Aku & FAJRI FM ( PI )




Aku yakin, jika kita bersungguh-sungguh untuk memperbaiki diri dan mencari jalan yang lurus, maka Allah SWT akan memberi kemudahan jalan bagi kita untuk menemukannya. Aku, tiga tahun yang lalu adalah seorang penggemar musik yang kerap dilantunkan oleh penyanyi atau band-band asing. Dengan kadar ke-Islaman yang bisa di bilang kurang kalau tidak awam. Tapi anehnya kala itu aku merasa menjadi orang Islam yang baik karena aku merasa tidak pernah melakukan dosa-dosa besar. Tapi perasaan itu kini lenyap tanpa bekas.

Qodarullah, aku terperangkap dalam sebuah kelompok sesat yang sangat mengerikan bagiku. Pada awalnya aku dengan semangat menggebu mengikuti dengan tekun setiap kegiatan mereka. ‘Kajian’  mereka sangat menggugah hatiku. Pembahasan seputar betapa pentingnya peran kita sebagai umat Islam yang telah ‘Hijrah’ untuk menegakkan Daulah Islamiyah yang ditegakkan sesuai pemahaman mereka. Tiga bulan berlalu pada saat itu, tapi hati kecilku entah kenapa sering memberontak atas apa-apa yang mereka beri tahu padaku.

Mereka bilang sholat yang kita lakukan selama ini tidak wajib karena pada saat ini belum ‘Futuh’, jilbab itu artinya menjaga keamanan kelompok. Walaupun hatiku memberontak tapi aku tidak bisa membantah karena mereka menyodorkan ayat-ayat Al-Qur’an dhadapanku. Ingin rasanya aku bertanya pada seseorang yang mengerti agama ini dengan baik, tidak seperti aku yang kala itu benar-benar awam. Tapi, mereka bilang aku tidak boleh bercerita pada siapapun. Selama itu aku hanya merenung. Dalam kegelisahan yang sangat aku berdoa agar Allah SWT menuntunku kejalan yang lurus.

Aku mungkin adalah salah satu manusia abad ini yang keranjingan pada teknologi internet. Hatiku yang demikian gelisah akhirnya membuatku berpikir, bagaimana kalau aku mencari tahu tentang kelompok ini lewat internet. Akhirnya dengan waktu yang tidak begitu lama dan menautkan bukti-bukti aku menemukan bahwa ternyata aku masuk dalam kelompok NII KW IX yang berafiliasi dengan Ma’had Al-Zaytun di Indramayu. Perasaanku begitu kalutnya kala itu. Ingin rasanya bercerita pada keluarga, tapi aku merasa percuma karena aku tahu keluargaku pun sama awamnya denganku.

Aku ingin bertanya tapi aku tidak tahu bertanya pada siapa. Aku ingat saat itu aku mencoba bertanya pada salah satu teman di Facebook yang aku ingat diantara teman-teman Indonesiaku sedikit sekali yang punya nama ‘Islami’. Jadi, ketika aku menemukan nama Islami dan domisilinya Indonesia aku langsung bertanya padanya “ Maaf, apakah anda mengenal Islam dengan baik? “. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan lawan bicaraku itu via Facebook. Dengan sedikit percakapan akhirnya ia menyarankanku untuk mendengarkan siaran FAJRI FM.

Sungguh lucu ketika mengingat saat pertama mendengarkan siarannya. Mulai hari pertama, kedua, ketiga aku perhatikan tidak ada musik! Siarannya full dengan Kajian Islami dan diselingi dengan Murottal Qur’an. Telingaku yang terbiasa mendengarkan musik agak ajaib juga begitu terus-menerus mendengarkan siaran FAJRI FM. Secara perlahan aku paham kenapa Radio ini tidak menperdengarkan lagu-lagu. Ternyata banyak mendengarkan lagu itu membuat hati menjadi keras. Tapi, Alhamdulillah aku masih bisa mendengarkan nasyid-nasyid Islami yang menggugah semangat dan kadang juga membawa perasaan terhanyut dengan pengalaman atau kisah orang yang mendapatkan hidayah. Menurutku sangat pas sekali antara nasyid yang melatar belakangi dan kisah yang dipaparkan itu sendiri, juga pembawa acaranya yang membawakannya dengan baik dan penuh penghayatan.

Secara bertahap aku mulai memperbaiki tata cara sholatku, bagaimana cara berdo’a, dzikir setelahnya, bersikap pada teman, orang tua dan keluarga. Pada bulan-bulan awal aku mendengarkan siaran FAJRI FM adalah saat yang menakjubkan bagiku, sekaligus juga aku mendapatkan cemoohan dari keluargaku sendiri. Adikku bilang begini, “ Ya elah kak, udah kayak di Arab aja dengerin ginian terus, bosen tau! “. Saat itu aku cuek saja, tapi seketika itu juga adikku merubah gelombang Radionya. “ Sok alim “, begitu katanya. Tiap kali aku mau mendengarkan FAJRI FM, Radio dirumahku langsung digunakan sebagai pemutar CD Player. Terdengarlah musik-musik itu kembali. Tapi itu tidak seberapa, aku sampai menangis tak tertahankan saat Ibuku bilang “ percuma dengerin beginian tapi kelakuan masih gak bener “ lalu Ibuku mematikan Radionya kala itu. Sungguh aku tidak bisa menahan tangis lagi, hatiku benar-benar sakit. Aku akui aku bukanlah orang yang baik apalagi alim. Tapi, aku mau berusaha untuk memperbaiki diri dan merubah perilaku hidupku menjadi lebih baik. 

Tak ada satupun dari keluargaku yang suka mendengarkan kajian-kajian Islami. Keinginanku yang sangat besar untuk memperdalam pengetahuanku tentang Islam membuatku bertahan untuk terus mendengarkan siaran FAJRI FM. Aku tak menghiraukan kicauan berisik keluargaku. Saat setelah Shubuh Ayahku dengan tekun menonton berita di Televisi, aku sudah bersiap didepan Radioku untuk mendengarkan kajian pagi. Saat setelah Isya Ibuku dengan mengharu biru menonton sinetron, aku sudah siap dengan buku catatanku kalau-kalau ada yang perlu dicatat dari kajian malam. Saat menunggu kendaraan atau tengah berada di kendaraan umum aku pasang headseat untuk mendengarkan Adab-adab Islami dan setelah itu dilanjut dengan Murottal Qur’an.

4 komentar:

  1. tulisannya bagus. pantas aja kepilih! ^_^, novel gue terbaru pun tentang hijrah, and you, salah satu artisnya disana. semangat menulis untuk mereka yang masih merintis iman, mempertangguh taqwa dan berjuang menghadapi segala kemungkaran. semoga dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat, menginspirasi dan bernilai tinggi seperti ini bisa menjadi salah satu diktat keseharian bagi mereka dalam menggapai ridha allah subhanahu wata'ala.

    BalasHapus
  2. Selamat, anda telah berada di jalan yang benar, semoga Istiqomah. Teruslah dengarkan FAJRI FM

    BalasHapus
  3. Semoga tetap Istiqomah dan dikumpulkan dengan orang-orang sholeh di Dunia dan Di Akherat. Aamiin.

    BalasHapus

 

Instagram

Get My G+