Cahaya, Ini Tentang-Mu

By : Ave Ry
Cahaya..

"Masih adakah?"

Garis tipis membentuk seulas senyum sejenak mewarnai wajah, ambigu. Berapa banyak judul buku yang telah ia lumat, termasuk yang berada diatas pangkuannya sekarang, Defence oh the Muslim Lands and Lovers of the Paradise Maidens karya Syaikh Abdullah Azzam tidak juga membuat hatinya luluh, terang bercahaya. Sebaliknya, mata gadis itu terlihat sendu, letih dan murung diliput kegelapan.

Rihana, Duroru Qolbii…

Surat yang semoga sampai kepadamu kali ini terhitung adalah surat yang ke – 60 dariku tanpa satupun jawaban. Aku ikhlas, Wallahi! Aku tau keputusan ini sangat menyesakkan dadamu dan membuat kesedihan yang tidak hanya kau tapi juga aku rasakan. Aku hanya berharap agar kau tetap berada dalam naungan hidayah-Nya.

Hari ini, tepatnya tiga jam yang lalu. Aku dan rombongan tiba di Peshawar. Kau tau bagaimana berartinya hal ini untukku. Berada bersama para mujahideen di Baitul-Anshar  atau kalau kau mendengar dari mulut-mulut asing, mereka menyebutnya Mujahideen Service Bureu . Wajah-wajah yang keimanan melingkupi sanubari mereka. 

“Lalu, Apa yang harus aku lakukan? “

Kerinduan bercampur baur dengan kemarahan. Dilemparkan kertas yang sudah usang itu keatas pembaringannya. Tidak akan lama, beberapa menit kemudian kertas itu akan diraihnya juga seperti biasa. Kemudian disimpan dengan baik didalam sebuah kotak yang penuh berisi surat-surat ‘cinta’ dari suami yang ia tau kebaikan dan kelembutan hatinya, namun kukuh dan ketegasan sikap adalah hal yang tak dapat ia pahami hingga saat ini.

“Tujuh tahun, bayangkan! Tidak perlu kalian mengucapkan kata setia. Apa yang kuperoleh dari kesetiaan selama tujuh tahun menunggu penuh dengan kecemasan. Kalian pikir surat-surat murahan semacam itu dapat mengobati rasa lelahku?”

Ketika amarah memenuhi benak dan alasan tidak dapat lagi ia rangkumkan, maka jalan terakhir yang terlintas adalah menggugat!

***

“Mama tidak dapat mencegah keputusanmu juga tidak dapat menolak kerasnya sikap Papa kepadamu. Kamu adalah putri kesayangan kami. Tapi keputusanmu untuk menikah dengan Ja’far sangat menyakitkan kami Iria..”

Sikap lemah lembut ibu yang menatapnya kala itu membayang, merasuk jiwanya dan kemudian menghadirkan rasa sesal. Tapi sesal untuk apa? Sesal karena menikah dengan seorang mujahid atau sesal akan keimanan yang baru tujuh tahun ini menggelutinya?

“Astaghfirullah, Sabar Rihana.. Kakak bukan sedang melakukan pariwisata. Bukankah surat-suratnya selama ini begitu lengkap memberitahukan keberadaannya kepadamu? Bertahun-tahun ia berada di Afghanistan, berkeliling ke seluruh pelosok negeri mengunjungi hampir seluruh propinsi dan wilayah dari mulai Logar, Kandahar, pegunungan Hindukush, lembah Panshir, Kabul sampai Jalalabad. Bahkan istirahat kurasa tidak pernah terpikir olehnya. Dan yang kutahu sekarang ia berada di Peshawar, kemungkinan bersama mujahidin dari seluruh pelosok dunia.”

Cahaya.. 

“Aku membutuhkanmu, sungguh!”

 Remuk bathinnya membayangkan wajah Ja’far yang sudah bertahun-tahun meninggalkannya menuju medan pertempuran. 

Harapan melimpah ruah pada waktu pria yang saat itu mengkhitbah dirinya.  Tujuh tahun pernikahan mereka yang hanya satu kali menghadirkan sentuhan pada waktu ijab qabul dilakukan disebuah masjid kecil di sudut kota Jakarta yang bising dengan penghuni dari beragam jenis manusia. Ketika sebelumnya pria dengan wajah putih memerah mengubah namanya dari Iriana Xaverry menjadi Shafiyyah Rihana dan dengan begitu rambut yang senantiasa bergelombang indah itu tidak lagi tampak, berganti dengan Jilbab panjang berwarna pucat.
Saat ini berbeda dengan dulu. Kesetian bahkan sekarang berubah menjadi keikhlasan menjadi pertanyaan. Apakah bukan karena wajah tampan dan gagahnya saja aku dulu mau menikah dengannya sampai aku bertaruh nyawa dengan menukar keimananku?

“Rabbighfirlii..”

***

“Rihana, apa kau sudah menerima surat dari kakak? Aku cemas.. tidak seperti biasanya. Sudah lima bulan aku tidak mendengar kabar dari kawan-kawan disana. Aku tidak tau keberadaan kakak saat ini.”

Cahaya..

“Lingkupi aku dengan terangmu. Kecemasan mereka tidak sama dengan  kecemasanku. Bahkan kebutuhan mereka akanmu tidak sebanding denganku”

Mata sendu itu kini tengah memperhatikan sekeliling kamar yang suram dengan tirai-tirai tidak terawat dengan benar. Bunga? Entah layu sejak kapan. Cermin? Entah juga masih bisa digunakan. 

Qum..!!

“Kau berteriak cahaya.. cahaya.. tapi apa langkahmu untuk memperolehnya?”

“Senyummu tidak berguna, bahkan perbuatan baik yang kau lakukan hanya sebatas penghilang gundah gulana”

Suara hati terkadang bisa lebih tajam dari pada sumiran orang-orang disekeliling bahkan orang-orang terdekat. 

Jendela kusam, lantai berdebu, aneka perabot yang menyedihkan menyiratkan keputus-asaan penghuninya.

Yaa ayyuhal muddatsir

Qum, Fa andzir!

Wa Rabbuka Fa Kabbir

Wa tsiyabaka Fa thahhir

Wa rujza Fahjur

Wa la tamnun tastaktsir

Wa li Rabbika Fashbir…

***
Wajah itu.. Penuh goresan dan luka mendalam, kantung mata melengkung dan rahang yang  cekung semakin menambahkan kesedihan luar biasa. Tapi, mata kelabu yang meneduhkan itu masih tetap sama seperti tahun-tahun penuh beban yang dapat ia ingat

Wajah itu milik Ja’far

Di masjid ini, pertama kali ia melihat wajah itu. Ketika tangannya terulur memberikan kantung plastik penuh berisi kebutuhan pokok. Tangannya yang telanjang bergetar hebat tatkala sebuah tatapan menusuk, menghujam jantungnya. Dari mulai saat itulah pertemuannya dengan pemilik wajah itu berbuah harapan. 

Aneh..

Harapan apa itu yang terselip? Seorang sepertiku yang memberikan bantuan kepada orang-orang ini dengan pamrih. Tingginya air yang melanda, bau busuk sampah juga tubuh-tubuh lusuh tidak menjadi halangan untuk menyebarkan keselamatan, pikirnya kala itu.

Tapi keanehan apa yang mampu menghalangi-Nya?

Buktinya setelah itu di masjid yang sama, tangannya berkeringat tatkala sang pemilik wajah menggenggamnya untuk pertama kali dan satu-satunya.. setelah kemudian meninggalkannya untuk sesuatu yang asing baginya.

 “Ya habibty, taukah anti berapa lama ana merekam wajah ini didalam benak ana. Sebentuk wajah hati dengan rona merah di pipi. Kapanpun kegelisahan datang, rekaman itu selalu hadir membawa suasana yang baru saat ini ana tau. Suasana damai, penuh dengan luapan emosi cinta.”

Tangisnya pecah, air matanya tumpah. Kerinduan yang berbalut dengan keraguan kini sirna berganti kebahagian yang menjalar dari mulai pelupuk mata sampai ke relung terdalam hatinya.

“ Uhhibuki misla maa anti ” 

“ Uhiibuki kaifa ma kunti ” 

“ Wa mahma kaana ,mahmaa saara “

“ anti habibaty anti ” 

“  Zawjaty… ” 

Dengan tertatih laki-laki dihadapannya itu berjalan dengan kaki yang tidak sempurna kearahnya. Kayu penyangga bertengger mesra di ketiaknya. Terlihat menyedihkan? Tidak! Laki-laki itu malah terlihat penuh wibawa

Saat ini malahan gadis yang kini senantiasa menghiasi masjid dengan lantunan Al Qur’an memandu anak-anak kecil yang giat mempelajarinya bersyukur, memuji Tuhannya, memuji Rabbnya.
Cintaku padanya bukan karena wajah maupun fisiknya, kini baru ia sadar. Namun karena imannya.

***

Sore ini penuh dengan sejuta pujian pada Rabb Semesta Alam. Langit biru perlahan berubah menjadi violet. Kicauan binatang langit pun jauh tak terdengar karena petang akan segera menjelang. Malam yang sedianya menyelimuti cahaya terik siang akan segera hadir. Matahari akan tenggelam sebentar lagi bergantian dengan sinar lembut rembulan.

Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya. 
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

“Ampuni aku Tuhan karena tidak mencintai-Mu dengan sempurna. Aku tidak bisa mencegah nafsuku untuk tidak memasukkannya kedalam celah hatiku. Jadikan ia sebagai pendampingku di surga- Mu”

Mata kelabu itu berkaca-kaca..

Dihadapannya, gadis yang terbalut rapat jilbab menuangkan segelas minuman.

“Aku mencintaimu saat ini. Ya, saat ini… Karena bagiku, cinta kepada Dia yang telah melimpahiku dengan cahaya adalah cinta yang sejatinya memenuhi dada kita. Dan untuk itu, aku berikrar akan mencintai-Nya untuk selamanya



 "Tulisan ini diikutsertakan dalam 3 Years of Blogging Giveaway yang diselenggarakan oleh Penghuni 60".


3 Years of Blogging Giveaway Penghuni 60

Rihlah Dalam Pandangan Islam

By : Ave Ry
Beberapa hari yang lalu, saya dan teman-teman melaksanakan perjalanan rekreasi ke Kebun Raya Bogor.

Mumpung pada tanggal satu Januari adalah tanggal merah dan menjadi hari libur nasional, kami melakukan perjalanan yang sudah direncanakan beberapa minggu sebelumnya.

Selain karena untuk mengisi hari libur, perjalanan rekreasi ini juga bermanfaat banyak karena perjalanan kami tidak sekadar have fun, tapi juga diisi dengan materi-materi keislaman oleh seorang pembimbing dan tentunya tilawatil Qur’an bersama-sama.

Saat ada beberapa teman yang menanyakan kegiatan saya saat hari libur tersebut, saya jawab saya sedang RIHLAH. Dari sanalah banyak pertanyaan, apa itu Rihlah? Nah, untuk menjawabnya saya berpikir untuk sekalian saja membuat posting dengan tema Rihlah ini. Barangkali ada juga sahabat Blogger yang belum tahu apa itu Rihlah…

Rihlah adalah Hajatun Basyariah (kebutuhan) karena sebagai manusia kita membutuhkan refreshment baik terhadap jiwa maupun tubuh, refreshment inilah yang disebut rihlah atau rekreasi. Rihlah juga cara yang efektif untuk menghemat biaya pengobatan, dan jangan bakhil untuk rihlah karena biaya yang kita keluarkan untuk rihlah adalah salah satu investasi jangka panjang untuk memelihara kesehatan sambil melihat kebesaran Allah bertambahlah keimanan kita.

Menurut Dr Abdul Hakam Ash-Sha’idi dalam bukunya berjudul Ar-Rihlatu fi Islami, Islam membagi bepergian atau perjalanan dalam lima kelompok:

1.      Bepergian untuk mencari keselamatan seperti hijrah yaitu keluar dari negara yang penuh bid’ah atau dominasi haram.

2.      Bepergian untuk tujuan keagamaan seperti menuntut ilmu, menunaikan ibadah haji, jihad di jalan Allah, berziarah ke tempat-tempat mulia, mengunjungi kerabat atau saudara karena Allah, dan bepergian untuk mengambil ibrah atau menegakkan kebenaran dan keadilan.

3.      Bepergian untuk kemaslahatan duniawi seperti mencari kebutuhan hidup, mencari nafkah.

4.      Bepergian karena urusan kemasyarakatan seperti menengahi pertikaian, menyampaikan dakwah, bermusyawarah.

5.      Bepergian untuk kepentingan turisme atau kesenangan semata.

Tujuan Rihlah


Di dunia, dalam kehidupan manusia, Islam selalu menyerukan agar manusia dalam bepergian dan bergerak menghasilkan kebaikan dunia dan akhirat. Dari maksud tersebut, manusia akan mendapatkan nilai plus pada rihlah. Jadi bukan hanya kesenangan saja yang didapat dari rihlah itu tetapi pahala atau ganjaran dari Allah SWT juga akan diraih. Urusan seorang muslim bergerak dan berpindah-pindah untuk mendapatkan rezeki, menuntut ilmu, melaksanakan haji atau umrah, menjenguk kawan, menjenguk orang sakit dan sebagainya. Semua kegiatan tersebut bernilai ibadah jika tujuan berpergian dalam rangka mencari ridho Allah semata.

Etika Rihlah


Islam membekali para penganutnya dengan berbagai etika rihlah. Antara lain bepergian atau perjalanan hendaknya dilakukan dengan:

1. Niat baik mencari keridhaan Allah SWT.
2. Ikhlas karena Allah,
3. Berakhlak mulia,
4. Berhati-hati dan cermat,
5. Tidak dicampuri dengan kemaksiatan
6. Selalu minta pertolongan kepada Allah SWT.

Lalu, agar rihlah berjalan sesuai niat dan membuahkan hasil yang efektif, maka diperlukan persiapan biaya, medis serta pengetahuan daerah yang akan dituju.

Beberapa keuntungan rihlah

1.      Kesehatan jasmani

Rihlah bagi seorang muslim bukanlah berorientasi berhura-hura untuk menyenangkan hati belaka. Tetapi rihlah adalah salah satu kiat kita dalam menjaga kesehatan, dan memelihara jasmani agar bisa menjadi seorang muslim yang kuat. Setelah badan kita segar, maka diharapkan kita dapat melanjutkan pekerjaan kita dengan kondisi yang lebih baik, sehingga pekerjaan menjadi lebih efektif dan ihsan.

            Di saat-saat Rihlah, kita bisa terbebas dari pekerjaan keseharian yang mungkin       menimbulkan stres pada tubuh yang berakibat pada ketidak seimbangan hormon dalam         tubuh   dan berakibat lebih jauh pada melemahnya ketahanan tubuh. Maka dengan rihlah   diharapkan kita bisa relaks, dan mengendurkan ketegangan-ketegangan atau stress yang    ada, sehingga keseimbangan hormon bisa kembali normal.

2.      Keuntungan ekonomi

Rihlah memang tak selalu harus mengeluarkan biaya untuk ke tempat-tempat pariwisata yang mahal harganya. Akan tetapi untuk mendapatkan suasana baru, acap kali kita dituntut untuk mengeluarkan sedikit uang ke tempat rekreasi misalnya. Dengan pergi ke tempat-tempat rekreasi, tak dapat dipungkiri kita akan mendistribusikan rizki kepada orang-orang yang mencari rizki di sekitar tempat pariwisata. Dan biaya rihlah dapat dipikirkan sebagai biaya preventif dari pengobatan penyakit, yang di masa sekarang makin melambung biayanya. Maka keuntungan secara ekonomi ini, tak hanya dimiliki oleh kita semata tapi pula oleh orang-orang lainnya.

3.      Keuntungan terhadap lingkungan dan hubungan antar pribadi

Rihlah bersama rekan sejawat dan saudara kita sesama muslim pula akan meningkatkan hubungan silaturahmi. Apalagi jika dalam rihlah kita bisa saling bantu membantu untuk mempersiapkan keperluan rihlah, memasak bersama dan sebagainya, tentu akan lebih meningkatkan rasa kerja sama dan ukhuwah di antara kita.

4.      Keuntungan psikologi (ruhiah)

            Keuntungan psikologi atau ruhiah erat kaitannya dengan kesehatan tubuh. Dalam rihlah    kita mengendurkan urat saraf dan mengembalikan keseimbangan hormon, yang erat kaitannya dengan kondisi psikologis seseorang. Apalagi jika dalam rihlah, kita bisa sekalian bertafakur mengagumi kebesaran Allah Dan kita temui banyak hal dan pengalaman baru yang menjadikan hati kita kaya dan bisa berbelas kasih pada orang-orang yang kekurangan, setelah kita disibukkan oleh berbagai kesibukan yang kadang mematikan hati kita sehari-hari.

Itulah diantara beberapa hal mengenai Rihlah. Dari mulai pengertian, Tujuan, Etika sampai Keuntungan Rihlah. Semoga dengan ini semakin banyak sahabat yang berpergian rekreasi bukan hanya sekadar bersenang-senang semata, tapi juga memiliki nilai spiritual. Karena ruh islam sepatutnya tidak ditanggalkan walau dimanapun keberadaan kita.



Tag : ,

Giveaway Senangnya hatiku: My First Wish List Terkabul!

By : Ave Ry

Senangnya hatiku bisa mengikuti Giveaway lagi. Gagal yang pertama coba yang kedua. Gagal yang kedua ini ... marah-marah sama yang buat Giveaway., hehe


Sesuai tema, Giveaway ini sangat menyenangkan hati saya. Karena tidak ada hal yang paling menyenangkan menurut saya dari pada menceritakan kebahagiaan kita atas suatu nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita. Selalu bersyukur untuk pemberian-Nya sekecil apapun, apalagi kalau pemberian itu sesuatu yang menjadi wish kita.

Sekitar hampir dua tahun lalu saya membaca sebuah buku tentang harapan yang jika ingin terkabul maka hendaknya kita menuliskan harapan-harapan itu. Pada waktu itu saya bingung mau menulis harapan apa karena saya merasa sudah cukup dengan segala apa yang ada pada saya. Lalu saya coba-coba saja menuliskan keinginan-keinginan yang saya rasa tidak mungkin saya dapat mengusahakannya (karena sesuatu itu terlalu mahal atau terlalu sulit) tapi sangat saya inginkan.

Berhubung kehidupan saya hanya dalam batasan cukup-cukup saja, maka dari itu saya terbiasa untuk tidak menginginkan sesuatu diluar batas yang bisa saya usahakan. 

Waktu itu saya menuliskan wish list seperti ini :

1.      Memiliki Kitab Tafsir Ibnu katsir
2.      Sirah Ibnu Hisyam 2 Jilid
3.      Pergi ke Cordova, Meddina Az Zahra, Andalusia, Spain
4.      Berangkat Haji beserta Orang tua
5.      Dll

Setelah menuliskannya di selembar kertas A4, kemudian saya print. Kertas itu saya simpan saja diselipan sebuah buku tulisan Aidh al Qarny.

Selang waktu beberapa bulan, saya sudah melupakan keseluruhan wish list yang pernah saya tulis. Saya beranggapan hal itu menjadi sebuah hal yang konyol! Tapi, sudahlah. Kembali pada sifat saya yang dulu, takut berharap, sehingga tidak mau menginginkan apapun karena perasaan tidak terpenuhi adalah sesuatu yang sangat saya benci.

Malam hari ketika beristirahat sambil mendengarkan siaran sebuah radio, saya tertarik untuk mengikuti sebuah perlombaan menulis yang diadakan radio tersebut. Perlombaannya cukup mudah menurut saya, karena kita hanya perlu menuliskan pengalaman kita selama menjadi pendengar radio tersebut.
Apa susahnya menuliskan sebuah pengalaman? Sebenarnya pada waktu itu saya berniat untuk mengikuti lomba menulis tersebut hanya karena saya ingin tulisan saya ‘dibaca’ saja. Selama ini saya kurang percaya diri dengan tulisan saya. Maka banyak tulisan-tulisan saya yang melayang-layang tak tentu arah.

Satu hal yang membuat saya tertarik adalah karena disebutkan bahwa hadiahnya buku! Entah kenapa saya tergila-gila dengan buku. Melihat berjajar buku di Toko Buku saja sudah bisa mengalihkan perhatian saya dari apapun. Saya betah berjam-jam mengelilingi rak-rak buku itu. Walaupun setelahnya merasakan kesedihan yang dalam ketika pulang hanya bisa menenteng satu atau dua buah buku saja.
Cita-cita memiliki perpustakaan pribadi jadi terasa amat sangat sulit.


Mulailah saya menuliskan pengalaman-pengalaman saya bersama radio itu. Pada waktu itu saya tidak merasakan kesulitan apapun, mengalir begitu saja tanpa hambatan. Dari mulai satu kalimat ke kalimat berikutnya, sehingga tanpa sadar sudah empat halaman. Padahal saya pikir untuk perlombaan menulis semacam itu paling hanya dua halaman saja yang diperlukan. Siapa yang mau membaca pengalaman seseorang sampai berhalaman-halaman?

Dari mulai jam delapan malam sampai hampir menjelang jam sepuluh malam saya menyelesaikannya. Kemudian keesokan pagi saya baru mengirimkannya via email.

Selama jeda menuju pengumuman pemenang lomba saya merasakan hal yang paling aneh karena baru pertama kali itu saya mengikuti lomba menulis. Saya merasa tidak akan menang karena tulisan yang aneh semacam itu tidak akan mungkin menarik minat panitia, bahkan untuk sekadar membaca juga mereka akan bosan.

Tapi disaat yang sama saya juga sangat menginginkan hadiahnya. Walaupun saya tidak tahu buku apa yang akan diberikan, tapi saya tetap sangat menginginkan buku-buku itu. Waktu itu saya berpikir buku-buku yang akan diberikan sebagai hadiah adalah buku-buku ke-Islam-an atau materi dakwah dari radio tersebut. Yang penting judulnya buku!

Mulailah saat yang ‘deg-degan’… antara tidak PD dan Ingin. Hingga ketika hari-hari saat akan dimumkan saya mengatakan pada diri saya sendiri “ Sudahlah, tidak usah berharap. Pasti peserta lomba itu adalah orang-orang yang sudah sering mengikuti lomba atau lebih dahsyat kisah maupun cara menuliskan pengalamannya. Dibandingkan dengan saya yang baru pertama kalinya ikutan lomba “

Saya ingat betul, pada waktu hari Jum’at pukul delapan malam saat pengumuman dilaksanakan sebelum acara kajian malam dimulai. Berada disamping radio itu persis! Pembawa acara menyebutkan satu persatu pemenang lomba dari mulai juara ketiga, Bapak bla bla bla, juara kedua Ummu bla bla bla. Sampai saat itu saya sudah hope less. Harapan untuk menjadi juara tiga saja tidak kesampaian. Jadi tidak mungkinlah menjadi juara dua apalagi pertama. Maka ketika saat pengumuman juara pertama, saya sudah mulai akan beranjak dari radio tersebut, tapi saya penasaran juga siapa yang menjadi juara pertamanya. Antara malas mendengar lagi dan penasaran akhirnya saya tetap berada disamping radio.

“ Juara pertama…. Saudari Herriyati “ .

“ Aaaarrrgggggghhhhhhhhhhh….!!! “

Rasanya jantung mau copot! Keluarga yang ketika itu sedang menonton acara teve menyangka saya terkena setrum listrik karena tiba-tiba berteriak sampai membuat orang kaget.

Pada waktu itu saya tidak percaya betul, sampai saya menyuruh adik saya untuk mendengarkan pengumuman itu bersama-sama ketika diulang di akhir acara kajian malam itu. Ternyata pendengaran saya tidak salah.

Acara tabligh akbar yang nantinya akan dilaksanakan penyerahan hadiah lomba berlangsung sangat meriah. Peserta yang hadir sangat ramai dan begitu antusias mendengarkan tausyah. Tibalah disaat akhir pengumuman sekaligus penyerahan hadiah. Saya hampir tidak bisa bernafas akibat detak jantung yang begitu kencang karena harus berdiri dihadapan ratusan hadirin. Ketika tiba giliran saya, saya melirik dan menimbang-nimbang kira-kira apa hadiahnya. Tanpa diduga kotak hadiahnya besar dan berat! Sampai panitia mengatakan mereka saja nanti yang membawakannya ke tempat saya, bahkan ketika diserahkanpun saya cukup ‘menyentuh’ karena sang penyerah hadiah yang memegangnya (Ust. Herman Saptadji, syukron..)


Ketika sampai ditempat, teman-teman yang menemani saya pada waktu itu ikut-ikutan riuh, “ Ayo, Ry,,, buka, buka “ tadinya saya berniat untuk membuka hadiah dirumah saja. Tapi karena desakan mereka (heu..) akhirnya saya buka juga hadiah itu.

Kotak hadiah yang besar itu, yang saya duga adalah kumpulan buku-buku Islami, Majalah Intisari Hasmi atau materi dakwah perlahan saya buka dengan sangat hati-hati. Ketika bungkus kado dilepas terlihat kotak kardus yang sangat ‘aneh’. Saya menyobek bagian perekat, dan… taadaaaa..

Satu set lengkap Kitab Tafsir Shahih Ibnu Katsir Sembilan jilid!



Subhanallah… Hanya Allah SWT yang mengetahui betapa saat itu saya ingin meneteskan air mata jika saja tidak malu karena masih berada disekeliling hadirin yang belum beranjak pulang.

Saya tidak dapat berkata-kata sampai teman-teman saya yang ramai mengguncang-guncang bahu saya. “ Erry… Keinginan lo tercapai Ry “ , “ Ihh, ngiri.. mau kitab tafsirnya.. “

Dengan perasaan bahagia yang tak terkatakan saya membawa pulang kitab-kitab itu dengan dibantu teman-teman saya yang baik hati itu. Kotak kardus kami tinggalkan, diganti dengan kantung plastik sehingga masing-masing membawa beberapa buah kitab.

Sesampainya dirumah, tepatnya dikamar saya langsung meletakkannya di rak buku dan memandanginya sampai lama. Ketika saya akan merapihkan buku-buku yang lain selembar kertas terjatuh dari buku La Tahzan. Kertas wish list saya. And guess what? Kitab Tafsir Ibnu Katsir berada dalam urutan pertama dari daftar keinginan saya satu tahun lalu.

My First Wish List Terkabul!

Masya Allah, besar rasa syukur yang saya haturkan pada waktu itu. Hanya dengan bermodalkan Empathalaman tulisan sederhana, sebagai gantinya Allah SWT menganugrahkan saya Sembilan jilid buku setebal masing-masing Delapan Ratus halaman.
Mulai saat itu, saya tidak lagi meragukan bahwa Allah SWT akan mengabulkan keinginan kita. Dan saya semakin terpacu untuk memenuhi kamar saya dengan buku-buku yang bermanfaat.


( Semoga dengan ini bisa bertambah lagi ).  (^_^)/


Sederhanakan Penampilanmu...

By : Ave Ry

Wanita Muslimah yang sadar akan berpakaian dan berpenampilan sederhana, tidak berlebih-lebihan dalam berhias, berpakaian dan berpenampilan.


“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” Al-Ahzab: 33

Allah melarang para wanita untuk tabarruj ( berhias atau berpenampilan yang ditujukan wanita kepada mata-mata orang yang bukan muhrim  ), setelah memerintahkan mereka menetap di rumah. Tetapi apabila ada keperluan yang mengharuskan mereka keluar rumah, hendaknya tidak keluar sembari mempertontonkan keindahan dan kecantikannya kepada laki-laki asing yang bukan muhrimnya. Allah juga melarang mereka melakukan tabrruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliyah terdahulu. Apa maksud tabarruj jahiliyah terdahulu itu?

Mujahid berkata, “Wanita dahulu keluar dan berada di antara para laki-laki. Inilah maksud dari tabarruj jahiliyah terdahulu.”

Qatadah berkata, “Wanita dahulu kalau berjalan berlenggak-lenggok genit. Allah melarang hal ini.”
Muqatil bin Hayyan berkata, “Maksud tabarruj adalah wanita yang menanggalkan kerudungnya lalu nampaklah kalung dan lehernya. Inilah tabarruj terdahulu di mana Allah melarang wanita-wanita beriman untuk melakukannya.”

Ibnu Abu Najih meriwayatkan dari Mujahid, “Janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” Dia (Mujahid) berkata, “Wanita dahulu berjalan-jalan di hadapan kaum (laki-laki). Itulah tabarruj Jahiliyah.”

Dan di antara kerusakan tabaruj yang paling besar adalah penyerupaannya wanita-wanita muslimah dengan wanita kafir, baik dari kalangan orang-orang nashrani maupun selain mereka, seperti dalam masalah berpakaian, dengan memakai pakain pendek dan ketat, tidak menutupi rambutnya, serta membiarkan bagian tubuhnya yang elok di pandang oleh lelaki lain, , padahal Rasulullah saw telah melarang kita untuk menyerupai orang kafir, beliau pernah bersabda:


"Barangsiapa yang menyerupai sebuah kaum maka ia sama seperti mereka". (HR Abu Dawud, Ibnu Hiban dan Imam Ahmad)

Sesungguhnya wanita muslimah akan menghiasi diri dengan perhiasan yang di halalkan dan keindahan yang telah di syari'atkan. Dia juga akan mengenakan pakaian bagus dan menarik, dengan tidak menyimpang dan berlebih-lebihan. Semuanya itu adalah kebaikan yang di halalkan oleh Allah, dan itu pula yang disebut sebagai kesedderhanaan yang di serukan dan di perintahkan oleh Islam.

Yang demikian itulah yang menjadikan perbedaan yang nyata serta menjadikan tampil beda antara wanita yang senantiasa di selimuti dengan kesederhanaan lagi bijak denga wanita yang berlebih-lebihan dan tidak bisa menggunakan akalnya karena telah di perbudak oleh dunia mode yang ala kebarat-baratan dan kemewahan.

Demikian itulah sikap wanita muslimah yang senantiasa menyadari dan memperhatikan petunjuk agamanya serta berpegang teguh pada hukum-hukum agamanya yang penuh toleransi antara sesamanya. Dimana pakaiannya bersih, bagus, menarik, rapi dan wajar yang di kenakan dengan tujuan untuk memperlihatkan dan mensyukuri ni'mat Allah dengan tidak berlebih-lebihan dan sombong serta senantiasa menonjolkan kesederhaannya.

Oleh karena itu setiap wanita muslimah di tuntut untuk senantiasa menghiasi dirinya dengan kehidupan yang penuh dengan kesederhanaan, karena Allah sendiri sangat membenci orang-orang yang suka berlebih-lebihan

Tag : ,

Jangan Habiskan Waktumu Untuk Mengeluh

By : Ave Ry


Islam mengajarkan agar ummatnya tidak berkeluh kesah mengenai masalah dan ujian/cobaan yang sedang dihadapi. Karena dalam hidup di dunia ini tidak akan datar-datar saja, mesti ada ujian cobaan..ada senang dan duka , ada hitam dan putih, ada lapang dan sempit, ada sehat dan sakit dan sebagainya. Oleh kareana itu mengapa harus mengeluh? karena semua itu pasti akan terjadi dalam diri kita ini yang hidup di dunia.

"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir." Al Maariij : 19-21

Memang dalam ayat ini tertera bahwa manusia itu ‘sudah dari sananya suka mengeluh’, tapi Allah menyebutkan pada awal selanjutnya bahwa terdapat pengecualian terhadap orang-orang yang shalat, berinfaq, percaya pada hari pembalasan, takut pada azab-Nya, sampai pada ayat ke 33 dari surah Al Ma’arij ini. Allah SWT menyebutkan bahwa pengecualian itu diperuntukan bagi mereka dan balasan bagi mereka tidak lain adalah surga yang dimuliakan.
Dalam hidup, kita sering sekali mendengar kata-kata keluhan seperti berikut ini atau bahkan kita juga pernah mengucapkannya. Tapi yakinlah bahwa Allah itu Maha pengasih dan Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Sehingga Ia menjawab keluh kesah hamba-Nya secara indah dalam Al Qur'an.

Kenapa aku di uji seperti ini?

Allah menjawabnya di Al Ankabut: 2-3
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi ?Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Kenapa aku tidak mendapat yang aku inginkan?
Allah menjawabnya di Al Baqoroh: 216
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”

Kenapa ujian seberat ini?
Allah menjawabnya di Al Baqoroh: 286
Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Kenapa aku frustasi?
Allah menjawabnya di Ali Imran: 139
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yg paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman”

Aku sudah tak sanggup lagi..!
Allah menjawabnya di Yusuf: 12
“….dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yg kafir.”

Ada sebuah kisah yang sangat menarik . Seorang pria datang menemui Yunus ibn Ubaid. Ia mengeluh di depannya.
“Hidupku susah sekali…,”ujarnya. “Entah aku harus berbuat apa. Hidupku benar-benar susah. Dunia ini begitu sempit untukku. Ah, aku tak tahu harus berbuat apa… Duhai, mengapa ini semua terjadi padaku…,” begitulah ia seperti tidak akan berhenti menyampaikan semua keluhannya.
Yunus ibn Ubaid menarik nafas. Sangat dalam.
“Maafkan aku, saudaraku… Bolehkah aku bertanya padamu??” ujarnya.
“Silahkan, Tuan…”
“Bagaimana jika kedua matamu diganti dengan 1000 dinar? Maukah engkau??” Tanya Yunus ibn Ubaid.
“Apa?? Tidak mungkin, Tuan. Bagaimana mungkin aku mengganti kedua mataku hanya dengan 1000 dinar???!”
“Bagaimana dengan kedua telingamu??”
“Ah, mustahil, Tuan. Bagaiamna aku akan mendengar nanti??”
“Kalau begitu, lidahmu sajalah…”
“Tidak, Tuan. Apakah Anda ingin saya jadi bisu hanya karena 1000 dinar??!”
Begitulah Yunus ibn Ubaid terus mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Hingga akhirnya, Yunus ibn Ubaid mengatakan, “Lihatlah, saudaraku. Kulihat betapa banyaknya nikmat Allah padamu. Lalu mengapa engkau harus mengeluh hingga seolah-olah tidak lagi ada harapan untuk hidup??”
Pria itu tersipu. Lalu pamit meninggalkan Yunus ibn Ubaid.

Karena itu maka mulai dari sekarang jauhilah sikap kita dari sifat keluh kesah karena sedikit hal yang hilang atau berkurang dari kenikmatan yang Allah SWT berikan ternyata karunia-Nya jauh lebih besar lagi dari apa yang luput dari kita. Lagi pula, sejatinya setiap tetes kenikmatan itu berasal dari-Nya juga sehingga kita sebagai hamba seharusnya senantiasa ikhlas apabila sedikit dari banyak itu diambil kembali oleh-Nya
Jika kita pernah mengeluh dalam kehidupan dan menyadarinya, maka segeralah kita beristighfar dan memohon ampunan dari Allah SWT. Semoga Alloh mengampuni dosa-dosa kita yang selama ini sering berkeluh kesah atas setiap permasalahan yang kita hadapi. Semoga juga Alloh SWT meneguhkan dan menegarkan iman kita dalam setiap persoalan dan kesulitan yang kita hadapi.

Tag : ,

Jangan Sia-siakan Waktumu

By : Ave Ry
Banyak yang sering berkata, “Aku nggak ada waktu !”, seakan-akan mereka di dalam sebuah kesibukan yang sangat bermanfaat, akan tetapi kenyataannya ternyata masih banyak waktu mereka yang kosong
Di lain pihak, banyak pula yang ingin “Membunuh waktu…” karena waktu mereka yang sangat terbuang-buang.  mereka bingung mau diapakan waktu tersebut..

Waktu sangat penting, itu terlalu berharga untuk disia-siakan atau diabaikan. Orang bijaksana adalah orang yang memperhatikan waktu dan tidak memperlakukannya sebagai wadah untuk diisi dengan hal-hal murah dan bicara sia-sia.

Hai orang-orang yang beriman , bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, seungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan Al-Hasyr : 18

Al waktu kas saif (waktu ibarat pedang), begitulah pepatah arab menyebutkan. In lam taqtho’hu yaqtho’uka (kalau kau tak memotongnya maka dia yang akan memotongmu).

Memotong waktu itu adalah dengan tidak membiarkannya sia-sia sedang dipotong oleh waktu adalah dibuai oleh waktu dalam kesia-siaan. Karena hidup hanya sebentar, maka bila kita tak memanfaatkannya dengan baik maka kita akan menyesal selamanya.

Ibnu ‘Umar berkata, “Kalau engkau berada di waktu pagi jangan sekedar menunggu datangnya waktu sore. Kalau engkau berada di waktu sore jangan sekedar menunggu datangnya waktu pagi.

Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan gunakanlah masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari. 6053, Kitab ar-Raqaa’iq)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata,

Salah satu bukti kebijaksanaan takdir dan hikmah ilahiyah, yaitu barangsiapa yang meninggalkan apa yang bermanfaat baginya -padahal memungkinkan baginya untuk memetik manfaat itu lantas dia tidak mau memetiknya – maka dia akan menerima cobaan berupa disibukkan dengan hal-hal yang mendatangkan madharat terhadap dirinya. 

Barangsiapa meninggalkan ibadah kepada ar-Rahman, niscaya dia akan disibukkan dengan ibadah kepada berhala-berhala. Barangsiapa meninggalkan cinta, harap dan takut kepada Allah maka niscaya dia akan disibukkan dalam kecintaan kepada selain Allah, berharap dan takut karenanya.
Nikmat waktu adalah nikmat yang sangat besar, akan tetapi banyak orang yang menyia-nyiakannya dengan menghabiskan untuk keperluan yang kurang penting atau bahkan sia-sia. Menyia-nyiakan waktu sangat bertolakbelakang dengan memanfaatkan detik demi detik yang dilakukan para ulama soleh terdahulu, seperti contoh berikut ini.

Ibnu Mas’ud
Beliau salah seorang shahabat Nabi yang mulia, beliau pernah berkata, “Aku belum pernah menyesali sesuatu seperti halnya aku menyesali tenggelamnya matahari, dimana usiaku berkurang, namun amal perbuatanku tidak juga bertambah

Ibnul Khayyath An-Nahwi
Konon beliau belajar di sepanjang waktu, hingga saat beliau sedang berada di jalanan. Sehingga terkadang beliau terjatuh ke selokan atau tertabrak binatang.

Amir bin Abdi Qais
Beliau seorang tabi’in yang zuhud. Ada seorang pria berkata kepadanya, “Mari berbincang-bincang denganku”. Amir bin Abdi Qais menjawab, “Tahanlah matahari (Cobalah hentikan perputaran matahari), jangan biarkan ia berputar, baru aku akan berbincang-bincang denganmu. Karena sesungguhnya waktu ini senantiasa merayap dan bergerak maju, dan setelah berlalu ia tak akan kembali lagi. Maka kerugian akibat tak memanfaatkan waktu adalah jenis kerugian yang tidak dapat diganti atau dicarikan kompensasinya. Karena setiap waktu membutuhkan amal perbuatan sebagai isinya”

Hammad bin Salamah
Musa bin Isma’il At-Tabudzaki pernah menuturkan, “Kalau aku mengatakan kepada kalian bahwa Hammad bin Salamah tak pernah tertawa, niscaya aku tidak berdusta. Beliau itu memang orang  yang sangat sibuk. Kegiatannya hanya meriwayatkan hadits, membaca, bertasbih atau shalat. Beliau membagi-bagi waktu siangnya hanya untuk itu saja”
Muridnya sendiri, Abdurrahman bin Mahdi, pernah menuturkan, “Kalau ada orang yang berkata kepada Hammad bin Salamah, “Engkau akan meninggal besok”, niscaya beliau tidak akan mampu lagi untuk menambah sedikitpun dalam amalnya” (maksudnya, ia pasti segera memaksimalkan amalnya di detik-detik terakhir hidupnya).

Yunus bin Al-Mu’addab menegaskan, “Hammad bin Salamah meninggal dunia saat beliau shalat”. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya
Begitulah sebagian potret kehidupan ulama dalam memanfaatkan waktu, bagaimana dengan kita?

Semoga Allah SWT memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua agar bisa memanfaatkan kesempatan dan keluasan waktu yang diberikan untuk berbekal bagi kehidupan akhirat.
Tag : ,

- Copyright © Al-Ihtisyam - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -