Tampilkan postingan dengan label Poster. Tampilkan semua postingan

Penat Fii Sabilillah

By : Ave Ry
Kemungkinan saya nubi, jadi ketika tetiba mendapat limpahan tugas yang bejibun, terkaget-kaget!

Diminta buat ini, diminta mengurus itu, diamanahi membimbing ini dan itu.

Yang semuanya bisa dalam satu waktu bersamaan.

Menggerutu, malah kadang kalau sudah terlalu penat sudah saja ditinggalkan semua. Dan dalam hati bersungut-sungut, "Capeek".

'Kebetulan' kemarin pertama kali mengikuti rangkaian Kuliah Dakwah, yang kali itu materi diampu ust. Khoirul Muttaqin, Lc Pembina Majlis Al-Qur'an dan Pesantren Madinatul Qur'an Depok.


Beliau menohok saya betul-betul, "Jika Allah menghendaki kebaikan pada seseorang maka akan Ia buat kita berkarya (beramal)" ungkap beliau menyitir sebuah hadist. Lanjutnya, "Apakah kita mau menjadi orang yang kehidupannya hanya berisi makan, tidur hingga wafat tidak berguna".

Beruntung saya duduk didepan, kalau dibelakang sudah tak bisa ditahan-tahan air mata yang mengembang.

Ya, kemungkinan karena nubi itu, setiap kali penat seringkali saya bersungut-sungut.

Lupa bahwa penat itu adalah sebesar-besar karunia yang diberikan oleh-Nya, karena penat yang dihabiskan Fii sabilillah amat besar nilainya.

اَللّهُمَّ اَحْيِهَا بِمَعْرِفَتِكَ، وَأَمِتْهَا عَلَى الشَّهَادَةِ فِيْ سَبِيْلِكَ
إِنَّكَ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرِ
اَللَّهُمَّ أَمِيْنَ


Matinul Khuluq

By : Ave Ry


Matinul khuluq (Akhlaq yang kuat) merupakan akar dari akhlaqul karimah. Kekuatan akhlaq yang berasal dari penerapan tauhid dalam diri, kemudian terjewantahkan menjadi akhlaqul karimah. 


Seorang manusia dibentuk untuk memiliki sikap dan sifat selayaknya manusia. Misalnya, marah ; Seorang Muslim yang marah ketika ajaran Islam dihinakan, hukum Allah ditelantarkan, jelas memiliki akhlaq yang kuat.

Permasalahan tidak menjadi sempit ketika kita tempatkan masalah pada porsinya. Ada alasan dan cara yang menjadi variabel selain dari emosi. Matinul khuluq membawa kita untuk berakhlaq sesuai dengan kondisi dan keadaan. Karena manusia memang bukan malaikat.

Ketika bicara mengenai akhlaqul karimah, kita bicara mengenai implementasi semata, bagaimana berakhlaq secara umum dengan baik. Kenyataan sangat berbeda.

Contoh matinul khuluq adalah ketika Nabi Ibrahim 'alaihissalam ketika beliau berhadapan dengan ayah dan kaumnya. Penuh dengan permusuhan terhadap kemusyrikan. Tidak ada yang menyatakan bahwa akhlaq Nabi Ibrahim ketika itu sebagai akhlaq yang tercela. Bahkan Allah memuji dan perintahkan kita untuk meneladaninya.

Akhlaqul karimah adalah hal yang baik, namun tidaklah cukup. Matinul khuluq meliputi akhlaqul karimah dan keutuhan dalam tauhid.

Mengapa demikian? Karena akhlaqul karimah menjadikan kebaikan dan nilai-nilai manusiawi sebagai parameter. Seorang pendeta bisa berakhlaq yang baik.Namun matinul khuluq menjadikan tauhid sebagai barometer penilaian dan timbangan baik atau buruk. Kepribadian bertauhid yang utuh.

Rasulullah pernah meluruskan pemahaman mengenai pepatah Arab jahiliyah, “Bantulah saudaramu baik ketika ia benar maupun salah.” Mengenai peribahasa itu, Rasul meluruskan membantu saudara dalam kebaikan adalah dengan mendukungnya semampu kita. 

Lalu sahabat menanyakan, “Kami mengerti bagamana membantu dalam kebaikkan, namun bagamana (maksud) membantunya dalam kemaksiatan?”

Rasul menjawab, “Dengan mencegahnya.”

Inilah matinul khuluq. Ketika kita tetap melangkah sesuai dengan tuntunan tauhid sebagai timbangan.

Akhlaqul karimah akan menghentikan kita ketika keadaan membutuhkan tindakan yang tegas, konfrontasi misalnya, namun matinul khuluq tidak.

Salimul Aqidah

By : Ave Ry
Seberapa bersih aqidah kita? Tidak mendatangi peramal, tidak meminta bantuan ‘orang pintar’ dan tidak bergantung pada hal atau benda tertentu sebagai kaifiat. Secara kasat mata mungkin hal-hal seperti berikut tadi sudah tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan seorang muslim saat ini.

Namun ternyata, belum tentu semua bagian tadi ditinggalkan. Dengan menggunakan dalih perantara, masih banyak sebagian dari kita yang tidak sadar telah mengotori aqidahnya.

Contohnya, para remaja masih senang membaca aneka zodiak ringan, sebagian tetua menyarankan anak mereka yang baru melahirkan untuk membawa beberapa perlengkapan tertentu seperti ; gunting, bawang putih, dll. Atau masih ada pula yang percaya bahwa seseorang dapat menggandakan uang, luar biasa bukan?

Jika kita pertanyakan tentang perbuatan mereka itu pasti mereka akan berkata, “Ini merupakan bagian dari usaha” atau para remaja akan menjawab, “Ini buat seru-seruan aja”.

Merujuk kepada definisinya, Aqa’id adalah perkara-perkara yang hati kita membenarkannya, jiwa menjadi tenteram karenanya, dan ia menjadikan rasa yakin pada diri kita tanpa tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.

Sehingga Salimul Aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan- ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah,

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah Tuhan Semesta Alam” Al-An’aam : 162

Maka segala usaha haruslah bersandar kepada Allah saja, baik itu hasil maupun prosesnya. Tidak dibenarkan seorang muslim menggunakan perantara-perantara bagi usahanya dengan sesuatu yang bukan menjadi bagian dari ketentuan-Nya, atau malah sesuatu yang dilarang-Nya,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar"” An-Nisaa’ : 48

Prof. Dr. Sayyid Sabiq dalam Aqidah Islamiyah mengatakan, “Aqidah ini merupakan jiwa bagi setiap individu. Ia bisa hidup dengan baik, bila kehilangan aqidah ini, maka ruhaninya mengalami kematian. Aqidah adalah cahaya yang apabila manusia tidak mendapatkannya, maka ia akan tersesat dalam berbagai kancah kehidupan, dan mengalami kebingungan di berbagai lembah kesesatan”

- Copyright © Al-Ihtisyam - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -