Tampilkan postingan dengan label Pojok 'Ry'alita. Tampilkan semua postingan
16 November
By : Ave Ry
"Bi ruh...bi dam...nafdika yaa al-Aqsha !
"Bi ruh...bi dam...nafdika yaa al-Aqsha !
"Bi ruh...bi dam...nafdika yaa al-Aqsha !
(Dengan jiwa dan darah, kami persembahkan untuk Aqsha !)
“Khaibar... Khaibar... Ya Yahud ! Jaisyu Muhammad Saufa Ya'ud...”
(Khaibar... Khaibar..ya yahudi..! Pasukan Muhammad PASTI akan kembali...)
Allahumma ‘a-izzal islama wal muslimina
Allahummanshur ikhwananal musliminal mujahidina fi filistin
Allahumma tsabbit imanahum wa anzilis-sakinata ‘ala qulubihim wa wahhid shufufahum
Allahumma ahlikil kafarata wal musyrikina Allahumma dammiril yahuda wa israila
Wa syattit syamlahum wa farriq jam’ahum, Allahummanshur ‘alal mujahidina a’daa-ana wa a’daa-addin
Birahmatika ya arhamar-rahimin wa shallallahu ‘alan-nabiy Muhammad
“Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Ya Allah,
tolonglah kaum Muslimin dan Mujahidin di Palestina. Ya Allah,
teguhkanlah Iman mereka dan turunkanlah ketenteraman di dalam hati
mereka dan satukanlah barisan mereka. Ya Allah, hancurkanlah kaum kuffar
dan kaum musyrikin. Ya Allah, binasakanlah kaum Yahudi dan pasukan
Israel dan cerai-beraikanlah kesatuan mereka. Ya Allah, menangkanlah
kaum Mujahidin atas musuh kami musuh agama dengan RahmatMu, Wahai Yang
Maha Pengasih. Dan sampaikanlah Sholawat kami kepada Nabi Muhammad.”
Wait For Me, Ummi...
By : Ave RyRasul kita yang mulia mengatakan, “Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai….” (HR. Al-Bukhari)
Dan engkau, duhai ibuku adalah yang aku cintai. Maka aku akan bergegas menuju jalan-Nya agar dipersimpangan nanti kita dipertemukan disebaik-baik tempat berteduh, dibawah naungan-Nya.
Jika belum pernah terucap dari bibirku maka lewat tulisan maya ini kusampaikan, “Aku sayang Mama…” engkau adalah cita-citaku, pendorong harapan terbesarku, senyum dan air mataku, engkau adalah surgaku.
Dan ketika rindu ini terasa mencekam, ciuman hangat untukmu kutitipkan lewat sujudku pada-Nya. Sampaikan, sampaikan Yaa Rahman…
Dan ketika kerongkongan ini tercekat menahan isakan tangisku kulantunkan baris-baris kesayangan lewat do’aku pada-Nya. Sampaikan, sampaikan Yaa Rahim…
Anas bin Malik radhiallaahu anhu meriwayatkan ketika putra Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, Ibrahim akan meninggal, ia datang menemui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sedangkan Ibrahim nafasnya sudah termegah-megah, maka kedua mata beliaupun berlinang air mata. Rasulullah mengambilnya dan meletakkannya di atas pangkuan sambil berkata:
“Wahai anakku! Aku tidak memiliki hak kuasa apapun yang dapat kuberikan kepadamu di sisi Allah”.
Melihat Nabi menangis, Abdul Rahman bin Auf dan Anas lalu bertanya:
“Wahai Rasulullah mengapa kamu menangis? Bukankah kamu telah melarang menangis?’
Beliau menjawab :
“Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya tangisan itu adalah rahmat, dan barangsiapa tidak memiliki kasih sayang maka ia tidak mendapatkan kasih sayang”,
kemudian beliau bersabda lagi:
”Sesungguhnya mata bisa berlinang, hati juga bisa berduka namun kita hanya bisa mengucapkan yang diridhai tuhan kita. Wahai Ibrahim, sungguh kami sangat bermuram durja karena berpisah denganmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Apa yang mampu kulakukan Yaa Robbi? Engkau telah mengambil kembali milik-Mu. Engkau menghendaki yang terbaik dari bagian jiwaku
Apa yang mampu kulakukan Yaa Robbi? Didikan-Mu telah sampai pada derajat ini. Sungguh berat terasa pelajaran yang Kau beri kali ini. Engkau menghendaki pelajaran sampai kepadaku dengan cara yang paling tidak kusukai.
Pelajaran mengajarkanku lewat sebuah riwayat dari Ummu Salamah yang tertimpa musibah. Ia ridho dengan musibah yang menimpanya. Ia meminta pengganti yang terbaik dari suaminya yang telah tiada.
Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah yang menimpaku, dan berilah aku ganti yang lebih baik daripada musibah yang telah menimpa.” (HR. Ahmad dan Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawi)
Aku mampu ridho, Kau lihat? Tapi meminta pengganti? Pengganti seperti apa yang dapat menggantikan seorang ibu? Tidak, aku tidak ingin pengganti. Tapi karena aku tahu Kau Maha Pemurah maka aku meminta Engkau membangunkan sebuah rumah yang nyaman bagi ibuku, yang tidak pernah ia miliki. Sebuah tempat dimana hanya ada kalimat-kalimat kebaikan, tidak ada kesusahan hanya berisi kedamaian seperti yang selalu diinginkannya…
"Sungguh, ku kan kembali wahai ibu…, kan kucium keningmu nan suci. Kan kutumpahkan semua rinduku, dan cium wanginya tangan kananmu. Kan kubersihkan tanah di kedua telapak kakimu dengan pipiku ketika aku bertemu denganmu..."
Tag :
Pojok 'Ry'alita,
Menara, Yo Te Amo!
By : Ave Ry
I was falling in love for the very first time
Sitting down the chair and a friend next to mine
Wondering, am I in a right place
Or should I go and no more space
Believe it or not, perubahan bisa dicapai dengan sekejap! Well, walaupun gak sekejap-kejap amat, tapi dengan sarana yang tepat dan fasilitas yang mendukung... Eh? Bisa kok.
Kalau mengingat beberapa tahun ke belakang Gen-Q suka tersenyum kecut. Kok bisa ya si pop lovers with music addict jadi akhwat? Huehe. Fashion apa yang dulu Gen-Q gak kenal, film apa yang aktornya gak dihafal dan lagu mana yang masuk billboard sebelumnya gak diprediksi? Teman-teman, jangan ditanya lagi... kalau bukan pencinta buku ya pencinta musik, kalau ngobrol bisa ngalah-ngalahin Jessica Alba sama Carson Daly! (VJ tahun berapa ituhh??)
Tapi kalau sobat Gen-Q kebetulan melewati Masjid Raya Bogor hari sabtu dan bertemu, pasti gak akan menyangka kalau ada satu akhwat nubi yang dulunya boro-boro nongkrong di Masjid yang ada seliweran di mall. Yah, jangankan sobat, sahabat-sahabat lama saja terbelalak.
"Ini Erri bukan ya?", "OMG, Erri kenapa lo??? Kesambet!?", "Gue harap lo bisa sadar secepatnya dari aliran sesat itu...." Hiks, miris.
Berawal dari perkenalan dengan seorang akhwat yang asik. Ternyata, dulu pun sewaktu masih gaul (sekarang masih tetep gaul kok) xoxo, senang berdiskusi yang rodo berat. Tentang ini itu yang boro-boro sampai kepikir remaja sekarang yang ngaku gaul. Akhwat itu kemudian mengajak untuk mengikuti kajian di Masjid Raya Bogor. So, why not?
Dan disanalah, perubahan sekejap itu terjadi. Mata mulai memperhatikan, telinga mulai menyaring, akal mulai bekerja dan hati mendadak malu. Ya, malu melihat sekitar akhwat berjilbab lebar, sedangkan Gen-Q waktu itu masih berjeans ria yang kadang ber-capuchone dengan jilbab tipis berwarna. Perasaan dulu itu merasa 'nothing', ketika seorang ustadz memberikan tausyah terasa terasing.
Setelah pertemuan dengan akhwat asik itu, Gen-Q mulai mengakrabkan diri dengan seorang akhwat yang nantinya menjadi role model bagi Gen-Q. Tertutup rapat, anggun, cerdas dan santun, Sannisa namanya. Dengannya Gen-Q banyak mengambil manfaat, dari mulai berbusana syar'i, melebarkan hijab, bertutur kata tertata, bersemangat ibadah dan mengenal ukhuwah. Dan darinya pula arti persaudaraan dalam Islam begitu menyata. Uhibbuki fillah, adalah pesan yang disampaikannya. Dan bukan hanya sekadar kekata, tapi pelukan hangat dengan senyum teduhnya yang berlama. Gadis pemalu ini, semoga Allah merahmati wajahnya dan menjauhkannya dari percikan api neraka, aamiin.
Kemudian bak roket, melesat cepat meninggalkan kumpulan debu. Gen-Q masih teringat ucapan seorang ustadzah yang 'galak-galak tapi baik' itu, "Kamu itu yang belajarnya paling cepat, paling kelihatan perubahannya". Waktu itu Gen-Q hanya tersenyum segaris, padahal dalam hati "Yeah, berhasil... berhasil... hore!". Bagaimana gak terlihat berubah? wong dulu memang gak pernah belajar ngaji, baca Al Qur'an otodidak aja, baca Iqro sendiri. So ketika diajari tajwid, makhorijal hurf ya terlihat sekali bedanya. Tapi gak seperti Bu Umi Salma bilang, belajarnya cepat, tepatnya lebih lama waktu belajarnya. Kalau mungkin ada teman yang belajar hanya dikelas, maka Gen-Q menghafal dan mempraktekannya dirumah tiap hari full! Dan jika galaknya bisa membuat ambruk orang, tapi bagi Gen-Q malah menjadi lecutan. "Halah, bodo lah... emang gue gak bisa biar dikatain jelek juga biarin".
Dan begitu saja… Gen-Q menjadi aktif di Menara, walaupun telat dan gak bisa disebut remaja Masjid (masih ingat usia), tapi ada beberap kegiatan disana yang Gen-Q dan teman-teman sebagai penyelenggaranya.
Markaz Islam Bogor, begitu biasa tempat ini disebut karena memuat berbagai rupa, dari mulai ormas, gerakan Islam, mahzab sampai bedah kitab agama lain juga ada! Dan jika ditempat lain ada beberapa gerakan Islam yang saling bersitegang, di Masjid ini malah kita mendudukannya dalam satu atap, salah satu contohnya bisa baca disini. Sebenarnya banyak lagi kegiatan lain, misal pembahasan fiqih sholat yang menghadirkan Ust. Sarbini pemimpin HASMI dan Ust. Taufik Hulaimy dari IM. Atau atap yang biasa digunakan Buya Yahya yang ‘nyufi’ bergantian digunakan juga oleh Ust. Yayha Badrussalam yang ‘nyalaf’. Salut buat DKM-nya yang gak pilih-pilih (asal bukan yang jelas sesatnya).
Dengan Radio Mars yang mengudara dan kegiatan dakwah tanpa jeda tiap harinya, Masjid Raya Bogor adalah rumah yang sangat nyaman bagi semua orang, wa bil khusus Gen-Q sendiri. Home sweet home, senyaman-nyamannya rumah, sehangat-hangatnya keluarga setelah rumah adalah Masjid Raya Bogor dengan Menara-nya sebagai naungan. Tempat berbagi pikiran, mengeluarkan pendapat dan mengenal banyak orang dan berteman!
Seketika sudah tiga tahun sejak pandang pertama pada menara! Berputar roda, tapi tetap sama. Malam-malam penuh berkah dengan semarak iktikaf, pagi yang cerah dengan tausyah dan siang yang dulu penuh semangat tak akan terganti. Walaupun satu persatu penghuninya meninggalkan 'rumah', tapi akan selalu ada penghuni baru yang akan menghias dinding-dindingnya dengan lafaz 'Subhanallah'.
Menara, Yo Te amo! Aku jatuh cinta...
Keindahanmu menggugah naluri, mengubah pribadi
Kehangatanmu memercikan semangat, menyatakan mimpi
Kesederhanaanmu memalingkan sombong meredam pendengki
Ya Rabb, jadikanlah aku salah satu dari golongan yang Engkau lindungi. Saat ini aku tak bisa sesering dulu mengunjunginya karena ada seseorang yang lebih membutuhkanku disisinya. Dan dalam Lindungan-Mu, lindungi kami, karena Engkaulah sebaik-baik pelindung...
“Ada tujuh golongan yang akan dilindungi Allah dalam lindungan-Nya pada hari tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya: Imam yang adil, pemuda yang rajin beribadah, seorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai, bertemu dan berpisah hanya karena Allah, seorang laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan terhormat dan cantik, lalu ia berkata aku takut kepada Allah, seorang yang menyembunyikan sedekahnya tidak ingin dilihat orang, dan seorang yang mengingat Allah dalam keheningan hingga menitikkan airmata.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Tag :
Ave Ry and Friends,
Pojok 'Ry'alita,
Find Your Way To Say, “Alhamdulillah”
By : Ave Ry
Ada nggak diantara sobat yang pernah ngerasa, “Jadi dia enak ya” entah karena ‘si dia’ itu lebih dalam materinya, fisiknya, pendidikannya, keluarganya, dll. Kalau laki-laki nggak tau juga deh, since Gen-Q wanita, hehe. Nah, yang namanya wanita itu cenderung untuk ngerasain hal ini. Misalnya aja pengalaman Gen-Q dengan teman-teman. Dulu itu seriiing banget mengalami yang namanya kurang self confidence, penyebabnya? Selalu ngerasa kurang!
“Dia mah enak, keluarganya berasal dari keluarga berpendidikan tinggi, dia oke banget deh kerjanya di Bank Nasional udah gitu cantik lagi, dia kan dari kecil udah diajarin ini itu… aku?”. Teruus aja, daftarnya nggak selesai-selesai. Padahal udah banyak tau yang namanya diri itu nggak boleh kebanyakan mengeluh, “La Tahla!” tapi manusia itu cepat sekali lupanya…
Tapi beruntunglah jika dari kealpaan sobat bisa menemukan ‘jalan pulang’ yaitu kembali ingat.
Dan kejadian ahad kemarin itu adalah salah satu cara Allah SWT untuk mengembalikan Gen-Q dari kealpaan dari yang namanya bersyukur.
Seorang teman semasa SMA dulu sms “Ry ada acara nggak minggu, kalau nggak ada temenin yuk ada acara anak yatim” begitu bunyinya. Setelah menimbang prioritas acara, maka setelah Liqo pukul 12 siang pun Gen-Q akhirnya menyetujui datang dan sampai pukul 14-nya (jaraknya jauh juga ya). Mulai pukul 15 pun anak-anak yatim berdatangan ke Masjid di dekat Murobbi teman SMA itu. Subhanallah, giat ya, padahal acara baru mulai pukul 16.
Di acara itu dibagikan dari mulai sekotak snack, nasi box, sajadah dan nggak ketinggalan amplopnya. Dan taukah sobat? Semua biaya itu ditanggung oleh teman saya itu. Well, memang beliau bilang pernah bernazar pada Murobbi ingin buat acara dengan anak yatim. Saya pikir waktu itu biaya dibagi beberapa orang, secara untuk 40 paket itu kan lumayan juga. Dan setelah tau ternyata semua biaya berasal dari teman saya pikir, “Yah, dia kan kerja di Bank, wajar”.
Sebelum acara dimulai seharusnya teman saya memberikan kata sambutan, tapi beliau malu lantas minta diwakilkan Murobbi. Dan inilah saat yang membuat Gen-Q tersentak “Adik-adik… mari kita do’akan kak … agar lekas sembuh..” Lekas sembuh? Memang siapa yang sakit?. “Kita do’akan semoga kak … diangkat penyakitnya sama Allah, karena kak … sekarang ini menderita penyakit Kanker Payudara..”
Masya Allah, tidak dapat terbendung air mata saat mengaminkan do’a dari sang guru. Ternyata teman yang selama ini selalu terlihat sempurna di mata memiliki problemanya sendiri, dan beliau pun tak pernah bercerita tentang masalah satu ini. Gen-Q menjadi begitu malu, malu pada kedermawanannya, malu pada sikap tawakalnya, dan malu pada caranya berusaha untuk menyembuhkan dirinya. Ya, cara itu dengan berbagi syukur beliau dengan memberikan sebagian rizqi yang Allah SWT berikan dengan jalan yang paling baik, yaitu menyantuni anak yatim.
“Fa bi ayyi ala I robbi kuma tukadzdziban..”, Ya, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Sekitar Masjid bergemuruh dengan lantunan surah Ar-Rahman, 40 anak yatim, bapak-bapak DKM, teman-teman dan entah berapa banyak malaikat yang turut mendo’akan. Semoga langkahmu selalu dalam keberkahan-Nya teman…
Sadar, dengan sesadar-sadarnya.
Tengoklah lagi, perhatikan, jika belum bertemu maka periksa ulang nikmat apa yang diberikan Allah SWT kepada kita yang ternyata tidak diberikan-Nya pada orang lain. Ternyata sungguh banyak, namun kita lebih banyak lagi lalai. Sobat, kesehatan adalah rizqi yang amat sangat besar, waktu luang pun merupakan rizqi yang tak akan kembali, begitu juga kefahaman dalam agama. Dan, kedamaian hati tanpa tuntutan hutang juga merupakan rizqi..
“Ada dua buah nikmat yang banyak orang tertipu oleh keduanya; yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari )
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” (HR Bukhari dan Muslim).
“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan jadikan ia beramal.” Dikatakan, “Apakah dijadikan beramal itu?” Beliau bersabda, “Allah bukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridla kepadanya.” (HR Ahmad dan Al Hakim dari Amru bin Al Hamq).
Dan jangan sobat anggap sebuah musibah adalah murka Allah, jika musibah diberikan pada mereka yang tha’at, justru itu merupakan kebaikan yang diberikan Allah SWT bagi mereka di dunia, untuk menggugurkan dosa, meningkatkan derajat.
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR Ahmad dan Bukhari dari Abu Hurairah).
Nah, bagi sobat yang masih lalai akan nikmat Allah, yuk kita kita cari sama-sama, cari cara untuk mengucapkan Alhamdulillah…
"Janganlah kalian lalai sehingga kamu melupakan kasih sayang (ar-rahman)." (HR Tirmidzi)
“Dia mah enak, keluarganya berasal dari keluarga berpendidikan tinggi, dia oke banget deh kerjanya di Bank Nasional udah gitu cantik lagi, dia kan dari kecil udah diajarin ini itu… aku?”. Teruus aja, daftarnya nggak selesai-selesai. Padahal udah banyak tau yang namanya diri itu nggak boleh kebanyakan mengeluh, “La Tahla!” tapi manusia itu cepat sekali lupanya…
Tapi beruntunglah jika dari kealpaan sobat bisa menemukan ‘jalan pulang’ yaitu kembali ingat.
Dan kejadian ahad kemarin itu adalah salah satu cara Allah SWT untuk mengembalikan Gen-Q dari kealpaan dari yang namanya bersyukur.
Seorang teman semasa SMA dulu sms “Ry ada acara nggak minggu, kalau nggak ada temenin yuk ada acara anak yatim” begitu bunyinya. Setelah menimbang prioritas acara, maka setelah Liqo pukul 12 siang pun Gen-Q akhirnya menyetujui datang dan sampai pukul 14-nya (jaraknya jauh juga ya). Mulai pukul 15 pun anak-anak yatim berdatangan ke Masjid di dekat Murobbi teman SMA itu. Subhanallah, giat ya, padahal acara baru mulai pukul 16.
Di acara itu dibagikan dari mulai sekotak snack, nasi box, sajadah dan nggak ketinggalan amplopnya. Dan taukah sobat? Semua biaya itu ditanggung oleh teman saya itu. Well, memang beliau bilang pernah bernazar pada Murobbi ingin buat acara dengan anak yatim. Saya pikir waktu itu biaya dibagi beberapa orang, secara untuk 40 paket itu kan lumayan juga. Dan setelah tau ternyata semua biaya berasal dari teman saya pikir, “Yah, dia kan kerja di Bank, wajar”.
Sebelum acara dimulai seharusnya teman saya memberikan kata sambutan, tapi beliau malu lantas minta diwakilkan Murobbi. Dan inilah saat yang membuat Gen-Q tersentak “Adik-adik… mari kita do’akan kak … agar lekas sembuh..” Lekas sembuh? Memang siapa yang sakit?. “Kita do’akan semoga kak … diangkat penyakitnya sama Allah, karena kak … sekarang ini menderita penyakit Kanker Payudara..”
Masya Allah, tidak dapat terbendung air mata saat mengaminkan do’a dari sang guru. Ternyata teman yang selama ini selalu terlihat sempurna di mata memiliki problemanya sendiri, dan beliau pun tak pernah bercerita tentang masalah satu ini. Gen-Q menjadi begitu malu, malu pada kedermawanannya, malu pada sikap tawakalnya, dan malu pada caranya berusaha untuk menyembuhkan dirinya. Ya, cara itu dengan berbagi syukur beliau dengan memberikan sebagian rizqi yang Allah SWT berikan dengan jalan yang paling baik, yaitu menyantuni anak yatim.
“Fa bi ayyi ala I robbi kuma tukadzdziban..”, Ya, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Sekitar Masjid bergemuruh dengan lantunan surah Ar-Rahman, 40 anak yatim, bapak-bapak DKM, teman-teman dan entah berapa banyak malaikat yang turut mendo’akan. Semoga langkahmu selalu dalam keberkahan-Nya teman…
Sadar, dengan sesadar-sadarnya.
Tidaklah patut membandingkan kenikmatan yang diberikan Allah SWT pada seseorang dengan melupakan nikmat-Nya yang diberikan pada kita
Tengoklah lagi, perhatikan, jika belum bertemu maka periksa ulang nikmat apa yang diberikan Allah SWT kepada kita yang ternyata tidak diberikan-Nya pada orang lain. Ternyata sungguh banyak, namun kita lebih banyak lagi lalai. Sobat, kesehatan adalah rizqi yang amat sangat besar, waktu luang pun merupakan rizqi yang tak akan kembali, begitu juga kefahaman dalam agama. Dan, kedamaian hati tanpa tuntutan hutang juga merupakan rizqi..
“Ada dua buah nikmat yang banyak orang tertipu oleh keduanya; yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari )
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” (HR Bukhari dan Muslim).
“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan jadikan ia beramal.” Dikatakan, “Apakah dijadikan beramal itu?” Beliau bersabda, “Allah bukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridla kepadanya.” (HR Ahmad dan Al Hakim dari Amru bin Al Hamq).
Dan jangan sobat anggap sebuah musibah adalah murka Allah, jika musibah diberikan pada mereka yang tha’at, justru itu merupakan kebaikan yang diberikan Allah SWT bagi mereka di dunia, untuk menggugurkan dosa, meningkatkan derajat.
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR Ahmad dan Bukhari dari Abu Hurairah).
Nah, bagi sobat yang masih lalai akan nikmat Allah, yuk kita kita cari sama-sama, cari cara untuk mengucapkan Alhamdulillah…
"Janganlah kalian lalai sehingga kamu melupakan kasih sayang (ar-rahman)." (HR Tirmidzi)
Tag :
Pojok 'Ry'alita,
Renungan,
Listen To Me Please!
By : Ave Ry
Terkadang memang ada beberapa orang yang hanya butuh untuk didengarkan. Dia berbicara panjang lebar tentang ini itu. Dan jangan dipikir kalau orang tersebut tidak tahu kalau kita itu bukan pada kapasitasnya untuk mengerti hal yang disampaikannya. Yang ia butuhkan hanya ingin curhat, titik!
Seperti pagi ini, ada seorang bapak yang bercerita banyaaak sekali tentang permasalahan dinas yang dihadapinya. Carut-marut program kerja, komunikasi sepihak, masalah anggaran, ketidak berdayaannya menghadapi pejabat atasannya. Padahal kesemuanya itu berimplikasi pada tercapainya kegiatan-kegiatan untuk masyarakat dan kewibawaan pemerintah kotanya.
Melihat bapak ini dari dahulu Gen-Q sudah sangat bersimpatik. Beliau tipe seorang pekerja keras yang rendah hati. Tidak banyak ‘cincong’ kalau kata orang Betawi. Padahal untuk ukuran staff seperti beliau lebih suka perintah sana sini, serahkan sana serahkan sini. Tapi beliau ini lebih suka turun langsung ke lapangan. Mungkin bisa di ibaratkan ‘Umar Bakre’ dalam sebuah lagu milik Bang Iwan Fals.
Didalam Dinasnya sendiri beliau di abaikan karena program yang beliau paparkan itu memihak masyarakat dan itu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Dinasnya beralasan lebih banyak program lain yang lebih mendesak. Jadilah, program yang sudah tersusun dengan rapih menjadi terbengkalai. Dalam Forum Kemasyarakatan beliau malah di olok-olok karena hanya beliau yang mau-maunya mondar-mandir kesana kemari mengerjakan semua hal. Hahh,, sungguh… kalau sobat melihatnya akan sama perasaannya dengan yang Gen-Q rasa, kasihan…
Tapi kalau sobat menyangka ia mengeluhkan pekerjaannya itu pada semua orang, hmm, absolutely wrong karena bahkan dengan sesama jawatannya di Dinas pun beliau tidak suka ‘bercerita’, apatah lagi dengan para anggota Forum. Kemungkinan besar beliau begitu mempercayakan keluhannya itu untuk Gen-Q tampung adalah….. (apa ya, saya juga tidak tau) haha.
Ya sudahlah, mungkin dengan sedikit membagi beban seperti itu ada beberapa orang yang bisa sedikit lega. Walaupun saya sebagai pendengar tidak begitu mengerti bahasannya. Bahkan istilah-istilah yang digunakan saya cari tahu kemudian.
Kalau curahan hati para akhwat sih Gen-Q sering banget. And yess, mereka pun cukup meminta perhatian untuk sekadar di dengarkan. karena seringnya Gen-Q jadi tempat curahan hati (cieee) makanya jadi punya beberapa pengalaman. Bahkan sekarang sudah bisa mengkatagorikan tipe-tipe curhater :D
1. Curhater tipe A, orang yang curhat masalah-masalah sepele. Hal-hal tidak begitu penting juga dia ‘demen’ banget curhat. Orang dengan tipe ini agaknya termasuk tipe extrovert. Memang suka cerita! Dan dia tidak perduli kepada siapa dia cerita, ketemu orang bisa langsung curhat walau tidak kenal-kenal amat.
2. Curhater tipe B, orang yang curhat masalah-masalah pribadi. Terkadang ia akan curhat masalah kenapa dirinya begini, kenapa orang itu begitu yang kalau dipikir-pikir masalah itu bisa diselesaikannya sendiri tanpa curhat. Tapi ia suka saja berbagi hal pribadinya, terutama dengan orang-orang yang ia percaya atau ia nyaman duduk ngobrol dengannya. Tipe ini memang terkenal suka berbicara, tapi tidak semua ia percaya. Jadi mungkin saja ia bicara satu hal dengan orang lain tapi menutup masalahnya dan hanya akan membukanya pada orang-orang tertentu.
3. Curhater tipe C, orang yang curhat hanya kalau dia sedang punya masalah serius yang benar-benar serius. Tipe ini adalah orang yang tidak banyak cerita. Tapi sangat membutuhkan curhat untuk meringankan bebannya. Nah, tipe ini pun dibagi menjadi dua kelompok :
1) Tipe yang hanya butuh di dengarkan, kita tidak perlu repot-repot mencari solusi baginya Karena yang ia butuhkan hanya perhatian dari kita. Tapi, baiknya sesekali tanyakan atau tanggapi sesuai kapasitas.
2) Tipe yang butuh saran atau solusi, ketika orang ini sedang curhat selain kita dengan serius mendengarkan dan memperhatikan juga kita harus mencari jalan terbaik bagi masalahnya. Karena orang dengan tipe ini memang sedang membutuhkan jalan keluar. Dan ketika mereka sudah mempercayakan masalahnya pada kita berarti saran kita pun akan didengarkan (makanya jangan kasih saran asal)
Dari kedua tipe ini, mereka tidak sembarangan curhat kepada setiap orang. Tapi mereka akan curhat kepada orang-orang yang mereka percaya, atau ketika mereka merasa nyaman dengan orang yang akan diajak curhat.
Oya, dan satu saran Gen-Q bagi sobat yang kebetulan suka jadi ‘Kotak Curhat’, sobat harus pandai memilah bentuk curhatnya. Apakah ia membicarakan masalahnya atau membicarakan seseorang yang dikenalnya dan menceritakan aib seseorang itu yang tidak ada kepentingan atas hal itu karena yang ditakutkan adalah jatuh kepada ghibah (ngomongin orang lain). Dan kalau acara curhatan itu terlampau lama, sobat harus pandai ‘ngeles’ agar tidak terlalu berpanjang kalam. Dan kalau misalkan yang curhat itu lawan jenis maka sobat perlu menjaga hati, menjaga mata dan menjaga sikap! Netralkan perasaan sobat, jangan bertendensi apapun.
Seperti pagi ini, ada seorang bapak yang bercerita banyaaak sekali tentang permasalahan dinas yang dihadapinya. Carut-marut program kerja, komunikasi sepihak, masalah anggaran, ketidak berdayaannya menghadapi pejabat atasannya. Padahal kesemuanya itu berimplikasi pada tercapainya kegiatan-kegiatan untuk masyarakat dan kewibawaan pemerintah kotanya.
Melihat bapak ini dari dahulu Gen-Q sudah sangat bersimpatik. Beliau tipe seorang pekerja keras yang rendah hati. Tidak banyak ‘cincong’ kalau kata orang Betawi. Padahal untuk ukuran staff seperti beliau lebih suka perintah sana sini, serahkan sana serahkan sini. Tapi beliau ini lebih suka turun langsung ke lapangan. Mungkin bisa di ibaratkan ‘Umar Bakre’ dalam sebuah lagu milik Bang Iwan Fals.
Didalam Dinasnya sendiri beliau di abaikan karena program yang beliau paparkan itu memihak masyarakat dan itu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Dinasnya beralasan lebih banyak program lain yang lebih mendesak. Jadilah, program yang sudah tersusun dengan rapih menjadi terbengkalai. Dalam Forum Kemasyarakatan beliau malah di olok-olok karena hanya beliau yang mau-maunya mondar-mandir kesana kemari mengerjakan semua hal. Hahh,, sungguh… kalau sobat melihatnya akan sama perasaannya dengan yang Gen-Q rasa, kasihan…
Tapi kalau sobat menyangka ia mengeluhkan pekerjaannya itu pada semua orang, hmm, absolutely wrong karena bahkan dengan sesama jawatannya di Dinas pun beliau tidak suka ‘bercerita’, apatah lagi dengan para anggota Forum. Kemungkinan besar beliau begitu mempercayakan keluhannya itu untuk Gen-Q tampung adalah….. (apa ya, saya juga tidak tau) haha.
Ya sudahlah, mungkin dengan sedikit membagi beban seperti itu ada beberapa orang yang bisa sedikit lega. Walaupun saya sebagai pendengar tidak begitu mengerti bahasannya. Bahkan istilah-istilah yang digunakan saya cari tahu kemudian.
Kalau curahan hati para akhwat sih Gen-Q sering banget. And yess, mereka pun cukup meminta perhatian untuk sekadar di dengarkan. karena seringnya Gen-Q jadi tempat curahan hati (cieee) makanya jadi punya beberapa pengalaman. Bahkan sekarang sudah bisa mengkatagorikan tipe-tipe curhater :D
1. Curhater tipe A, orang yang curhat masalah-masalah sepele. Hal-hal tidak begitu penting juga dia ‘demen’ banget curhat. Orang dengan tipe ini agaknya termasuk tipe extrovert. Memang suka cerita! Dan dia tidak perduli kepada siapa dia cerita, ketemu orang bisa langsung curhat walau tidak kenal-kenal amat.
2. Curhater tipe B, orang yang curhat masalah-masalah pribadi. Terkadang ia akan curhat masalah kenapa dirinya begini, kenapa orang itu begitu yang kalau dipikir-pikir masalah itu bisa diselesaikannya sendiri tanpa curhat. Tapi ia suka saja berbagi hal pribadinya, terutama dengan orang-orang yang ia percaya atau ia nyaman duduk ngobrol dengannya. Tipe ini memang terkenal suka berbicara, tapi tidak semua ia percaya. Jadi mungkin saja ia bicara satu hal dengan orang lain tapi menutup masalahnya dan hanya akan membukanya pada orang-orang tertentu.
3. Curhater tipe C, orang yang curhat hanya kalau dia sedang punya masalah serius yang benar-benar serius. Tipe ini adalah orang yang tidak banyak cerita. Tapi sangat membutuhkan curhat untuk meringankan bebannya. Nah, tipe ini pun dibagi menjadi dua kelompok :
1) Tipe yang hanya butuh di dengarkan, kita tidak perlu repot-repot mencari solusi baginya Karena yang ia butuhkan hanya perhatian dari kita. Tapi, baiknya sesekali tanyakan atau tanggapi sesuai kapasitas.
2) Tipe yang butuh saran atau solusi, ketika orang ini sedang curhat selain kita dengan serius mendengarkan dan memperhatikan juga kita harus mencari jalan terbaik bagi masalahnya. Karena orang dengan tipe ini memang sedang membutuhkan jalan keluar. Dan ketika mereka sudah mempercayakan masalahnya pada kita berarti saran kita pun akan didengarkan (makanya jangan kasih saran asal)
Dari kedua tipe ini, mereka tidak sembarangan curhat kepada setiap orang. Tapi mereka akan curhat kepada orang-orang yang mereka percaya, atau ketika mereka merasa nyaman dengan orang yang akan diajak curhat.
Oya, dan satu saran Gen-Q bagi sobat yang kebetulan suka jadi ‘Kotak Curhat’, sobat harus pandai memilah bentuk curhatnya. Apakah ia membicarakan masalahnya atau membicarakan seseorang yang dikenalnya dan menceritakan aib seseorang itu yang tidak ada kepentingan atas hal itu karena yang ditakutkan adalah jatuh kepada ghibah (ngomongin orang lain). Dan kalau acara curhatan itu terlampau lama, sobat harus pandai ‘ngeles’ agar tidak terlalu berpanjang kalam. Dan kalau misalkan yang curhat itu lawan jenis maka sobat perlu menjaga hati, menjaga mata dan menjaga sikap! Netralkan perasaan sobat, jangan bertendensi apapun.
Tag :
Berbagi,
Pojok 'Ry'alita,
Misunderstanding!
By : Ave RySudah hampir sebulan hiatus rasanya kangen juga ngeblog. Yess, yang Gen-Q kangenin adalah blogging. Setelah menjalani rutinitas yang dibilang padat nggak, kalau dibilang nggak padat juga nggak (datang-datang buat bingung).
Menulis itu banyak medianya untuk sekarang ini, nggak usah disebut satu persatu juga sobat blogger pasti taulah. Dan dari semua media, bagi saya blog adalah yang paling nyaman. Audiens yang asik, nggak perlu ilmiah-ilmiah amat, tapi juga nggak asal.
Untuk edisi perdana setelah hiatus lama saya sebenarnya cuma mau curhat, hoho.
Misunderstanding! Yupz, kalau sobat pikir ini cuma terjadi antara person per person, well .. salah besar. Misunderstanding ini bisa juga terjadi antar instansi, kelompok bahkan antar pejabat pemerintahan dan masyarakat seperti yang saya alami ini.
Setelah beberapa lama saya mengamati cara bekerja lingkungan tempat saya bekerja saat ini saya sangat merasakan terdapat banyak kali salah pengertian atau persepsi. The fact is, saya bekerja di lingkungan pemerintahan tetapi saya bukan PNS. Saya melayani masyarakat tetapi bukan LSM (nah loh, apa coba? Hoho)
Saya diamanahkan untuk mengurusi sebuah organisasi masyarakat untuk kota sehat yang bernaung langsung dibawah Badan Pemerintah Daerah alias Bappeda. Dari sana banyak link yang terkait demi tercapainya kota saya yang sehat dan nyaman tinggal. Dari mulai Walikota langsung terlibat sampai kepada instansi-instansi terkait (banyak banget deh kalau disebutin mah).
Untuk mewujudkan kota sehat dibentuklah sebuah wadah kemasyarakatan bernama Forum Kota “Titik-ttitk” Sehat (kotanya saya sensor). Forum ini berisi dari mulai ketua PITI (apalagi tuh PITI, sudahlah jangan dibahas), Dosen Universitas Indonesia, Dokter Hewan, Wartawan, dan banyak lagi profesi yang masing-masing berkompeten dibidangnya. Pokoknya saya dikelilingi oleh para ahli yang kadang membuat saya merasa ‘tenggelam’ ditengah mereka.
Bagaimana nggak tenggelam? Kalau kerja saya itu memang melimpah ruah berlembar-lembar kertas sampai kadang menenggelamkan meja kerja saya. Sekilas terlihat sepele dan sangat sederhana ‘mengurus’. Dari mulai kegiatan, jadwal, follow up sampai honor tiap bulan yang berkaitan dengan anggota Forum pun saya yang pegang. Tapi sejujurnya saya banyak belajar dari sini, belajar mengamati. Bagaimana cara kerja di lingkungan pemerintahan dan masyarakat.
Seperti pagi ini setelah rapat persiapan untuk kedatangan Tim Penilai Pusat Kota Sehat akan datang, misunderstanding kembali terjadi. Bahkan perdebatan halus pun terjadi padahal di ruang rapat hadir Istri Walikota sebagai Pembina Forum Kota Sehat. Yah, provokator itu nggak dimana pasti ada. Nggak terkecuali di ruang rapat yang padahal suhu pendingin ruangannya membuat jemari saya merah membeku.
Perdebatan itu hanya dipicu oleh kesalahpahaman sepele menurut saya, komunikasi yang renggang. Pihak masyarakat merasa pemerintah nggak mau memfasilitasi kegiatan terkait kota sehat dan cenderung acuh. Sedangkan pihak pemerintah merasa masyarakat terlalu banyak merongrong padahal kerja di lapangan minim sekali.
Bisa dibayangin nggak? Hal ini berlangsung bertahun lamanya sampai ketika kota ini akan bersiap untuk memperoleh penghargaan Swasti Saba Padapa yang tim rechekingnya akan datang tanggal 24 Juni 2013 ini! Masih aja itu misunderstanding nggak selesai-selesai. Dan yang saya sebalkan adalah mengapa saya yang harus merasa terganggu dengan ini semua? Sampai rencana resign pun saya batalkan demi memikirkan keadaan Forum yang dipastikan akan galau kalau ‘pusat informasi’ mereka keluar.
Adalah Bapak Ketua Forum itu yang menelepon saya dengan nada hopeless…. Oh, tidak! Mengapa saya mudah sekali iba… akhirnya saya mengurungkan diri dan menerima kerja untuk masuk dua hari dalam seminggu saja. Selebihnya saya gunakan untuk aktifitas lain.
Terkadang saya mempunyai ide untuk menyampaikan saran saya pada kedua belah pihak yang kerap kali misunderstanding itu. Kepada pejabat pemerintah saya ingin bilang, “Bapak, Ibu… Kami dari Forum dan mewakili masyarakat meminta dengan sangat agar menunjuk pejabat pemerintah yang concern terhadap kegiatan ini, bukannya staff ‘bawah’ yang mengacuhkan kami”. Dan kepada Forum ingin saya sampaikan, “Bapak, Ibu… Kami dari Pemerintahan sudah memfasilitasi kegiatan terkait, walaupun seadanya. Tapi kami mengusahakan untuk terlaksanya kegiatan ini dengan baik dengan menganggarkan kegiatan kota sehat dalam APBD (yah walau nyelip sana nyelip sini). Untuk itu kami meminta agar bapak-ibu menyediakan waktunya dan aktif dalam tiap kegiatan.”
Ternyata sampai saat ini belum juga mengalir kalimat-kalimat itu dari mulut saya. Itulah…. Kelemahan notulen seperti saya, hanya bisa menuliskan.
Baiklah… dari pada nanti saya semakin panjang cerita lebih baik saya ambil sebuah kesimpulan. Dalam segala hal, jika terjadi kesalahpahaman kita membutuhkan ‘orang ketiga’. Pihak ketiga yang dapat menjembatani permasalahan yang hadir dari kedua belah pihak. Yang ianya adalah seorang bijaksana, nggak berpaling sebelah dan terkenal akan adilnya. Secara tersirat surah Al-Hujuraat ayat 9 pun menerangkan demikian
"Dan jika dua pihak dari orang-orang yang beriman berperang, maka damaikanlah di antara keduanya; jika salah satunya berlaku zalim terhadap yang lain, maka lawanlah pihak yang zalim itu sehingga ia kembali mematuhi perintah Allah; jika ia kembali patuh maka damaikanlah di antara keduanya dengan adil (menurut hukum Allah), serta berlaku adillah kamu (dalam segala perkara); sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil."
Jika yang diperjuangkan adalah untuk kebaikan, maka marilah duduk bersama dengan baik menggunakan kata-kata baik yang tidak menyinggung perasaan. Sebab hal demikian lebih dekat kepada taqwa. Karena berawal dari lidah kegiatan itu bermula. Jika ianya sudah menyakiti maka keengganan laku usah kau tangisi
Tag :
Berbagi,
Pojok 'Ry'alita,
Kawan, Aku Merindukan Kalian!
By : Ave Ry“Gue kangen sama kalian…”
Aku cemberut membaca sms dari seorang teman dekat yang kini merantau ke Solo. Windi Hastuti namanya. Tapi tidak lama, karena beberapa menit kemudian senyumku tak pernah berhenti selama komunikasi via sms. Sampai-sampai teman kerjaku di kantor geleng-geleng kepala, “Teh Erri jarang senyum.. sekalinya senyum suka keterusan, ckckck”. Ah biarlah, kalian saja yang tidak tau bahwa aku tidak sembarangan tersenyum, hoho alibi.
Bicara soal kangen, sebenarnya aku bukan orang yang mudah kangen. Apalagi bilang-bilang kalau aku lagi kangen, berbeda dengan temanku satu ini. Dia mudah sekali berekspresi. Yah, resiko menjadi orang yang introvert. Lama-kelamaan kalau memendam ekspresi tidak baik juga, makanya aku lebih suka mengekspresikan apa yang aku rasakan lewat tulisan, karena kalau ada sesuatu yang salah bisa dihapus dan digantikan. Aku sungguh takut salah dalam bicara!
Masih tentang temanku satu itu. Aku ingat dia pernah mengatakan, “Kalau kau siap untuk bertemu maka siap-siap juga berpisah”. Awalnya aku acuh tak acuh, toh aku masih menikmati kebersamaan dengan teman-teman yang paling menyenangkan sedunia (Ehem, ehem.. jangan GR ya kalian). Tapi beberapa waktu belakangan aku merasa kesepian, satu persatu teman-temanku ‘dijarah’ orang.
Pertama, Ilda Weni yang dijarah seorang Padang dan sekarang sedang bahagia-bahagianya dengan kelahiran Fatimah yang Insya Allah menjadi muslimah shalihah. Kedua, Sisi Marissa yang dijarah seorang Pakistan dan diboyong ke Hongkong. Ketiga, Windi Hastuti (Huh!) yang dijarah seorang Jawa yang membawa serta desain grafis satu-satunya kebanggaan BT-ers ini ke Solo. Dan yang tidak kalah menyedihkan adalah Rini Apriani yang dijarah Yusuf Mansur (Eits..) ke pesantrennya untuk jadi Guru Sains (Ealaahhh Bu Guru paling super!), dan sejak saat itu tidak pernah terlihat kacamatanya. Belum lagi Rima Nurmalima yang sibuuuuk banget (Maklum petugas KPU). Terusnya Azira, gadis bercadar yang lemah lembut. Terusnya lagi Sannisa Komala Dewi yang mentang-mentang sedang menyelesaikan skripsi jadi gak pernah datang marah-marahin Mr. B. Dan yang membuat ngiri, Dolyna Meutia Dewi baru aja pulang dari Turki (Ini untung aku doakan cari jodohnya gak berhasil di Turki biar jangan jauh-jauh, di Bogor aja.. hehe) tapi tetap bakal sibuk sama kucingnya, hmmm.
Sekarang tinggal dua orang saja yang tersisa dari kejayaan masa lalu kita bersama #lagi lebay. Dan gak tau juga kalau Ismayani, Psikolog yang imut itu akan juga pergi ke Korea mengejar Sungmin… Piss, ^_^)v
Masjid terasa sepi bagiku, tiap kali kutatap kubahnya perasaan haru membuatku terpaku dan harus segera kutahan laju air mata hingga tak sampai membasahi pipi. Dua tahun lalu kita bukan orang-orang yang saling mengenal kawan. Disatukan dalam naungan Menara sebuah Masjid Raya. Malu-malu saling mengenalkan diri, terpacu oleh satu kesamaan niat, Mencari Ilmu. Semoga darinya akan muncul kembali generasi-generasi baru, Generasi Robbani, Generasi Qur'an. Yang mencintai Masjid dan memakmurkannya
Subhanallah, tidak terasa waktu juga yang membuat kita pada akhirnya harus berpisah. Tapi bahagiaku selalu menyertai kalian. Kini baru terasa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah, pada saat tidak ada naungan selain naungan Allah…” dan beliau menyebut salah satunya adalah: “…dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berpisah hanya karena Allah.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Kawan, Aku Merindukan Kalian…
Tag :
Pojok 'Ry'alita,
Puisi Hati
By : Ave RySenyap seluruh tawa dan bising ceriaku
Tak terpikir ku goreskan pena, bercerita bahwa kau telah berlalu
Dan penuh terisi hariku oleh sujud syukur karena DIA telah menjagaku
***
Kalau saja cermin dapat berkata-kata, kurasa dia akan bilang, “Hey jelek bosan aku melihatmu meratap”. Dan kalau boleh jujur, aku setuju dengannya. Lihatlah mata cekung, merah membengkak di depan sana dengan rambut kusut masay. Mengerikan!
Hampir saja, ya, hampir saja telephone genggam itu kuraih. Bermaksud untuk menarik kata-kata itu, “Mulai saat ini, kita putus aja”. Tapi entah mengapa jemariku membeku dan hanya terkulai layu menopang dagu.
“Aku nggak ngerti Ai… Kita baik-baik aja kan?”. Kalimat Afra beberapa jam lalu berdengung, menggangguku bak ratusan lebah merobek gendang telinga. Dan kalimat selanjutnya tidak menyisakan secuil ruang untuk kudengar. Yang kutahu saat sepeda motormu melaju, meninggalkan kepulan asap didepan rumah, aku berkata yang tidak mungkin dapat kau dengar, “I love you so much”
***
“Gue bingung sama Lo Ry… Kenapa coba Lo putusin si Afra? Gue nggak pernah lihat lo berdua berantem”. Saat itu Carissa, teman dekat yang menjadi teman curhat paling aman menggelengkan kepala. ‘Memang tidak! Kan kamu tahu sendiri Sa aku tidak suka keributan’. Sungutku dalam hati. “Gue nggak suka dengan ini semua Sa… Membebani bathin dan merusak akal sehat”, “Sok suci…”. Itulah, kalimat terakhir yang kudengar dari seorang teman dekat.
Selanjutnya hari-hari berlalu dengan datar. Kadang keputusan itu menyesakkan nafas meninggalkan jejak yang akan terus membekas. Bersama deru waktu yang tidak pernah berhenti berderap. Terkadang goyah, melesak keluar bersama sejuta tanya, kenapa?
Tanya ku pada jiwa yang mengisi raga ini terjawab. Sampul buku berwarna merah muda dengan judul “Wanita & Harga Diri” tergenggam erat. Buku ini hanyalah buku ‘murahan’, murah karena diperoleh hanya dengan lima ribu rupiah. Tapi tahukah kawan apa yang terukir didalamnya? Pisau tajam yang mengiris-iris kesadaranku.
“ Kesan baik tak mungkin diperoleh wanita-wanita yang tidak menjaga dirinya dari arus pergaulan. Harga diri seorang wanita memang terletak pada sejauh mana ia bisa menjaga muru’ah dalam hidupnya. Namun sayang, masih sedikit sekali wanita yang teguh berpegang pada ajaran Islam. Padahal dengan memegang teguh prinsip ketaatan pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, seorang wanita tidak akan direndahkan, bahkan cenderung dihormati dan dihargai dengan utuh sebagai wanita yang terhormat. “
.....................................................................................
(Kelanjutannya tunggu saya menang sayembara dulu) ., (^_^)/
Mengikuti :
'Sayembara Menantang Cerita #NikahAtauPutusinDia'
FB : http://www.facebook.com/LukyBRouf , twitter : http://twitter.com/LukyRouf
FB : http://www.facebook.com/LukyBRouf , twitter : http://twitter.com/LukyRouf
Tag :
Pojok 'Ry'alita,
Writting,
Aku Cinta Ummi Banget!
By : Ave Ry
Dear diary,
I've got tears on my eyes, tonight..
Jangan pandangi aku begitu dy. Aku tau, jelek pasti. Berlelehan air mata begini... Habis, apa boleh buat? Lagi-lagi Ummi begitu. Memarahi aku dengan kata-kata yang tajam, menusuk tulangku sampai tergores. Aku tau, aku tau. Sudah semestinya kesabaran itu tak berhingga, iya kan? Tapi kali ini sudah keterlaluan.
Aku mau kabur dy..
Iya, beneran! Tadi aku sudah siapkan baju-baju untuk dibawa dan persiapan sekenanya. Pas didepan pintu, Ummi menarik ranselku, "Letakkan tas kamu!" begitu perintahnya. Kaku sekujur tubuhku. "Aku gak tahan Ummi!", hanya itu kalimat yang mampu keluar dari tenggorokanku.
Sekarang aku disini..
Terus dikamar ini, membasahi sampulmu. What have I done? Doing stupid thing like that! Huh, sudahlah diary, aku lelah. Goodnight to you
Dear diary,
I've got tears on my eyes tonight, still..
Bagaimana aku tidak menangis lagi, coba saja kamu dengarkan mereka bernyanyi..
You taught me everything
And everything you've given me
I always keep it inside
You're the driving force in my life
There isn't anything
Or anyone that I could be
And it just wouldn't feel right
If I didn't have you by my side
You were there for me to love and care for me
When skies were grey
Whenever I was down
You were always there to comfort me
And no one else can be what you have been to me
You will always be
You will always be, the girl in my life for all times
Mama, mama you know I love you
Mama, mama you're the queen of my heart
Your love is like tears from the stars
Mama I just want you to know
Lovin' you is like food to my soul
Radio ini sebenarnya sengaja ya mau buat aku merasa bersalah!? Tiba-tiba memutar lagu Boyz II Men, A Song For Mama...
Diary... jangan diam begitu, aku butuh nasihat! Ini sudah dua hari dy. Aku tau... kamu pasti benci ya sama aku? Merajuk, ngambek tidak berkesudahan. Aku juga capek kok, serius!
Dear diary,
I've got smile on my face, tonight..
Ternyata ya dy, aku baru tau... aku itu orangnya manja! Aku bisa ngambek kalau tidak dibuatkan sarapan oleh Ummi, aku bisa uring-uringan kalau Ummi tidak mau menyapa dan aku bisa stress setengah mati kalau pulang kerumah mendapati Ummi tidak ada! Diary... aku cerita hanya padamu saja loh, kalau Aku Cinta Ummi Banget!
Hummm, kenapa aku bilang begitu? Karena ya dy... orang-orang itu suka sok tau deh. Mereka bilang aku orangnya galak, judes, tidak perhatian. Ummi juga bilang begitu sih. Tapi biarin deh... Aku juga aneh kalau mau mengungkapkan kalimat atau sikap yang menurutku 'kayak anak kecil', malah terasa gimanaaa gitu. Makanya, cukup kamu aja yang tau.
O, ya aku barusan aja bikin puisi buat Ummi. Puisinya norak kayaknya! Jadi aku simpan aja deh... biar kamu aja yang tau. Nanti kalau aku kasih tau malah diledekin lagi! Puisi akhir Ramadhan nih...
I've got tears on my eyes, tonight..
Jangan pandangi aku begitu dy. Aku tau, jelek pasti. Berlelehan air mata begini... Habis, apa boleh buat? Lagi-lagi Ummi begitu. Memarahi aku dengan kata-kata yang tajam, menusuk tulangku sampai tergores. Aku tau, aku tau. Sudah semestinya kesabaran itu tak berhingga, iya kan? Tapi kali ini sudah keterlaluan.
Aku mau kabur dy..
Iya, beneran! Tadi aku sudah siapkan baju-baju untuk dibawa dan persiapan sekenanya. Pas didepan pintu, Ummi menarik ranselku, "Letakkan tas kamu!" begitu perintahnya. Kaku sekujur tubuhku. "Aku gak tahan Ummi!", hanya itu kalimat yang mampu keluar dari tenggorokanku.
Sekarang aku disini..
Terus dikamar ini, membasahi sampulmu. What have I done? Doing stupid thing like that! Huh, sudahlah diary, aku lelah. Goodnight to you
***
Dear diary,
I've got tears on my eyes tonight, still..
Bagaimana aku tidak menangis lagi, coba saja kamu dengarkan mereka bernyanyi..
You taught me everything
And everything you've given me
I always keep it inside
You're the driving force in my life
There isn't anything
Or anyone that I could be
And it just wouldn't feel right
If I didn't have you by my side
You were there for me to love and care for me
When skies were grey
Whenever I was down
You were always there to comfort me
And no one else can be what you have been to me
You will always be
You will always be, the girl in my life for all times
Mama, mama you know I love you
Mama, mama you're the queen of my heart
Your love is like tears from the stars
Mama I just want you to know
Lovin' you is like food to my soul
Radio ini sebenarnya sengaja ya mau buat aku merasa bersalah!? Tiba-tiba memutar lagu Boyz II Men, A Song For Mama...
Diary... jangan diam begitu, aku butuh nasihat! Ini sudah dua hari dy. Aku tau... kamu pasti benci ya sama aku? Merajuk, ngambek tidak berkesudahan. Aku juga capek kok, serius!
***
Dear diary,
I've got smile on my face, tonight..
Ternyata ya dy, aku baru tau... aku itu orangnya manja! Aku bisa ngambek kalau tidak dibuatkan sarapan oleh Ummi, aku bisa uring-uringan kalau Ummi tidak mau menyapa dan aku bisa stress setengah mati kalau pulang kerumah mendapati Ummi tidak ada! Diary... aku cerita hanya padamu saja loh, kalau Aku Cinta Ummi Banget!
Hummm, kenapa aku bilang begitu? Karena ya dy... orang-orang itu suka sok tau deh. Mereka bilang aku orangnya galak, judes, tidak perhatian. Ummi juga bilang begitu sih. Tapi biarin deh... Aku juga aneh kalau mau mengungkapkan kalimat atau sikap yang menurutku 'kayak anak kecil', malah terasa gimanaaa gitu. Makanya, cukup kamu aja yang tau.
O, ya aku barusan aja bikin puisi buat Ummi. Puisinya norak kayaknya! Jadi aku simpan aja deh... biar kamu aja yang tau. Nanti kalau aku kasih tau malah diledekin lagi! Puisi akhir Ramadhan nih...
Ibu,
wajahmu bersih bercahaya
Matamu
indah menyimpan seberkas untaian galaksi Andromeda
Indah
ukiran senyummu begitu mempesona
Hangat
mendekap jiwa yang hampa
Dengan
tanganmu yang mulia
Aku
tidak menyesal dengan takdir yang Dia tentukan untukku
Sesalku
hanyalah endapan benci yang dulu pernah terbersit dalam hatiku
Diatas
Langit Ramadhan, doa penuh kebaikan tercurah padamu
“
Ya Rabb, bersihkan wajahnya dari debu-debu dosa
Palingkan
matanya dari gemerlap dunia fana
Sinari
senyum disepanjang kehidupannya
Hangatkan
jiwanya dengan ayat-ayat-Mu yang mulia
Dan
tautkan tangannya dan tanganku untuk sama-sama berada di surga “
PS : Sepertinya lebaran nanti aku bakalan lebih lama deh sungkemannya. Tapi diam-diam aja (^_^)/
Tag :
Giveaway,
Pojok 'Ry'alita,
Giveaway Senangnya hatiku: My First Wish List Terkabul!
By : Ave Ry
Senangnya hatiku bisa mengikuti Giveaway lagi. Gagal yang pertama coba yang kedua. Gagal yang kedua ini ... marah-marah sama yang buat Giveaway., hehe
Sesuai tema, Giveaway ini sangat menyenangkan hati saya. Karena tidak ada
hal yang paling menyenangkan menurut saya dari pada menceritakan kebahagiaan
kita atas suatu nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita. Selalu bersyukur
untuk pemberian-Nya sekecil apapun, apalagi kalau pemberian itu sesuatu yang menjadi
wish kita.
Sekitar hampir dua tahun lalu saya membaca sebuah buku tentang harapan
yang jika ingin terkabul maka hendaknya kita menuliskan harapan-harapan itu.
Pada waktu itu saya bingung mau menulis harapan apa karena saya merasa sudah
cukup dengan segala apa yang ada pada saya. Lalu saya coba-coba saja menuliskan
keinginan-keinginan yang saya rasa tidak mungkin saya dapat mengusahakannya (karena
sesuatu itu terlalu mahal atau terlalu sulit) tapi sangat saya inginkan.
Berhubung kehidupan saya hanya dalam batasan cukup-cukup saja, maka dari
itu saya terbiasa untuk tidak menginginkan sesuatu diluar batas yang bisa saya
usahakan.
Waktu itu saya menuliskan wish list seperti ini :
1.
Memiliki Kitab Tafsir Ibnu katsir
2.
Sirah Ibnu Hisyam 2 Jilid
3.
Pergi ke Cordova, Meddina Az Zahra, Andalusia, Spain
4.
Berangkat Haji beserta Orang tua
5.
Dll
Setelah menuliskannya di selembar kertas A4, kemudian saya print. Kertas
itu saya simpan saja diselipan sebuah buku tulisan Aidh al Qarny.
Selang waktu beberapa bulan, saya sudah melupakan keseluruhan wish list
yang pernah saya tulis. Saya beranggapan hal itu menjadi sebuah hal yang
konyol! Tapi, sudahlah. Kembali pada sifat saya yang dulu, takut berharap,
sehingga tidak mau menginginkan apapun karena perasaan tidak terpenuhi adalah
sesuatu yang sangat saya benci.
Malam hari ketika beristirahat sambil mendengarkan siaran sebuah radio,
saya tertarik untuk mengikuti sebuah perlombaan menulis yang diadakan radio
tersebut. Perlombaannya cukup mudah menurut saya, karena kita hanya perlu
menuliskan pengalaman kita selama menjadi pendengar radio tersebut.
Apa susahnya menuliskan sebuah pengalaman? Sebenarnya pada waktu itu saya
berniat untuk mengikuti lomba menulis tersebut hanya karena saya ingin tulisan
saya ‘dibaca’ saja. Selama ini saya kurang percaya diri dengan tulisan saya.
Maka banyak tulisan-tulisan saya yang melayang-layang tak tentu arah.
Satu hal yang membuat saya tertarik adalah karena disebutkan bahwa
hadiahnya buku! Entah kenapa saya tergila-gila dengan buku. Melihat berjajar
buku di Toko Buku saja sudah bisa mengalihkan perhatian saya dari apapun. Saya
betah berjam-jam mengelilingi rak-rak buku itu. Walaupun setelahnya merasakan
kesedihan yang dalam ketika pulang hanya bisa menenteng satu atau dua buah buku
saja.
Cita-cita memiliki perpustakaan pribadi jadi terasa amat sangat sulit.
Mulailah saya menuliskan pengalaman-pengalaman saya bersama radio itu.
Pada waktu itu saya tidak merasakan kesulitan apapun, mengalir begitu saja
tanpa hambatan. Dari mulai satu kalimat ke kalimat berikutnya, sehingga tanpa
sadar sudah empat halaman. Padahal saya pikir untuk perlombaan menulis semacam
itu paling hanya dua halaman saja yang diperlukan. Siapa yang mau membaca
pengalaman seseorang sampai berhalaman-halaman?
Dari mulai jam delapan malam sampai hampir menjelang jam sepuluh malam
saya menyelesaikannya. Kemudian keesokan pagi saya baru mengirimkannya via
email.
Selama jeda menuju pengumuman pemenang lomba saya merasakan hal yang
paling aneh karena baru pertama kali itu saya mengikuti lomba menulis. Saya
merasa tidak akan menang karena tulisan yang aneh semacam itu tidak akan
mungkin menarik minat panitia, bahkan untuk sekadar membaca juga mereka akan
bosan.
Tapi disaat yang sama saya juga sangat menginginkan hadiahnya. Walaupun
saya tidak tahu buku apa yang akan diberikan, tapi saya tetap sangat
menginginkan buku-buku itu. Waktu itu saya berpikir buku-buku yang akan
diberikan sebagai hadiah adalah buku-buku ke-Islam-an atau materi dakwah dari
radio tersebut. Yang penting judulnya buku!
Mulailah saat yang ‘deg-degan’… antara tidak PD dan Ingin. Hingga ketika
hari-hari saat akan dimumkan saya mengatakan pada diri saya sendiri “ Sudahlah,
tidak usah berharap. Pasti peserta lomba itu adalah orang-orang yang sudah
sering mengikuti lomba atau lebih dahsyat kisah maupun cara menuliskan
pengalamannya. Dibandingkan dengan saya yang baru pertama kalinya ikutan lomba
“
Saya ingat betul, pada waktu hari Jum’at pukul delapan malam saat
pengumuman dilaksanakan sebelum acara kajian malam dimulai. Berada disamping
radio itu persis! Pembawa acara menyebutkan satu persatu pemenang lomba dari
mulai juara ketiga, Bapak bla bla bla, juara kedua Ummu bla bla bla. Sampai
saat itu saya sudah hope less. Harapan
untuk menjadi juara tiga saja tidak kesampaian. Jadi tidak mungkinlah menjadi
juara dua apalagi pertama. Maka ketika saat pengumuman juara pertama, saya
sudah mulai akan beranjak dari radio tersebut, tapi saya penasaran juga siapa
yang menjadi juara pertamanya. Antara malas mendengar lagi dan penasaran
akhirnya saya tetap berada disamping radio.
“ Juara pertama…. Saudari Herriyati “ .
“ Aaaarrrgggggghhhhhhhhhhh….!!! “
“ Juara pertama…. Saudari Herriyati “ .
“ Aaaarrrgggggghhhhhhhhhhh….!!! “
Rasanya jantung mau copot! Keluarga yang ketika itu sedang menonton acara
teve menyangka saya terkena setrum listrik karena tiba-tiba berteriak sampai
membuat orang kaget.
Pada waktu itu saya tidak percaya betul, sampai saya menyuruh adik saya
untuk mendengarkan pengumuman itu bersama-sama ketika diulang di akhir acara
kajian malam itu. Ternyata pendengaran saya tidak salah.
Acara tabligh akbar yang nantinya akan dilaksanakan penyerahan hadiah
lomba berlangsung sangat meriah. Peserta yang hadir sangat ramai dan begitu
antusias mendengarkan tausyah. Tibalah disaat akhir pengumuman sekaligus
penyerahan hadiah. Saya hampir tidak bisa bernafas akibat detak jantung yang
begitu kencang karena harus berdiri dihadapan ratusan hadirin. Ketika tiba
giliran saya, saya melirik dan menimbang-nimbang kira-kira apa hadiahnya. Tanpa
diduga kotak hadiahnya besar dan berat! Sampai panitia mengatakan mereka saja
nanti yang membawakannya ke tempat saya, bahkan ketika diserahkanpun saya cukup
‘menyentuh’ karena sang penyerah hadiah yang memegangnya (Ust. Herman Saptadji,
syukron..)
Ketika sampai ditempat, teman-teman yang menemani saya pada waktu itu
ikut-ikutan riuh, “ Ayo, Ry,,, buka, buka “ tadinya saya berniat untuk membuka
hadiah dirumah saja. Tapi karena desakan mereka (heu..) akhirnya saya buka juga
hadiah itu.
Kotak hadiah yang besar itu, yang saya duga adalah kumpulan buku-buku
Islami, Majalah Intisari Hasmi atau materi dakwah perlahan saya buka dengan
sangat hati-hati. Ketika bungkus kado dilepas terlihat kotak kardus yang sangat
‘aneh’. Saya menyobek bagian perekat, dan… taadaaaa..
Satu set lengkap Kitab Tafsir Shahih Ibnu Katsir Sembilan jilid!
Satu set lengkap Kitab Tafsir Shahih Ibnu Katsir Sembilan jilid!
Subhanallah… Hanya Allah SWT yang mengetahui betapa saat itu saya ingin
meneteskan air mata jika saja tidak malu karena masih berada disekeliling
hadirin yang belum beranjak pulang.
Saya tidak dapat berkata-kata sampai teman-teman saya yang ramai
mengguncang-guncang bahu saya. “ Erry… Keinginan lo tercapai Ry “ , “ Ihh,
ngiri.. mau kitab tafsirnya.. “
Dengan perasaan bahagia yang tak terkatakan saya membawa pulang
kitab-kitab itu dengan dibantu teman-teman saya yang baik hati itu. Kotak
kardus kami tinggalkan, diganti dengan kantung plastik sehingga masing-masing
membawa beberapa buah kitab.
Sesampainya dirumah, tepatnya dikamar saya langsung meletakkannya di rak
buku dan memandanginya sampai lama. Ketika saya akan merapihkan buku-buku yang
lain selembar kertas terjatuh dari buku La Tahzan. Kertas wish list saya. And
guess what? Kitab Tafsir Ibnu Katsir berada dalam urutan pertama dari daftar
keinginan saya satu tahun lalu.
My First Wish List Terkabul!
Masya Allah, besar rasa syukur yang saya haturkan
pada waktu itu. Hanya dengan bermodalkan Empathalaman tulisan sederhana, sebagai gantinya Allah SWT menganugrahkan saya Sembilan jilid buku setebal
masing-masing Delapan Ratus halaman.
Mulai saat itu, saya tidak lagi meragukan bahwa
Allah SWT akan mengabulkan keinginan kita. Dan saya semakin terpacu untuk
memenuhi kamar saya dengan buku-buku yang bermanfaat.
( Semoga dengan ini bisa bertambah lagi ). (^_^)/
Tag :
Giveaway,
Pojok 'Ry'alita,
Secangkir Kopi Yang Membuat Heboh...
By : Ave Ry
Pagi ini tidak terlalu sama seperti biasa, bawaan malas dimulai sejak kaki melangkah menuju tempat bekerja. ‘hawanya’ panas, penat ditambah angkutan umum yang merepotkan hingga harus berjalan beberapa meter menuju perkampungan dikarenakan perbaikan jalan belum juga terselesaikan. Belum-belum sudah tersugesti “ hari ini sepertinya tidak akan menyenangkan “.
Disaat-saat kritis seperti itu Britney Spears bersuara “ Notice me… “, di layar ponsel tertera new sms --> “Kala malas menerpa, bayangkan jutaan orang di sana menginginkan apa yang sekarang kita miliki… Pekerjaan yang layak, fasilitas yang tersedia, teman-teman terbaik yang kita punya.. Lantas pantaskah kita berdiam dan hanya bermalas-malasan belaka? Tidakkah kita ingin mengubah keadaan sehingga mereka bisa menikmati apa yang kita rasakan? BANGUN! BERGERAK! SEMANGAT!”
Oops, I did it again! ( Hari ini temanya Britney Spears (^_^)/ ., ). Eh, bukan salah… Oops, kok si pengirim pesan tau ya kalau saya sedang malas tingkat tinggi. Lagi ‘ Futur ‘ ? Nggak juga. Lagi ‘ Galau ‘ ? Alhamdulillah juga nggak. Lagi butuh challenge baru, ya, tantangan yang membuat semangat kembali menggebu. Rutinitas yang itu-itu saja terkadang membosankan, membuat kreatifitas seseorang menjadi tumpul! Maka diawali dengan Bismillah, saya melangkahkan kaki menuju Rumah-Nya untuk ‘ Laporan Pagi ‘ dengan sebuah do’a tersirat agar DIA menumbuhkan benih-benih semangat baru di hati yang terancam keruh.
Beginilah, pukul 08.30 pun kantor masih sepi. Entah apa yang mereka lakukan di bawah sana, di kantin kah? Lapangan kah? Smoking Room kah? Yang jelas hanya ada Koran baru tersaji yang menyapa saya di lobby. Hmmm., mau buat apa kita…? (^,^)/
Celingak-celinguk… Eh, ada White Coffee tuh di meja. Kemungkinan kemarin ‘ ibu-ibu arisan ‘ tidak menghabiskan semua jatah persediaan kopi di ruangan kami. Dari kemarin setiap ditawarkan saya selalu menggeleng, “ katakan TIDAK untuk korupsi! “ ( ini jadi seperti promo partai anu (^.^)/ ., ). Tapi yang ini mah bukan korupsi, memang kami diberi jatah mengopi ( asyik lohh.. ).
Dibuka sachetnya, dituang air panas kedalam cangkir lalu diaduk… Yupz! Is that simple..
Pekerjaan sudah diselesaikan dari kemarin, kemarinnya lagi dan kemarinnya lagi… jadi saat ini saya boleh bermalas-malasan., hoho. Hmmm, ternyata menyenangkan juga menghirup kopi, menyeruputnya sedikit demi sedikit sambil mencoba mengingat kembali pesan-pesan Sayd Quthb : jangan buang waktu melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Gunakan sebanyak-banyak kesempatan untuk mengkaji Al Qur’an. Baca, tadabbur, amalkan! Keberkahan akan hadir bila seorang hamba selalu dekat dengan mushafnya.
Oke, oke… siap laksanakan! Dimulai dari menyelesaikan bacaan tafsir Az Zumar yang belum terselesaikan kemarin sore. Sambil berpikir “ Kira-kira apa hukumnya kalau membaca Tafsir Al Qur’an sambil minum kopi? “
“ Teh, Bu Bettynya ada? Saya mau menyerahkan Renja.. “
“ Bu Betty sedang keluar bu.. “
“ Kalau teh Riska ada? “
“ Teh Riska kayaknya masih di kantin bu “
“ Kalau bu Yuli? “
“ Masih dibawah semua bu, belum pada naik “
“ Yah, saya mau menyerahkan Renja… masa saya harus balik lagi. “
( Kasihan juga melihat wajah si teteh yang memelas, memahami bahwa jarak antara gedung Balaikota dan Bappeda tuh lumayan. Dari Balaikota lantai 5 turun, jalan beberapa meter menuju gedung Bappeda, sampai disana harus naik pula ke lantai 3. Sampai di tempat ternyata manusia belum tersedia kecuali saya )
Tapi apa boleh buat, saya tidak berani menerima amanah yang bukan wewenang saya untuk menerimanya. Dengan senyum tulus saya katakan,
“ Maaf teh, lebih baik nanti teteh balik lagi aja kesini agak siangan. “
Dengan langkah lemas si teteh berjalan menjauhi meja saya dan mendekati pintu untuk keluar, tapi sebelum keluar si teteh masih sempat berkata,
“ Hmmm, harum amat ini baunya. Bau kopi, enak kayaknya… “
Saya : uhuk, uhuk..!!
Menjelang pukul 09.30 satu per satu manusia-manusia berdatangan
“ Eh, bau kopi nih! Siapa yang ngopi ya? Harum amat baunya… “
Saya : uhuk, uhuk..!!
“ was wes wos… eleh eleh, wangi amat iye teh kopi… white coffee nya? Saha atuh? “
“ Iya, saya juga dari tadi nyariin siapa yang ngopi, baunya harum gini “
Saya : uhuk, uhuk..!!
( hadeuuh., ini tenggorokan menjadi gatal. Dikira TBC bisa-bisa nih ).
Dalam hati, “ Segitunya apa?! Perasaan kemarin mereka itu beramai-ramai ngopi biasa aja, nggak ada yang teriak-teriak wangi kopi. Tapi saya sekali-kalinya ngopi jadi heboh begini karena harumnya tersebar kemana-mana. Sumpah deh, nggak saya semprotin pewangi kok kedalam ruangan!
Dengan mindik-mindik saya berusaha menghabiskan kopi agar tidak menjadi bahan perbincangan lagi, kebetulan cangkir saya ‘umpetin’ dibelakang Cpu. Hasrat yang tinggi untuk segera menghabiskan kopi membuat saya tidak menghiraukan senyum Pak Haji. Ampuuun, deh. Sampai di teliti begitu sambil matanya semangat banget mengitari meja dan sampailah pada Cpu. Jackpot! Yupz, disitulah sumbernya. Pak Haji tersenyum makin lebar…
Saya : uhuk, uhuk..!!
Akhirnya tanpa ba bi bu saya buru-buru langsung menenggak habis kopi yang masih tersisa banyak.
“ Uhuk, uhuk, uhuk, uhuk, uhuk..!! “
Masya ALLAH... Saking bersemangatnya sampai lupa kalau kopi itu ternyata masih lumayan panas. Menyemburlah bertetes-tetes air kopi hingga menyebabkan waktu menjadi beku. Semua orang mendadak frozen. Tidak bergerak, bersuara, bahkan berkedip pun tidak. Mereka semua menoleh kearah saya yang tidak hanya dipenuhi tetes-tetes air kopi tapi juga plus, plus air mata dan air hidung…
Hari yang paling tidak menyenangkan sepanjang masa…
Disaat-saat kritis seperti itu Britney Spears bersuara “ Notice me… “, di layar ponsel tertera new sms --> “Kala malas menerpa, bayangkan jutaan orang di sana menginginkan apa yang sekarang kita miliki… Pekerjaan yang layak, fasilitas yang tersedia, teman-teman terbaik yang kita punya.. Lantas pantaskah kita berdiam dan hanya bermalas-malasan belaka? Tidakkah kita ingin mengubah keadaan sehingga mereka bisa menikmati apa yang kita rasakan? BANGUN! BERGERAK! SEMANGAT!”
Oops, I did it again! ( Hari ini temanya Britney Spears (^_^)/ ., ). Eh, bukan salah… Oops, kok si pengirim pesan tau ya kalau saya sedang malas tingkat tinggi. Lagi ‘ Futur ‘ ? Nggak juga. Lagi ‘ Galau ‘ ? Alhamdulillah juga nggak. Lagi butuh challenge baru, ya, tantangan yang membuat semangat kembali menggebu. Rutinitas yang itu-itu saja terkadang membosankan, membuat kreatifitas seseorang menjadi tumpul! Maka diawali dengan Bismillah, saya melangkahkan kaki menuju Rumah-Nya untuk ‘ Laporan Pagi ‘ dengan sebuah do’a tersirat agar DIA menumbuhkan benih-benih semangat baru di hati yang terancam keruh.
Beginilah, pukul 08.30 pun kantor masih sepi. Entah apa yang mereka lakukan di bawah sana, di kantin kah? Lapangan kah? Smoking Room kah? Yang jelas hanya ada Koran baru tersaji yang menyapa saya di lobby. Hmmm., mau buat apa kita…? (^,^)/
Celingak-celinguk… Eh, ada White Coffee tuh di meja. Kemungkinan kemarin ‘ ibu-ibu arisan ‘ tidak menghabiskan semua jatah persediaan kopi di ruangan kami. Dari kemarin setiap ditawarkan saya selalu menggeleng, “ katakan TIDAK untuk korupsi! “ ( ini jadi seperti promo partai anu (^.^)/ ., ). Tapi yang ini mah bukan korupsi, memang kami diberi jatah mengopi ( asyik lohh.. ).
Dibuka sachetnya, dituang air panas kedalam cangkir lalu diaduk… Yupz! Is that simple..
Pekerjaan sudah diselesaikan dari kemarin, kemarinnya lagi dan kemarinnya lagi… jadi saat ini saya boleh bermalas-malasan., hoho. Hmmm, ternyata menyenangkan juga menghirup kopi, menyeruputnya sedikit demi sedikit sambil mencoba mengingat kembali pesan-pesan Sayd Quthb : jangan buang waktu melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Gunakan sebanyak-banyak kesempatan untuk mengkaji Al Qur’an. Baca, tadabbur, amalkan! Keberkahan akan hadir bila seorang hamba selalu dekat dengan mushafnya.
Oke, oke… siap laksanakan! Dimulai dari menyelesaikan bacaan tafsir Az Zumar yang belum terselesaikan kemarin sore. Sambil berpikir “ Kira-kira apa hukumnya kalau membaca Tafsir Al Qur’an sambil minum kopi? “
“ Teh, Bu Bettynya ada? Saya mau menyerahkan Renja.. “
“ Bu Betty sedang keluar bu.. “
“ Kalau teh Riska ada? “
“ Teh Riska kayaknya masih di kantin bu “
“ Kalau bu Yuli? “
“ Masih dibawah semua bu, belum pada naik “
“ Yah, saya mau menyerahkan Renja… masa saya harus balik lagi. “
( Kasihan juga melihat wajah si teteh yang memelas, memahami bahwa jarak antara gedung Balaikota dan Bappeda tuh lumayan. Dari Balaikota lantai 5 turun, jalan beberapa meter menuju gedung Bappeda, sampai disana harus naik pula ke lantai 3. Sampai di tempat ternyata manusia belum tersedia kecuali saya )
Tapi apa boleh buat, saya tidak berani menerima amanah yang bukan wewenang saya untuk menerimanya. Dengan senyum tulus saya katakan,
“ Maaf teh, lebih baik nanti teteh balik lagi aja kesini agak siangan. “
Dengan langkah lemas si teteh berjalan menjauhi meja saya dan mendekati pintu untuk keluar, tapi sebelum keluar si teteh masih sempat berkata,
“ Hmmm, harum amat ini baunya. Bau kopi, enak kayaknya… “
Saya : uhuk, uhuk..!!
Menjelang pukul 09.30 satu per satu manusia-manusia berdatangan
“ Eh, bau kopi nih! Siapa yang ngopi ya? Harum amat baunya… “
Saya : uhuk, uhuk..!!
“ was wes wos… eleh eleh, wangi amat iye teh kopi… white coffee nya? Saha atuh? “
“ Iya, saya juga dari tadi nyariin siapa yang ngopi, baunya harum gini “
Saya : uhuk, uhuk..!!
( hadeuuh., ini tenggorokan menjadi gatal. Dikira TBC bisa-bisa nih ).
Dalam hati, “ Segitunya apa?! Perasaan kemarin mereka itu beramai-ramai ngopi biasa aja, nggak ada yang teriak-teriak wangi kopi. Tapi saya sekali-kalinya ngopi jadi heboh begini karena harumnya tersebar kemana-mana. Sumpah deh, nggak saya semprotin pewangi kok kedalam ruangan!
Dengan mindik-mindik saya berusaha menghabiskan kopi agar tidak menjadi bahan perbincangan lagi, kebetulan cangkir saya ‘umpetin’ dibelakang Cpu. Hasrat yang tinggi untuk segera menghabiskan kopi membuat saya tidak menghiraukan senyum Pak Haji. Ampuuun, deh. Sampai di teliti begitu sambil matanya semangat banget mengitari meja dan sampailah pada Cpu. Jackpot! Yupz, disitulah sumbernya. Pak Haji tersenyum makin lebar…
Saya : uhuk, uhuk..!!
Akhirnya tanpa ba bi bu saya buru-buru langsung menenggak habis kopi yang masih tersisa banyak.
“ Uhuk, uhuk, uhuk, uhuk, uhuk..!! “
Masya ALLAH... Saking bersemangatnya sampai lupa kalau kopi itu ternyata masih lumayan panas. Menyemburlah bertetes-tetes air kopi hingga menyebabkan waktu menjadi beku. Semua orang mendadak frozen. Tidak bergerak, bersuara, bahkan berkedip pun tidak. Mereka semua menoleh kearah saya yang tidak hanya dipenuhi tetes-tetes air kopi tapi juga plus, plus air mata dan air hidung…
Hari yang paling tidak menyenangkan sepanjang masa…
Tag :
Pojok 'Ry'alita,
Terus, Gue Harus Bilang Wow Gitu!
By : Ave RySatu kata, PRIHATIN...
Sejujurnya saya sebelumnya tidak tahu-menahu kalau
kalimat judul tulisan ini agak-agak menyerempat tag iklan sebuah produk, maklum
jarang update televisi. Kalimat ini agak mengganggu saya dalam beberapa hari
terakhir akibat seringnya muncul komentar baik diucapkan dengan lisan secara
langsung maupun melalu media social seperti facebook dan twitter. Kenapa
mengganggu? Yah, sebagai seorang muslim saya diajarkan untuk bersikap dan juga
berpikir perduli terhadap sesama, sedangkan kalimat ini secara ‘tersirat’
mengungkapkan sikap apatis, tidak perduli.
Melalui sebuah komentar yang terlihat di wall
facebook ada sebuah statement yang membuat saya gemas
“ Parah gila jalanan macet total “
“ Biasa… buruh lagi demo “
“ Kurang kerjaan banget sih! “
“ eh, gak boleh gitu loh, mereka kan demo gara2 hak
mereka gak terpenuhi “
“ Terus, gue harus bilang wouww githuu? “
Lalu ada lagi, komentar langsung yang saya dengar
“ Tu abang apa gak ada jualan laen apa?! Segala
maenan kertas kayak gitu dijual. Emang ada yang mau beli? “
“ Ya, namanya juga usaha. Kan cari kerja juga susah
udah gitu belum tentu semua orang dapet pendidikan yang tinggi Dit… “
“ Terus, gue harus bilang woouuuww gitu! Ehh, itu
mah derita mereka kale “
Sikap seperti inikah generasi muda sekarang?
Generasi muda Indonesia yang mana ketika sebelum mencapai kemerdekaannya sudah
dikenal dengan asas toleransinya yang tinggi, gotong-royong, tepo seliro.
Apalagi kalau kita berbicara dalam koridor ajaran
Islam, dalam sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir Rasulullah bersabda:
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling cinta-mencintai dan mengasihi di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit dengan tidak bisa tidur dan demam. ( Mutafaq ‘alaih ).
Dengan menjamurnya virus-virus berbahaya seperti ini
maka tidak heran jika kita akan melihat seorang ibu tua dengan bayi yang tengah
menangis dalam gendongannya berdiri didepan bangku didalam bus ataupun kereta
api dimana sudah duduk manis seorang pemuda atau pemudi yang berpura-pura
tertidur.
Mungkin akan ada beberapa orang yang menganggap hal
kecil seperti ini terlalu dibesar-besarkan. Ya, memang benar kalimat ini adalah
sebuah kalimat simple yang entah tanpa sadar atau tidak dapat diucapkan oleh
siapa saja. Tetapi bukankah semua hal
besar di dunia ini rata-rata berawal dari hal kecil?
Pada awalnya hanya kalimat ‘gaul-gaulan’ saja,
kemudian lama-kelamaan akan menjadi mind-set kita,
‘ Masalah itu memang sudah ada dan tetap akan ada,
jadi kenapa harus repot? Biarkan saja seperti itu ‘
Begitu kira-kira nantinya. Tidak akan terjadi
sekarang, memang. Tapi tunggu saja hari, bulan hingga tahun-tahun berikutnya.
Karena kalimat yang diucapkan kemudian didengarkan secara terus-menerus
perlahan akan terekam dengan baik dalam otak. Karena sejatinya otak kita tidak
akan memilah-milah hal-hal apa saja yang masuk -baik maupun buruk- namun
kitalah yang berkewajiban untuk menyaringnya.
“ Yahh, baju gue kecipratan saus nih “
“ Terus, gue harus bilang wow gitu! “
“ Si Adi
kabarnya gak bisa ngelanjutin kuliah karena masalah biaya “
“ Terus, gue
harus bilang wow gitu! “
“ Buruh demo minta dihapuskan system out sourcing “
“ Terus, gue harus bilang wow gitu! “
“ Amerika tidak
berbuat apa-apa atas perbuatan salah seorang warganya yang sudah menghina Nabi
Muhammad saw dalam filmnya, Innocence of Moslem “
“ Terus, gue
harus bilang wow gitu! “
Wahai generasi muda Indonesia, akan kemana kita?
Wahai generasi Islam penerus ajaran para Nabi,
bagaimana kita akan bersikap?
Anak-anak
Adam adalah anggota satu sama lainnya,
Mereka diciptakan dari mutiara yang satu
Apabila salah satu dari mereka tertimpa kesulitan suatu penyakit
Maka anggota-anggota yang lain akan merasakan penderitaan tersebut
Apabila engkau tidak mengambil faedah dari bencana orang lain
Maka ketahuilah, bahwa engkau tidak layak dinamakan sebagai anak Adam.
Mereka diciptakan dari mutiara yang satu
Apabila salah satu dari mereka tertimpa kesulitan suatu penyakit
Maka anggota-anggota yang lain akan merasakan penderitaan tersebut
Apabila engkau tidak mengambil faedah dari bencana orang lain
Maka ketahuilah, bahwa engkau tidak layak dinamakan sebagai anak Adam.
Tunjukkanlah kearifan dalam jiwa mudamu, karena dari
lisanlah semua berawal. Perhatikan ucapan agar tidak sia-sia para pendahulu
kita berjuang demi tiap hembusan kemerdekaan yang kita hirup jika yang dapat
kita hadirkan adalah hanya berupa ungkapan ketidak perdulian.
Apakah kalian tidak mendengar? Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan siksaan karena air mata, atau karena kesedihan hati, tapi dengan ini —sambil menunjuk lisan beliau—, atau Allah akan memberikan Rahmat-Nya”.
( HR Tirmidzi )
Tag :
Pojok 'Ry'alita,






















