lembut ibu yang menatapnya kala itu membayang, merasuk jiwanya dan kemudian menghadirkan rasa sesal. Tapi sesal untuk apa? Sesal karena menikah dengan seorang mujahid atau sesal akan keimanan yang baru tujuh tahun ini menggelutinya?

“Astaghfirullah, Sabar Rihana.. Kakak bukan sedang melakukan pariwisata. Bukankah surat-suratnya selama ini begitu lengkap memberitahukan keberadaannya kepadamu? Bertahun-tahun ia berada di Afghanistan, berkeliling ke seluruh pelosok negeri mengunjungi hampir seluruh propinsi dan wilayah dari mulai Logar, Kandahar, pegunungan Hindukush, lembah Panshir, Kabul sampai Jalalabad. Bahkan istirahat kurasa tidak pernah terpikir olehnya. Dan yang kutahu sekarang ia berada di Peshawar, kemungkinan bersama mujahidin dari seluruh pelosok dunia.”

Cahaya.. 

“Aku membutuhkanmu, sungguh!”

 Remuk bathinnya membayangkan wajah Ja’far yang sudah bertahun-tahun meninggalkannya menuju medan pertempuran. 

Harapan melimpah ruah pada waktu pria yang saat itu mengkhitbah dirinya.  Tujuh tahun pernikahan mereka yang hanya satu kali menghadirkan sentuhan pada waktu ijab qabul dilakukan disebuah masjid kecil di sudut kota Jakarta yang bising dengan penghuni dari beragam jenis manusia. Ketika sebelumnya pria dengan wajah putih memerah mengubah namanya dari Iriana Xaverry menjadi Shafiyyah Rihana dan dengan begitu rambut yang senantiasa bergelombang indah itu tidak lagi tampak, berganti dengan Jilbab panjang berwarna pucat.
Saat ini berbeda dengan dulu. Kesetian bahkan sekarang berubah menjadi keikhlasan menjadi pertanyaan. Apakah bukan karena wajah tampan dan gagahnya saja aku dulu mau menikah dengannya sampai aku bertaruh nyawa dengan menukar keimananku?

“Rabbighfirlii..”

***

“Rihana, apa kau sudah menerima surat dari kakak? Aku cemas.. tidak seperti biasanya. Sudah lima bulan aku tidak mendengar kabar dari kawan-kawan disana. Aku tidak tau keberadaan kakak saat ini.”

Cahaya..

“Lingkupi aku dengan terangmu. Kecemasan mereka tidak sama dengan  kecemasanku. Bahkan kebutuhan mereka akanmu tidak sebanding denganku”

Mata sendu itu kini tengah memperhatikan sekeliling kamar yang suram dengan tirai-tirai tidak terawat dengan benar. Bunga? Entah layu sejak kapan. Cermin? Entah juga masih bisa digunakan. 

Qum..!!

“Kau berteriak cahaya.. cahaya.. tapi apa langkahmu untuk memperolehnya?”

“Senyummu tidak berguna, bahkan perbuatan baik yang kau lakukan hanya sebatas penghilang gundah gulana”

Suara hati terkadang bisa lebih tajam dari pada sumiran orang-orang disekeliling bahkan orang-orang terdekat. 

Jendela kusam, lantai berdebu, aneka perabot yang menyedihkan menyiratkan keputus-asaan penghuninya.

Yaa ayyuhal muddatsir

Qum, Fa andzir!

Wa Rabbuka Fa Kabbir

Wa tsiyabaka Fa thahhir

Wa rujza Fahjur

Wa la tamnun tastaktsir

Wa li Rabbika Fashbir…

***
Wajah itu.. Penuh goresan dan luka mendalam, kantung mata melengkung dan rahang yang  cekung semakin menambahkan kesedihan luar biasa. Tapi, mata kelabu yang meneduhkan itu masih tetap sama seperti tahun-tahun penuh beban yang dapat ia ingat

Wajah itu milik Ja’far

Di masjid ini, pertama kali ia melihat wajah itu. Ketika tangannya terulur memberikan kantung plastik penuh berisi kebutuhan pokok. Tangannya yang telanjang bergetar hebat tatkala sebuah tatapan menusuk, menghujam jantungnya. Dari mulai saat itulah pertemuannya dengan pemilik wajah itu berbuah harapan. 

Aneh..

Harapan apa itu yang terselip? Seorang sepertiku yang memberikan bantuan kepada orang-orang ini dengan pamrih. Tingginya air yang melanda, bau busuk sampah juga tubuh-tubuh lusuh tidak menjadi halangan untuk menyebarkan keselamatan, pikirnya kala itu.

Tapi keanehan apa yang mampu menghalangi-Nya?

Buktinya setelah itu di masjid yang sama, tangannya berkeringat tatkala sang pemilik wajah menggenggamnya untuk pertama kali dan satu-satunya.. setelah kemudian meninggalkannya untuk sesuatu yang asing baginya.

 “Ya habibty, taukah anti berapa lama ana merekam wajah ini didalam benak ana. Sebentuk wajah hati dengan rona merah di pipi. Kapanpun kegelisahan datang, rekaman itu selalu hadir membawa suasana yang baru saat ini ana tau. Suasana damai, penuh dengan luapan emosi cinta.”

Tangisnya pecah, air matanya tumpah. Kerinduan yang berbalut dengan keraguan kini sirna berganti kebahagian yang menjalar dari mulai pelupuk mata sampai ke relung terdalam hatinya.

“ Uhhibuki misla maa anti ” 

“ Uhiibuki kaifa ma kunti ” 

“ Wa mahma kaana ,mahmaa saara “

“ anti habibaty anti ” 

“  Zawjaty… ” 

Dengan tertatih laki-laki dihadapannya itu berjalan dengan kaki yang tidak sempurna kearahnya. Kayu penyangga bertengger mesra di ketiaknya. Terlihat menyedihkan? Tidak! Laki-laki itu malah terlihat penuh wibawa

Saat ini malahan gadis yang kini senantiasa menghiasi masjid dengan lantunan Al Qur’an memandu anak-anak kecil yang giat mempelajarinya bersyukur, memuji Tuhannya, memuji Rabbnya.
Cintaku padanya bukan karena wajah maupun fisiknya, kini baru ia sadar. Namun karena imannya.

***

Sore ini penuh dengan sejuta pujian pada Rabb Semesta Alam. Langit biru perlahan berubah menjadi violet. Kicauan binatang langit pun jauh tak terdengar karena petang akan segera menjelang. Malam yang sedianya menyelimuti cahaya terik siang akan segera hadir. Matahari akan tenggelam sebentar lagi bergantian dengan sinar lembut rembulan.

Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya. 
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

“Ampuni aku Tuhan karena tidak mencintai-Mu dengan sempurna. Aku tidak bisa mencegah nafsuku untuk tidak memasukkannya kedalam celah hatiku. Jadikan ia sebagai pendampingku di surga- Mu”

Mata kelabu itu berkaca-kaca..

Dihadapannya, gadis yang terbalut rapat jilbab menuangkan segelas minuman.

“Aku mencintaimu saat ini. Ya, saat ini… Karena bagiku, cinta kepada Dia yang telah melimpahiku dengan cahaya adalah cinta yang sejatinya memenuhi dada kita. Dan untuk itu, aku berikrar akan mencintai-Nya untuk selamanya



 "Tulisan ini diikutsertakan dalam 3 Years of Blogging Giveaway yang diselenggarakan oleh Penghuni 60".


3 Years of Blogging Giveaway Penghuni 60

56 komentar:

  1. Mencoba menulis tentang cinta., kalau terasa aneh.. Dimaklumi saja ya (^_^)/

    BalasHapus
  2. minta ijin ikut nyimak aja mbak,, gak ngerti saya soal cinta,,

    BalasHapus
  3. Saya juga gak ngerti... ini mah ngasal-ngasalan aja :D

    BalasHapus
  4. saya jadi pengin ikutan GAnya Mas Wawan nih. tapi ambil yang horror aja lah, hehe

    BalasHapus
  5. saya perlu bolak balik biar faham hehe..
    semoga sukses GA-nya yah...sekalian tak follow deh:}

    BalasHapus
  6. @ Zach : Iya pak ikut meramaikan, kalau ada tantangan gini malah jadi semangat. Kalau horor saya nyerah. Bisa kebayang2 ntar :D

    @ Muro'i : Lah saya sendiri juga tidak faham.. maklum pertamanya nulis tema ginian :D

    BalasHapus
  7. cukup bagus tulisannya, lanjut terus

    BalasHapus
  8. warna tulisannya hampir sama kyak novel. psti berbakat ntar jadi penulis...
    :)

    BalasHapus
  9. @ Acmad : Alhamdulillah, sipp dilanjut :D

    @ Achmed : Aaaaaaaaamiiiiiiiiiiiiiinn :)

    BalasHapus
  10. Wah ini GA-nya Penghuni60 toh?, tadinya aku juga mau ikutan, tapi aku malah merasa tak aca ceritaku yang pantas diikut sertakan hehe...sukses ya Mbak. :)

    BalasHapus
  11. @ Rudy : lah bisa gitu :D

    Sipp., sukses untuk semua :)

    BalasHapus
  12. Sukses ya mbak, GAnya, nanti saya tak nyusul, tapi belum ada inspirasi tentang tulisan cinta .... sukses ya mbak

    BalasHapus
  13. SubhanAllah...
    hatiku terasa bergetar membaca tulisanmu..
    inilah arti cinta yg sebenarnya. cinta yg tdk pernah memandang raut wajah atau pun fisik belaka. cinta yg penuh dgn pengorbanan, dan cinta yg penuh keikhlasan..

    jujur, aku ampe terbawa masuk ke dalam ceritanya,dan merasakan semuanya. sampe2 kedua mataku ini ikut berkaca2..

    sekali lg, ini adalah arti cinta yg sebenarnya, jd buat kalian yg ingin tau apa itu cinta, bacalah cerpen ini..

    Oke sobat..

    _______________________________
    "KAMU TERDAFTAR"

    terima kasih atas partisipasinya..
    cerpenmu hebat
    ^_^)b

    BalasHapus
  14. @ Penghuni : Alhamdulillah... Saya malah jadi terharu dengan komen sobat

    BalasHapus
  15. Wah mantep nih ceritanya,
    sukses ya kawan..

    BalasHapus
  16. bagus nih tulisan, ngikuti, baca pelan pelan sampe habis...... trenyuh but gak sampe nngisss hiks hiks

    BalasHapus
  17. bagus mbak bahasa nya,, suka! keep writing :)

    BalasHapus
  18. Cerita yg bagus mbak.
    subhanallah.

    semoga sukses buat GAnya mbak

    BalasHapus
  19. @ PP : Sipp., sama2 pak :)

    @ Ini : Soalnya saya juga bukan tipe yg mellow abis, jadi sedihnya sekadar aja :p

    @ Tujuh : Oke! U too :)

    @ Faradis : Alhamdulillah.. Sipp :)

    BalasHapus
  20. Ijinkan menyimak kak..salam kenal..

    BalasHapus
  21. wow.. stelah di baca baca ini ikutan GA penghuni ya ^____^ .

    BalasHapus
  22. hmm sy lagi diwarnet.. klo baca yg sepanjang ini.. bisa bisa habis waktu . hehe

    BalasHapus
  23. baca sampe akhir..mengalir, sukses dg GA nya, met ultah jg buat penghuni 60
    semoga kita sllu disinari dengan cahaya cinta Nya, aamiin

    BalasHapus
  24. aku suka sama kalimat yg terakhirrr

    cinta sejati yg hanya kepada pemilik cinta sebenarnya

    BalasHapus
  25. @ Annur : Salam Kenal juga
    @ Miz Tia : Yoyoy
    @ Obat : Makasih gan
    @ Ahmad : Buat PR :D
    @ Wong : Sipp, Aamiin
    @ Kacong : Thx gan
    @ Ahmad Muazim : Itu inti dari the whole story :)
    @ Sabda : Masa? Ane gak ngerasa delete, error kali :0

    BalasHapus
  26. smoga berjaya di GA nya penghuni 60 :)

    BalasHapus
  27. :)
    Tentang kerinduan yang begitu dalam kepda suami...
    Haru,...

    BalasHapus
  28. cinta itu pada semua.... enggak ada batasan.......universal....tapi jgn sampai cinta itu melekakan.....

    BalasHapus
  29. Subhanallah ya, selalu terharu membaca cinta orang2 yang mencintai-Nya

    BalasHapus
  30. sukses mbak kontesnyaaaaa :D

    BalasHapus
  31. cinta itu memang penuh misteri... namun dibaliknya akan kita temukan keindahan dan kedamaian.

    BalasHapus
  32. Cerpen yg indah
    cerpen yang mencerahkan :)

    BalasHapus
  33. @ Penghuni : Kayaknya ni yang punya GA pengalaman banget yak., Berhubung saya masih awam :D jadi ceritanya ngambang2 gimanaaa gitu :p

    @ Achoey : Si akang bisa wae, malu atuh abdi sama sahaja cintanya. Yang cerpen barengan sama windi itu (*cita cinta kalau tidak salah) keren banget! simple tapi penuh makna, ana suka yang model seperti itu. Bagi2 tipsnya atuh...

    BalasHapus
  34. ikut meramaikan dan ijin membaca sob...

    BalasHapus
  35. wah bener bener manstab deh ceritanya gimana kalau di bikin film lebih heboh lagi slam sukses selalu mbak nyimak sampai merinding

    BalasHapus
  36. riceking follow..ups?! ternyata udah tuh

    BalasHapus
  37. jujur tulisan sobat bagus banget sob, saya sudah nggak bisa berfikir seperti itu, gaya tulisannya oke, cara penyampeannya sangat puitis, kalau ini di ikutkan lomba, saya yakin sobat pasti dapat juara,

    g tau juara berapa, yang jelas pasti dapat juara sobat.. keren, 2 jempol manis ku buat sobat dech....

    BalasHapus
  38. Jujur, hmpir diakhir cerita ana mmbacax hrs hdgn 'mata kaca' ukh. Trknang hr2 anaa yg ll... malu jg mski mgkn ini fiksi tp pasti diluar sana bnyk yg srupa dan anaa malu ats sdktx mgkn ktdk sbrn dahulu, kala ditgl u/tholabul 'ilm. Dan smpai hr ini anaa bljr... Allah tngah mnguji cinta hamba-Nya.

    Salam ukhuwah wa jazaakillahu khrn.

    BalasHapus
  39. panjang banget artikelnya...
    nyimak aja,,
    happy blogwalking..

    BalasHapus
  40. @ Masnady : Waduh oke juga kalau bener terawangnya sob, mudah2an aja yak. Jajal2 sapa tau berhasil :D

    @ Amatullah : Heuu., nanti kalau giliran ana yang seperti ini, kita gantian ukh, kebetulan sekarang belum baru fiksinya doank :p

    Salam Ukhuwah., Wa Iyyaky... Happy Blogwalking juga buat sobat semua :)

    BalasHapus
  41. saya nggak bisa komen seperti yang di atas - atas ya mbak, heheh... cuma mengucapkan semoga menang GAnya...

    BalasHapus
  42. Keren nih cerpennya. semoga menang GA-nya. :)

    BalasHapus
  43. two thumbs for ukhtiy, nice post, goodluck. Teruslah berkarya, mungkin bis berlanjut ke novel? :)

    BalasHapus
  44. Pengen ikutan GA nya juga. Tp gak tau bisa apa gak. Pengennya yg horor.

    Wah cerpen ini memberikan nuansa yg berbeda. Romantis sekaligus islami.

    :)

    Kalo berkenan, join balik ke blog saya ya mbaakk . Pgn nambah temen blogger. Hehehe.

    BalasHapus
  45. cukup panjang juga ya, tapi selesai dan terbaca.
    Pendapatnya apa ya? kalau penyajian kalimatnya lebih di rapikan lebih enak dibacanya jika pun panjang. Tiap paragraf di justify. Itu dulu deh.

    Setiap pilihan diiringi dengan tanggung jawabnya, setia atas pilihan mungkin itu juga bagian dari bentuk tanggung jawab.

    BalasHapus
  46. Selamat ya..! Menang juara 1 GA-nya.. :D

    Pantas menang karena tulisannya memang juara.. :)

    BalasHapus
  47. wah bagus banget ceritanya gan , romantis juga ya ,,,

    BalasHapus
  48. pas awal2 nggak ngerti, tapi pas baca lagi dan baca lagi ternyata, "oh begitu"... :-)

    BalasHapus

 

Instagram

Get My G+