Anak STM garang..? , Siapa bilang..!



“Ukh, anti bantuin ane ya ngajar di STM”

Ahad kemarin seorang sahabat meminta bantuan untuk mengajar di salah satu STM yang berada di Pasar Minggu. Sekolah ini memang dalam beberapa tahun belakangan rutin mengadakan SIR (Study Islam Ramadhan).

Kontan saya terkejut, STM?

Dalam pikiran berkelebat anak laki-laki dengan celana abu-abu ketat dan ngatung, plus ditambah rantai atau ikat pinggang dengan rambut model anak punk. Lantas dengan seringai seram mengeluarkan suara sumbang dan terdengarlah kata sakti, “tawuran…!!”.

Langsung saya jawab, “Afwan ukh.. enggak ah”

Tapi ternyata, saya adalah seseorang yang gampang terkena bujuk rayu!

Jadilah, dengan setengah hati dan mulut mencibir saya terima tugas super berat ini. Kenapa saya sebut berat? Karena itu tadi, mengajar anak STM tentang Islam. Sudah begitu, ini adalah pengalaman saya yang pertama kali mengajar orang dewasa. Biasanya saya hanya kebagian jatah mengajar anak SD, hoho.

Hari pertama menginjakkan kaki saya langsung masuk kedalam ruangan khusus para mentor. Tidak lagi ikut acara brieving, karena saya dan teman ternyata terlambat setengah jam dari jadwal (contoh buruk, jangan ditiru ya, hehe). Lalu kami diberikan dua helai kertas ukuran A4 yang ternyata berisi materi. Ya, hanya dua lembar untuk jam pelajaran selama dua jam! Otak saya langsung kalang kabut, stress berat.. drop sangat.. lantas memucat..

Dengan jantung berdentum keras saya masuk keruang kelas yang sudah ditentukan. 

Jreeeng… sudah duduk dengan rapi berderet-deret si putih abu-abu. Dengan dagu terangkat keatas saya ucapkan salam, “Assalammu’alaikum..” lalu dengan serempak mereka menjawab.

Strategi… Saya harus punya strategi, pikir saya keras memutar otak. Tadarus! Ya, mumpung ini bulan ramadhan. Akhirnya setelah setengah jam berlalu dengan tadarus dan test tilawah Al Qur’an sendiri-sendiri . tidak lagi punya strategi, saya harus masuk materi inti.

Guest what? Al Qur’an..

Entah karena anugrah atau apa materi ini lumayan ‘nyantol’ dikepala. Jadi, walaupun materi yang diserahkan secara mendadak itu hanya dua lembar tapi saya bisa mengeluarkan cairan pengetahuan dari kepala yang selama ini terpendam (hehe, sombong dikit nih).

Dengan lancar perjalanan mengajar dikelas pertama berakhir. Menyisakan senyum manis yang tersimpan dihati. Senyum manis atas seseorang yang telah mengagetkan saya dengan suaranya yang merdu bak Qori’ dari Saudi Arabia sana. Dengan tajwid dan makhorijal hurf tanpa cela, dengan tatapan halus berisi keluasan iman selaksa makna..



Lanjutannya nanti lagi ahh…




3 komentar:

  1. heummm,terharu.....udah membayangkan suara merdunya q mbk hehehe

    BalasHapus
  2. ayo ukht,, lanjutkan ceritanyaaaaa ^__^

    BalasHapus
  3. waw.. waw... mulai merkarya lagi... :D

    BalasHapus

 

Instagram

Get My G+