Mengapa Engkau Malas Mencari Ilmu?


Pertanyaan mengapa engkau malas mencari ilmu, dan terkadang mengapa engkau malas menuju majlis ilmu atau mengapa engkau begitu keberatan menuju majlis ilmu?

Pertanyaan yang tak urung membuat Gen-Q gusar. Tiga pertanyaan berbeda dengan alasan besar yang berbeda pula. Menurut pengalaman, mengapa seseorang malas mencari ilmu adalah karena ‘cuek’, tidak begitu memperdulikan seberapa besar pengetahuannya akan agama bertumbuh.

Pertanyaan mengapa malas menuju majlis ilmu, sebagian besarnya adalah karena kesibukan seseorang akan dunianya. Sedangkan seseorang yang begitu keberatan menuju majlis ilmu memiliki alasan yang lebih spesifik, utamanya adalah jarak yang menyita waktu, tenaga dan harta. Atau bagi wanita misal, ia keberatan karena jauhnya jarak majlis yang mengharuskan ia safar tanpa didampingi mahramnya.

Pentingnya ilmu sudah barang tentu telah diketahui banyak ummat Muslim dimanapun ia berada. Namun, berbagai alasan menjadi dinding penghalang bagi mereka yang masih malas dan lalai dalam menjalankannya. Padahal, Rasulullah pernah bersabda :

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Mashaa Allah, tidakkah kita menginginkan kebaikan dari Sang Maha Pemberi? Lantas bagaimana cara seseorang akan faqih dalam agamanya jika ia tidak menempuh salah satu cara terbaiknya? Yaitu dengan cara menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu.

”Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”. (HR. Turmudzi)

Dan termasuk ke dalam makna menempuh jalan untuk mencari ilmu; menempuh jalan hakiki (yang sesungguhnya), yaitu berjalan dengan kaki atau menggunakan kendaraan menuju majelis para ulama.

Masuk juga ke dalam makna ini, menempuh jalan maknawi yang mengantarkan untuk menghasilkan ilmu; seperti menghapal, mempelajari, mengulang-ulang, menelaah, menulis, memahami dan hal lain yang termasuk jalan-jalan maknawi yang bisa menghantarkan kepada ilmu.

Dan sabda Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam –, “Niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”

Bisa bermakna, bahwa Allah memudahkan baginya ilmu yang dia cari dan dia tempuh jalannya. Allah akan memudahkan ilmu baginya. Karena ilmu adalah jalan yang menghantarkan kepada surga. Dan ini seperti firman Allah ta’ala,

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” Al-Qamar : 17

Dan terkadang Allah memudahkan bagi penuntut ilmu, ilmu-ilmu lain yang akan bermanfaat baginya, dan menjadi penghantar kepada surga. Sebagaimana telah dikatakan,

“Barangsiapa mengamalkan ilmu yang diketahuinya, Alloh akan memberikan kepadanya ilmu yang belum dia ketahui.” (Faidhul Qadir karya al-Munawi 4/510-511, dan Kasyful Khofaa` karya al-‘Ajluni 2/347)

Juga sebagaimana telah dikatakan dala tafsir Ibnu Katsir, “Pahala kebaikan, adalah kebaikan yang lain.” Hal ini telah ditunjukkan oleh firman Alloh ta’ala,

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” Maryam : 17

Dan bahkan, jika masih ada diantara ummat Muslim yang masih lalai dan malas dalam mencari ilmu, maka Syaikh Muhammad al-Mukhtar asy-Syinqithi memberikan nasihat yang sangat berharga :

Nasihatku tinggalkanlah kemalasan dan kelalaian. Jika terjadi padamu, maka paksakanlah. Jika seseorang tulus menjalaninya... dia tidak akan malas dan lalai. Bukankah ada perkataan, “Ditempat ini akan ada 1000 riyal untukmu jika engkau mampu menunggu beberapa saat. Demi Allah, kamu harus menunggunya sampai tiba hari kiamat! Jika keadaannya demikian, janganlah engkau tidur dan bermalas-malasan.

Apa yang terjadi padamu? Bagaimana dengan ganjaran Allah yang tak ternilai?
Malas dan lalai seperti apa yang menghampirimu? Kemalasan dan kelalaian tidak akan terjadi, jika engkau renungkan apa yang ada disisi Allah.

Kemalasan dan kelalaian yang seperti apa saat seseorang berada dalam Majlis Ilmu? Sementara dia tahu para malaikat mengelilinginya.

Kemalasan dan lalai yang seperti ketika ia duduk dalam sebuah Majlis, sementara ia sedang berurusan dengan Rajanya raja. Tuhan Yang Awal dan Yang Akhir! Seorang hamba yang berpaling dari dunia dan mendekat kepada Tuhannya!

Kemalasan dan kelalaian seperti apa yang menghampirimu? Di saat engkau memegang Kitabullah dalam genggaman?

“Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan. Yang ditinggikan lagi disucikan. Di tangan para penulis (malaikat)”. Abasa : 13-15

Kemalasan dan kelalaian seperti apa yang menghampiri? Sementara engkau sedang membuka Kitabullah? Yang di dalamnya mengandung berita dan kisah yang membuat seseorang tidak bisa tidur. Yang membuat airmata mengalir dan membuat hati khusyu’.

Kemalasan dan kelalaian seperti apa yang menghampirimu? Dikala engkau bersungguh-sungguh dan tidak bermain-main didalamnya. Jika engkau menempuh kebenaran maka kebathilan pun lenyap.

Kemalasan dan kelalaian yang seperti apa? Itu karena kita tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Malas dan lalai, menghampiri karena kita tidak mengerti ada dimana kita!

Seseorang mendatangi Majlis Ilmu, namun dia tidak sadar bahwa Allah mendengar dan melihatnya! Seandainya engkau tahu! Apa ada yang lebih baik saat engkau megambil Kitabullah? Seandainya engkau tahu!

Dengan siapakah engkau akan berurusan saat meninggalkan rumah menuju Majlis Ilmu? Seandainya engkau tahu! Dikala engkau bangun diakhir malam, lalu engkau pun letih dan kelelahan. Sementara engkau membaca Kitabullah, atau membaca Sunnah Rasulullah, demi memelihara ummat.

Tahukah engkau bahwa para malaikat turun? Karena engkau melakukan amal sholih. Derajatmu ditinggikan dan pintu-pintu surga terbuka untukmu. Inilah yang menjadi alasan engkau duduk, inilah yang engkau tulis, dengarkan dan membacanya. Yang mengingatkanmu hakikat dunia dan hari kemudian. Inilah yang baca, dengarkan, yang engkau lihat dan pahami. Yang akan meninggikan derajatmu. Yang akan menebus dosa-dosamu.

Apa engkau sadar? Pasa saat engkau tinggalkan rumahmu, engkau pergi menuntut ilmu, engkau tulus pada Tuhanmu dalam mencarinya, dan Allah mengetahui isi hatimu, tida yang engkau harapkan kecuali Dia.

Atau mungkin engkau mungkin pergi karena suatu urusan, atau engkau pergi setelah bangun diwaktu malamnya. Dan engkau pun berkata, “Aku ingin tetapi mencari rid dalam keadaan seperti ini demi mencari ridho Tuhanku”. Lalu engkau pergi menuju majlis ilmu karena Allah tanpa riya’ dan sum’ah, maka Malaikat pun turun, diutus untuk menyaksikan perbuatanmu yang engkau lakukan karena Allah. Ketika tiba di majlis ilu engaku memperoleh kebaikan, derajatmu pun diangkat. Betapa luar biasanya seorang penuntut ilmu, kembali kerumah seperti bayi yang baru lahir.

Begitu besar faidah dan keutamaan dalam mencari ilmu sehingga alangkah sayangnya bagi ummat Muslim yang melalaikannya.

Persoalan kemudian timbul pada wanita Muslimah yang turut dalam mencari ilmu sehingga mengharuskannya untuk safar (bepergian), padahal seorang wanita dilarang safar dalam sehari-semalam jika tidak didampingi mahramnya. Dalam masalah ini, ada dua hal yang diperhatikan, yaitu ;

PERTAMA: 'Urf (pandangan masyarakat setempat) terhadap jarak antara tempat tersebut. Jika mereka menganggap itu bukan termasuk safar maka hukumnya BOLEH. Dan sebaliknya, jika mereka menganggapnya sudah termasuk jarak safar maka hukumnya TIDAK BOLEH. Akan tetapi ketidak-bolehan ini juga tidak secara mutlak, tapi dilihat pada hal selanjutnya.

KEDUA: Melihat pada kondisi wanita tersebut dalam hal pengetahuan dan pemahamannya tentang agama dan juga jenis Ilmu yang akan dikaji dalam majlis ta'lim tersebut. Yakni jika ia seorang awam yang tidak mengerti apa-apa tentang aqidah islam yang benar, dan tata cara beribadah sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya, sementara di rumahnya atau di kampung halamannya tidak ada orang atau majlis ta'lim yang mengajarkan Aqidah Islam yang lurus dan tata cara ibadah kepada Allah dengan benar, sehingga ia tetap terbelenggu oleh kebodohannya jika menetap di rumahnya, maka dalam kondisi seperti ini ia BOLEH atau bahkan sangat dianjurkan untuk keluar dari rumahnya untuk menghadiri majlis ta’lim dalam rangka mencegah mudhorot (bahaya) yang lebih besar, yaitu bahaya yang ditimbulkan oleh kebodohannya tentang agama Islam.

Di dalam sebuah kaedah fiqih disebutkan: idza tazaahamat al-mafsadataani urtukiba adnaahuma. Artinya: "apabila berdesakan (dalam satu waktu) 2 mafsadat (bahaya/kerusakan) maka hendaknya memilih mafsadat yang paling kecil. Dan yang perlu diperhatikan, ketika ia keluar menuju majlis ta'lim hendaknya berpakaian syar'i, tidak memakai wangi-wangian, menjaga adab-adab safar, menjauhi larangan-larangan Allah, dan segera kembali ke rumahnya setelah selesai dari hajatnya.

”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)

Sumber :
1. Video ceramah oleh Syaikh Muhammad al-Mukhtar asy-Syinqithi
2. Materi kajian Ustadz Washito


6 komentar:

  1. benar sekali....pernah rasanya aku malas mencari ilmu... pernah menyesal

    BalasHapus
  2. Mencari ilmu terutama ilmu agama, akhirat dunia insya Allah dua duanya dapat :)

    BalasHapus
  3. menghadiri majlis ilmu umpama memasuki taman2 syurga..

    BalasHapus
  4. Artikel ini memberikan wawasan terbaru buat saya, wacana pembahasan ini sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  5. kalau aku hanya mampu melalui kajian online? apa aku malas?

    tertohok. hiaa.. hug me...

    BalasHapus
  6. Orang semangat bekerja itu bagus. Orang giat mencari uang tentu positif asal digunakan di jalan kebaikan. Orang yang belum kerja mencari pekerjaan kesana-kemari sampai antre panjang. Mestinya, orang juga semangat, giat, bahkan rela antre panjang untuk mencari ilmu.

    BalasHapus

 

Instagram

Get My G+