Tampilkan postingan dengan label Penyakit Hati. Tampilkan semua postingan

Mensuci Hati, Berlurus Pikir

By : Ave Ry

“Untuk mencapai cara berpikir yang lurus, cara berpikir yang benar, jauhkan dirimu dari hawa nafsu. Karena hawa nafsu lah yang membuat manusia tidak bisa berpikir dengan lurus.”

~ Syaikh Sayyid Syaltut

Dan berapa banyaknya para pengusung Liberalisme yang berdiaspora dan masuk kedalam sel-sel berbagai aliran sesat dan perilaku menyimpang berlindung dibalik tameng akademis/keilmuwan mereka?

Namun sungguh disayangkan, anugrah yang dikaruniakan Tuhan pada mereka malah membuat mereka menjadi agen-agen yang bertugas membelokkan manusia dari kerangka berpikir yang lurus.

Hawa nafsu memiliki peran yang teramat besar dalam menggelincirkan manusia dari fithrahnya. Terlebih lagi jika para pengusungnya menggunakan dalil-dalil agama untuk menambal kesalah-tafsiran mereka.


Allah Subhana wa ta’ala telah memperingatkan manusia bahwa hanya orang-orang yang suci lah, bersih hati dan pikirannya, yang dapat tersentuh oleh Al-Qur’an.



“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.”


(Al-Waqi’ah: 79)



Maka tidak ada jalan lain, kesucian hati dalam rangka menopang cara berpikir yang lurus dan benar sesuai kehendak Sang Pencipta adalah hal yang mutlak dilakukan.



Pada tempat lain Allah Subhana wa ta’ala membimbing kita agar meneladani Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.



(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.”

(Ash-Shaffat: 84)



Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata di dalam tafsirnya, “Yakni dia datang menghadap Allah dengan membawa hati yang selamat dari kesyirikan, syubhat-syubhat, dan syahwat-syahwat yang bisa menghalanginya dari mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Apabila hati seorang hamba telah selamat dari hal-hal di atas, maka hati tersebut akan terhindar dari segala keburukan-keburukan, dan sebaliknya hati tersebut akan memunculkan kebaikan-kebaikan. Dan di antara bentuk keselamatan hati adalah bahwa ia selamat dari perbuatan menipu daya manusia, serta selamat dari hasad dan dari berbagai bentuk akhlak yang tercela.”



Semoga Allah Subhana wa ta’ala menjaga kita dari hawa nafsu yang tercela.



“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar.” (HR. Tirmidzi no. 3591)

Pujian Melenakan

By : Ave Ry
Suka banget dipuji? Hmm, kudu hati-hati loh! Karena pujian itu bisa membuat diri seseorang semakin ujub dan sombong. Tidak bisa dipungkiri, kebanyakan manusia suka dipuji apalagi yang namanya wanita dan begitupula seorang muslimah sekalipun suka dengan pujian.

Padahal kalau kita mengikuti jejak para sahabat Nabi dulu dan orang-orang shalih setelahnya, mereka tidak suka dipuji karena takut rusaknya amal-amal mereka. ‘Abdullah bin ‘Alwi bin Muhammad  al-Haddad berkata di dalam kitabnya Risalatul Mu’awanah wal Muzhaharah wal Mu’azarah:

Jika seseorang memujimu sedangkan hatimu tidak menyukai pujian dan pujian itu memang ada pada dirimu, maka bacalah doa berikut:

"Segala puji bagi Allah yang menampakkan yang baik dan menutupi yang buruk"

Bahkan sahabat Rasul yang mulia Abu Bakar Ash-shidiq ketika dipuji berdoa:

Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka
 
Begitu pula disebutkan dalam kitab Hilyatul Awliya’ karya Abu Na’im Al Asbahaniy bahwa ketika seseorang dipuji di hadapannya, hendaklah ia mengingkari, marah dan tidak menyukainya, ditambah membaca do’a di atas.

Para sahabat nabi dan orang-orang shalih setelahnya tidak suka akan pujian. Karena mereka khawatir amalan mereka jadi terhapus karena selalu mengharap pujian.

Ringkasnya, do’a di atas telah menjadi amalan para salaf sebagai suri tauladan yang baik bagi kita dalam beramal.

“Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya” (HR. Muslim no. 2985).

Imam Nawawi rahimahullah menuturkan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa” (Syarh Shahih Muslim, 18: 115).

Hati-hati pula dengan sifat ujub, yaitu takjub pada diri sendiri. Dalam hadits yang ma’ruf disebutkan,

“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan), dan ujub (takjub pada diri sendiri).” (HR. Abdur Rozaq 11: 304).

Ujub juga tidak merealisasikan ‘iyyaka nasta’in’ (Hanya kepada Allah kita mohon pertolongan). Karena ia merasa dirinya-lah yang berbuat. Ditambah ujub pun dapat merusak amalan kebaikan. Sebagian ulama salaf, di antaranya Sa’id bin Jubair berkata,

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal kebaikan malah ia masuk neraka. Sebaliknya ada pula yang beramal kejelekan malah ia masuk surga. Yang beramal kebaikan tersebut, ia malah merasa ujub (bangga dengan amalnya), lantas ia pun berbangga diri, itulah yang mengakibatkan ia masuk neraka. Ada pula yang beramal kejelekan, namun ia senantiasa takut dan ia iringi dengan taubat, itulah yang membuatnya masuk surga.” (Majmu’ Al Fatawa, 10: 294)
Ya Allah, bersihkanlah diri kami dari sifat tidak ikhlas dan merasa takjub pada diri sendiri. Jadikanlah kami lebih baik daripada yang mereka nilai dan janganlah siksa kami karena pujian mereka.

Sumber :
Rumaysho


Keras Hati ( Al-Qasawah )

By : Ave Ry


 “ Dzikir menghidupkan hati

Laksana hujan yang menghidupkan bumi kering


Dzikir, selamanya tiada berguna bagi hati-hati yang keras

Apakah batu bisa melunak kala mendengar ucapan penasehat? “


Betapa banyak telinga hati telah mendengar nasehat dan petuah, juga santapan ruhani dari para penasehat pagi dan petang, akan tetapi tidak juga ia mampu meresponnya bahkan kukuh dalam kekerasannya… ayat-ayat al-Qur’an yang sampai kepadanya hanya menambah kekerasan, keangkuhan dan kegersangannya… seakan pada pintunya dibentangkan pintu besi sehingga menghalangi kebenaran dan sejuknya dzikir yang sampai pada pemilik.


Mengenai Kerasnya Hati, Ibnu al-Qayyim mengatakan dalam kitabnya Bada’i al-Fawa’id [3/743], “Tatkala mata telah mengalami kekeringan disebabkan tidak pernah menangis karena takut kepada Allah SWT, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya keringnya mata itu adalah bersumber dari kerasnya hati. Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.”


Nabi saw pun berdoa kepada Allah agar terlindung dari hati yang tidak khusyu’, , “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari hawa nafsu yang tidak pernah merasa kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim).


Tanda-tanda hati yang kotor atau sakit


Fitrah manusia adalah suci dan bersih dalam menjalankan perintah agama, namun terkadang dalam perjalanan kehidupannya, manusia sering lupa dan lalai serta terjerumus dalam sifat-sifat "syaithoniyah". Untuk mengenal lebih jauh tanda-tanda hati manusia yang telah kotor atau sakit, berikut ini salah satu tandanya :


Adanya sifat nifaq ( Munafik ) dalam jiwa manusia,


“ Dan diantara manusia ada yang berkata " kami beriman kepada Allah dan hari akhir ", padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit ( Nifaq ), lalu Allah menambah penyakitnya itu, dan mereka mendapat adzab yang pedih, karena mereka berdusta “. Al Baqarah : 8-10


Jika kita perhatikan ayat-ayat tersebut, maka sifat munafik akan menjadikan hati manusia bertambah kotor dan rusak, karena pada dasarnya manusia yang memiliki sifat nifaq akan terlihat diluar dirinya manis akan tetapi dalam bathinnya dia memiliki sifat-sifat syaithoniyyah.


Syekh az-Zamakhsyari dalam kitab tafsirnya "al-Kassyaf", menggambarkan hati yang sakit karena sifat nifaq dalam diri manusia adalah selalu condong untuk berbuat maksiat kepada Allah Swt.


Sedangkan Syekh Abu Zahrah dalam kitab tafsirnya "Zahratu at-Tafasir", bahwasanya hati akan menjadi keras karena sifat nifaq yang selalu menanamkan kedengkian dan selalu menghinakan orang-orang yang beriman. Penyakit hati tersebut menurut beliau tidak ada obatnya, na'udzubillah.


Membersihkan hati yang kotor


Ketika manusia sudah mulai malas beribadah kepada Allah Swt. Maka sebaiknya bersegeralah beristighfar untuk mendapatkan ampunan dari Allah Swt. Karena ketika kita membiarkan diri kita jauh dari Allah Swt. maka hati sedikit demi sedikit akan kotor dan jika tidak segera di obati hati tersebut akan mengeras,

“ Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga hatimu seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang airnya memancar daripadanya. Adapula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya. Dan adapula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah Swt. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan “. Al Baqarah : 74

Oleh karena itu untuk menghindari kerasnya hati cepatlah kembali kepada Allah dengan memohon ampunan dari-Nya, sebagaiman Allah perintahkan kepada orang-orang yang beriman,

“ Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu kedalam surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya, sedang cahaya mereka memancar dihadapan dan disebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, " Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami, sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu “. At Tahrim : 8

Di antara sebab kerasnya hati adalah :

• Berlebihan dalam berbicara
• Melakukan kemaksiatan atau tidak menunaikan kewajiban
• Terlalu banyak tertawa
• Terlalu banyak makan
• Banyak berbuat dosa
• Berteman dengan orang-orang yang jelek agamanya

Agar hati yang keras menjadi lembut

Disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim di dalam al-Wabil as-Shayyib [hal.99] bahwa suatu ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada Hasan al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id! Aku mengadu kepadamu tentang kerasnya hatiku.” Maka Beliau menjawab, “Lembutkanlah hatimu dengan berdzikir.”

Sebab-sebab agar hati menjadi lembut dan mudah menangis karena Allah antara lain :

• Mengenal Allah melalui nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya
• Membaca al-Qur’an dan merenungi kandungan maknanya
• Banyak berdzikir kepada Allah
• Memperbanyak ketaatan
• Mengingat kematian, menyaksikan orang yang sedang di ambang kematian atau melihat jenazah orang
• Mengkonsumsi makanan yang halal
• Menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat
• Sering mendengarkan nasehat
• Mengingat kengerian hari kiamat, sedikitnya bekal kita dan merasa takut kepada Allah
• Meneteskan air mata ketika berziarah kubur
• Mengambil pelajaran dari kejadian di dunia seperti melihat api lalu teringat akan neraka
• Berdoa
• Memaksa diri agar bisa menangis di kala sendiri

Perbuatan manusia bersumber dari hatinya, maka ketika hatinya selamat dari sifat-sifat yang kotor maka perbuatan tersebut akan mencerminkan prilaku yang islami dan jauh dari maksiat kepada Allah Swt.

Ketahuilah,sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah "Qolbu" yaitu hati ". ( H.R Bukhori ).


- From many sources

- Copyright © Al-Ihtisyam - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -