Belum Berjudul




“Apalagi yang kamu tunggu? Usia sudah lebih dari cukup untuk menikah”

Aku hanya terdiam saat ami berkali-kali membahas hal yang sama. Memang, dalam keluarga kami tidak ada gadis berusia lebih dari dua puluh lima tahun yang belum menikah. Jadi sangat wajar jika ami berkali-kali membahas hal itu dalam hampir tiap obrolan kami. 

“Ami malu sama saudara-saudara yang lain. Tiap kali pertemuan keluarga mereka selalu menanyakan kapan kamu akan menikah. Kamu kan tahu sendiri.”

Sungguh ami, nia pun ingin segera menikah.

“Bukankah kamu yang ingin mendapatkan suami yang baik agamanya? Lantas kenapa kamu menolak Zaky? Dia itu kan sudah baik agamanya, bagus bacaan Qur’annya. Lalu apa lagi?”

Lagi-lagi aku hanya bisa diam dan menundukkan kepala. Aku benar-benar tak tahu lagi harus berkata apa. Alasan yang aku kemukakan kemarin tidak masuk akal menurut siapapun juga. “Bukankah sudah menjadi kewajiban istri untuk mengikuti suami kemana saja dia mau membawa kita? Jadi apa masalahnya jika dia mau membawa kita untuk tinggal bersama orangtuanya?” begitu selalu yang orang-orang katakan ketika aku mengemukan alasan mengapa aku menolak.

“Ami capek sama kamu nia! Apa kamu gak takut kalau nanti kamu tidak akan pernah menikah karena menolak seorang pria sholeh? Kan kamu yang lebih tahu agama”

Percakapan terhenti dengan berlalunya ami dari beranda rumah kami.

Ya Rabb, rasanya ingin aku bersimpuh meminta maafnya karena tidak bisa menjadi anak yang berbakti. Aku belum bisa mengabulkan apapun juga permintaan ami. Tapi lidahku kelu, tenggorokanku sesak dan mataku berusaha untuk tidak menumpahkan linangan airnya.

“Lia gak habis pikir kak. Kenapa sih kakak menolak akh Zaky? Beliau itu orangnya baik kak. Kalau kita kekurangan dana aja beliau yang suka nambahin. Orangnya gak pelit. Mending kakak baca-baca buku lagi deh tentang pernikahan. Lia tuh sedih tau gak kak! Lia kenal sama akh Zaky, Lia udah anggap akh Zaky itu abang Lia sendiri”

Sebenarnya aku sedikit emosi ketika temanku Lia yang mulanya menyodorkan biodata kepadaku itu mulai memaksaku untuk menerima. Aku merasa seperti terintimidasi. Dengan bahasanya yang lugas dia mengungkapkan bahwa sebagai seorang istri itu harus manut dengan suami. Belum lagi aku jadi teringat saat proses ta’aruf seorang temannya berkata padaku, “Tidak ada manusia yang sempurna sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tidak baik menjadi orang yang terlalu perfeksionis”. 

Abi, salahkah Nia karena telah mengecewakan orang-orang ini?

“Lia, tolong sampaikan pada beliau : ‘Afwan Ya Akhi, ana tidak bisa meneruskan proses ta’aruf ini lebih lanjut. Ana sadar akan menjadi pihak yang bersalah karena telah mengulur-ngulur waktu. Membuang-buang waktu antum. Sebenarnya selama ini ana sedang memantapkan hati, karena ana tidak mau ceroboh dalam mengambil keputusan sehingga ana membutuhkan waktu yang lama untuk berpikir. Tapi ternyata sampai batas ini ana tetap tidak bisa. Ana harap semoga hal ini tidak menjadikan ukhuwah kita sebagai Muslim menjadi rusak. Sekali lagi ana mohon maaf, Allahul musta’an.. Salam takzim ana untuk kedua orangtua antum. Barakallahu fikum’.”

Mungkin aku akan menyesalinya suatu saat nanti. Tapi sungguh, tahukah kalian? Aku memiliki sebuah cita-cita. Aku ingin membangun sebuah keluarga diatas landasan keimanan yang kokoh. Aku ingin memiliki anak-anak yang akan menjadi pembela-pembela agama-Nya, seorang Mujahid. Aku ingin memiliki anak-anak yang akan menjadi ulama yang besar sekaligus ilmuwan. Aku ingin memiliki anak-anak yang yang akan menjadi hafizh-hafizh Al Qur’an. Aku ingin anak-anakku kelak sangat bersemangat untuk datang ke Majelis ilmu syar’i, berdekatan dengan ulama-ulama tsiqoh. Berlebihankah? Jika ya, aku akan katakan : itulah cita-cita. Jika tidak, maka aku akan katakan : Aku tidak melihat teladan itu dalam dirinya.



“Wajar ukht, ana juga sudah lebih dari sepuluh tahun berkecimpung dalam organisasi ini. Tapi memang tidak semuanya mempunyai ghiroh yang tinggi dalam tholabul ‘ilmy. Islam itu bukan hanya sekedar rajin sholat, rajin puasa dan bisa baca Qur’an, tapi lebih dari pada itu. Jika beliau tidak ada minat dan semangat dalam menuntut ilmu seberapa lamanya pun masuk organisasi ini tetap saja akan seperti itu. Jika sudah malas membaca-baca buku lantas bagaimana jadinya?”

“Syukron Ya Cha..”

2 komentar:

  1. belum menikah itu bukan berarti tidak ingin ya..tapi memang belum menemukan orang yang tepat..hanya kadang orang2 sekliling yg justru memberi cap bahwa tidak ingin menikah..

    kunjungan balik.. :)

    BalasHapus
  2. Bener banget ukht., jadi dilema... Syukron kunjungannya

    BalasHapus

 

Instagram

Get My G+