Hasud


 Kata hasud berasal dari bahasa Arab Hasada—yahsudu—Hasadan, yang artinya iri hati atau dengki. Sifat hasud ini amatlah buruk apabila berada dalam diri seseorang. Tidak lain tujuan pembahasan ini adalah agar kita mempunyai rasa syukur terhadap Tuhan atas karunia dan rahmat yang telah diberikan terhadap kita. Tanpa merasa kurang atas pemberian-Nya.


Sifat hasud amatlah berbahaya. Sifat Hasud dapat menyerang siapapun, kapanpun, dan dimanapun tanpa pandang bulu, ras dan agama.
Rasulullah s.a.w. bersabda;

“Terdapat tiga perkara yang dapat merusak seseorang yaitu sifat bakhil yang dituruti, nasfu yang dituruti dan merasa bangga dengan dirinya sendiri”.

Tanpa disadari sifat hasud adalah merupakan dampak dari kekikiran, sifat yangmana seseorang tidak ingin berbagi atau membagi rizki yang dimilikinya terhadap sesamanya. Sedangkan Syakhikh adalah sifat yangmana seseorang tidak rela apabila nikmat Allah terlimpah kepada orang lain, dan ia berharap agar orang lain tidak mendapatkannya. Sifat Syakhikh ini lebih bruk daripada sifat kikir—bukan berarti sifat kikir itu baik.  Sedangkan orang yang hasud adalah orang yang tidak rela terhadap seseorang apabila seseorang tersebut mendapatkan nikmat dari Tuhan baik berupa harta ilmu, kekuasaan, sanjungan dan sebagainya, dan ia berharap agar seseorang tidak mendapatkanya, walaupun nikmat itu tidak jatuh kepada dirinya.

Rasulullah bersabda;
‘Hasud itu memakan pahala amal baik sebagaimana api memakan kayu bakar”.

Bahaya Pnyakit Hasud
Sabda Nabi SAW : Hati-hati kalian dari sifat hasud, sungguh hasud itu dapat `memakan` (pahala) kebaikan seperti api yang melahap kayu bakar.

Sifat hasud adalah keinginan buruk terhadap orang lain yang sedang mendapat kenikmatan, agar kenikmatan orang lain itu menjadi luntur, hancur atau hilang, dan dapat beralih kepada dirinya.

Sifat hasud sering kali mendorong pemiliknya untuk berbuat apa saja, bahkan menghalalkan segala cara, demi kehancuran orang yang dihasudi.

Sering terdengar ada seorang yang hasud kepada tetangganya, entah itu di perkampungan, pertokohan, perkantoran maupun di pasar dan sebagainya, yang mana si hasud ini dalam melancarkan aksinya sampai menggunakan bantuan dukun atau ilmu sihir.

Hal itu dilakukan demi terpenuhi ambisinya dalam menjatuhkan `lawan` yang dihasudi. Biasanya, cara yang sering digunakan dalam memulai aksinya, adalah menjadikan sang `lawan` sebagai bahan pergunjingan, misalnya dengan cara mencari-cari kesalahannya, bahkan terkadang mengada-ada serta memberi bumbu penyedap omongan.

Jika cara itu dirasa belum cukup, maka mulailah melancarkan serangan fisik sedikit demi sedikit, hingga melakukan hal-hal yang dapat membahayakan keselamatan jiwa `lawannya`, namun umumnya, dilakukan secara sembunyi-sembunyg hingga susah dilacak sumbernya.
Jika cara licik ini masih dianggap kurang memadai, maka si hasud tidak segan-segan menggunakan ilmu sihir atau meminta bantuan dukun.

Biasanya, si pelaku berusaha menampakkan kebaikan kepada orang lain termasuk kepada `lawannya`, dengan tujuan agar kelakuannya tidak terdeteksi.

Sifat hasud seringkali bergandengan dengan sifat dengki. Sedangkan dengki adalah perilaku permusuhan terhadap orang lain, baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, dengan tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat.

Jadi orang yang memiliki sifat dengki dan hasud ini, termasuk orang yang berakhlaq buruk.
Menurut Nabi SAW keburukan sifat dengki dan hasud, dapat mengurangi perolehan pahala dari kebaikan yang pernah dilakukan sebelumnya.

Dalam kata mutiara juga diungkapkan Alhasuud la yasuud, orang yang bersifat hasud itu tidak layak memimpin. Karena sifat buruk hasud tersebut akan menjadi penyebab perpecahan dan kehancuran dalam tubuh anggotanya.

Betapa nistanya sifat hasud ini. Karena itu alangkah keliru jika ada seorang muslim yang sengaja `memelihara` dan `melestarikan` sifat hasud pada dirinya.
Ada cara bagi seorang muslim yang ingin belajar mengendalikan diri tatkala dirinya akan diterpa penyakit hasud. Yaitu mengamalkan ajaran Nabi SAW yang bernama Ghibthah.

Sedangkan maksud ghibthah adalah seperti berikut : Seseorang yang melihat pihak lain mendapat kenikmatan, misalnya mendapat pekerjaan yang mapan, lantas orang tersebut mengatakan dalam dirinya : Saya ingin seperti dia, bisa sukses dalam pekerjaannya, dan semoga dia tetap berjaya bahkan mendapatkan tambahan rejeki lebih, dan mudah-mudahan saya bisa mendapatkan pula rejeki seperti yang dia dapatkan.

Pemilik sifat ghibthah tidak menginginkan orang lain yang dighibthahi menjadi hancur, bahkan sebaliknya bisa saja menjadika mitra kerja dalam menggapai kesuksesan bersama, terlebih jika dinilai dapat saling mengisi dan melengkapi serta menguntungkan.

Betapa bahayanya apabila sifat ini berada pada diri kita. Dan orang yang senantiasa bersifat hasud maka ia senantiasa tersiksa di dunia dan di akhirat, didunia ia akan senantiasa tersiksa batinya karena tidak rela nikmat-Nya jatuh kepada orang lain dan di akhirat ia akan mendapatkan siksaan yang pedih atas apa yang ia perbuat.

1 komentar:

 

Instagram

Get My G+