Iri… Boleh gak ya?



“ Hadeh… Sedih bagnet ya Si, terima gaji hari ini, besok langsung manyun lagi “
“ Ho’oh Ry! Desi juga sama, udah abis gajiannya buat bayar ini itu, tinggal buat ongkos doank “

Ikhwah fillah, kasus seperti ini rasa-rasanya banyak yang pengalaman ( cari dukungan sih sebenarnya, hehe ). Pendapatan pas-pasan tapi pengeluaran gak juga menyusut…

“ Gimana ya Si, ongkos dua puluh ribu cukup apa kita ke Bekasi? “
“ Bismillah aja Ry, niat kita Tholabul ‘ilmi, Insya Allah dibantu “


“ Nah, Desi bilang juga apa ?! pasti dibantu Ry! Buktinya kita sekarang dimobil pribadi, ber-AC lagi, hehe “
“ Enak ya Si mereka bisa kemana-mana naik mobil sendiri… bisa traktir-traktir “
“ Ho’oh, Desi juga mau kayak mereka, jadi gak cape-cape jalan kaki terus, kapan ya kita jadi orang… “
“ Memang sekarang kita apa? Orang-orangan sawah? “
“ Hehe “

Ikhwah fillah, banyak di antara kita yang berpikir ‘ orang Islam yang taat perasaan hidupnya menderita terus… Orang Islam yang gak taat gampang aja hidupnya, mau apa ada… Apalagi orang kafir, jadi raja dunia! ‘

“ Coba ya kalo kita dikasih rezeki sama Allah kayak ukhti Raisa, bisa nyumbang buat rumah singgah buat anak jalanan, buat perpustakaan, nyumbang buat rumah sakit di Gaza… “

“ Ho’oh Ry, kalo kayak ukhti Raisa tuh enak, dia benar-benar menyalurkan rezeki yang dititipin sama Allah dengan baik. Kan banyak juga orang kaya yang pelit Ry, malah ngambur-ngamburin duit buat pasang behel, pasang silicon, sedot lemak, nyambung rambut, ngeritingin bulu mata… “

“ Yah, begitulah… kuliah tinggal jalan, uamg saku gak pernah kurang, tinggal bilang mama papa. Orang tua yang penting anaknya bertitel! “

Kok kita gak seperti mereka ya… hidup sepertinya mudah banget, orang tua kaya, fasilitas ada, tampang keren, dsb..

Ikhwah fillah, pernah tidak kita mencoba memposisikan diri sebagai orang yang berasal dari keturunan ‘biasa’, hidup biasa, sampai tua teteup aja biasa, hehe ( ini buat antum yang hidupnya di atas rata-rata )

Dalam syari’at kita diwajibkan bershaum satu bulan penuh di bulan Romadhon, menahan lapar dan dahaga dari mulai fajar hingga terbenamnya matahari. Tapi, apakah pada saat-saat tersebut kita benar-benar bisa menghayati dan memahami kelih kesah para dhuafa? Saat sahur kita disuguhkan berbagai menu, begitupun disaat berbuka berbagai hidangan telah siap tersedia. Dikala siang hari kita tidak harus berpikir bagaimana caranya memperoleh makanan, jangankan untuk esok hari, untuk malamnya saja tidak tahu harus bagaimana

Ikhwah fillah, percayalah… mungkin kita tidak menyadari terdapat banyak orang yang ‘iri’ melihat kehidupan kita. Tukang Koran iri melihat pemilik kios, pemilik kios iri melihat karyawan, karyawan iri melihat atasan, atasan iri pada…. Dst, dst

Iri disini bukan sebuah bentuk kebencian lantas ingin mencelakakan, bukan! Tapi iri terhadap sesuatu yang tak tersampaikan, mengelus dada, bersedih hati…

Menurut antum, para sahabat Rasululullah Saw ada yang pernah iri tidak? Sepertinya tidak ada… Masa sahabat Rasululullah saw iri!

Menurut hadist dalam shohih Muslim seperti yang disampaikan oleh Abu Dzar r.a. bahwa beberapa orang sahabat Nabi SAW pernah berkata kepada beliau sbb:”Kaum hartawan dapat memperoleh pahala yang lebih banyak. Mereka shalat seperti kami shalat,puasa seperti kami puasa, dan bersedekah dengan sisa harta mereka.”

Jawab Rasulullah Saw:”Bukankah Alloh telah menjadikan berbagai macam cara untuk kamu bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat takbir adalah sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap kalimat tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf dan nahyi munkar (mengajak kepada kepada kebajikan dan melarang kepada yang mungkar) adalah sedekah, bahkan pada kemaluanmu pun terdapat pula unsur sedekah.”

Wah, ternyata ada di antara sahabat Rasulullah saw yang iri! Tapi… Iri yang ada dalam diri para sahabat tersebut adalah iri yang tidak mengandung dosa, Insya Allah…

Mereka iri karena tidak dapat menandingi sahabat-sahabat yang lain dalam hal bershodaqoh, padahal shodaqoh itu adalah amalan yang utama, namun tentu saja Rasululullah Saw memberikan solusinya berupa tuntunan bagaimana amalan yang dapat menyamai amalan shodaqoh itu

"Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain."
(HR. Muslim).

Dari Ibnu Umar r.a, Rasulullah saw brsabda, “Iri hati (hasad) itu tidak dibolehkan kecuali terhadap dua hal: Seseorang yang dikaruniai Allah kemampuan membaca al Quran dan ia terus-menerus dalam keadaan demikian siang dan malam, dan seseorang yang dikaruniai harta yang banyak oleh Allah dan ia membelanjakannya siang dan malam (di jalan Allah) .” (Hr.Bukhari,Tirmidzi, dan Nasai)

Jadi ya ayyuhal ikhwah, iri yang seperti ini wajar adanya, namun tidak kemudian membuat focus kita dalam beribadah jadi terganggu

Ikhwah fillah, percayalah… Allah Maha Tahu akan keadaan hamba-hamba-Nya

Bagi yang mempunyai kehidupan ‘biasa’, yakini bahwa hal itu adalah yang terbaik bagi kita. Allah tidak ingin kita berbuat seperti kaum yang suka berfoya-foya dengan harta mereka, sebab Allah tahu akan sifat kita yang apabila diberi kelebihan harta maka kita mungkin saja akan mudah terlena. Sedangkan Allah sangat menyayangi kita, Dia tidak ingin kita terjerumus dalam gemerlapnya perhiasan dunia yang tidak lebih berharga bagi-Nya dari pada sayap seekor nyamuk


Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.
Al-Hijr : 88

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.
Thoohaa : 131


0 komentar:

Posting Komentar

 

Instagram

Get My G+