Bukanlah Muslim Jika Tangannya Berat Untuk Memberi




Barangsiapa melepaskan dari seorang muslim satu kesusahan dari sebagian kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya dari sebagian kesusahan hari kiamat; dan barangsiapa memberi kelonggaran dari orang yang susah, niscaya Allah akan memberi kelonggaran baginya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aib dia dunia dan akhirat; Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. (HR. Imam Muslim)

“ Katanya islam Rahmatan Lil’alamin, kok banyak orang miskin, pengemis, semuanya mengaku muslim. Dimana Rahmatnya? “, seorang teman berkata.

Bukan satu dua kali saya mendengar orang-orang ngedumel dengan kalimat yang kurang lebih sama seperti itu. Tersinggung? Jelas!

Kalau yang berkata non-Muslim mungkin bisa dimaklumi, tapi kalau muslim sendiri yang berkata seperti itu bagaimana?

Ini dikarenakan diantara umat Muslim ada yang mengalami krisis identitas. Mereka ini adalah yang memiliki ajaran Islam secara terbatas sehingga terjadi beberapa penyimpangan yang dilakukan umat Muslim.

Hal ini terkait dengan pendidikan agama bagi generasi penerus. Untuk itu, bagi umat Muslim tidak perlu sungkan dalam membentengi diri terhadap ajaran-ajaran Islam yang menyimpang, yakni ajaran yang menghalangi umat Islam, yang menjadi umat terbanyak di Indonesia, untuk bisa menjadi Rahmat bagi seluruh manusia dan alam semesta dengan menyebarkan kasih Allah.

Allah SWT dan Rasul saw mengajak semua umat Islam supaya menjadi rahmat bagi semesta alam. Untuk mencapai itu, indikatornya adalah umat Muslim memberikan kemanfaatan bagi orang lain dan alam semesta. Karena Rahmat bisa berarti cinta kasih.

Dengan demikian, Islam adalah agama yang mengajarkan keselamatan, kemaslahatan, dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.

Karena apabila ada orang yang mengaku beragama tapi tidak memiliki kepedulian pada orang miskin, maka ia adalah pendusta beragama.

Miris memang. Dengan petunjuk yang sedemikian sempurna, tetapi petunjuk yang berasal dari Sang Pembuat Peraturan itu seolah diabaikan. Sehingga orang-orang awam yang lemah imannya dan dangkal akidahnya serta pemahamannya tentang Islam jadi berburuk sangka seperti itu.

Hanya orang-orang yang ‘sakit’ lah yang malah menyalahkan ajaran Islam yang nyata-nyata berasal dari Rabb Pemilik Alam.

Tapi, dengan kesadaran bahwa orang-orang awam kurang mendapatkan pendidikan tentang Islam, maka pantaslah kalau kita sejenak merenung. Siapa sebenarnya yang bersalah dalam hal ini?

Sebelum saya semakin banyak menulis, lebih baik saya beri penjelasan dulu atas hadist yang saya cantumkan di atas tadi.

Hadist tersebut menjelaskan tentang melepaskan kesusahan orang lain dan mengandung makna yang sangat luas, bergantung kepada kesusahan yang sedang diderita oleh orang tersebut. Jika saudara-saudaranya termasuk orang miskin sedangkan ia berkecukupan (kaya), ia harus menolongnya dengan cara memberikan bantuan atau memberikan pekerjaan sesuai dengan kemampuannya; jika saudaranya sakit ia berusaha menolongnya dengan cara membantu membawa ke dokter atau meringankan biayanya; jika suadaranya dililit hutang, maka ia membantu memberikan jalan keluar, baik dengan cara memberi bantuan untuk melunasinya atau memberi arahan yang akan membantu dalam mengatasi hutang saudaranya.

Orang muslim membantu meringankan kesusahan saudaranya yang seiman, menolong hamba yang disukai oleh-Nya, dan Allah SWT., pun akan memberi pertolongan-Nya serta menyelamatkannya dari berbagai kesusahan, baik dunia maupun akhirat,

“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah pun akan menolong kamu semua…” Muhammad : 7

Memperbaiki kesejahteraan merupakan salah satu di antara tiga cara dalam memperbaiki keadaan masyarakat, sebagaimana diungkapkan oleh Abu Hasan dalam kitab “Adab ad-Dunya wa ad-Din”, yakni menjadikan manusia taat; menyatukan rasa dalam hal kesenangan dan penderitaan dan menjaga dari hal-hal yang akan mengganggu stabilitas kehidupan.

Bahkan dalam Islam, sikap untuk memberi terhadap sesama dikaitkan dengan baiknya ke-Islaman seseorang,
"Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw: 'Bagaimanakah Islam yang paling baik?' Nabi saw menjawab: 'Memberi makan (orang-orang miskin), mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal.'"

Dalam pengertian yang lebih luas, keislaman yang baik itu adalah yang memiliki kepekaan terhadap problem sosial, khususnya kesejahteraan. Ini sangat diperhatikan oleh Islam. Sebab Islam adalah agama yang sempurna. Bukan hanya mengatur hubungan dengan Allah, melainkan juga memberikan kemanfaatan kepada sesama. Menolong kaum dhuafa', mereka yang lemah.

“Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya sedekah dapat menambah harta yang banyak. Maka bersedekahlah kalian, niscaya Allah menyayangi kalian.” (Al-Wasail 6: 255, hadis ke 11)

Nah, setelah jelas pada kita bagaimana Islam mengajarkan tentang berbagi pada sesama. Maka, akan mudah bagi kita menjawab siapa yang bersalah dalam hal ini. Ajaran Islam atau Oknum yang mengaku Islam?

Karena pada hakikatnya seorang Muslim adalah manusia-manusia yang tunduk patuh pada aturan Sang Pencipta yang di ajarkan melalui lisan utusan-Nya Rasulullah Muhammad saw. Jadi ketika kita diseru untuk menolong saudara yang sedang dalam kesusahan lalu kita cuek saja, maka tidak ada bedanya kita dengan ahli kitab yang suka membangkang. Jika diperintah mereka berkata ” Kami dengar, tapi kami tidak taat ”.

Marilah saudaraku yang diberikan kelimpahan harta oleh Allah SWT, dilebihkan rezekinya dari sebagian yang lain. Mudahkan tanganmu untuk memberi pada saudaramu yang keadaannya jauh dibawahmu. Tengoklah mereka kaum fakir dhuafa, kaum papa, baik yang menadahkan tangannya atau menyimpannya dalam saku karena izzah agamanya. Janganlah terlalu cintakan dunia yang fana, karena toh akhirnya semua akan kembali pada Pemiliknya. Jadikan hartamu kekal dengan meng-infaq-kannya pada jalan yang di ridhoi-Nya


“ Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. “ Al Baqarah  245

7 komentar:

  1. rasanya kita butuh dua sisi untuk hal yang satu ini.. sebab ada juga orang yang pura - pura miskin, lantas menjadi pengemin, tetapi memiliki fisik yang masih tangguh.. :)

    BalasHapus
  2. Betul banget bang..dan semua muslim adalah bersaudara..mantef artikel abang.

    BalasHapus
  3. Setujuuuu, pencerahan di bulan ramadhan nih,
    Nice artikel :)

    Kunjungan perdana, slam kenal :D

    BalasHapus
  4. Walaupun tangannya tidak berat untuk memberi dia masih belum bisa dikatakan Muslim teman ku...

    Allah berkata: Janganlah kamu memberi sebagian dari harta kamu yang kamu sendiri enggan atau memalingkan mata untuk memakai pemberianmu itu (uang sisa/recehan krna gak butuh dan pakaian bekas yg kita tak suka lagi).

    Hal ini harus kita perhatikan juga.. :)

    BalasHapus
  5. Kadang kita memberi bukan karena keikhlasan, melainkan merasa terganggu dengan kehadiran mereka. dan pemberian itu hanya metafora dari mengusir.
    Saya juga sepakat dengan Saudara Syaifullah Arifin, bahwa kadang kita memberi kepada mereka bukan barang bagus, melainkan barang bekas yang kita sendiri enggan memakainya.

    BalasHapus
  6. Mengetahui dasar dari segala yang kita miliki saat ini akan menjadikan kita ikhlas atas apa yang dititipkan ke kita... :)

    salam,

    BalasHapus

 

Instagram

Get My G+