Perjuangan Melahirkan Kemajuan
By : Ave Ry"Bersungguh-sungguhlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu)..." (HR. Muslim).
Kebahagiaan seorang hamba dan kesuksesannya sangat ditentukan oleh semangat dan kesungguhannya dalam melakukan segala yang bermanfaat dalam urusan agama dan dunianya, serta keriusannya dalam memohon pertolongan kepada Allâh Azza wa Jalla .
Ketika semua unsur ini sudah terpenuhi, maka itu adalah kesempurnaan baginya dan sebagai tanda kesuksesannya.
Namun, ketika dia meninggalkan salah satu dari tiga perkara ini (bersemangat, bersungguh-sungguh, dan meminta pertolongan Allâh), maka dia akan kehilangan kebaikan seukuran dengan perkara yang ditinggalkannya.
Orang yang tidak bersemangat dalam meraih dan melakukan hal-hal yang bermanfaat, bahkan bermalas-malasan, maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Karena malas itu sumber kegagalan.
Orang yang malas tidak akan mendapatkan kebaikan dan kemuliaan. Orang yang malas tidak akan bernasib baik dalam agama dan dunianya.
Dan ketika dia semangat, tetapi bukan pada hal-hal yang bermanfaat, seperti bersemangat pada sesuatu yang membahayakan dan menghilangkan kebaikan, maka ujung dari kesemangatannya itu adalah kegagalan, kehilangan kebaikan, mendapatkan keburukan dan kerugian.
Berapa banyak orang yang bersemangat untuk meraih dan menempuh cara-cara dan hal-hal yang tidak bermanfaat, akhirnya ia tidak mendapat faedah apapun dari kesemangatannya itu selain hanya rasa lelah, payah dan susah.
Jika ada orang menempuh jalan-jalan yang bermanfaat, bersemangat dan bersungguh-sungguh padanya, namun tidak disertai dengan keseriusannya dalam memohon pertolongan kepada Allâh Azza wa Jalla , maka hasil yang akan dipetiknya tidak maksimal.
Jadi benar-benar bersandar kepada Allâh Azza wa Jalla dan memohon pertolongan kepada-Nya bertujuan agar bisa mendapatkan perkara yang bermanfaat itu secara maksimal.
Berhijab, Minus Karya?
By : Ave Ry
Para Feminis barat berkata, bahwa hijab adalah sebuah bentuk opresi ; yang dengannya seorang wanita menjadi terkungkung dalam kehidupan sosialnya.
Sebaliknya, mereka menyuarakan gerakan top-less alias bertelanjang da**, bahkan tidak keberatan sama sekali dengan kaum nudis.
Apakah benar demikian?
Pada masa-masa awal, Islam sudah mengenal wanita cerdas yang lincah, menghafal ribuan hadist Rasulillah, A'isyah binti Abu Bakar radhiallahu anha.
Pada masa yang sama, tersebutlah seorang penyair, mujahiddah nan bijaksana, Al-Khansa kita mengingatnya.
Bahkan, dimasa berikutnya akan menghabiskan berhalaman-halaman kisah tentang para wanita berhijab yang luar biasa.
Berhijab, sememangnya adalah sebuah bukti ketundukan seorang muslimah pada Rabb-nya. Entah ia dalam keadaan terpaksa atau rela.
Namun mengatakan ia sebuah bentuk opresi adalah hal yang keliru. Nyatanya, para muslimah bebas melakukan apa saja yang menjadi passion-nya.
Hanya, para muslimah di-didik untuk melihat batasan yang sesuai dengan harkat dan martabatnya.
Berlari Menuju Allah
By : Ave Ry
Dalam bahasa Arab, kata al-firar yang berarti berlari biasanya digunakan untuk mengungkapkan lari dari sesuatu yang ditakuti. Lari karena dikejar singa, anjing gila, atau musuh misalnya. Untuk lari mengejar sesuatu digunakan kata yang lain : jara-yajri-jirayah.
Apabila seseorang berlari karena dikejar singa, dia pasti akan fokus kepada upaya penyelamatan dirinya. Dia tidak akan peduli jika—misalnya—ada duri atau paku yang menusuk kakinya. Dia tidak akan peduli juga jika—misalnya—seseorang memintanya untuk berhenti dan akan diberi setumpuk harta. Dia tetap akan berlari sekencang-kencangnya.
Dengan firman-Nya ini Allah memerintahkan kita semua supaya berlari menuju Allah. Berlari menuju kepada-Nya seperti bila kita berlari dikejar singa. Berlari kencang tanpa mempedulikan rasa sakit yang mungkin dirasa raga atau terpedaya oleh bujuk-rayu dunia.
Dalam karya monumentalnya, Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim al-Jawziyah menerangkan, langkah awal dari berlari kepada Allah ini meliputi tiga hal. Berlari dari kejahilan menuju ilmu, berlari dari kemalasan menuju semangat, dan berlari dari sesaknya dada menuju kelapangannya.
Dari kejahilan menuju ilmu
Orang yang jahil menurut Islam bukan hanya orang yang tidak mempunyai pengetahuan tentang sesuatu. Orang yang pengetahuan dan cakrawala berpikirnya luas pun bisa menjadi orang yang jahil. Menurut Islam, ilmu meliputi pengetahuan tentang kebenaran dan mengamalkan kebenaran yang telah diketahui itu.
Ketika Nabi Yusuf as. dipaksa untuk berbuat nista, beliau—sebagaimana diabadikan oleh Allah dalam surat Yusuf: 33—mengadu, “Wahai Rabb-ku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Jika Engkau tidak menghindarkan aku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang jahil.”
Mengetahui bahwa perbuatan zina adalah perbuatan yang buruk tidak mengeluarkan seseorang dari kejahilan sampai dia menjauhinya. Demikian pula dengan perintah dan larangan Allah yang lain. Mengetahui bahwa shalat itu wajib tidak mengeluarkan seseorang dari kejahilan sampai dia menegakkannya.
Amru bin Hisyam yang sebelum datangnya Islam digelari dengan Abul Hakam karena kecerdasan dan ketinggian ilmunya, mendapatkan gelar Abu Jahal karena tidak mau mengikuti kebenaran. Amru bin Hisyam pasti memahami dan dapat mencerna semua yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Tetapi karena ilmunya tidak diikuti dengan pengewantahan, dia tidak dianggap sebagai orang yang berilmu. Sebaliknya, dia dinyatakan sebagai orang yang jahil.
Dari kemalasan menuju semangat
Ibnul Qayyim menyatakan bahwa sifat malas, menunda-nunda amal, berandai-andai, dan yang sejenis dengannya sangat berbahaya bagi seseorang. Kemalasan laksana pohon yang hanya membuahkan kerugian dan penyesalan.
Ada beberapa ayat al-Qur`an yang mengisyaratkan agar kita menerima semua perintah Allah dengan segenap kesungguhan, penuh semangat. Allah berfirman,
خُذُوا مَا آَتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Peganglah dengan teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 63)
وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الْأَلْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلًا لِكُلِّ شَيْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ
“Telah Kami tuliskan untuk Musa pada lauh-lauh itu segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu. Maka (kami berfirman), ‘Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang pada (perintah-perintah-Nya) dengan sebaik-baiknya!’.” (Al-A’raf: 145)
Setiap muslim mesti berlari meninggalkan rasa malasnya menuju keteguhan dan semangat yang senantiasa berapi-api dalam segala kebaikan.
Dari dada sesak menuju dada lapang
Berikutnya hendaklah setiap muslim meninggalkan dadanya yang sesak sesegera mungkin menuju dada yang lapang. Sesaknya dada seseorang biasa datang saat dia khawatir dan gundah mengenai kemaslahatan dirinya, hartanya, atau keluarganya. Dia murung dan menekuknya wajah apabila ada ancaman terhadap diri, harta, atau keluarganya.
Ancaman yang hakiki adalah ancaman yang datang dari Allah. Ancaman yang datang hanya jika seseorang melanggar aturan-aturan-Nya. Ancaman yang datang dari selain Allah hanyalah ancaman yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan ancaman-Nya.
Sebenarnya jika seseorang tsiqqah (percaya) kepada Allah, bertawakal dengan benar, dan berbaik sangka kepada-Nya setelah berusaha untuk bertakwa kepada-Nya dg segenap kemampuannya, niscaya dadanya akan lapang. Ini sudah dijanjikan Allah. Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar (dari semua persoalan) baginya dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya “ (Ath-Thalaq: 2-3)
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Ath-Thalaq: 3)
Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Allah berfirman,
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي
“Aku ada pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersama-Nya jika Dia berdoa kepada-Ku.”
Maka mari kita berlomba berlari menuju Allah. Wallahul muwaffiq.
Artikel ini ditulis oleh ustadz Imtihan, dan dipublish berdasarkan izin beliau.
Teguh Dalam Dakwah
By : Ave RyJika kau rasa lelah dalam dakwah, maka ; Temukan alasan mengapa kau ingin berada didalamnya dan kau akan tinggal (tetap didalamnya). Temukan teman-teman (yang senafas/setujuan) dan futur itu akan hilang seketika.
Dalam Islam, keteguhan ini dinamakan 'Tsabat'. Ia bermakna teguh pendirian dan tegar dalam menghadapi ujian serta cobaan di jalan kebenaran.
Ia sebagai daya tahan dan pantang menyerah. Ketahanan diri atas berbagai hal yang merintanginya. Hingga ia mendapatkan cita-citanya atau mati dalam keadaan mulia karena tetap konsisten di jalan-Nya.
Dalam Majmu’atur Rasail, Hasan Al Banna menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tsabat adalah orang yang senantiasa bekerja dan berjuang di jalan dakwah yang amat panjang sampai ia kembali kepada Allah SWT. dengan kemenangan, baik kemenangan di dunia ataupun mati syahid.
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah SWT. maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah janjinya”. Al Ahzab : 23
Sesungguhnya jalan hidup yang kita lalui ini adalah jalan yang tidak sederhana. Jauh, panjang dan penuh liku apalagi jalan dakwah yang kita tempuh saat ini. Ia jalan yang panjang dan ditaburi dengan halangan dan rintangan, rayuan dan godaan.
Karena itu dakwah ini sangat memerlukan orang-orang yang memiliki muwashafat ‘ailiyah, yakni orang-orang yang berjiwa ikhlas, itqan dalam bekerja, berjuang dan beramal serta orang-orang yang tahan akan berbagai tekanan. Dengan modal itu mereka sampai pada harapan dan cita-citanya.
“Teguh adalah nafas pejuang kebenaran sepanjang zaman mereka tidak hanyut di air, tak hangus di api dan tak melayang diudara, tak goyah oleh tumpukan harta, kemilau tahta dan rayuan dunia. kiprah mereka hanya satu tetap teguh dalam bergerak dan terus bergerak dalam keteguhan...” - Ust. Rahmat Abdullah
You Are What You Read
By : Ave Ry
Setuju atau tidak, "Apa yang kamu baca, itulah yang ada dipikiranmu" ?. Sebenarnya, pernyataan ini menyambung dari quote seorang filsuf asal Jerman, Martin Heidegger ;
“Tell me how you read and I'll tell you who you are.”
Jadi, saya berasumsi bahwa sebanyak dan sesering seseorang membaca suatu topik maka hal itu akan menjadi sebuah mindset tersendiri baginya. Pola pikir yang terbentuk akibat masukan-masukan eksternal dan akhirnya menghasilkan sebuah opini. Dan pada era digital saat ini, bacaan tentu bukan melulu melalui sebuah buku, ia bisa jadi berbentuk artikel-artikel singkat di media sosial, atau bahkan status, cuitan di Facebook dan Twitter.
Saya kerap mengamati bahwa terdapat kubu-kubu yang masing-masing berdiri diatas prinsip-prinsip, entah itu yang berangkat dari sosial-kemasyarakatan, idealisme penokohan atau keagamaan. Yang satu dengan lainnya unfortunately saling merendahkan. Padahal, jika jawaban ya kita katakan pada pertanyaan saya diatas, tidak perlu sikap atau perkataan buruk kita keluarkan pada seseorang yang berbeda pendapat dengan kita.
Saya kerap mengamati bahwa terdapat kubu-kubu yang masing-masing berdiri diatas prinsip-prinsip, entah itu yang berangkat dari sosial-kemasyarakatan, idealisme penokohan atau keagamaan. Yang satu dengan lainnya unfortunately saling merendahkan. Padahal, jika jawaban ya kita katakan pada pertanyaan saya diatas, tidak perlu sikap atau perkataan buruk kita keluarkan pada seseorang yang berbeda pendapat dengan kita.
Katakanlah, kali ini saya sedang mengambil studi kasus, "Pengaruh News feed pada pengguna Facebook". Sebenarnya seberapa besar News feed ini mempengaruhi opini publik? Besar! Bahkan sangat besar. Tapi bagaimana hal itu terjadi? Technically, Facebook mungkin pada awalnya secara random men-sugesti pertemanan kita. Namun lambat laun, pergerakan like, comment dan status kita akan mengerucut menjadi sebuah skema besar. Maka secara sadar atau tidak, News feed menjadi sebuah channel besar persebaran informasi yang secara pasti melibatkan opini.
Jika kamu penyuka Flora & Fauna, maka bertebaranlah gambar-gambar tanaman dan hewan di News feed. Begitu pula jika kamu bagian dari sebuah kegiatan politik tertentu, tidak akan sulit bagi kamu menemukan kabar terbaru darinya. Nah, inilah dia rumitnya! Seseorang yang berpandangan X misalkan, akan membaca secara terus-menerus kabar-berita tentang pandangan X sehingga hal tersebut menjadi mindset baginya. Lalu seseorang dengan pandangan Y mengatakan bahwa pandangan X salah. Mengapa demikian? Tentu karena ia terus-menerus membaca pandangan Y.
Ironis tidak? Sebagian besar mungkin akan dengan sangat mudah men-justifikasi pemikiran seseorang yang terbentuk karena sumber bacaan. Maka tidak bisa tidak, kita harus lebih banyak membaca bukan hanya dari lingkaran tapi juga disekitar kita. Dengan begitu, seseorang akan menjadi lebih bijak dalam bersikap dan berkata-kata.
Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana dengan seseorang yang tidak suka membaca!? Wahai, sesungguhnya ia akan menjadi generasi yang mudah terombang-ambing :D
Tag :
Lintas Minda,
Renungan,
Bi'ah Islamiyah Kita
By : Ave Ry
Bi'ah islamiyah kita, tercarut padu dengan debu.
Ia bergulung rindu, menggugu kemana ruhnya tertuju?
Duhai, ruh itu bagaikan sebaris tentara. Ia berpadu karena saling mengenal.
Bahkan, satu kali tatapan seharga ribuan genggaman.
Lalu bagaimanakah kau akan memaksaku, mengenalmu jika tiada bayang terlupuk difikiranku.
Bahasamu dimana berlayar muatan kalbu tidak menyentuh bahkan bila setiap hela-nya berbalut safir.
Maka bi'ah islamiyah kita, disanalah ia mengalir.
Bergelombang dalam muara kebaikan, terus berdzikir.
Teruntuk wajah-wajah sayu, dan mereka yang lelah dalam tunggu.
Doa rabithoh tercurah padamu.
Semoga DIA bersama kita selalu, dalam ketaatan dan surga yang kita tuju.
Mensuci Hati, Berlurus Pikir
By : Ave Ry“Untuk mencapai cara berpikir yang lurus, cara berpikir yang benar, jauhkan dirimu dari hawa nafsu. Karena hawa nafsu lah yang membuat manusia tidak bisa berpikir dengan lurus.”
~ Syaikh Sayyid Syaltut
Dan berapa banyaknya para pengusung Liberalisme yang berdiaspora dan masuk kedalam sel-sel berbagai aliran sesat dan perilaku menyimpang berlindung dibalik tameng akademis/keilmuwan mereka?
Namun sungguh disayangkan, anugrah yang dikaruniakan Tuhan pada mereka malah membuat mereka menjadi agen-agen yang bertugas membelokkan manusia dari kerangka berpikir yang lurus.
Hawa nafsu memiliki peran yang teramat besar dalam menggelincirkan manusia dari fithrahnya. Terlebih lagi jika para pengusungnya menggunakan dalil-dalil agama untuk menambal kesalah-tafsiran mereka.
Allah Subhana wa ta’ala telah memperingatkan manusia bahwa hanya orang-orang yang suci lah, bersih hati dan pikirannya, yang dapat tersentuh oleh Al-Qur’an.
“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.”
(Al-Waqi’ah: 79)
Maka tidak ada jalan lain, kesucian hati dalam rangka menopang cara berpikir yang lurus dan benar sesuai kehendak Sang Pencipta adalah hal yang mutlak dilakukan.
Pada tempat lain Allah Subhana wa ta’ala membimbing kita agar meneladani Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.”
(Ash-Shaffat: 84)
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata di dalam tafsirnya, “Yakni dia datang menghadap Allah dengan membawa hati yang selamat dari kesyirikan, syubhat-syubhat, dan syahwat-syahwat yang bisa menghalanginya dari mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Apabila hati seorang hamba telah selamat dari hal-hal di atas, maka hati tersebut akan terhindar dari segala keburukan-keburukan, dan sebaliknya hati tersebut akan memunculkan kebaikan-kebaikan. Dan di antara bentuk keselamatan hati adalah bahwa ia selamat dari perbuatan menipu daya manusia, serta selamat dari hasad dan dari berbagai bentuk akhlak yang tercela.”
Semoga Allah Subhana wa ta’ala menjaga kita dari hawa nafsu yang tercela.
“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar.” (HR. Tirmidzi no. 3591)
Aku Tidak Lebih Baik dari Kalian
By : Ave Ryﺍﻟﺤَﻤْﺪُ ﻟﻠﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺃَﻇْﻬَﺮَ ﺍﻟﺠَﻤِﻴْﻞَ ﻭَﺳَﺘَﺮَ ﺍﻟﻘَﺒِﻴْﺢَ
“Segala puji bagi Allah yang menampakkan yang baik dan menutupi yang buruk.”
Menjadi seorang Muslim/Muslimah yang telah ter-tarbiyah adalah sebuah beban tersendiri apalagi jika ia berada dalam lingkungan yang penuh dengan keragaman. Sosoknya sedikit banyak akan menjadi sorotan public.
Bagi saya pribadi, hal ini amat berat. Kita secara tidak langsung dituntut untuk bersikap ‘lebih’. Untuk seorang akhwat saya contohkan, ketika ia telah berazzam untuk menutupi tubuhnya dengan penutup sesuai perintah agama lalu ia juga terlihat aktif mengikuti kajian maka orang-orang sekitarnya akan ‘men-stempel’ dirinya dengan cap sesuai persangkaan yang ada pada orang banyak.
Pertanyaan-pertanyaan seputar agama banyak dialamatkan padanya, baik itu dari orang yang mengenalnya dekat maupun dari orang yang memperhatikannya selintas lalu. Kemudian jika ia berada dalam sebuah tempat ibadah umum dan akan melaksanakan shalat wajib maka tetiba ia didaulat untuk mengimami. Dan masih banyak contoh yang lain.
Salah satu karib saya beberapa kali mengeluhkan hal ini, “Aku tidak sebaik apa yang kalian pikirkan” begitu curhatnya. Dalam hati sayapun mengamini, bahkan saya lebih dalam lagi. Perasaan tidak pantas adalah perasaan yang mungkin sulit dimengerti bagi sebagian orang. Ini bukan persoalan minder, rendah diri atau yang semacam itu namun perasaan yang penuh dengan kesadaraan bahwa diri yang seringkali dijadikan percontohan, panutan tidak lebih dari seorang manusia yang baru saja meniti, belajar sambil mengamalkan dengan amalan yang jika tidak ada maka ia amat sedikit sekali.
Malu, mungkin kata ini dapat sedikit menggambarkan. Andai saja orang lain mengetahui keburukan-keburukan yang ada, dan yang terpenting adalah malu kepada-Nya. Bagaimana dapat mengangkat wajah nanti dihadapan-Nya? Secuil amal yang terbalut dengan selimut dosa.
Maka, dengan rasa malu yang tersembunyi, beban itu sudah seharusnya berganti. Ya, beban yang bertransformasi menjadi tanggung jawab. Tanggung jawab untuk menggiatkan diri lebih baik lagi. Bukankah Rasulullah berpesan, “Bertakwalah kamu kepada Allah dimana dan kapan saja kamu berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu menghapus keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan ahlak yang baik” (HR at-Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim, al-Baihaqi, al-Bazar dan Abu Nu’aim dari Abu Dzar al-Ghiffari)
ﺃَﻟﻠﻬُﻢَّ ﻻَ ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧِﻲْ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻟُﻮْﻥَ، ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْﻟِﻲْ ﻣَﺎﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮْﻥَ، ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻨِﻲْ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﻈُﻨُّﻮْﻥَ
“Ya Allah, jangan Engkau tuntut aku dengan apa yang mereka katakan (ucapkan), dan ampunilah aku atas apa-apa yang mereka tidak ketahui dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan.”
Mencintai Khilafah, Kok Jadi Generasi Pemarah?
By : Ave Ry
Akhir-akhir ini beranda Facebook saya dipenuhi dengan status-status penuh amarah, kebencian, sarkasme. Ya, entah sejak kapan hal itu berlangsung ; kebencian meluap-luap atas segala yang terjadi, mulai dari kebencian pada pejabat atau pemerintah keseluruhan, system, kelompok. Tidak satupun tertinggal untuk dikritik, tidak satupun tertinggal untuk dicela bahkan dilaknat.
Pertanda apakah ini? Muncul generasi-generasi pemarah, pembenci. Hilangnya kepercayaan dan bahkan adab berucap. Masing-masing pihak merasa dirinya paling benar. Ah, rasanya rindu berada di zaman itu, di zaman sebenar khilafah tertegak. Dimana si mukmin nyaman dan si munafik tak tentram, bukan seperti sekarang yang terbalik, si munafik nyaman dan si mukmin tak tentram.
Ada sebuah kisah yang akan terus disadur karena kebaikan isinya, dan bahkan setelah membacanya untuk ke sekian kali saya masih saja berkaca-kaca. Masih adakah?
Umar bin khattab sedang duduk di bawah sebatang pohon kurma. Surbannya di lepas, menampakkan kepala yang rambutnya mulai teripis di beberapa bagian. Di atas kerikil ia duduk, dengan cemeti umatar nya tergeletak di samping tumpuan lengan. Di hadapannya para pemuka shahabat bertukar pikiran dan membahas berbagai persoalan. Ada anak muda yang tampak menonjol di situ. Abdullah ibn Abbas. Berulang kali Umar memintanya berbicara. Jika perbedaan wujud, Umar hampir selalu bersetuju dengan Ibnu Abbas. Ada juga Salman Al-Farisi yang tekun menyimak. Ada juga Abu Dzar Al-Ghifari yang sesekali bicara berapi-api.
Pembicaraan mereka segera terjeda. Dua orang pemuda berwajah mirip datang dengan mengapit pria belia lain yang mereka cekal lengannya. “Wahai Amirul Mukminin,” Ujar salah satu berseru-seru, “Tegakkanlah hukun ALLAH atas pembunuhan ayah kami ini!”
Umar bangkit
”Takutlah kalian kepada ALLAH!” hardiknya, “Perkara apakah ini?” kedua pemuda itu menegaskan bahwa pria belia yang mereka bawa ni adalah pembunuh ayah mereka. Mereka siap mendatangkan saksi dan bahkan menyatakan bahwa si pelaku ini telah mangaku. Umar bertanya kepada sang tertuduh. “Benarkah yang mereka dakwakan kepadamu ini?” “Benar wahai Amirul Mukminin!” “Engkau tidak menyangkal dan di wajahmu kulihat ada sesal!” ujar Umar menyelidik dengan teliti. “Ceritakanlah kejadiannya!” “Aku datang dari negeri yang jauh” kata belia itu. “Begitu sampai di Kota ini ku tambatkan kudaku di sebuah pohon dekat kebunmilik keluarga mereka. Ku tinggalkan ia sejenak untuk mengurus suatuhajat tanpa aku tahu ternyata kudaku mulai memakan sebagian tanaman yang ada di kebun mereka.” “Saat aku kembali,” lanjutnya sembari menghela nafas, “Kulihat seorang lelaki tua yang kemudian aku tahu adalah ayah dari kedua pemuda ini sedang memukul kepala kudaku dengan batu hingga hewan malang itu tewas menggenaskan. Melihat kejadian itu, aku di bakar amarah dan kuhunus pedang. Aku khilaf, aku telah membunuh lelaki tua itu. Aku memohon ampun kepada ALLAH karenanya”
Umar tecenung
“Wahai Amirul mukminin,” kata salah satu dari kedua kakak beradik itu, “Tegakkanlah hukum ALLAH. Kami meminta qishash atas orang ini. Jiwa dibayar dengan jiwa. Umar melihat pada belia tertuduh itu. Usianya masih sangat muda. Pantas saja dia mudah dibakar hawa amarah. Tapi sangat jelas bahwa wajahnya teduh. Akhlaknya santun. gurat-gurat sesal tampak jelas membayang di air mukanya. Umar iba dan merasa alangkah sia-sianya jika anak muda penuh adab dan berhati lembut ini harus mati begitu pagi.
Waktu tiga hari yang disediakan untuk sang terhukum nyaris habis. Umar gelisah tak karuan. Dia mondar mandir sementara Salman duduk khusu’ di dekatnya. Salman tampak begitu tenang padahal jiwanya di ujung tanduk. Andai lelaki pembunuh itu tak datang memenuhi janji, maka dirinyalah selaku penjamin yang akan menggantikan tempat sang terpidana untuk menerima qishash.
Umar bin khattab sedang duduk di bawah sebatang pohon kurma. Surbannya di lepas, menampakkan kepala yang rambutnya mulai teripis di beberapa bagian. Di atas kerikil ia duduk, dengan cemeti umatar nya tergeletak di samping tumpuan lengan. Di hadapannya para pemuka shahabat bertukar pikiran dan membahas berbagai persoalan. Ada anak muda yang tampak menonjol di situ. Abdullah ibn Abbas. Berulang kali Umar memintanya berbicara. Jika perbedaan wujud, Umar hampir selalu bersetuju dengan Ibnu Abbas. Ada juga Salman Al-Farisi yang tekun menyimak. Ada juga Abu Dzar Al-Ghifari yang sesekali bicara berapi-api.
Pembicaraan mereka segera terjeda. Dua orang pemuda berwajah mirip datang dengan mengapit pria belia lain yang mereka cekal lengannya. “Wahai Amirul Mukminin,” Ujar salah satu berseru-seru, “Tegakkanlah hukun ALLAH atas pembunuhan ayah kami ini!”
Umar bangkit
”Takutlah kalian kepada ALLAH!” hardiknya, “Perkara apakah ini?” kedua pemuda itu menegaskan bahwa pria belia yang mereka bawa ni adalah pembunuh ayah mereka. Mereka siap mendatangkan saksi dan bahkan menyatakan bahwa si pelaku ini telah mangaku. Umar bertanya kepada sang tertuduh. “Benarkah yang mereka dakwakan kepadamu ini?” “Benar wahai Amirul Mukminin!” “Engkau tidak menyangkal dan di wajahmu kulihat ada sesal!” ujar Umar menyelidik dengan teliti. “Ceritakanlah kejadiannya!” “Aku datang dari negeri yang jauh” kata belia itu. “Begitu sampai di Kota ini ku tambatkan kudaku di sebuah pohon dekat kebunmilik keluarga mereka. Ku tinggalkan ia sejenak untuk mengurus suatuhajat tanpa aku tahu ternyata kudaku mulai memakan sebagian tanaman yang ada di kebun mereka.” “Saat aku kembali,” lanjutnya sembari menghela nafas, “Kulihat seorang lelaki tua yang kemudian aku tahu adalah ayah dari kedua pemuda ini sedang memukul kepala kudaku dengan batu hingga hewan malang itu tewas menggenaskan. Melihat kejadian itu, aku di bakar amarah dan kuhunus pedang. Aku khilaf, aku telah membunuh lelaki tua itu. Aku memohon ampun kepada ALLAH karenanya”
Umar tecenung
“Wahai Amirul mukminin,” kata salah satu dari kedua kakak beradik itu, “Tegakkanlah hukum ALLAH. Kami meminta qishash atas orang ini. Jiwa dibayar dengan jiwa. Umar melihat pada belia tertuduh itu. Usianya masih sangat muda. Pantas saja dia mudah dibakar hawa amarah. Tapi sangat jelas bahwa wajahnya teduh. Akhlaknya santun. gurat-gurat sesal tampak jelas membayang di air mukanya. Umar iba dan merasa alangkah sia-sianya jika anak muda penuh adab dan berhati lembut ini harus mati begitu pagi.
“Bersediakah kalian,” ucap Umar ke arah dua pemuda penuntut Qishash, “Menerima pembayaran diyat dariku atas nama pemuda ini dan memaafkan nya?”. Kedua pemuda itu saling pandang,”Demi ALLAH, hai Amirul mukminin” jawab mereka, “Sungguh kami sangat mencintai ayah kami. dia telah membesarkan kami dengan penuh cinta. keberadaannya di tengah kami takkan terbayar dan terganti dengan diyat sebesar apapun. Lagipula kami bukanlah orang miskinyang menghajatkan harta. Hati kami baru akan tenteram jika Had di tegakkan!”.
Umar terhenyak
“Bagaimana menurutmu?” tanyanya pada sang terdakwa. “Aku ridha hukum ALLAH di tegakkan atasku, wahai Amirul Mukminin” kata si belia dengan yakin. “Namun ada yang menghalangiku untuk sementara ini. Ada amanah dari kaumku atas beberapa benda maupun perkara yang harus aku sampaikan kembali pada mereka. demikian juga keluargaku. aku bekerja untuk menafkahi mereka. Hasil Jerih payah di perjalanan terakhirku ini harus aku serahkan pada mereka sembari berpamitan memohon ridha dan keampunan ayah ibuku”
Umar terhenyuh
Tak ada jalan lain. hudud harus di tegakkan. Tetapi pemuda itu juga memiliki amanah yang harus di tunaikan. “Jadi bagaimana?” tanya Umar. “Jika engkau mengijinkanku, wahai Amirul Mukminin, aku minta waktu tiga hari untuk kembali ke daerah asalku guna menunaikan segala amanah itu. Demi ALLAH, aku pasti kembali di hari ketiga untuk menetapi hukumanku. Saat itu tegakkanlah had untukku tanpa ragu, wahai putra Al-Khattab”. “Adakah orang yang isa menjaminmu?”. “Aku tidak memiliki seorangpun yang kukenal di kota ini hingga dia bisa kuminta menjadi penjamin ku. Aku tak memiliki seorangpun penjamin kecuali ALLAH yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”. “Tidak! Demi ALLAH, tetap harus ada seseorang yang menjaminmu atau aku tak bisa mengizinkanmu pergi.”. “Aku bersumpah dengan nama ALLAH yang amat keras azabnya. Aku takkan menyalahi janjiku.”. “Aku percaya, tapi tetap harus ada manusia yang menjaminmu!”. “Aku tak punya!”.
“Wahai Amirul Mukminin!” terdengar sebuah suara yang berat dan berwibawa menyela. “Jadikan aku sebagai penjamin anak muda ini dan biarkanlah ia menunaikan amanahnya!” inilah dia, Salman Al Farisi yang tampil mengajukan diri. “Engkau hai Salman, bersedia menjamin anak muda ini?”. “Benar. Aku bersedia!”. “Kalian berdua kakak beradik yang mengajukan gugatan,”panggil Umar, “Apakah kalian bersedia menerima penjaminan dari Salman Al Farisi atas orang yang telah membunuh ayah kalian ini? Adapun Salman demi ALLAH, aku bersaksi tentang dirinya bahwa dia lelaki ksatria yang jujur dan tak sudi berkhianat”. Kedua pemuda itu saling pandang. “Kami menerima,” kata mereka nyaris serentak.
“Wahai Amirul Mukminin!” terdengar sebuah suara yang berat dan berwibawa menyela. “Jadikan aku sebagai penjamin anak muda ini dan biarkanlah ia menunaikan amanahnya!” inilah dia, Salman Al Farisi yang tampil mengajukan diri. “Engkau hai Salman, bersedia menjamin anak muda ini?”. “Benar. Aku bersedia!”. “Kalian berdua kakak beradik yang mengajukan gugatan,”panggil Umar, “Apakah kalian bersedia menerima penjaminan dari Salman Al Farisi atas orang yang telah membunuh ayah kalian ini? Adapun Salman demi ALLAH, aku bersaksi tentang dirinya bahwa dia lelaki ksatria yang jujur dan tak sudi berkhianat”. Kedua pemuda itu saling pandang. “Kami menerima,” kata mereka nyaris serentak.
*****
Waktu tiga hari yang disediakan untuk sang terhukum nyaris habis. Umar gelisah tak karuan. Dia mondar mandir sementara Salman duduk khusu’ di dekatnya. Salman tampak begitu tenang padahal jiwanya di ujung tanduk. Andai lelaki pembunuh itu tak datang memenuhi janji, maka dirinyalah selaku penjamin yang akan menggantikan tempat sang terpidana untuk menerima qishash.
Waktu terus merambat. Belia itu masih belum muncul. Kota Madinah mulai terasa kelabu. Para shahabat berkumpul mendatangi Umar dan Salman. Demi ALLAH, mereka keberatan jika Salman harus di bunuh sebagai badal. Mereka sungguh tak ingin kehilangan sahabat yang pengorbanannya untuk islam begitu besar itu. Salman seorang sahabat yang tulus dan rendah hati. Dia di hormati. Dia dicintai. Satu demi satu, dimulai dari Abi Darda’, beberapa shahabat mengajukan diri sebagai pengganti Salman jika hukuman benar-benar dijatuhkan padanya. Tetapi Salma menolak. Umar juga menggeleng.
Matahari semakin langsir ke Barat. Kekhawatiran Umar makin memuncak. Para shahabat makin kelut dan sedih. Hanya beberapa saat menjelang habisnya batas waktu, tampak seseorang datang dengan berlari tertatih dan terseok. Dia pemuda itu, sang terpidana.
“Maafkan aku,” ujarnya dengan senyum tulus sembari menyeka keringat yang membasahi sekujur wajah, urusan dengan kaumku itu ternyata berbelit dan rumit sementara untaku tak sempat istirahat. Ia kelelahan nyaris sekarat dan terpaksa kutinggal di tengah jalan. aku harus berlari-lari untuk sampai kemari sehingga nyaris terlambat.” Semua yang melihat wajah dan penampilan pemuda ini merasakan satu sergapan iba. semua yang mendengar penuturannya merasakan keharuan yang mendesak-desak.
Semua tiba-tiba merasa tak rela jika sang pemuda harus berakhir hidupnya di hari itu. “Pemuda yang jujur” ujar Umar dengan mata berkaca-kaca, “Mengapa kau datang kembali padahal bagimu ada kesempatan untuk lari dan tak harus mati menanggung qishash?”. “Sungguh jangan sampai orang mengatakan,” kata pemuda itu sambil tersenyum ikhlas, “Tak ada lagi orang yang tepat janji. dan jangan sampai ada yang mengatakan, tak ada lagi kejujuran hati di kalangan kaum muslimin”.
“Dan kau Salman,” kata Umar bergetar, “Untuk apa kau susah-susah menjadikan dirimu penanggung kesalahan dari orang yang tak kau kenal sama sekali? Bagaimana kau bisa mempercayainya?”. “Sungguh jangan sampai orang bicara,” ujar Salman dengan wajah teguh, “Bahwa tak ada lagi orang yang mau saling membagi beban dengan saudaranya. Atau jangan sampai ada yang merasa, tak ada lagi saling percaya di antara orang-orang Muslim.”. “ALLAHU AKBAR!” kata Umar, “Segala puji bagi ALLAH. kalian telah membesarkan hati ummat ini dengan kemuliaan sikap dan agungnya iman kalian. Tetapi bagaimanapun wahai pemuda, had untukmu harus kami tegakkan!”
Pemuda itu mengangguk Pasrah. “Kami memutuskan…” Kata kakak beradik penggugat tiba-tiba menyeruak, “Untuk memaafkannya.” mereka tersedu sedan. “Kami melihatnya sebagai seorang yang berbudi dan tepat janji. Demi ALLAH, pasti benar-benar sebuah kekhilafan yang tak disengaja jika dia sampai membunuh ayah kami. Dia telah menyesal dan beristighfar kepada ALLAH atas dosanya. Kami memaafkannya. Janganlah menghukumnya, wahai Amirul Mukminin”. “Ahamdulillah!, Alhamdulillah!” ujar Umar.
Pemuda terhukum itu sujud syukur. Salman tak ketinggalan menyungkurkan wajahnya ke arah kiblat mengagungkan Asma ALLAH, yang kemudian bahkan diikuti oleh semua hadirin. “Mengapa kalian tiba-tiba berubah pikiran?” tanya Umar pada kedua ahli waris korban. “Agar jangan sampai ada yang mengatakan,” jawab mereka masih terharu, “Bahwa di kalangan kaum muslimin tak ada lagi kemaafan, pengampunan, iba hati dan kasih sayang”
Pemuda terhukum itu sujud syukur. Salman tak ketinggalan menyungkurkan wajahnya ke arah kiblat mengagungkan Asma ALLAH, yang kemudian bahkan diikuti oleh semua hadirin. “Mengapa kalian tiba-tiba berubah pikiran?” tanya Umar pada kedua ahli waris korban. “Agar jangan sampai ada yang mengatakan,” jawab mereka masih terharu, “Bahwa di kalangan kaum muslimin tak ada lagi kemaafan, pengampunan, iba hati dan kasih sayang”
Tag :
Opini,











