Aku & FAJRI FM ( PI )

By : Ave Ry



Aku yakin, jika kita bersungguh-sungguh untuk memperbaiki diri dan mencari jalan yang lurus, maka Allah SWT akan memberi kemudahan jalan bagi kita untuk menemukannya. Aku, tiga tahun yang lalu adalah seorang penggemar musik yang kerap dilantunkan oleh penyanyi atau band-band asing. Dengan kadar ke-Islaman yang bisa di bilang kurang kalau tidak awam. Tapi anehnya kala itu aku merasa menjadi orang Islam yang baik karena aku merasa tidak pernah melakukan dosa-dosa besar. Tapi perasaan itu kini lenyap tanpa bekas.

Qodarullah, aku terperangkap dalam sebuah kelompok sesat yang sangat mengerikan bagiku. Pada awalnya aku dengan semangat menggebu mengikuti dengan tekun setiap kegiatan mereka. ‘Kajian’  mereka sangat menggugah hatiku. Pembahasan seputar betapa pentingnya peran kita sebagai umat Islam yang telah ‘Hijrah’ untuk menegakkan Daulah Islamiyah yang ditegakkan sesuai pemahaman mereka. Tiga bulan berlalu pada saat itu, tapi hati kecilku entah kenapa sering memberontak atas apa-apa yang mereka beri tahu padaku.

Mereka bilang sholat yang kita lakukan selama ini tidak wajib karena pada saat ini belum ‘Futuh’, jilbab itu artinya menjaga keamanan kelompok. Walaupun hatiku memberontak tapi aku tidak bisa membantah karena mereka menyodorkan ayat-ayat Al-Qur’an dhadapanku. Ingin rasanya aku bertanya pada seseorang yang mengerti agama ini dengan baik, tidak seperti aku yang kala itu benar-benar awam. Tapi, mereka bilang aku tidak boleh bercerita pada siapapun. Selama itu aku hanya merenung. Dalam kegelisahan yang sangat aku berdoa agar Allah SWT menuntunku kejalan yang lurus.

Aku mungkin adalah salah satu manusia abad ini yang keranjingan pada teknologi internet. Hatiku yang demikian gelisah akhirnya membuatku berpikir, bagaimana kalau aku mencari tahu tentang kelompok ini lewat internet. Akhirnya dengan waktu yang tidak begitu lama dan menautkan bukti-bukti aku menemukan bahwa ternyata aku masuk dalam kelompok NII KW IX yang berafiliasi dengan Ma’had Al-Zaytun di Indramayu. Perasaanku begitu kalutnya kala itu. Ingin rasanya bercerita pada keluarga, tapi aku merasa percuma karena aku tahu keluargaku pun sama awamnya denganku.

Aku ingin bertanya tapi aku tidak tahu bertanya pada siapa. Aku ingat saat itu aku mencoba bertanya pada salah satu teman di Facebook yang aku ingat diantara teman-teman Indonesiaku sedikit sekali yang punya nama ‘Islami’. Jadi, ketika aku menemukan nama Islami dan domisilinya Indonesia aku langsung bertanya padanya “ Maaf, apakah anda mengenal Islam dengan baik? “. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan lawan bicaraku itu via Facebook. Dengan sedikit percakapan akhirnya ia menyarankanku untuk mendengarkan siaran FAJRI FM.

Sungguh lucu ketika mengingat saat pertama mendengarkan siarannya. Mulai hari pertama, kedua, ketiga aku perhatikan tidak ada musik! Siarannya full dengan Kajian Islami dan diselingi dengan Murottal Qur’an. Telingaku yang terbiasa mendengarkan musik agak ajaib juga begitu terus-menerus mendengarkan siaran FAJRI FM. Secara perlahan aku paham kenapa Radio ini tidak menperdengarkan lagu-lagu. Ternyata banyak mendengarkan lagu itu membuat hati menjadi keras. Tapi, Alhamdulillah aku masih bisa mendengarkan nasyid-nasyid Islami yang menggugah semangat dan kadang juga membawa perasaan terhanyut dengan pengalaman atau kisah orang yang mendapatkan hidayah. Menurutku sangat pas sekali antara nasyid yang melatar belakangi dan kisah yang dipaparkan itu sendiri, juga pembawa acaranya yang membawakannya dengan baik dan penuh penghayatan.

Secara bertahap aku mulai memperbaiki tata cara sholatku, bagaimana cara berdo’a, dzikir setelahnya, bersikap pada teman, orang tua dan keluarga. Pada bulan-bulan awal aku mendengarkan siaran FAJRI FM adalah saat yang menakjubkan bagiku, sekaligus juga aku mendapatkan cemoohan dari keluargaku sendiri. Adikku bilang begini, “ Ya elah kak, udah kayak di Arab aja dengerin ginian terus, bosen tau! “. Saat itu aku cuek saja, tapi seketika itu juga adikku merubah gelombang Radionya. “ Sok alim “, begitu katanya. Tiap kali aku mau mendengarkan FAJRI FM, Radio dirumahku langsung digunakan sebagai pemutar CD Player. Terdengarlah musik-musik itu kembali. Tapi itu tidak seberapa, aku sampai menangis tak tertahankan saat Ibuku bilang “ percuma dengerin beginian tapi kelakuan masih gak bener “ lalu Ibuku mematikan Radionya kala itu. Sungguh aku tidak bisa menahan tangis lagi, hatiku benar-benar sakit. Aku akui aku bukanlah orang yang baik apalagi alim. Tapi, aku mau berusaha untuk memperbaiki diri dan merubah perilaku hidupku menjadi lebih baik. 

Tak ada satupun dari keluargaku yang suka mendengarkan kajian-kajian Islami. Keinginanku yang sangat besar untuk memperdalam pengetahuanku tentang Islam membuatku bertahan untuk terus mendengarkan siaran FAJRI FM. Aku tak menghiraukan kicauan berisik keluargaku. Saat setelah Shubuh Ayahku dengan tekun menonton berita di Televisi, aku sudah bersiap didepan Radioku untuk mendengarkan kajian pagi. Saat setelah Isya Ibuku dengan mengharu biru menonton sinetron, aku sudah siap dengan buku catatanku kalau-kalau ada yang perlu dicatat dari kajian malam. Saat menunggu kendaraan atau tengah berada di kendaraan umum aku pasang headseat untuk mendengarkan Adab-adab Islami dan setelah itu dilanjut dengan Murottal Qur’an.

Assalammu'alaikum...

By : Ave Ry

Dari Abdullah bin Amr, bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, "Islam bagaimanakah yang lebih baik?" Maka beliau menjawab, "Memberi makan dan mengucap salam kepada orang yang engkau kenal dan tidak engkau kenal."

Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:
1.      Islam memiliki nilai humanisme yang sangat tinggi. Sebab Islam bukan hanya mengatur hubungan kepada Allah, melainkan juga pada sesama.

2.      Memberikan makan kepada fakir miskin dan upaya meningkatkan kesejahteraan mereka merupakan salah satu ajaran Islam yang sekaligus menunjukkan betapa tingginya humanisme Islam;

3.      Muslim hendaknya menciptakan kedamaian di manapun ia berada. Menyebarkan salam kepada siapapun, baik yang dikenal maupun tidak adalah bagian dari upaya ini, sepanjang tidak dikhawatirkan mereka itu orang kafir;

4.      Rasulullah adalah teladan terbaik yang sangat luar biasa. Beliau menjawab pertanyaan dengan jawaban yang paling tepat sesuai dengan kebutuhan penanya.
Ucapan salam, yaitu "Assalamu'alaikum warohmatulloh wabarakatuh" memiliki arti.
Arti dari masing-masing katanya:

1. "salam", yg berarti "selamat".
2. " 'alaikum", yg berarti "atas kalian"
3. "rahmatullooh", yg berarti "rahmat ALL
AH"
4. "barokaatuh", yg berarti "barokah dari ALL
AH"

So, ucapan salam bila diucapkan :
Assalaamu alaikum ......... 10 kebaikan
warahmatulloh ..................20 kebaikan
wabarokatuh..................... 30 kebaikan

Didalam tradisi Yahudi ternyata juga memiliki kemiripan loh., hanya berbeda lafazh pengucapan aja 

Shalom aleichem (atau sholom aleichem) (bahasa Ibrani שלום עליכם shālôm ʻalêḵem; bahasa Yiddish שלום־עליכם şolem aleyxem) adalah sebuah salam dalam bahasa Ibrani, yang berarti "Damai kiranya menyertaimu". Jawaban yang tepat adalah "Aleichem shalom".

Bentuk salam seperti ini lazim ditemukan di Timur Tengah. Salam ini dilakukan dalam bentuk jamak - sehingga digunakan untuk menyalami banyak orang - meskipun misalnya digunakan untuk satu orang saja. Sebuah penjelasan religius untuk hali ni ialah bahwa orang menyalami baik tubuh maupun jiwa.

Shalom Aleichem juga merupakan ejaan alternatif bagi nama samaran penulis Yiddish Sholom Aleichem.
Shalom dapat juga diterjemahkan dengan "Damai": damai yang dirasakan secara pribadi, ketenangan dan keseimbangan mental yang mendalam, yang dirasakan sebagai hadiah bagi kita yang menghargai Allah.


Kunci-kunci Kebahagiaan

By : Ave Ry


“ Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. “
Ali-Imron : 200

Surat ini adalah anjuran agar supaya orang-orang yang beriman, sabar dan tabah melakukan segala macam perintah Allah, mengatasi semua gangguan dan cobaan, menghindari segala larangan-Nya, terutama bersabar dan tabah menghadapi lawan-lawan dan musuh Agama. Jangan sampai musuh-musuh agama itu lebih sabar dari tabah dan kita sehingga kemenangan berada di pihak mereka. 

Semua orang ingin bahagia. Tapi sedikit yg berusaha melakukan sebab-sebab bagi tercapainya bahagia. Dengan kata lain mereka tak mau menyentuh kunci bahagia. Sama seperti dikatakan penyair “Kesuksesan yg kau ingini Namun usahamu tak berarti sedikit sekali Sungguh perahu itu tak mungkin berlabuh di permukaan tanah kering”
 
Sedikitnya terdapat 4 anjuran yang ditunjukkan oleh Allah SWT dalam surat ini untuk mencapai kebahagiaan

1.      Iman  

Secara etimologis berarti 'percaya'. Perkataan iman   diambil dari kata kerja 'aamana'   -- yukminu'  yang berarti 'percaya' atau 'membenarkan'.

Dari Umar bin Al-Khaththab R.a dengan hadist yang panjang  “ … Kabarkanlah kepadaku tentang iman?” Beliau menjawab, “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk… ,” (HR. Muslim no. 8 )

Perkataan iman yang berarti 'membenarkan' itu disebutkan dalam al-Quran, di antaranya dalam Surah At-Taubah ayat 62 yang bermaksud: "Dia (Muhammad) itu membenarkan (mempercayai) kepada Allah dan membenarkan kepada para orang yang beriman." Iman itu ditujukan kepada Allah , kitab kitab dan Rasul.
Definisi Iman berdasarkan hadist merupakan tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan merupakan satu kesatuan. Iman memiliki prinsip dasar segala isi hati, ucapan dan perbuatan sama dalam satu keyakinan, maka orang - orang beriman adalah mereka yang di dalam hatinya, disetiap ucapannya dan segala tindakanya sama, maka orang beriman dapat juga disebut dengan orang yang jujur atau orang yang memiliki prinsip. atau juga pandangan dan sikap hidup.

Para imam dan ulama telah mendefinisikan istilah iman ini, antara lain, seperti diucapkan oleh Imam Ali bin Abi Talib: "Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota." Aisyah r.a. berkata: "Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota." Imam al-Ghazali menguraikan makna iman: "Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota)."

“ Iman itu terdapat tujuh puluh lebih cabang “

Islam adalah aqidah dan amal perbuatan. Tidak bermanfaat amal tanpa iman demikian juga tidak bermanfaat iman tanpa amal .

2.      Sabar

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)

Sementara makna sabar yang ada di dalam Al-Qur’an menuntut seseorang untuk senantiasa siap-siaga dalam segala kondisi, baik itu sedang berjaya maupun sedang terpuruk. Sabar dan terus menguatkan keimanan dengan tetap bertaqwa kepada Allah
SWT demi meraih keberuntungan yang telah dijanjikan-Nya.

Demikian jelasnya firman Allah di dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat ke 200
diatas “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”

Teramat naïf jika seseorang mengatasnamakan sabar, dia senantiasa mengalah dan menahan diri dalam kesulitannya tanpa melakukan apapun sebagai upaya keluar dari kesulitan tersebut. Sedangkan sahabat Ali bin Abi Thalib telah menjelaskan bahwa orang yang mencapai derajat shabir (sabar) akan mengeruk pahala laksana mengeruk debu yang tak terhitung jumlahnya. Jadi, sabar menuntut seseorang untuk melakukan usaha secara terus-menerus dengan semangat dalam bekerja, walaupun kegagalan akan silih berganti menerpanya.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:

1)      Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
2)      Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
3)      Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

3.      Siap Siaga

Hendaklah orang-orang mukmin itu selalu bersiap siaga dengan segala macam cara dan upaya, berjihad, menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan mengurangi kewibawaan dan kemurnian serta keagungan agama Islam. Dan sebagai sari patinya orang-orang mukmin dianjurkan agar benar-benar bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa di mana saja mereka berada, karena dengan bekal takwa itulah segala sesuatu dapat dilaksanakan dengan baik, diberkati, diridai oleh Allah SWT. 

4.      Tawakal

Memaknai tawakal berdasarkan hadist, maka kita akan menemukan anjuran Rasulullah Saw  untuk bekerja keras dan tidak sekedar bergantung pada doa. Rasulullah Saw sangat menghimbau kita mencari rezeki  meskipun harus merantau ke negeri seberang dan menyerahkan apapun hasilnya kepada Allah SWT

 “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.“  Alam Nasyrah : 7-8

Kebanyakan dari umat Islam yang condong mengutamakan pasrah sebagai bentuk tawakal mereka. Pasrah menyerahkan segala urusan kepada Allah
SWT tanpa ada upaya untuk menyelesaikannya. Misalnya, saat parkir kendaraan di depan masjid tanpa memberi kunci pengaman karena cukup pasrah akan kuasa Tuhan dalam menjaganya. Kasus lainnya, ketika seorang hamba cukup berdiam diri untuk berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT  karena kesulitan membayar hutangnya. Dia pasrah kepada Allah yang maha kaya dan mengharap diberi kekayaan itu tanpa secuil upaya.

Ada kisah menarik ketika seorang lelaki datang ke masjid menunggangi kuda. Sesampainya di Masjid, ia menghadap Rasulullah
Saw  tanpa mengikat kudanya terlebih dahulu. Lelaki itupun berkata, “Aku melepaskan untaku, lalu bertawakal kepada Allah .”
Rasulullah pun bersabda, “Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah kamu kepada Allah SWT.” (HR. Tirmidzi).

Artinya tawakal itu bukanlah berarti kita meniadakan upaya, harus ada kerja konkrit dalam menjaga barang kita. Apabila bekerja harus ada usaha dalam mencapai hasil kerja yang terbaik, meski hasilnya itu hanya Allah lah yang menentukan. Sekelompok semut saja harus bekerjasama mengangkat makanan cadangan untuk disimpan ketika menemukan makanan sejauh apapun tempatnya. Seekor merpati pun harus terbang lagi mencari makan walau tuan pemiliknya telah meletakkan makanan di depan kandangnya.

Saatnya untuk merevisi pemahaman kita terhadap makna tawakal jika itu masih sebatas pengetahuan orang pada umumnya. Tawakal yang sesungguhnya akan menjadikan manusia senantiasa bekerja keras dan menyerahkan apapun hasilnya kepada Allah
SWT, Karena janji Allah pasti datang.

“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
 Ath-Thalaaq : 3

Yakin kebahagiaan hakiki bagi seorang mukmin adl di akherat walaupun di dunia tidak bahagia. Allah berfirman “Adapun orang-orang yg berbahagia maka dalam SurgaKu lah mereka keadaan mereka kekal padanya selama langit dan bumi dikehendaki oleh Tuhanmu sebagai suatu pemberian yg tidak putus.” . Rasul Saw. bersabda “Dunia ini penjara bagi mukmin dan Surga bagi orang kafir.” 

Demikianlah, barang siapa di antara orang-orang yang beriman melaksanakan 4 macam anjuran tersebut, pasti akan mendapat kemenangan, kebahagiaan, tidak saja di dunia tetapi terutama di akhirat nanti.
Mudah-mudahan kita mendapat kebahagiaan yang sesungguhnya bukan angan-angan juga bukan sekedar pembicaraan. Dan kepada Allah lah segala urusan kita kembalikan. Wallahu A’lam.

Saat Akhwat Harus Menanti

By : Ave Ry

Bagi seorang gadis, ada masa penantian yang acapkali menimbulkan suasana rawan, menanti jodoh. Padahal jodoh, maut dan rezeki adalah wewenang Allah semata. Tak ada sedikitpun hak manusia untuk mengklaim wewenang tersebut. Tapi, watak manusia terkadang lupa dengan janji Allah. Apalagi bila lingkungan sekitarnya terus menerus memburu'nya untuk menikah, sementara jodoh yang dinantikan tak kunjung tiba. Dalam keadaan demikian, kerap muncul bermacam efek yang dapat membahayakan dirinya.

Seorang wanita akan dianggap dewasa bila ia telah mengalami menstruasi. Islam mencatat masa ini sebagai masa awal mukallafnya seorang wanita. Yang perlu diketahui, wanita sekarang menjadi akil baligh jauh lebih cepat dibanding masa dahulu. Dua puluh tahun yang lampau, wanita paling cepat mengalami menstruasi pada usia 15 tahun. Namun pada masa ini, tak jarang wanita mulai mens pada usia 11 tahun. Akibatnya, kedewasaan wanita terhadap masalah-masalah perkawinan akan meningkat secara cepat.

Keresahan mulai melanda tatkala usia sudah merangkak naik, tapi calon suami tak kunjung datang. Tanpa disadari, ada perilaku-perilaku yang mestinya tak layak dilakukan oleh seseorang yang sudah dianggap sebagai teladan dilingkungannya. Ada muslimah-muslimah yang menjadi sangat sensitif terhadap acara-acara walimah ataupun wacana-wacana seputar jodoh dan pernikahan. Ada juga yang bersikap seolah tak ingin segera menikah dengan berbagai alasan seperti karir, studi maupun ingin terlebih dulu membahagiakan orang tua. Padahal, hal itu cuma sebagai pelampiasan perasaan lelah menanti jodoh.

Sebaliknya, ada juga muslimah yang cenderung bersikap over acting. Terlebih bila sedang menghadiri acara-acara yang juga dihadiri lawan jenisnya. Ia akan melakukan berbagai hal agar "terlihat", berkomentar hal-hal yang nggak perlu yang gunanya cuma untuk menarik perhatian, atau aktif berselidik jika mendengar ada laki-laki (ikhwan) yang siap menikah. Seperti halnya wanita dimata laki-laki, kajian dengan tema "ikhwan" pun menjadi satu wacana favorit yang tak kunjung usai dibicarakan dalam komunitas muslimah.

Tentang hal diatas, Al qur'an dengan apik mengisahkan ketidakberdayaan seorang wanita menghadapi masa penantian. "Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali ..." (QS. An Nahl:92).

Pernikahan memang bukan fardhu. Tidak ada dosa atas seseorang yang tidak menikah selama ia memang tidak menentang sunnah Rasul ini. Jadi, sekarang atau nanti kita menikah, bukanlah problem utama. Yang terpenting adalah bagaimana mengisi masa-masa penantian ini dengan hal-hal yang positif ataupun aktifitas yang berkenaan dengan persiapan pra nikah.

Persiapan berawal dari hati. Kebersihan hati akan membuat seseorang tenang dalam melangkah. Istilah "perawan tua" tidak akan menggetarkan perjalanannya dan membuat dia berpaling dari jalan dakwah. Kalaupun tak berjodoh di dunia, bukankah Allah akan menggantikannya di akhirat kelak sesuai dengan tingkatan amalnya?

Kebersihan hati juga akan sangat menentukan sikap qona'ah (ikhlas menerima dan merasa cukup) terhadap pemberian Allah. Sehingga ia dengan senang hati menerima, jika sekiranya Allah memberinya jodoh seseorang yang secara fisik (selain agama) tidak sesuai harapannya, agar tidak kaget melihat standar kebahagiaan yang diluar bayangannya.

Orang tua dan keluarga juga perlu dikondisikan, agar mereka tidak menyalahkan Islam. Banyak orang tua yang beranggapan bahwa jilbab adalah yang selama ini menjadi penghalang anaknya tidak mendapatkan pasangan.

Selain itu, bersabar dan berdo'a nampaknya merupakan kunci mutlak untuk menstabilkan moral (akhlaq). Dengan kesabaran, ada pintu-pintu yang terbuka yang barangkali tak terlihat ketika kita sedang sempit dada. Dengan do'a, ada jalinan mesra dengan Sang Pemilik. Mungkin tidak saat itu juga do'a-do'a kita akan segera dikabulkan, tetapi bukankah do'a adalah ibadah? Jadi, semakin banyak do'a terucap, semakin banyak pula ibadah dilakukan.

Namun demikian, lain halnya dengan muslimah-muslimah yang 'bandel', yang dengan berbagai alasan kerap menolak untuk menikah meski seharusnya sudah siap. Baik tuntutan dakwah maupun tuntutan lainnya.

Menikah adalah ibadah. Tapi, ia bukan satu-satunya ibadah. Masih banyak alternatif ibadah yang bisa dilakukan. Alangkah naifnya bila kita malah banyak membuang waktu untuk memikirkan masalah pernikahan yang tak kunjung juga teralami. Masih banyak pekerjaan dan hal lain yang membutuhkan penyaluran potensi kita. Mumpung masih gadis, optimalkanlah potensi diri. Karena kelak, jika kesibukan menjadi istri dan ibu menghampiri kita, waktu untuk menuntut ilmu, menghapal ayat Qur'an dan hadits, bahkan untuk bertemu Allah di sepertiga malam, tentu saja akan berkurang. Nah, kenapa tidak kita optimalkan sejak sekarang?


"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar" (QS 3:142)
Tag : ,

Al-Qur'an Adalah Cahaya

By : Ave Ry

Allah menurunkan Al Qur'an untuk memberikan kepada manusia tujuan yang paling mulia, dan jalan yang paling lurus."Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus." Al Israa: 9

"Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." Al Maaidah: 15-16

Al Qur'an adalah "cahaya" yang dianugerahkan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya, di samping cahaya fithrah dan akal: "Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis)." An Nuur: 35. Dan Al Qur'an mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai cahaya, dalam banyak ayat.

Seperti dalam firman Allah SWT: "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu'jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an)." An Nisaa: 174

"Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al Qur'an) yang telah Kami turunkan." At Taghaabun: 8.
Dan berfirman kepada para sahabat Rasulullah Saw dengan firman-Nya: "Dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an)." Al A'raaf: 157

Di antara karakteristik cahaya adalah: Dirinya sendiri telah jelas, kemudian ia memperjelas yang lain. Ia membuka hal-hal yang samar, menjelaskan hakikat-hakikat, membongkar kebatilan-kebatilan, menolak syubhat (kesamaran), menunjukkan jalan bagi orang-orang yang sedang kebingungan saat mereka gamang dalam menapaki jalan atau tidak memiliki petunjuk jalan, serta menambah jelas dan menambah petunjuk bagi orang yang telah mendapatkan petunjuk.

Dan jika Al Qur'an mendeskripsikan dirinya sebagai "cahaya", dan dia adalah "cahaya yang istimewa", ia juga mendeskripsikan Taurat dengan kata yang lain: "Di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)."

Seperti dalam firman Allah SWT: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)". Al Maaidah: 44

Demikian juga mendeskripsikan Injil seperti itu, seperti dalam firman Allah SWT tentang Nabi 'Isa: "Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi) ." Al Maidah: 46

Perbedaan dalam dua pengungkapan itu menunjukkan perbedaan antara Al Qur'an dengan kitab-kitab suci lainnya. Seperti diungkapkan oleh Al Bushiry dalam Lamiah-nya: "Maha Besar Allah, sesungguhnya agama Muhammad Dan kitab sucinya adalah kitab suci yang paling lurus dan paling teguh Jangan sebut kitab-kitab suci lainnya di depannya Karena, saat mentari pagi telah bersinar, ia akan memadamkan pelita-pelita".

Hal itu karena Al Qur'an ini datang untuk membenarkan kitab-kitab suci yang telah turun sebelumnya. Yaitu yang berkaitan dengan pokok-pokok aqidah dan akhlak, sebelum kitab-kitab itu dipalsukan dan diubah tangan manusia. Al Qur'an juga mengungguli kitab-kitab suci sebelumnya, yaitu dengan mengoreksi dan meluruskan tambahan-tambahan dan perubahan-perubahan yang telah disisipkan oleh manusia dalam kitab-kitab itu.

Tentang hal ini Allah SWT berfirman: "Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu." Al Maaidah: 48

Al Qur'an juga mempunyai maksud dan tujuan diturunkanya, di antaranya: meluruskan kepercayaan-kepercayaan dan pola pandang manusia tentang Tuhan, kenabian, dan balasan atas amal perbuatan, serta meluruskan pola pandangan tentang manusia, kemuliaannya dan menjaga hak-haknya, menghubungkan manusia dengan Rabbnya, membersihkan jiwa manusia, membentuk keluarga, membangun umat yang saleh, yang dianugerahkan amanah untuk menjadi saksi bagi manusia, mengajak untuk menciptakan dunia manusia yang saling kenal mengenal dan tidak saling mengisolasi diri, saling memberi maaf dan tidak saling membenci secara fanatik, serta untuk bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan, bukan dalam kejahatan dan permusuhan.

Kita berkewajiban untuk memperlakukan Al Qur'an ini secara baik : dengan menghapal dan mengingatnya, membaca dan mendengarkannya, serta mentadabburi dan merenungkannya

Bahaya JIL

By : Ave Ry



Sekarang ini sedang marak-maraknya Gerakan #Indonesia Tanpa JIL. Hal ini akibat dari gerakan kaum JIL sendiri yang berdemo dengan mengusung tema “ Indonesia Tanpa FPI “. Demo yang di ikuti oleh sekitar 60 orang dan kemudian media nasional membesar-besarkannya hingga mereka katakan mencapai ribuan orang yang ikut berdemo menentang FPI. Mulai saat itulah terdapat tentangan keras dari segenap umat Islam. Baik itu para ulama, kaum intelektual Islam, umat Muslim yang paham maupun yang awam, maupun para elite politik yang mengambil kesempatan ini sebagai ajang “Carmuk” alias cari muka.

Namun demikian, masih banyak saja umat Muslim yang bertanya-tanya apa itu JIL? Pertanyaan ini tentunya dilontarkan oleh kalangan umat yang awam. Tulisan ini hanya satu dari ribuan tulisan yang bertujuan untuk mengenalkan pada umat akan hakikat sebenarnya dari JIL. Agar umat semakin aware, dan kemudian bias siap siaga untuk berpaling apabila bertemu dengan kalangan JIL.

Islam dan Liberal adalah dua istilah yang antagonis, saling berhadap-hadapan tidak mungkin bisa bertemu. Namun demikian ada sekelompok orang di Indonesia yang rela menamakan dirinya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL). Suatu penamaan yang “pas” dengan orang-orangnya atau pikiran-pikiran dan agendanya. Islam adalah pengakuan bahwa apa yang mereka suarakan adalah haq tetapi pada hakikatnya suara mereka itu adalah bathil karena liberal tidak sesuai dengan Islam yang diwahyukan dan yang disampaikan oleh Rasul Muhammad Saw, akan tetapi yang mereka suarakan adalah bid’ah yang ditawarkan oleh orang-orang yang ingkar kepada Muhammad Rasulullah Saw.

Di Indonesia muncul Nurcholis Madjid (murid dari Fazlur Rahman di Chicago) yang memelopori gerakan firqah liberal bersama dengan Djohan Efendi, Ahmad Wahid dan Abdurrahman Wachid. (Adiyan Husaini dalam makalah Islam Liberal dan misinya menukil dari Greg Barton, Sabili no. 15: 88). Nurcholis Madjid telah memulai gagasan pembaruannya sejak tahun l970-an. Pada saat itu ia telah rnenyuarakan pluralisme agama dengan menyatakan: “Rasanya toleransi agama hanya akan tumbuh diatas dasar paham kenisbian (relativisme) bentuk-bentuk formal agama ini dan pengakuan bersama akan kemutlakan suatu nilai yang universal, yang mengarah kepada setiap manusia, yang kiranya merupakan inti setiap agama” (Nurcholis Madjid: 239). Lalu sekarang muncullah apa yang disebut JIL (Jaringan Islam Liberal) yang menghasung ide-ide Nurcholis Madjid dan para pemikir-pemikir lain yang cocok dengan pikirannya. 

Akan tetapi kalau kita urut maka pokok pikiran mereka sebenarnya lebih tua dari itu. Paham mereka yang rasionalis dalam beragama kembali pada guru besar kesesatan yaitu Iblis Ia’natullah ‘alaih. (Ali Ibn Abi aI-’Izz: 395) karena itu JIL bisa diplesetkan dengan “Jalan Iblis Laknat”. Sedang paham sekuleris dalam bermasyarakat dan bernegara berakhir sanadnya pada masyarakat Eropa yang mendobrak tokoh-tokoh gereja yang melahirkan moto Render Unto The Caesar what The Caesar’s and to the God what the God’s (Serahkan apa yang menjadi hak Kaisar kepada kaisar dan apa yang menjadi hak Tuhan kepada Tuhan). (Muhammad Imarah: 45) 

Karena itu ada yang mengatakan: “Cak Nur Cuma meminjam pendekatan Kristen yang membidani lahirnya peradaban barat” Sedangkan paham pluralisme yang mereka agungkan bersambung sanadnya kepada lbn Arabi (468-543 H) yang merekomendasikan keimanan Fir’aun dan mengunggulkannya atas nabi Musa 'alaihis salam (Muhammad Fahd Syaqfah: 229-230) 

Misi Firqah Liberal adalah untuk menghadang (tepatnya: rnenghancurkan) gerakan islam fundamentalis (www.islamlib.com). mereka menulis: “sudah tentu, jika tidak ada upaya-upaya untuk mencegah dominannya pandangan keagamaan yang militan itu, boleh jadi, dalam waktu yang panjang, pandangan-pandangan kelompok keagamaan yang militan ini bisa menjadi dominan. Hal ini jika benar terjadi, akan mempunyai akibat buruk buat usaha memantapkan demokratisasi di Indonesia. Sebab pandangan keagamaan yang militan biasanya menimbulkan ketegangan antar kelompok-kelompok agama yang ada. Sebut saja antara islam dan Kristen. Pandangan-pandangan kegamaan yang terbuka (inklusif) plural, dan humanis adalah salah satu nilai-nilai pokok yang mendasari suatu kehidupan yang demokratis.” 

Yang dimaksud dengan Islam Fundamentalis yang menjadi lawan firqah liberal adalah orang yang memiliki lima cirri-ciri; yaitu 
(1) mereka yang digerakkan oleh kebencian yang mendalam terhadap Barat, 
(2) mereka yang bertekad mengembalikan peradaban Islam masa lalu 
dengan membangkitkan kembali masa lalu itu 
(3) mereka yang bertujuan menerapkan syariat Islam 
(4) mereka yang mempropagandakan bahwa islam adalah agama dan negara, 
(5) mereka menjadikan masa lalu itu sebagai penuntun (petunjuk) untuk masa depan. 

Demikian yang dilontarkan mantan Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon (Muhammad Imarah : 75) 


Bahaya Firqah Liberal 

1) Mereka tidak menyuarakan Islam yang diridhai oleh Allah SWT, tetapi menyuarakan pemikiran-pemikiran yang diridhai oleh Iblis, Barat dan para Thaghut lainnya. 

2) Mereka lebih menyukai atribut-atribut fasik dari pada gelar-gelar keimanan karena itu mereka benci kepada kata-kata jihad, sunnah, salaf dan lain-lainnya dan mereka rela menyebut Islamnya dengan Islam Liberal. Allah SWT berfirman: 
"Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman". (QS. Al-Hujurat 11) 

3) Mereka beriman kepada sebagian kandungan al-Qur’an dan meragukan kemudian menolak sebagian yang lain, supaya penolakan mereka terkesan sopan dan ilmiyah mereka menciptakan “jalan baru” dalam menafsiri al-Qur’an. Mereka menyebutnya dengan Tafsir Kontekstual, Tafsir Hermeneutik, Tafsir Kritis dan Tafsir Liberal. Sebagai contoh, Musthofa Mahmud dalam kitabnya al-Tafsir al-Ashri 1i alQur’an menafsiri ayat ( -Faq tho 'u aidiyahumaa- ) dengan “maka putuslah usaha mencuri mereka dengan memberi santunan dan mencukupi kebutuhannya.” (Syeikh Mansyhur Hasan Salman, di Surabaya, Senin 4 Muharram 1423). 

Dan tafsir seperti ini juga diikuti juga di Indonesia. Maka pantaslah mengapa Rasulullah Saw bersabda: 
"Yang paling saya khawatirkan atas kalian adalah orang munafik yang pandai bicara. Dia membantah dengan Al-Qur’an." Orang-orang yang seperti inilah yang merusak agama ini. Mereka mengklaim diri mereka sebagai pembaharu Islam padahal merekalah perusak Islam, mereka mengajak kepada kepada Al-Qur’an padahal merekalah yang mencampakkan Al-Qur’an. Mengapa demikian ? Karena mereka bodoh terhadap sunnah. (Lihat Ahmad Thn Umar al-Mahmashani: 388-389) 

4) Mereka menolak paradigma keilmuwan dan syarat-syarat ijtihad yang ada dalam Islam, karena mereka merasa rendah berhadapan dengan budaya barat, maka mereka melihat Islam dengan hati dan otak orang Barat. 

5) Mereka tidak mengikuti jalan yang ditempuh oleh Nabi dan para sahabatnya dan seluruh orang-orang mukmin. Bagi mereka pemahaman yang hanya mengandalkan pada ketentuan teks-teks normatif agama serta pada bentuk-bentuk Formalisme Sejarah Islam paling awal adalah kurang memadai dan agama ini akan menjadi agama yang ahistoris dan eksklusif (Syamsul Arifin; Menakar Otentitas Islam LiberaL, Jawa Pos 1-2-2002). Mereka lupa bahwa sikap seperti inilah yang diancam oleh Allah: 
"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali." (QS. An-Nisaa’ 115). 

6) Mereka tidak memiliki ulama dan tidak percaya kepada ilmu ulama. Mereka lebih percaya kepada nafsunya sendiri, sebab mereka mengaku 
sebagai “pembaharu” bahkan “super pembaharu” yaitu neo modernis. Allah berfirman: 
Dan bila dikatakan kepada mereka, "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi," mereka menjawab, "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka, "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman," mereka menjawab, "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman." Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. (QS. Al-Baqarah 11-13). 

7) Kesamaan cita-cita mereka dengan cita-cita Amerika, yaitu menjadikan Turki sebagai model bagi seluruh negara Islam. Prof. Dr. John L. Esposito menegaskan bahwa Amerika tidak akan rela sebelum seluruh negara-negara Islam tampil seperti Turki. 

8) Mereka memecah belah umat Islam karena gagasan mereka adalah bid’ah dan setiap bid’ah pasti memecah belah. 

9) Mereka memiliki basis pendidikan yang banyak melahirkan pemikir-pemikir liberal, memiliki media yang cukup dan jaringan internasional dan dana yang cukup. 

10) Mereka tidak memiliki manhaj yang jelas sehingga gagasannya terkesan “asbun” dan asal “comot” Lihat saja buku Charless Kurzman, Rasyid Ridha yang salafi (revivalis) itupun dimasukkan kedalam kelompok liberal, begitu pula Muhammad Nashir (tokoh Masyumi) dan Yusuf Qardhawi (tokoh Ihwan al-Muslimin). Bahayanya adalah mereka tidak bisa diam, padahal diam mereka adalab emas, memang begitu berat jihad menahan lisan. Tidak akan mampu melakukannya kecuali seorang yang mukmin. 
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mengucapkan yang baik atau hendaklah ia diam." (HR. Bukhari dan Muslim) (Lihat Husain al-Uwaisyah: 9 dan seterusnya). 

Ahlul batil selain menghimpun kekuatan untuk memusuhi ahlul haq. Allah ta'ala berfirman: 
"Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka pelindung bagi sebagian yang lain. JIka kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar." (QS. Al-Anfaal 73). 
Sementara itu Ustadz Hartono Ahmad Jaiz menyebut mereka berbahaya sebab mereka itu “sederhana” tidak memiliki landasan keilmuan yang kuat dan tidak memiliki aqidah yang mapan. (lihat Bahaya Islam Liberal: 40, 64-65) 

Sebagian Dikutip dari Tulisan : Abu Hamzah Agus Hasan Bashari 

Tag : ,

Pertemanan Dalam Islam

By : Ave Ry



“Seseorang sejalan dan sealiran dengan kawan akrabnya, maka hendaklah kamu berhati-hati dalam memilih kawan setia.” (HR. Ahmad)


Maha Agung Allah yang telah menganugerahkan jiwa-jiwa persaudaraan buat seorang mukmin. Ada kebahagiaan tersendiri ketika hidup dengan banyak teman dan saudara seiman. Mungkin, itulah di antara bentuk keberkahan.

Tag : ,

Fungsi Ujian Dalam Meningkatkan Keimanan

By : Ave Ry
“ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun
Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. “
Al-Baqarah : 155-157

Proses Terbentuknya Hujan Dalam Al-Qur'an

By : Ave Ry


Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.

A-Zumar : 21

- Copyright © Al-Ihtisyam - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -