Kisah Nabi Hud As


 Nabi Hud di utus kepada  kaum 'Aad yang tinggal di Al-Ahqaf, Rubu' al-Khali-Yaman.  “Aad” adalah nama bapa suatu suku yg hidup di jazirah Arab di suatu tempat bernama “Al-Ahqaf” terletak di utara Hadramaut atr Yaman dan Umman dan termasuk suku yg tertua sesudak kaum Nabi Nuh serta terkenal dengan kekuatan jasmani dalam bentuk tubuh-tubuh yang besar.


Mereka adalah kaum penyembah berhala bernama Shamud, Shada, dan al-Haba. Mereka termasuk suku yang tertua sesudah kaum Nuh. Mereka dikaruniai oleh Allah tanah yang subur, dengan sumber-sumber air yang memudahkan mereka bercocok tanam.

Pada saat itu kaum ‘Aad telah mencapai peradaban yang tinggi namun mereka ingkar kepada Allah dengan menyembah berhala, kufur nikmat dan mendustakan nabi Hud.

(yaitu) Penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain.” QS. Al-Fajr: 7-8)

Dalam Al Quran, kisah Nabi Hud a.s diceritakan dalam:
-          QS 7 : 65 – 72
-          QS 11 : 50 – 60
-          QS 14 : 9
-          QS 23 : 31 – 41
-          QS 26 : 123 – 140
-          QS 38 : 12 – 13
-          QS 46 : 21 – 26
-          QS 51 : 41 – 42
-          QS 54 : 18 – 21
-          QS 89 : 6 – 8

Kaum Aad: kaum yang Terkubur
Kaum Nabi Hud yaitu kaum ‘Aad memiliki peradaban yang tinggi. Mereka memiliki binatang-binatang ternak, waduk yang bisa dikonsumsi oleh 200.000 orang dan juga mata air di setiap tempatnya.
Namun Kaum ‘Aad pada dasarnya takut pada bencana alam. Mereka takut pada kematian karena mereka berprinsip bahwa hidup hanya satu kali. Sehingga mereka berupaya memanjangkan umur hidup mereka di Dunia, salah satunya adalah dengan membuat bangunan yang kokoh dan kuat, yang didesain agar tidak mudah roboh oleh angin dan tahan banjir. Oleh sebab itu mereka menjadi sombong. Saat Nabi Hud memberikan peringatan, mereka mendustakannya dan mengatakan mengolok-olok nabi Hud sebagai orang yang bodoh. Nabi Hud kemudian menegaskan bahwa bahwa dirinya adalah benar utusan Allah dan jika mereka terus berpaling dari kebenaran, Nabi Hud mengingatkan bahwa akan datang azab dari Allah.

Mendengar peringatan tersebut, mereka malah berkata dengan sombongnya, bahwa mereka menunggu azab dari Tuhan Nabi Hud dan mereka sangat yakin bahwa azab itu tidak akan memberi pengaruh apa-apa terhadap keselamatan mereka karena mereka telah memiliki bangunan yang sangat kokoh yang tidak mudah roboh ataupun hanyut oleh banjir. Namun mereka lupa bahwa Allah Maha Kuasa untuk mendatangkan azab dari arah yang tak disangka.

Maka turunlah wahyu kepada Nabi Hud bahwa Allah akan menimpakan azab kepada kaum ‘Aad yang kafir. Kemudian Nabi Hud dan pengikutnya yang beriman mengungsi dari kota yang akan dikenai azab.
Tak lama kemudian, kota kaum ‘Aad ditimpakan angin besar selama berbulan-bulan, tiada henti. Angin itu memang tidak merobohkan bangunan-bangunan kaum ‘Aad namun angin itu membawa materi berupa pasir dan debu, yang kemudian menimbun kota tersebut hingga ketinggian 12 meter dari bangunan yang paling tinggi.

Bukti Arkeologi Kebenaran Kisah Nabi Hud
Kisah Nabi Hud dan kaumnya tidak diceritakan dalam perjanjian lama maupun perjanjian baru. Selain itu kisah kaum yang terkubur ini juga tidak diketahui sampai pada Al Quran mengkisahkannya. Oleh sebab itu banyak orang kafir yang menyatakan bahwa kisah Nabi Hud hanyalah dongeng belaka.
Di duga, Kaum Aad merupakan kaum yang hidup pada peradaban awal manusia dan peradabannya itu tidak diketahui oleh manusia atau kaum lain. Karena selama kaum Aad berkembang hingga mempunyai peradaban yang tinggi lalu sombong dan kemudian diazab, tidak ada manusia dari kaum lain yang berinteraksi dengan kaum Aad.

Atau jikapun sebenarnya kisah Kaum ‘Aad telah diketahui oleh manusia lain, namun kisah ini terputus oleh orang-orang yang mendustakan dan dianggap sebagai dongeng belaka.

Namun kebenaran kisah kaum ‘Aad dalam Al Quran akhirnya terkuak kebenarannya pada masa sekarang, dengan ditemukannya bukti Arkeologi akan adanya sebuah kota yang terkubur oleh pasir.

Dalam bukti-bukti arkeologi tersebut ditemukan gambar-gambar pada batu yang melukisan tumbuhan dan hewan. Hal ini membuktikan bahwa kawasan tersebut pada zaman tersebut merupakan kawasan yang subur meskipun saat ini kawasan tersebut merupakan kawasan gurun.

Apakah benar kaum Aad mempunyai postur yang sangat besar seperti raksasa?
Jika di lihat dari bukti arkeologi, bangunan kaum ‘Aad sangat besar dan tinggi. Sehingga kemungkinan besar iya. Selain itu dalam hadist Nabi diterangkan bahwa tinggi nabi Adam adalah 60 hasta dan akan menurun setiap zamannya.

Hingga hari ini, semakin banyak bukti-bukti yang membenarkan kebenaran Al Quran. Selain ditemukannya kota yang terkubur kaum Aad, juga ditemukan bukti kisah Ashabul Kahfi, bukti mumi Firaun yang tenggelam di laut merah, dll.

Hal tersebut semakin memperpanjang bukti kemukzizatan Al Quran dan msaih banyak bukti lain yang masih menunggu untuk ditemukan.

Dalam kitab Perjanjian Lama nabi Hud dikenal sebagai Eber. Eber dalam kitab Kejadian dari Kitab Suci Ibrani dan Alkitab, adalah salah satu anak dari Selah dan isterinya yang tidak disebutkan namanya. Nama Eber disebut sebelas kali dalam Alkitab, tujuh kalinya di kitab Kejadian, tiga kali di I Tawarikh dan sekali di dalam kitab Lukas. (http://id.wikipedia.org/wiki/Eber)

Pembelajaran dari kisah oleh Nabi Hud adalah:
1.      Istiqomah dalam berdakwah untuk menyembah dan meng-esakan Allah

2.      Berdakwah bukan untuk mencari materi

3.      Kesombongan berawal dari perilaku

Kaum Aad di azab karena sombong dan sikap sombong berawal dari perilaku.
Contohnya Firaun pada awalnya bukan orang yang sombong namun orang yang sangat ambisius. Karir Firaun di awali dengan menjadi seorang prajurit kemudian mengalami peningkatan pangkat sampai akhirnya ia menjadi Raja dengan gelar Firaun dengan cara membunuh rajanya sendiri dan menggantikannya.

Kesombongan Firaun diawali dengan hasutan setan yang menyamar menjadi seseorang yang memakai baju kebesaran yang mencirikan dirinya adalah seorang pembesar terhormat. Setan yang menyamar itu menghadap Firaun dan bersujud (bersikap menyembah) dihadapan Firaun. Pada awalnya Firaun heran akan perilakunya tersebut, lalu Firaun menanyakan alasan perbuatannya itu. “mengapa seorang pembesar terhormat seperti engkau bersujud dan menyembahku?’ tanya Firaun. “inilah yang sepantasnya aku lakukan karena aku bukanlah apa-apa dibandingkan kehebatan dan keagungan engkau, ya Firaun”. Tipu setan itu.

Setan berkali-kali datang dan melakukan hal yang sama, hingga akhirnya muncul kesombongan dalam diri Firaun sampai akhirnya mentasbihkan bahwa dirinya adalah Tuhan.

Begitupun dengan kaum Aad, pada awalnya kaum Aad tidak sombong namun seiring dengan semakin majunya peradaban mereka, maka cinta dunia dan kesombonganpun mulai menguasai diri mereka.
  4.         Kisah – kisah para nabi yang ada dalam Al Quran perlu di kupas secara mendalam sehingga didapat esensi dari pelajaran dan hikmah yang dapat diambil.

5.         Ceritakan kisah-kisah para Nabi tersebut kepada setiap umat Islam terutama pada anak-anak

Gaya penceritaan dalam Al Quran sangatlah menarik
Contohnya, dalam QS An Naml: 28 - 29
[27:28] Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan"

[27:29] Berkata ia (Balqis): "Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.

Dari ayat diatas diketahui bahwa Nabi Sulaiman memerintahkan burung hud-hud untuk menyampaikan surat  kepada Ratu Balqis. Di ayat selanjutnya dijelaskan bahwa Ratu Balqis sedang membaca surat nabi Sulaiman. Hal ini menarik karena diantara kedua kejadian tersebut tidak dijelaskan teknis bagaimana hud-hud menyampaikan pesannya. Sehingga dapat dikatakan, dalam menceritakan kisa-kisahnya, Al Quran langsung pada esensi dan inti masalahnya. Tak terbayangkan betapa tebalnya Al Quran jika Al Quran menceritakan kisahnya sampai mendetail pada hal yang teknis.

Sebenarnya, bencana-bencana yang terjadi saat ini banyak memiliki kesamaan dengan kisah dalam Al Quran
Pada jaman sekarang, segala kebejatan kaum terdahulu seperti zina, homo dan lesbian, mabuk-mabukan, menyembah patung, hewan, roh halus, dan lain-lain. Oleh sebab itu segala bencana yang menimpa umat terdahulu terjadi. Namun mengapa pada saat ini azab-azab tersebut tidak seperti pada jaman umat terdahulu, yang mengazab semua orang yang kafir.

Hal ini dikarenakan sepanjang masa hidupnya, Nabi Muhammad tidak pernah berdoa kepada Allah untuk mengazab umatnya. Nabi Muhammad begitu mencintai umatnya dan berharap agar umatnya diberi kesempatan untuk bertobat.

Sedangkan orang yang terus menerus bermaksiat namun oleh Allah tetap diberikan kesejahteraan hidup, dinamakan Istidroj, maksudnya Allah sengaja memberikan kenikmatan dunia kepadanya namun di Akhirat orang tersebut akan mendapatkan azab yang pedih.


2 komentar:

 

Instagram

Get My G+