Bi'ah islamiyah kita, tercarut padu dengan debu. 
Ia bergulung rindu, menggugu kemana ruhnya tertuju?

Duhai, ruh itu bagaikan sebaris tentara. Ia berpadu karena saling mengenal. 
Bahkan, satu kali tatapan seharga ribuan genggaman.

Lalu bagaimanakah kau akan memaksaku, mengenalmu jika tiada bayang terlupuk difikiranku.

Bahasamu dimana berlayar muatan kalbu tidak menyentuh bahkan bila setiap hela-nya berbalut safir.

Maka bi'ah islamiyah kita, disanalah ia mengalir. 
Bergelombang dalam muara kebaikan, terus berdzikir.

Teruntuk wajah-wajah sayu, dan mereka yang lelah dalam tunggu.

Doa rabithoh tercurah padamu. 
Semoga DIA bersama kita selalu, dalam ketaatan dan surga yang kita tuju.


Bi'ah Islamiyah Kita


“Untuk mencapai cara berpikir yang lurus, cara berpikir yang benar, jauhkan dirimu dari hawa nafsu. Karena hawa nafsu lah yang membuat manusia tidak bisa berpikir dengan lurus.”

~ Syaikh Sayyid Syaltut

Dan berapa banyaknya para pengusung Liberalisme yang berdiaspora dan masuk kedalam sel-sel berbagai aliran sesat dan perilaku menyimpang berlindung dibalik tameng akademis/keilmuwan mereka?

Namun sungguh disayangkan, anugrah yang dikaruniakan Tuhan pada mereka malah membuat mereka menjadi agen-agen yang bertugas membelokkan manusia dari kerangka berpikir yang lurus.

Hawa nafsu memiliki peran yang teramat besar dalam menggelincirkan manusia dari fithrahnya. Terlebih lagi jika para pengusungnya menggunakan dalil-dalil agama untuk menambal kesalah-tafsiran mereka.


Allah Subhana wa ta’ala telah memperingatkan manusia bahwa hanya orang-orang yang suci lah, bersih hati dan pikirannya, yang dapat tersentuh oleh Al-Qur’an.



“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.”


(Al-Waqi’ah: 79)



Maka tidak ada jalan lain, kesucian hati dalam rangka menopang cara berpikir yang lurus dan benar sesuai kehendak Sang Pencipta adalah hal yang mutlak dilakukan.



Pada tempat lain Allah Subhana wa ta’ala membimbing kita agar meneladani Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.



(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.”

(Ash-Shaffat: 84)



Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata di dalam tafsirnya, “Yakni dia datang menghadap Allah dengan membawa hati yang selamat dari kesyirikan, syubhat-syubhat, dan syahwat-syahwat yang bisa menghalanginya dari mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Apabila hati seorang hamba telah selamat dari hal-hal di atas, maka hati tersebut akan terhindar dari segala keburukan-keburukan, dan sebaliknya hati tersebut akan memunculkan kebaikan-kebaikan. Dan di antara bentuk keselamatan hati adalah bahwa ia selamat dari perbuatan menipu daya manusia, serta selamat dari hasad dan dari berbagai bentuk akhlak yang tercela.”



Semoga Allah Subhana wa ta’ala menjaga kita dari hawa nafsu yang tercela.



“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar.” (HR. Tirmidzi no. 3591)

Mensuci Hati, Berlurus Pikir


ﺍﻟﺤَﻤْﺪُ ﻟﻠﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺃَﻇْﻬَﺮَ ﺍﻟﺠَﻤِﻴْﻞَ ﻭَﺳَﺘَﺮَ ﺍﻟﻘَﺒِﻴْﺢَ
“Segala puji bagi Allah yang menampakkan yang baik dan menutupi yang buruk.”

Menjadi seorang Muslim/Muslimah yang telah ter-tarbiyah adalah sebuah beban tersendiri apalagi jika ia berada dalam lingkungan yang penuh dengan keragaman. Sosoknya sedikit banyak akan menjadi sorotan public.

Bagi saya pribadi, hal ini amat berat. Kita secara tidak langsung dituntut untuk bersikap ‘lebih’. Untuk seorang akhwat saya contohkan, ketika ia telah berazzam untuk menutupi tubuhnya dengan penutup sesuai perintah agama lalu ia juga terlihat aktif mengikuti kajian maka orang-orang sekitarnya akan ‘men-stempel’ dirinya dengan cap sesuai persangkaan yang ada pada orang banyak.

Pertanyaan-pertanyaan seputar agama banyak dialamatkan padanya, baik itu dari orang yang mengenalnya dekat maupun dari orang yang memperhatikannya selintas lalu. Kemudian jika ia berada dalam sebuah tempat ibadah umum dan akan melaksanakan shalat wajib maka tetiba ia didaulat untuk mengimami. Dan masih banyak contoh yang lain.

Salah satu karib saya beberapa kali mengeluhkan hal ini, “Aku tidak sebaik apa yang kalian pikirkan” begitu curhatnya. Dalam hati sayapun mengamini, bahkan saya lebih dalam lagi. Perasaan tidak pantas adalah perasaan yang mungkin sulit dimengerti bagi sebagian orang. Ini bukan persoalan minder, rendah diri atau yang semacam itu namun perasaan yang penuh dengan kesadaraan bahwa diri yang seringkali dijadikan percontohan, panutan tidak lebih dari seorang manusia yang baru saja meniti, belajar sambil mengamalkan dengan amalan yang jika tidak ada maka ia amat sedikit sekali.

Malu, mungkin kata ini dapat sedikit menggambarkan. Andai saja orang lain mengetahui keburukan-keburukan yang ada, dan yang terpenting adalah malu kepada-Nya. Bagaimana dapat mengangkat wajah nanti dihadapan-Nya? Secuil amal yang terbalut dengan selimut dosa.

Maka, dengan rasa malu yang tersembunyi, beban itu sudah seharusnya berganti. Ya, beban yang bertransformasi menjadi tanggung jawab. Tanggung jawab untuk menggiatkan diri lebih baik lagi. Bukankah Rasulullah berpesan, “Bertakwalah kamu kepada Allah dimana dan kapan saja kamu berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu menghapus keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan ahlak yang baik” (HR at-Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim, al-Baihaqi, al-Bazar dan Abu Nu’aim dari Abu Dzar al-Ghiffari)

ﺃَﻟﻠﻬُﻢَّ ﻻَ ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧِﻲْ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻟُﻮْﻥَ، ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْﻟِﻲْ ﻣَﺎﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮْﻥَ، ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻨِﻲْ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﻈُﻨُّﻮْﻥَ
“Ya Allah, jangan Engkau tuntut aku dengan apa yang mereka katakan (ucapkan), dan ampunilah aku atas apa-apa yang mereka tidak ketahui dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan.”

Aku Tidak Lebih Baik dari Kalian


Akhir-akhir ini beranda Facebook Gen-Q dipenuhi dengan status-status penuh amarah, kebencian, sarkasme. Ya, entah sejak kapan hal itu berlangsung ; kebencian meluap-luap atas segala yang terjadi, mulai dari kebencian pada pejabat atau pemerintah keseluruhan, system, kelompok. Tidak satupun tertinggal untuk dikritik, tidak satupun tertinggal untuk dicela bahkan dilaknat.

Pertanda apakah ini? Muncul generasi-generasi pemarah, pembenci. Hilangnya kepercayaan dan bahkan adab berucap. Masing-masing pihak merasa dirinya paling benar. Ah, rasanya rindu berada di zaman itu, di zaman sebenar khilafah tertegak. Dimana si mukmin nyaman dan si munafik tak tentram, bukan seperti sekarang yang terbalik, si munafik nyaman dan si mukmin tak tentram.

Ada sebuah kisah yang akan terus disadur karena kebaikan isinya, dan bahkan setelah membacanya untuk ke sekian kali Gen-Q masih saja berkaca-kaca. Masih adakah?

Umar bin khattab sedang duduk di bawah sebatang pohon kurma. Surbannya di lepas, menampakkan kepala yang rambutnya mulai teripis di beberapa bagian. Di atas kerikil ia duduk, dengan cemeti umatar nya tergeletak di samping tumpuan lengan. Di hadapannya para pemuka shahabat bertukar pikiran dan membahas berbagai persoalan. Ada anak muda yang tampak menonjol di situ. Abdullah ibn Abbas. Berulang kali Umar memintanya berbicara. Jika perbedaan wujud, Umar hampir selalu bersetuju dengan Ibnu Abbas. Ada juga Salman Al-Farisi yang tekun menyimak. Ada juga Abu Dzar Al-Ghifari yang sesekali bicara berapi-api. 

Pembicaraan mereka segera terjeda. Dua orang pemuda berwajah mirip datang dengan mengapit pria belia lain yang mereka cekal lengannya. “Wahai Amirul Mukminin,” Ujar salah satu berseru-seru, “Tegakkanlah hukun ALLAH atas pembunuhan ayah kami ini!”

Umar bangkit

”Takutlah kalian kepada ALLAH!” hardiknya, “Perkara apakah ini?” kedua pemuda itu menegaskan bahwa pria belia yang mereka bawa ni adalah pembunuh ayah mereka. Mereka siap mendatangkan saksi dan bahkan menyatakan bahwa si pelaku ini telah mangaku. Umar bertanya kepada sang tertuduh. “Benarkah yang mereka dakwakan kepadamu ini?” “Benar wahai Amirul Mukminin!” “Engkau tidak menyangkal dan di wajahmu kulihat ada sesal!” ujar Umar menyelidik dengan teliti. “Ceritakanlah kejadiannya!” “Aku datang dari negeri yang jauh” kata belia itu. “Begitu sampai di Kota ini ku tambatkan kudaku di sebuah pohon dekat kebunmilik keluarga mereka. Ku tinggalkan ia sejenak untuk mengurus suatuhajat tanpa aku tahu ternyata kudaku mulai memakan sebagian tanaman yang ada di kebun mereka.” “Saat aku kembali,” lanjutnya sembari menghela nafas, “Kulihat seorang lelaki tua yang kemudian aku tahu adalah ayah dari kedua pemuda ini sedang memukul kepala kudaku dengan batu hingga hewan malang itu tewas menggenaskan. Melihat kejadian itu, aku di bakar amarah dan kuhunus pedang. Aku khilaf, aku telah membunuh lelaki tua itu. Aku memohon ampun kepada ALLAH karenanya” 

Umar tecenung

“Wahai Amirul mukminin,” kata salah satu dari kedua kakak beradik itu, “Tegakkanlah hukum ALLAH. Kami meminta qishash atas orang ini. Jiwa dibayar dengan jiwa. Umar melihat pada belia tertuduh itu. Usianya masih sangat muda. Pantas saja dia mudah dibakar hawa amarah. Tapi sangat jelas bahwa wajahnya teduh. Akhlaknya santun. gurat-gurat sesal tampak jelas membayang di air mukanya. Umar iba dan merasa alangkah sia-sianya jika anak muda penuh adab dan berhati lembut ini harus mati begitu pagi. 


“Bersediakah kalian,” ucap Umar ke arah dua pemuda penuntut Qishash, “Menerima pembayaran diyat dariku atas nama pemuda ini dan memaafkan nya?”. Kedua pemuda itu saling pandang,”Demi ALLAH, hai Amirul mukminin” jawab mereka, “Sungguh kami sangat mencintai ayah kami. dia telah membesarkan kami dengan penuh cinta. keberadaannya di tengah kami takkan terbayar dan terganti dengan diyat sebesar apapun. Lagipula kami bukanlah orang miskinyang menghajatkan harta. Hati kami baru akan tenteram jika Had di tegakkan!”. 

Umar terhenyak

“Bagaimana menurutmu?” tanyanya pada sang terdakwa. “Aku ridha hukum ALLAH di tegakkan atasku, wahai Amirul Mukminin” kata si belia dengan yakin. “Namun ada yang menghalangiku untuk sementara ini. Ada amanah dari kaumku atas beberapa benda maupun perkara yang harus aku sampaikan kembali pada mereka. demikian juga keluargaku. aku bekerja untuk menafkahi mereka. Hasil Jerih payah di perjalanan terakhirku ini harus aku serahkan pada mereka sembari berpamitan memohon ridha dan keampunan ayah ibuku” 

Umar terhenyuh

Tak ada jalan lain. hudud harus di tegakkan. Tetapi pemuda itu juga memiliki amanah yang harus di tunaikan. “Jadi bagaimana?” tanya Umar. “Jika engkau mengijinkanku, wahai Amirul Mukminin, aku minta waktu tiga hari untuk kembali ke daerah asalku guna menunaikan segala amanah itu. Demi ALLAH, aku pasti kembali di hari ketiga untuk menetapi hukumanku. Saat itu tegakkanlah had untukku tanpa ragu, wahai putra Al-Khattab”. “Adakah orang yang isa menjaminmu?”. “Aku tidak memiliki seorangpun yang kukenal di kota ini hingga dia bisa kuminta menjadi penjamin ku. Aku tak memiliki seorangpun penjamin kecuali ALLAH yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”. “Tidak! Demi ALLAH, tetap harus ada seseorang yang menjaminmu atau aku tak bisa mengizinkanmu pergi.”. “Aku bersumpah dengan nama ALLAH yang amat keras azabnya. Aku takkan menyalahi janjiku.”. “Aku percaya, tapi tetap harus ada manusia yang menjaminmu!”. “Aku tak punya!”. 

“Wahai Amirul Mukminin!” terdengar sebuah suara yang berat dan berwibawa menyela. “Jadikan aku sebagai penjamin anak muda ini dan biarkanlah ia menunaikan amanahnya!” inilah dia, Salman Al Farisi yang tampil mengajukan diri. “Engkau hai Salman, bersedia menjamin anak muda ini?”. “Benar. Aku bersedia!”. “Kalian berdua kakak beradik yang mengajukan gugatan,”panggil Umar, “Apakah kalian bersedia menerima penjaminan dari Salman Al Farisi atas orang yang telah membunuh ayah kalian ini? Adapun Salman demi ALLAH, aku bersaksi tentang dirinya bahwa dia lelaki ksatria yang jujur dan tak sudi berkhianat”. Kedua pemuda itu saling pandang. “Kami menerima,” kata mereka nyaris serentak.  

*****

Waktu tiga hari yang disediakan untuk sang terhukum nyaris habis. Umar gelisah tak karuan. Dia mondar mandir sementara Salman duduk khusu’ di dekatnya. Salman tampak begitu tenang padahal jiwanya di ujung tanduk. Andai lelaki pembunuh itu tak datang memenuhi janji, maka dirinyalah selaku penjamin yang akan menggantikan tempat sang terpidana untuk menerima qishash. 

Waktu terus merambat. Belia itu masih belum muncul. Kota Madinah mulai terasa kelabu. Para shahabat berkumpul mendatangi Umar dan Salman. Demi ALLAH, mereka keberatan jika Salman harus di bunuh sebagai badal. Mereka sungguh tak ingin kehilangan sahabat yang pengorbanannya untuk islam begitu besar itu. Salman seorang sahabat yang tulus dan rendah hati. Dia di hormati. Dia dicintai. Satu demi satu, dimulai dari Abi Darda’, beberapa shahabat mengajukan diri sebagai pengganti Salman jika hukuman benar-benar dijatuhkan padanya. Tetapi Salma menolak. Umar juga menggeleng. 

Matahari semakin langsir ke Barat. Kekhawatiran Umar makin memuncak. Para shahabat makin kelut dan sedih. Hanya beberapa saat menjelang habisnya batas waktu, tampak seseorang datang dengan berlari tertatih dan terseok. Dia pemuda itu, sang terpidana. 

“Maafkan aku,” ujarnya dengan senyum tulus sembari menyeka keringat yang membasahi sekujur wajah, urusan dengan kaumku itu ternyata berbelit dan rumit sementara untaku tak sempat istirahat. Ia kelelahan nyaris sekarat dan terpaksa kutinggal di tengah jalan. aku harus berlari-lari untuk sampai kemari sehingga nyaris terlambat.” Semua yang melihat wajah dan penampilan pemuda ini merasakan satu sergapan iba. semua yang mendengar penuturannya merasakan keharuan yang mendesak-desak. 

Semua tiba-tiba merasa tak rela jika sang pemuda harus berakhir hidupnya di hari itu.  “Pemuda yang jujur” ujar Umar dengan mata berkaca-kaca, “Mengapa kau datang kembali padahal bagimu ada kesempatan untuk lari dan tak harus mati menanggung qishash?”. “Sungguh jangan sampai orang mengatakan,” kata pemuda itu sambil tersenyum ikhlas, “Tak ada lagi orang yang tepat janji. dan jangan sampai ada yang mengatakan, tak ada lagi kejujuran hati di kalangan kaum muslimin”. 

“Dan kau Salman,” kata Umar bergetar, “Untuk apa kau susah-susah menjadikan dirimu penanggung kesalahan dari orang yang tak kau kenal sama sekali? Bagaimana kau bisa mempercayainya?”. “Sungguh jangan sampai orang bicara,” ujar Salman dengan wajah teguh, “Bahwa tak ada lagi orang yang mau saling membagi beban dengan saudaranya. Atau jangan sampai ada yang merasa, tak ada lagi saling percaya di antara orang-orang Muslim.”. “ALLAHU AKBAR!” kata Umar, “Segala puji bagi ALLAH. kalian telah membesarkan hati ummat ini dengan kemuliaan sikap dan agungnya iman kalian. Tetapi bagaimanapun wahai pemuda, had untukmu harus kami tegakkan!” 

Pemuda itu mengangguk Pasrah. “Kami memutuskan…” Kata kakak beradik penggugat tiba-tiba menyeruak, “Untuk memaafkannya.” mereka tersedu sedan. “Kami melihatnya sebagai seorang yang berbudi dan tepat janji. Demi ALLAH, pasti benar-benar sebuah kekhilafan yang tak disengaja jika dia sampai membunuh ayah kami. Dia telah menyesal dan beristighfar kepada ALLAH atas dosanya. Kami memaafkannya. Janganlah menghukumnya, wahai Amirul Mukminin”. “Ahamdulillah!, Alhamdulillah!” ujar Umar. 

Pemuda terhukum itu sujud syukur. Salman tak ketinggalan menyungkurkan wajahnya ke arah kiblat mengagungkan Asma ALLAH, yang kemudian bahkan diikuti oleh semua hadirin. “Mengapa kalian tiba-tiba berubah pikiran?” tanya Umar pada kedua ahli waris korban. “Agar jangan sampai ada yang mengatakan,” jawab mereka masih terharu, “Bahwa di kalangan kaum muslimin tak ada lagi kemaafan, pengampunan, iba hati dan kasih sayang”


Mencintai Khilafah, Kok Jadi Generasi Pemarah?


Pertanyaan mengapa engkau malas mencari ilmu, dan terkadang mengapa engkau malas menuju majlis ilmu atau mengapa engkau begitu keberatan menuju majlis ilmu?

Pertanyaan yang tak urung membuat Gen-Q gusar. Tiga pertanyaan berbeda dengan alasan besar yang berbeda pula. Menurut pengalaman, mengapa seseorang malas mencari ilmu adalah karena ‘cuek’, tidak begitu memperdulikan seberapa besar pengetahuannya akan agama bertumbuh.

Pertanyaan mengapa malas menuju majlis ilmu, sebagian besarnya adalah karena kesibukan seseorang akan dunianya. Sedangkan seseorang yang begitu keberatan menuju majlis ilmu memiliki alasan yang lebih spesifik, utamanya adalah jarak yang menyita waktu, tenaga dan harta. Atau bagi wanita misal, ia keberatan karena jauhnya jarak majlis yang mengharuskan ia safar tanpa didampingi mahramnya.

Pentingnya ilmu sudah barang tentu telah diketahui banyak ummat Muslim dimanapun ia berada. Namun, berbagai alasan menjadi dinding penghalang bagi mereka yang masih malas dan lalai dalam menjalankannya. Padahal, Rasulullah pernah bersabda :

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Mashaa Allah, tidakkah kita menginginkan kebaikan dari Sang Maha Pemberi? Lantas bagaimana cara seseorang akan faqih dalam agamanya jika ia tidak menempuh salah satu cara terbaiknya? Yaitu dengan cara menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu.

”Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”. (HR. Turmudzi)

Dan termasuk ke dalam makna menempuh jalan untuk mencari ilmu; menempuh jalan hakiki (yang sesungguhnya), yaitu berjalan dengan kaki atau menggunakan kendaraan menuju majelis para ulama.

Masuk juga ke dalam makna ini, menempuh jalan maknawi yang mengantarkan untuk menghasilkan ilmu; seperti menghapal, mempelajari, mengulang-ulang, menelaah, menulis, memahami dan hal lain yang termasuk jalan-jalan maknawi yang bisa menghantarkan kepada ilmu.

Dan sabda Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam –, “Niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”

Bisa bermakna, bahwa Allah memudahkan baginya ilmu yang dia cari dan dia tempuh jalannya. Allah akan memudahkan ilmu baginya. Karena ilmu adalah jalan yang menghantarkan kepada surga. Dan ini seperti firman Allah ta’ala,

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” Al-Qamar : 17

Dan terkadang Allah memudahkan bagi penuntut ilmu, ilmu-ilmu lain yang akan bermanfaat baginya, dan menjadi penghantar kepada surga. Sebagaimana telah dikatakan,

“Barangsiapa mengamalkan ilmu yang diketahuinya, Alloh akan memberikan kepadanya ilmu yang belum dia ketahui.” (Faidhul Qadir karya al-Munawi 4/510-511, dan Kasyful Khofaa` karya al-‘Ajluni 2/347)

Juga sebagaimana telah dikatakan dala tafsir Ibnu Katsir, “Pahala kebaikan, adalah kebaikan yang lain.” Hal ini telah ditunjukkan oleh firman Alloh ta’ala,

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” Maryam : 17

Dan bahkan, jika masih ada diantara ummat Muslim yang masih lalai dan malas dalam mencari ilmu, maka Syaikh Muhammad al-Mukhtar asy-Syinqithi memberikan nasihat yang sangat berharga :

Nasihatku tinggalkanlah kemalasan dan kelalaian. Jika terjadi padamu, maka paksakanlah. Jika seseorang tulus menjalaninya... dia tidak akan malas dan lalai. Bukankah ada perkataan, “Ditempat ini akan ada 1000 riyal untukmu jika engkau mampu menunggu beberapa saat. Demi Allah, kamu harus menunggunya sampai tiba hari kiamat! Jika keadaannya demikian, janganlah engkau tidur dan bermalas-malasan.

Apa yang terjadi padamu? Bagaimana dengan ganjaran Allah yang tak ternilai?
Malas dan lalai seperti apa yang menghampirimu? Kemalasan dan kelalaian tidak akan terjadi, jika engkau renungkan apa yang ada disisi Allah.

Kemalasan dan kelalaian yang seperti apa saat seseorang berada dalam Majlis Ilmu? Sementara dia tahu para malaikat mengelilinginya.

Kemalasan dan lalai yang seperti ketika ia duduk dalam sebuah Majlis, sementara ia sedang berurusan dengan Rajanya raja. Tuhan Yang Awal dan Yang Akhir! Seorang hamba yang berpaling dari dunia dan mendekat kepada Tuhannya!

Kemalasan dan kelalaian seperti apa yang menghampirimu? Di saat engkau memegang Kitabullah dalam genggaman?

“Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan. Yang ditinggikan lagi disucikan. Di tangan para penulis (malaikat)”. Abasa : 13-15

Kemalasan dan kelalaian seperti apa yang menghampiri? Sementara engkau sedang membuka Kitabullah? Yang di dalamnya mengandung berita dan kisah yang membuat seseorang tidak bisa tidur. Yang membuat airmata mengalir dan membuat hati khusyu’.

Kemalasan dan kelalaian seperti apa yang menghampirimu? Dikala engkau bersungguh-sungguh dan tidak bermain-main didalamnya. Jika engkau menempuh kebenaran maka kebathilan pun lenyap.

Kemalasan dan kelalaian yang seperti apa? Itu karena kita tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Malas dan lalai, menghampiri karena kita tidak mengerti ada dimana kita!

Seseorang mendatangi Majlis Ilmu, namun dia tidak sadar bahwa Allah mendengar dan melihatnya! Seandainya engkau tahu! Apa ada yang lebih baik saat engkau megambil Kitabullah? Seandainya engkau tahu!

Dengan siapakah engkau akan berurusan saat meninggalkan rumah menuju Majlis Ilmu? Seandainya engkau tahu! Dikala engkau bangun diakhir malam, lalu engkau pun letih dan kelelahan. Sementara engkau membaca Kitabullah, atau membaca Sunnah Rasulullah, demi memelihara ummat.

Tahukah engkau bahwa para malaikat turun? Karena engkau melakukan amal sholih. Derajatmu ditinggikan dan pintu-pintu surga terbuka untukmu. Inilah yang menjadi alasan engkau duduk, inilah yang engkau tulis, dengarkan dan membacanya. Yang mengingatkanmu hakikat dunia dan hari kemudian. Inilah yang baca, dengarkan, yang engkau lihat dan pahami. Yang akan meninggikan derajatmu. Yang akan menebus dosa-dosamu.

Apa engkau sadar? Pasa saat engkau tinggalkan rumahmu, engkau pergi menuntut ilmu, engkau tulus pada Tuhanmu dalam mencarinya, dan Allah mengetahui isi hatimu, tida yang engkau harapkan kecuali Dia.

Atau mungkin engkau mungkin pergi karena suatu urusan, atau engkau pergi setelah bangun diwaktu malamnya. Dan engkau pun berkata, “Aku ingin tetapi mencari rid dalam keadaan seperti ini demi mencari ridho Tuhanku”. Lalu engkau pergi menuju majlis ilmu karena Allah tanpa riya’ dan sum’ah, maka Malaikat pun turun, diutus untuk menyaksikan perbuatanmu yang engkau lakukan karena Allah. Ketika tiba di majlis ilu engaku memperoleh kebaikan, derajatmu pun diangkat. Betapa luar biasanya seorang penuntut ilmu, kembali kerumah seperti bayi yang baru lahir.

Begitu besar faidah dan keutamaan dalam mencari ilmu sehingga alangkah sayangnya bagi ummat Muslim yang melalaikannya.

Persoalan kemudian timbul pada wanita Muslimah yang turut dalam mencari ilmu sehingga mengharuskannya untuk safar (bepergian), padahal seorang wanita dilarang safar dalam sehari-semalam jika tidak didampingi mahramnya. Dalam masalah ini, ada dua hal yang diperhatikan, yaitu ;

PERTAMA: 'Urf (pandangan masyarakat setempat) terhadap jarak antara tempat tersebut. Jika mereka menganggap itu bukan termasuk safar maka hukumnya BOLEH. Dan sebaliknya, jika mereka menganggapnya sudah termasuk jarak safar maka hukumnya TIDAK BOLEH. Akan tetapi ketidak-bolehan ini juga tidak secara mutlak, tapi dilihat pada hal selanjutnya.

KEDUA: Melihat pada kondisi wanita tersebut dalam hal pengetahuan dan pemahamannya tentang agama dan juga jenis Ilmu yang akan dikaji dalam majlis ta'lim tersebut. Yakni jika ia seorang awam yang tidak mengerti apa-apa tentang aqidah islam yang benar, dan tata cara beribadah sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya, sementara di rumahnya atau di kampung halamannya tidak ada orang atau majlis ta'lim yang mengajarkan Aqidah Islam yang lurus dan tata cara ibadah kepada Allah dengan benar, sehingga ia tetap terbelenggu oleh kebodohannya jika menetap di rumahnya, maka dalam kondisi seperti ini ia BOLEH atau bahkan sangat dianjurkan untuk keluar dari rumahnya untuk menghadiri majlis ta’lim dalam rangka mencegah mudhorot (bahaya) yang lebih besar, yaitu bahaya yang ditimbulkan oleh kebodohannya tentang agama Islam.

Di dalam sebuah kaedah fiqih disebutkan: idza tazaahamat al-mafsadataani urtukiba adnaahuma. Artinya: "apabila berdesakan (dalam satu waktu) 2 mafsadat (bahaya/kerusakan) maka hendaknya memilih mafsadat yang paling kecil. Dan yang perlu diperhatikan, ketika ia keluar menuju majlis ta'lim hendaknya berpakaian syar'i, tidak memakai wangi-wangian, menjaga adab-adab safar, menjauhi larangan-larangan Allah, dan segera kembali ke rumahnya setelah selesai dari hajatnya.

”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)

Sumber :
1. Video ceramah oleh Syaikh Muhammad al-Mukhtar asy-Syinqithi
2. Materi kajian Ustadz Washito

Mengapa Engkau Malas Mencari Ilmu?


Wahai pemuda pernahkah terpikirkan oleh kalian untuk apa kita menikah?
Pernikahan sejatinya bukanlah sekedar penghalalan untuk melampiaskan syahwat.
Pernikahan bukan pula sekedar tradisi semata.

Bukan, karena begitu besarnya arti sebuah pernikahan dalam islam Rasulullah menyebut dalam haditsnya sebagai separuh agama.

"Jika seseorang telah menikah, dia telah melengkapi separuh agamanya. Hendaknya dia bertakwa kepada Allah dalam separuh yang lain." (HR. Al-Baihaqi dan Al-Hakim)

Pernahkah pula terpikir apa obsesi menikah?
Akankah menikah hanya untuk meneruskan keturunan saja?
Untuk mempunyai pasangan yang rupawan?
Untuk menaikkan status sosial?

Jika menikah adalah separuh agama, betapa rendah sekali separuh agama kita jika tujuan pernikahan hanya inginkan kenikmatan dunia.

Dalam sebuah kajian, Ust Abu Fairus mengisahkan pernikahan dengan obsesi besar menuju akhirat menghasilkan generasi besar.

Tersebutlah sebuah kisah yang sangat menarik untuk disimak;

Di wilayah Tikrip negeri Irak tinggal seorang panglima bernama Najmuddiin. Najmuddiin adalah seorang panglima yang memiliki obsesi besar dalam pernikahan. Dirinya mempunyai keinginan menikahi seorang perempuan yang siap melahirkan seorang generasi yang di-didik dengan pendidikan islam, menjadi seorang penunggang kuda, dan menjadi seorang pahlawan yang akan menaklukkan Baitul Maqdis

Sahabatnya Asaduddiin berkata padanya,

"Wahai Najmuddiin saudaraku, kalau mau dan sudi saya akan membantumu meminang Putri Raja, atau Putri Sultan, atau Putri Perdana Menteri."

"Tidak sahabatku, Putri Raja, Putri Sultan atau Putri Menteri tidak ada yang pas buat diriku", tolak Najabuddin.

"Lantas, dimana engkau mendapat perempuan seperti yang engkau inginkan?" Tanya Asaduddiin.

"Andai niatku ikhlas semoga Allah Swt mempertemukan untukku seorang perempuan seperti inginku."

Berlalunya Waktu..

Hari demi Hari..
Minggu ke Minggu..
Hingga Berbulan-bulan..

Perjalanan Najmuddiin belum bertemu sosok perempuan idamannya.

Hingga suatu ketika Najmuddiin mengikuti sebuah kajian dari seorang ulama di majelis masjidnya.

Selepas kajian tanpa di duga ada seorang perempuan yang memanggil syeikh di balik tirai, sontak syeikh kaget dan langsung mendatangi asal suara kemudian bertanya, "Wahai Fulanah, bagaimana pemuda yang telah ku kirim padamu?"

Perempuan itu menjawab, "Wahai Syeikh, pemuda yang engkau kirim kepadaku dia pemuda yang gagah perkasa, tampan rupawan, pemuda yang jika seorang memandangnya akan terpana dan terpesona, tetapi wahai syeikh sungguh pemuda tersebut tidak pantas untukku. Wahai Syeikh sungguh diriku mencari seorang pemuda yang siap memegang tanganku dan membawaku ke syurga Allah Swt dan memberikan diriku keturunan, ku didik dan ajarkan menjadi seorang pemuda yang tangguh, dan dirinya adalah pemuda yang akan menaklukkan Baitul Maqdis".

Mendengar Perkataan perempuan tersebut membuat Najmuddiin terpesona dan teringat obsesinya dalam pernikahan.

"Wahai Syeikh, nikahkan saya dengan perempuan itu", pinta Najmuddiin.

"Wahai Najmuddiin, tahukah engkau dia seorang fakir, dia bukan seorang bangsawan, dia bukan Putri Raja, dia seorang perempuan biasa dikampung ini" Jelas Syeikh.

"Wahai Syeikh, kumohon nikahkan saya dengan dirinya, sungguh cita-cita besar yang ada dalam dirinya ada pada diri saya"

Akhirnya Najmuddiin dan perempuan tersebut menikah.

Inilah taqdir Allah, Dia mengabulkan do'a orang yang shalih yang mengharapkan akhirat untuk bertemu denganNya, doa dua insan yang mengharap keridhoanNya, insan yang menjadikan pernikahan bukan sekedar pemuas syahwat semata.

Dan kelak dari rahim dan tempaan didikan agama yang kuat dari pasangan inilah lahir panglima besar yang dengan pedangnya bisa merebut kembali Baitul Maqdis dari orang-orang salibis, ialah Sang Penakluk Shalahuddin Al Ayyubi.

Jelas sekali dari kisah di atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa :

1. Pernikahan adalah langkah untuk mengubah dunia.
2. Ketampanan, kecantikan dan kekayaan bukanlah penentu kesuksesan sebuah pernikahan.
3. Pilihlah pasangan yang baik agamanya, yang dengannya akan menemanimu menikmati indahnya dunia menuju kenikmatan akhirat yang abadi.
4. Dari pasangan yang hebat akan terlahir generasi yang hebat.

Jadi wahai pemuda-pemudi apa obsesi besarmu untuk menikah?
Sudah punya obsesi.. Lantas tunggu apa lagi, kapan akan melengkapi separuh agamamu?

Sederhanakanlah kriteriamu dalam mencari pasangan, rendahkanlah maharmu, pantaskanlah dirimu dan memohonlah kepada Sang Pengatur.


Sumber :
Ust. Abu Fairus, Lc.

Ditulis oleh :
Sahabat Grup ‘Erdogan Lovers’ (Rizqa Kurniati, Adiyat Karim) dengan sedikit perbaikan EYD dan pengayaan alur.

Pernikahan Yang Melahirkan Generasi Besar