Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Berlari Menuju Allah

By : Ave Ry

Dalam bahasa Arab, kata al-firar yang berarti berlari biasanya digunakan untuk mengungkapkan lari dari sesuatu yang ditakuti. Lari karena dikejar singa, anjing gila, atau musuh misalnya. Untuk lari mengejar sesuatu digunakan kata yang lain : jara-yajri-jirayah.

Apabila seseorang berlari karena dikejar singa, dia pasti akan fokus kepada upaya penyelamatan dirinya. Dia tidak akan peduli jika—misalnya—ada duri atau paku yang menusuk kakinya. Dia tidak akan peduli juga jika—misalnya—seseorang memintanya untuk berhenti dan akan diberi setumpuk harta. Dia tetap akan berlari sekencang-kencangnya.

Dengan firman-Nya ini Allah memerintahkan kita semua supaya berlari menuju Allah. Berlari menuju kepada-Nya seperti bila kita berlari dikejar singa. Berlari kencang tanpa mempedulikan rasa sakit yang mungkin dirasa raga atau terpedaya oleh bujuk-rayu dunia.

Dalam karya monumentalnya, Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim al-Jawziyah menerangkan, langkah awal dari berlari kepada Allah ini meliputi tiga hal. Berlari dari kejahilan menuju ilmu, berlari dari kemalasan menuju semangat, dan berlari dari sesaknya dada menuju kelapangannya.

Dari kejahilan menuju ilmu

Orang yang jahil menurut Islam bukan hanya orang yang tidak mempunyai pengetahuan tentang sesuatu. Orang yang pengetahuan dan cakrawala berpikirnya luas pun bisa menjadi orang yang jahil. Menurut Islam, ilmu meliputi pengetahuan tentang kebenaran dan mengamalkan kebenaran yang telah diketahui itu.

Ketika Nabi Yusuf as. dipaksa untuk berbuat nista, beliau—sebagaimana diabadikan oleh Allah dalam surat Yusuf: 33—mengadu, “Wahai Rabb-ku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Jika Engkau tidak menghindarkan aku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang jahil.”

Mengetahui bahwa perbuatan zina adalah perbuatan yang buruk tidak mengeluarkan seseorang dari kejahilan sampai dia menjauhinya. Demikian pula dengan perintah dan larangan Allah yang lain. Mengetahui bahwa shalat itu wajib tidak mengeluarkan seseorang dari kejahilan sampai dia menegakkannya.

Amru bin Hisyam yang sebelum datangnya Islam digelari dengan Abul Hakam karena kecerdasan dan ketinggian ilmunya, mendapatkan gelar Abu Jahal karena tidak mau mengikuti kebenaran. Amru bin Hisyam pasti memahami dan dapat mencerna semua yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Tetapi karena ilmunya tidak diikuti dengan pengewantahan, dia tidak dianggap sebagai orang yang berilmu. Sebaliknya, dia dinyatakan sebagai orang yang jahil.

Dari kemalasan menuju semangat

Ibnul Qayyim menyatakan bahwa sifat malas, menunda-nunda amal, berandai-andai, dan yang sejenis dengannya sangat berbahaya bagi seseorang. Kemalasan laksana pohon yang hanya membuahkan kerugian dan penyesalan.

Ada beberapa ayat al-Qur`an yang mengisyaratkan agar kita menerima semua perintah Allah dengan segenap kesungguhan, penuh semangat. Allah berfirman,

خُذُوا مَا آَتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Peganglah dengan teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 63)

وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الْأَلْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلًا لِكُلِّ شَيْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ

“Telah Kami tuliskan untuk Musa pada lauh-lauh itu segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu. Maka (kami berfirman), ‘Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang pada (perintah-perintah-Nya) dengan sebaik-baiknya!’.” (Al-A’raf: 145)

Setiap muslim mesti berlari meninggalkan rasa malasnya menuju keteguhan dan semangat yang senantiasa berapi-api dalam segala kebaikan.

Dari dada sesak menuju dada lapang

Berikutnya hendaklah setiap muslim meninggalkan dadanya yang sesak sesegera mungkin menuju dada yang lapang. Sesaknya dada seseorang biasa datang saat dia khawatir dan gundah mengenai kemaslahatan dirinya, hartanya, atau keluarganya. Dia murung dan menekuknya wajah apabila ada ancaman terhadap diri, harta, atau keluarganya.

Ancaman yang hakiki adalah ancaman yang datang dari Allah. Ancaman yang datang hanya jika seseorang melanggar aturan-aturan-Nya. Ancaman yang datang dari selain Allah hanyalah ancaman yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan ancaman-Nya.

Sebenarnya jika seseorang tsiqqah (percaya) kepada Allah, bertawakal dengan benar, dan berbaik sangka kepada-Nya setelah berusaha untuk bertakwa kepada-Nya dg segenap kemampuannya, niscaya dadanya akan lapang. Ini sudah dijanjikan Allah. Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar (dari semua persoalan) baginya dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya “ (Ath-Thalaq: 2-3)

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Ath-Thalaq: 3)

Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Allah berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي

“Aku ada pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersama-Nya jika Dia berdoa kepada-Ku.”
Maka mari kita berlomba berlari menuju Allah. Wallahul muwaffiq. 



Artikel ini ditulis oleh ustadz Imtihan, dan dipublish berdasarkan izin beliau.

You Are What You Read

By : Ave Ry

Setuju atau tidak, "Apa yang kamu baca, itulah yang ada dipikiranmu" ?. Sebenarnya, pernyataan ini menyambung dari quote seorang filsuf asal Jerman, Martin Heidegger ;
“Tell me how you read and I'll tell you who you are.” 
Jadi, saya berasumsi bahwa sebanyak dan sesering seseorang membaca suatu topik maka hal itu akan menjadi sebuah mindset tersendiri baginya. Pola pikir yang terbentuk akibat masukan-masukan eksternal dan akhirnya menghasilkan sebuah opini. Dan pada era digital saat ini, bacaan tentu bukan melulu melalui sebuah buku, ia bisa jadi berbentuk artikel-artikel singkat di media sosial, atau bahkan status, cuitan di Facebook dan Twitter.

Saya kerap mengamati bahwa terdapat kubu-kubu yang masing-masing berdiri diatas prinsip-prinsip, entah itu yang berangkat dari sosial-kemasyarakatan, idealisme penokohan atau keagamaan. Yang satu dengan lainnya unfortunately saling merendahkan. Padahal, jika jawaban ya kita katakan pada pertanyaan saya diatas, tidak perlu sikap atau perkataan buruk kita keluarkan pada seseorang yang berbeda pendapat dengan kita.

Katakanlah, kali ini saya sedang mengambil studi kasus, "Pengaruh News feed pada pengguna Facebook". Sebenarnya seberapa besar News feed ini mempengaruhi opini publik? Besar! Bahkan sangat besar. Tapi bagaimana hal itu terjadi? Technically, Facebook mungkin pada awalnya secara random men-sugesti pertemanan kita. Namun lambat laun, pergerakan like, comment dan status kita akan mengerucut menjadi sebuah skema besar. Maka secara sadar atau tidak, News feed menjadi sebuah channel besar persebaran informasi yang secara pasti melibatkan opini.

Jika kamu penyuka Flora & Fauna, maka bertebaranlah gambar-gambar tanaman dan hewan di News feed. Begitu pula jika kamu bagian dari sebuah kegiatan politik tertentu, tidak akan sulit bagi kamu menemukan kabar terbaru darinya. Nah, inilah dia rumitnya! Seseorang yang berpandangan X misalkan, akan membaca secara terus-menerus kabar-berita tentang pandangan X sehingga hal tersebut menjadi mindset baginya. Lalu seseorang dengan pandangan Y mengatakan bahwa pandangan X salah. Mengapa demikian? Tentu karena ia terus-menerus membaca pandangan Y.

Ironis tidak? Sebagian besar mungkin akan dengan sangat mudah men-justifikasi pemikiran seseorang yang terbentuk karena sumber bacaan. Maka tidak bisa tidak, kita harus lebih banyak membaca bukan hanya dari lingkaran tapi juga disekitar kita. Dengan begitu, seseorang akan menjadi lebih bijak dalam bersikap dan berkata-kata.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana dengan seseorang yang tidak suka membaca!? Wahai, sesungguhnya ia akan menjadi generasi yang mudah terombang-ambing :D

Aku Tidak Lebih Baik dari Kalian

By : Ave Ry

ﺍﻟﺤَﻤْﺪُ ﻟﻠﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺃَﻇْﻬَﺮَ ﺍﻟﺠَﻤِﻴْﻞَ ﻭَﺳَﺘَﺮَ ﺍﻟﻘَﺒِﻴْﺢَ
“Segala puji bagi Allah yang menampakkan yang baik dan menutupi yang buruk.”

Menjadi seorang Muslim/Muslimah yang telah ter-tarbiyah adalah sebuah beban tersendiri apalagi jika ia berada dalam lingkungan yang penuh dengan keragaman. Sosoknya sedikit banyak akan menjadi sorotan public.

Bagi saya pribadi, hal ini amat berat. Kita secara tidak langsung dituntut untuk bersikap ‘lebih’. Untuk seorang akhwat saya contohkan, ketika ia telah berazzam untuk menutupi tubuhnya dengan penutup sesuai perintah agama lalu ia juga terlihat aktif mengikuti kajian maka orang-orang sekitarnya akan ‘men-stempel’ dirinya dengan cap sesuai persangkaan yang ada pada orang banyak.

Pertanyaan-pertanyaan seputar agama banyak dialamatkan padanya, baik itu dari orang yang mengenalnya dekat maupun dari orang yang memperhatikannya selintas lalu. Kemudian jika ia berada dalam sebuah tempat ibadah umum dan akan melaksanakan shalat wajib maka tetiba ia didaulat untuk mengimami. Dan masih banyak contoh yang lain.

Salah satu karib saya beberapa kali mengeluhkan hal ini, “Aku tidak sebaik apa yang kalian pikirkan” begitu curhatnya. Dalam hati sayapun mengamini, bahkan saya lebih dalam lagi. Perasaan tidak pantas adalah perasaan yang mungkin sulit dimengerti bagi sebagian orang. Ini bukan persoalan minder, rendah diri atau yang semacam itu namun perasaan yang penuh dengan kesadaraan bahwa diri yang seringkali dijadikan percontohan, panutan tidak lebih dari seorang manusia yang baru saja meniti, belajar sambil mengamalkan dengan amalan yang jika tidak ada maka ia amat sedikit sekali.

Malu, mungkin kata ini dapat sedikit menggambarkan. Andai saja orang lain mengetahui keburukan-keburukan yang ada, dan yang terpenting adalah malu kepada-Nya. Bagaimana dapat mengangkat wajah nanti dihadapan-Nya? Secuil amal yang terbalut dengan selimut dosa.

Maka, dengan rasa malu yang tersembunyi, beban itu sudah seharusnya berganti. Ya, beban yang bertransformasi menjadi tanggung jawab. Tanggung jawab untuk menggiatkan diri lebih baik lagi. Bukankah Rasulullah berpesan, “Bertakwalah kamu kepada Allah dimana dan kapan saja kamu berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu menghapus keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan ahlak yang baik” (HR at-Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim, al-Baihaqi, al-Bazar dan Abu Nu’aim dari Abu Dzar al-Ghiffari)

ﺃَﻟﻠﻬُﻢَّ ﻻَ ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧِﻲْ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻟُﻮْﻥَ، ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْﻟِﻲْ ﻣَﺎﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮْﻥَ، ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻨِﻲْ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﻈُﻨُّﻮْﻥَ
“Ya Allah, jangan Engkau tuntut aku dengan apa yang mereka katakan (ucapkan), dan ampunilah aku atas apa-apa yang mereka tidak ketahui dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan.”

Parfume Istighfar

By : Ave Ry
"Untuk saat ini, parfum paling cocok buat kamu adalah istighfar, karena aroma dosa sudah mulai menyebar kemana-mana"

Tidak sengaja melihat status Ust. Saief Alemdar di beranda Facebook, saya jadi tertarik corat-coret mengabadikan ide beliau di Photoshop CS4, dan jadilah desain amatiran diatas. Well, belakangan ini sedang mulai tertarik belajar desain poster islami, jadi gabung aja di komunitas desainer muslim
Berkata Imam Ibnul Jauzi rahimahullah:
"Berminyak wangilah dengan istighfar, maka akan hilanglah darimu bau busuk dosa. Berminyak wangilah dan hilangkanlah dosamu dengan ucapan 'astaghfirullah wa atubu ilaih' (aku meminta ampun dan bertaubat kepada Allah)
Bahasan kali ini, berkaitan dengan status tadi. Ternyata beliau menyitir perkataan seorang Imam besar, Ibnul Jauzi rahimahullah. Istighfar sebagai pelebur dosa disertai dengan taubat. Tentu sudah tidak terhitung berapa banyak bahasan tentang istighfar. Jadi tulisan ini hanya sebagai peramai saja. 

Teringat pada salah satu kisah yang berkaitan, diriwayatkan melalui Jabir bin Abdullah Al Anshari r.a
Sesungguhnya bau menggunjing bisa tercium ketika zaman Rasulullah SAW. Sebab saat itu sangat jarang pergunjingan. Adapun zaman sekarang sangat banyak pergunjingan yang baunya menusuk hidung, bahkan hampir tak bisa membedakan. Ibaratnya lelaki yang masuk, orang ahli menyamak kulit, dia tidak akan betah dengan baunya yang busuk, namun penghuni sana terbiasa dengan keadaan kebusukan kulit, sebab bau itu terlalu sering memenuhi hidungnya. Demikianlah perumpamaan menggunjing pada zaman kita.

Masih dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, kami pernah bersama dengan Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba tercium bau busuk. Maka Beliau bertanya, 
“Tahukah kalian, bau apakah ini?. Ini adalah bau orang-orang yang suka mengghibah kaum mukminin” (HR. Bukhori)
Kisah diatas bisa juga kita gunakan atas dosa-dosa yang lainnya. Lihat saja sekeliling kita, begitu banyak maksiat dikerjakan, dosa pun bertebaran. Bahkan di zaman ini manusia sudah tidak lagi malu untuk menampilkan ke-maksiatan di muka umum. Acara ‘ghibah’ menjadi komoditas yang mempunyai daya jual tinggi, acara kemusyrikan sudah tidak lagi tabu, acara yang mengajak pada perzinaan malah disemarakkan dengan qasidahan, astaghfirullah hal ‘Azhim. 

Hal ini sungguh “Massif, terorganisir dan sistematis!” begitu ucap Bapak Prabowo.

Ya, berbagai acara yang mengandung kemaksiatan ini terlihat begitu massifnya. Lihat saja acara “Dangdut yang diselingi lomba qasidahan” yang ‘itu’. Sebelum itu acara serupa ini ada juga kan, acara berjoget ria sepanjang malam di tiap harinya. Yang lebih dulu lagi ada juga, acara joget-jogetan juga, sampai-sampai ada drama pencekalan artisnya segala. Tapi ini malah jadi strategi pemasaran yang luar biasa, di cekal satu malah tumbuh seribu!

Dan yang memprihatinkan dari semua itu, acara-acara tersebut ditonton, disimak baik-baik, ditiru oleh berbagai kalangan, anak-anak, remaja, ibu-ibu bahkan ‘kaum terpelajar’ pun tidak ketinggalan.

Betapa sistematisnya... acara yang sama di daur-ulang over and over. Dan begitu terorganisir karena menyebar di berbagai stasiun televisi. Sungguh, kita benar-benar harus ‘menyemprotkan’ parfume istighfar sebanyak-banyaknya pada tubuh kita! (Mohon maaf apabila kata ‘semprot’ kurang sopan, karena saya tidak menemukan kata bandingannya selain kata spray dalam bahasa Inggris).

Sobat, beristighfarlah! Tidak akan merugi orang yang beristighfar. Jangan pernah melazimkan pemikiran, “Aku berbuat dosa terus-menerus, jadi percuma beristighfar”. Ucapan demikian hanya berasal dari orang-orang yang putus asa. Sebaliknya, “Aku beristighfar terus-menerus, walaupun aku berbuat dosa lagi dan lagi”
“Bukanlah orang yang terus berbuat dosa orang yang meminta ampunan (beristighfar) walaupun ia kembali melakukan dosa dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi)
Namun jangan di mudah-mudahkan ya dalam memahami hadist, maksudnya beristighfarlah, bertaubat, lalu meng-azzamkan diri untuk tidak mengulangi dosa tersebut. Perkara dikemudian hari berulang lagi, ya bertaubat lagi!
“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar bertaubat orang yang berbuat jahat di siang hari dan Dia membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar bertaubat orang yang berbuat jahat di malam hari, sehingga matahari terbit dari barat (Kiamat).” (HR. Muslim).


Taqwa-Nya Tuh Disini, Didalam Hatiku

By : Ave Ry
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata: ”…taqwa itu disini, seraya menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali…” (HR. Muslim)
Apa yang dimaksudkan Rasulullah ialah taqwa itu tempatnya di lubuk hati, bukan di ujung lidah, sebab apa yang diucapkan oleh lidah belum tentu sama dengan apa yang bersemayam di hati.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.” (HR. Muslim)

Ibnu Daqiq Al ‘id -rahimahullah- menjelaskan

Maknanya, amalan dhohir (yang tampak) belum tentu dapat menghasilkan ketaqwaan, namun ketaqwaan itu adalah apa yang terdapat di dalam hati dari pengagungan, khasy-yah (rasa takut yang disertai pengagungan), mendekatkan diri kepada Allah dan hati yang merasa diawasi Allah ta’ala yaitu dengan menyadari bahwa Allah melihat dan meliputi segala sesuatu. Dan makna melihat hati-hati kalian –wallahu a’lam- adalah melihat harapan dan persangkaan, dan hal itu semua dilakukan dengan hati.

“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini terdapat segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuhnya. Dan apabila segumpal darah itu buruk, maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. Segumpal darah yang aku maksudkan adalah hati” (HR. Bukhari)

Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah- mengatakan: “Taqwa kepada Allah ta’ala itu letaknya di hati, jika hatinya bertaqwa maka anggota badannya juga.”

Hadist ini bermaksud segala amal lahiriah manusia harus diliputi taqwa, bertempat di lubuk hati, seperti meninggikan syi’ar agama Allah, menyimpan perasaan takut kepada Allah, menjaga diri dari kemurkaan-Nya.

Kata taqwa mengandung pengertian yang berbeda-beda di kalangan ulama. Namun semuanya bermuara pada satu pengertian, yaitu seorang hamba melindungi dirinya dari kemurkaan Allah ‘Azza wa Jala dan juga siksa-Nya. Hal itu dilakukan dengan melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang-Nya.

Al Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Asal taqwa adalah seorang hamba membuat pelindung yang dapat melindungi dirinya dari hal-hal yang ditakuti”.

Ketaqwaan seorang hamba kepada Rabbnya adalah dia melindungi dirinya dari hal-hal yang dia takuti, yang datang dari Allah berupa kemurkaan dan adzab-Nya, yaitu dengan melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya.

Hasan al-Bashri berkata,

“Sifat taqwa tetap melekat pada diri orang-orang yang bertaqwa selama mereka meninggalkan perkara-perkara yang halal karena mereka takut terjerumus kedalam perkara-perkara yang haram”

Termasuk Taqwa yang sempurna adalah melakukan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan hal yang diharamkan dan syubhat. Dan kadangkala termasuk di dalamnya juga melakukan hal-hal yang mandub (sunnah) dan meninggalkan yang makruh (tidak disukai).

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata, at taqwa adalah meninggalkan yang diinginkan oleh hawa nafsumu karena engkau takut (kepada Dzat yang engkau takuti).”

Sementara itu Ibnu Qayyim rahimahullah menyatakan,

“Hakikat Taqwa adalah menaati Allah atas dasar iman dan ihtisab, baik terhadap perkara yang diperintah ataupun yang dilarang. Maka, dia melakukan perintah itu karena imannya terhadap yang diperintahkan-Nya dan disertai dengan pembenaran terhadap janji-Nya, dan dengan imannya itu juga ia meninggalkan yang dilarang-Nya dan takut terhadap ancaman-Nya.”

Derajat ketaqwaan seseorang itu bertingkat tingkat. Ada yang sudah bisa sampai menjauhi hal – hal yang mubah karena takut syubhat, ada yang baru bisa sampai menjauhi hal – hal yang makruh. Yang paling rendah, menjauhi hal – hal yang haram, walaupun masih belum bisa menjauhi hal – hal yang makruh apalagi yang mubah. Maka bersyukurlah bagi yang telah mencapai tingkatan yang lebih tinggi dari yang lain dan bersungguh-sungguhlah untuk terus menjaga taqwa hingga ajal menjemput dengan minta pertolongan kepada Allah ta’ala.

“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (At Taghobun : 16)



Sumber :
1. Mahad IB.blogspot.com
2. Muslimah.or.id

Bersegera Dalam Kebaikan

By : Ave Ry

“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum keringatnya kering.” (HR Ibnu Majah)
Menangguhkan atau menahan hak seseorang setelah kewajiban dilaksanakan setelah berlalu waktunya walaupun sedikit termasuk bentuk kezhaliman. Termasuk didalamnya mempersulit jalan bagi pekerja untuk memperoleh haknya tersebut.

Terlebih lagi mereka mengemban tanggung jawab nafkah untuk keluarga dan diri mereka sendiri. Penangguhan itu tentu mengantarkan mereka kepada kelaparan, kesulitan, pinjaman dan utang. Sungguh ini merupakan kezhaliman yang besar. 

Maka hendaknya bagi orang-orang yang mempekerjakan mereka senantiasa mengingat hal itu dan membayangkan bila hal itu menimpa mereka. Jika hak mereka ditahan sementara mereka sangat membutuhkan, apa yang akan mereka lakukan? 

Hendaklah mereka takut akan doanya orang yang dizhalimi, karena tidak ada pembatas antara Allah dan doanya orang yang dizhalimi.

"Hendaklah kamu waspada terhadap doa orang yang dizalimi sekalipun dia adalah orang kafir. Maka sesungguhnya tidak ada penghalang diantaranya untuk diterima oleh Allah." (HR Ahmad)

Sebagai ummat Rasulullah, hendaknya seorang Muslim memudahkan urusan Muslim lainnya. Dengan menyegerakan kebaikan bagi mereka, tidak dengan menunda atau mempersulitnya. 

Sebesar apakah keuntungan dengan tidak menyegerakan kebaikan? Jika ada, maka hal itu tidak sebanding dengan keuntungan yang akan diberikan Allah apabila ia menyegerakan kebaikan bagi saudaranya.

“Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim)

Apabila kita mengetahui bahwa sebenarnya kita mampu berbuat sesuatu untuk menolong kesulitan orang lain, maka segeralah lakukan, segeralah beri pertolongan. Terlebih lagi bila orang itu telah memintanya kepada kita. Karena pertolongan yang kita berikan, akan sangat berarti bagi orang yang sedang kesulitan. Cobalah bayangkan, bagaimana rasanya apabila kita berada di posisi orang yang meminta pertolongan pada kita. Dan sungguh Allah sangat mencintai orang yang mau memberikan kebahagiaan kepada orang lain dan menghapuskan kesulitan orang lain.

Pada suatu hari Rasululah ditanya oleh sahabat beliau : “Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling dicintai Allah dan apakah perbuatan yang paling dicintai oleh Allah ? Rasulullah menjawab : “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling banyak bermanfaat dan berguna bagi manusia yang lain; sedangkan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberikan kegembiraan kepada orang lain atau menghapuskan kesusahan orang lain, atau melunasi hutang orang yang tidak mampu untuk membayarnya, atau memberi makan kepada mereka yang sedang kelaparan dan jika seseorang itu berjalan untuk menolong orang yang sedang kesusahan itu lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjidku ini selama satu bulan ” ( HR Thabrani ). 

Apakah kita akan mengabaikan kesempatan berbuat amal kebaikan dan menghilangkan kesempatan menjadi hamba yang dicintai Allah karena keengganan kita membantu saudara semuslim yang sedang kesulitan? Apa yang membuat kita menjadi enggan memberikan pertolongan, bukankah semua, segala sesuatu yang kita miliki sebenarnya dari Allah, lalu mengapa saat Allah mengirimkan hamba-Nya yang kesulitan datang pada kita, kita berpaling dan tidak menghiraukan?

Kita harus ingat, bahwa kita ini berada dalam pengawasan Allah, jiwa, harta dan segala sesuatu yang kita miliki berada dalam genggaman-Nya. Sebaiknya kita selalu mengusahakan agar dalam hidup, kita tidak mengundang murka dan azab Allah.

”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di hari kiamat,” Wahai anak Adam, dulu Aku sakit tetapi engkau tidak menjenguk-Ku.” Manusia bertanya,” Tuhanku, bagaimana kami dapat menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?”

Tuhan menjawab,” Tidak tahukah engkau bahwa si fulan sakit, tetapi engkau tidak menjenguknya? Tidak tahukah engkau jika engkau menjenguknya, engkau pasti dapati Aku ada di sisinya.”

Tuhan berfirman lagi,” Wahai anak Adam, dulu Aku minta makan kepada engkau tetapi engkau tidak memberi Aku makan.”

Manusia bertanya,” Tuhanku, bagaimanakah aku dapat memberi-Mu makan sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?”

Tuhan menjawab,” Tidak tahukah engkau bahwa hamba-Ku si fulan meminta makan kepadamu dan engkau tidak memberinya makan? Tidak tahukah engkau bahwa jika engkau memberinya makan, engkau pasti dapati ganjarannya ada di sisi-Ku.”

Tuhan befirman,” Wahai anak Adam, dulu Aku minta minum kepadamu dan engkau tidak memberi-Ku minum.”

Manusia bertanya,” Tuhanku, bagaimanakah aku dapat memberi-Mu minum sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?”

Tuhan berfirman,” Hamba-Ku fulan meminta minum padamu dan engkau tidak memberinya minum. Apakah engkau tidak tahu bahwa seandainya engkau berikan ia minum engkau pasti dapati ganjarannya ada di sisi-Ku.” ( HR. Muslim)



Antara Kau & Rizqi

By : Ave Ry

Dalam kitab Shahih Al Jami’ disebutkan sebuah hadits dari Rasulullah Saw yang berbunyi, "Sesungguhnya malaikat Jibril menghembuskan ke dalam hatiku bahwasanya jiwa hanya akan mati sampai tiba masanya dan memperoleh rizqinya, maka bertakwalah kepada Allah, carilah nafkah yang baik, jangan bermalas-malasan dalam mencari rizqi, terlebih mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah karena sesungguhnya Allah tidak akan memberikan apa yang dicarinya kecuali dengan taat kepadaNya.” (HR. Imam Ibnu Majah)
Sahabat, Rizqi adalah ketetapan. Cara menjemputnya adalah ujian. Ujian yang menentukan rasa kehidupan. Sebab, ia lah yang paling terindra dalam hayat kita di dunia.

Di antara makna rizqi adalah segala yang keluar masuk bagi diri dengan anugrah manfaat sejati. Nikmat adalah rasa yang terindra dari sifat maslahatnya. Kasur yang empuk dapat dibeli, tapi tidur yang nyenyak adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di alas Koran yang lusuh, dan bukan di ranjang kencana yang teduh. Hidangan yang mahal dapat di pesan, tetapi lezatnya makan adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di wadah daun pisang bersahaja, bukan di piring emas dan gelas berhias permata.

Atau bahkan, ada yang memandang seseorang tampak kaya raya, namun sebenarnya Allah telah mulai membatasi rizqinya.
Dan tiada dari segala yang melata di bumi melainkan atas tanggungan Allah-lah rizqinya. Dia Maha Mengetahui tempat berdiam dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh yang nyata. ( Huud : 6 )
Konsep ini, penjaminan rizqi tiap makhluq oleh Sang Khaliq yang banyak terluput dari manusia. Lupa bahwa ia dalam naungan Rabb Yang Maha Kaya, Pemilik Segala. Banyak manusia bersibuk dalam harta yang sudah dijaminkan untuknya namun ia menjemputnya dengan cara yang tidak di ridhoi Sang Pemberi. Dengan jalan korupsi, mencuri, menipu atau berlaku curang dan tidak jujur dalam perniagaannya. Dan yang lebih ironi adalah ketika perbuatan itu dilakukan oleh seorang Muslim yang ajaran Al-Qur’an telah pun ia pelajari. Diletakkan dimanakah iman itu ketika perbuatan nista ia lakukan?

Sahabat, sesungguhnya rizqi itu telah tertulis di langit dan diterakan kembali oleh malaikat ketika ruh kita ditiupkan kedalam janin ibunda. Dan telah pun tertulis, hendak diambil dari jalan manapun, hanya itulah yang menjadi jatah kita.

Maka dari itu, janganlah engkau kotori tanganmu dengan mengambilnya dari jalan yang haram. Bersabarlah, hingga ia datang kepada kita dengan jalan yang halal. Usah tergesa, Allah lebih mengetahui pada saat kapan ia lebih diperlukan. Tunggulah ia dengan ikhtiyar usaha dan tengadah doa.
Aku tahu, rizqiku takkan diambil orang, karenanya hatiku tenang. Aku tahu, amalku takkan dikerjakan orang, karenya kusibuk berjuang (Hasan Al-Bashri)

Pujian Melenakan

By : Ave Ry
Suka banget dipuji? Hmm, kudu hati-hati loh! Karena pujian itu bisa membuat diri seseorang semakin ujub dan sombong. Tidak bisa dipungkiri, kebanyakan manusia suka dipuji apalagi yang namanya wanita dan begitupula seorang muslimah sekalipun suka dengan pujian.

Padahal kalau kita mengikuti jejak para sahabat Nabi dulu dan orang-orang shalih setelahnya, mereka tidak suka dipuji karena takut rusaknya amal-amal mereka. ‘Abdullah bin ‘Alwi bin Muhammad  al-Haddad berkata di dalam kitabnya Risalatul Mu’awanah wal Muzhaharah wal Mu’azarah:

Jika seseorang memujimu sedangkan hatimu tidak menyukai pujian dan pujian itu memang ada pada dirimu, maka bacalah doa berikut:

"Segala puji bagi Allah yang menampakkan yang baik dan menutupi yang buruk"

Bahkan sahabat Rasul yang mulia Abu Bakar Ash-shidiq ketika dipuji berdoa:

Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka
 
Begitu pula disebutkan dalam kitab Hilyatul Awliya’ karya Abu Na’im Al Asbahaniy bahwa ketika seseorang dipuji di hadapannya, hendaklah ia mengingkari, marah dan tidak menyukainya, ditambah membaca do’a di atas.

Para sahabat nabi dan orang-orang shalih setelahnya tidak suka akan pujian. Karena mereka khawatir amalan mereka jadi terhapus karena selalu mengharap pujian.

Ringkasnya, do’a di atas telah menjadi amalan para salaf sebagai suri tauladan yang baik bagi kita dalam beramal.

“Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya” (HR. Muslim no. 2985).

Imam Nawawi rahimahullah menuturkan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa” (Syarh Shahih Muslim, 18: 115).

Hati-hati pula dengan sifat ujub, yaitu takjub pada diri sendiri. Dalam hadits yang ma’ruf disebutkan,

“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan), dan ujub (takjub pada diri sendiri).” (HR. Abdur Rozaq 11: 304).

Ujub juga tidak merealisasikan ‘iyyaka nasta’in’ (Hanya kepada Allah kita mohon pertolongan). Karena ia merasa dirinya-lah yang berbuat. Ditambah ujub pun dapat merusak amalan kebaikan. Sebagian ulama salaf, di antaranya Sa’id bin Jubair berkata,

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal kebaikan malah ia masuk neraka. Sebaliknya ada pula yang beramal kejelekan malah ia masuk surga. Yang beramal kebaikan tersebut, ia malah merasa ujub (bangga dengan amalnya), lantas ia pun berbangga diri, itulah yang mengakibatkan ia masuk neraka. Ada pula yang beramal kejelekan, namun ia senantiasa takut dan ia iringi dengan taubat, itulah yang membuatnya masuk surga.” (Majmu’ Al Fatawa, 10: 294)
Ya Allah, bersihkanlah diri kami dari sifat tidak ikhlas dan merasa takjub pada diri sendiri. Jadikanlah kami lebih baik daripada yang mereka nilai dan janganlah siksa kami karena pujian mereka.

Sumber :
Rumaysho


Ukhuwah Dalam Warna

By : Ave Ry

Di sini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau menghulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria

Kini dengarkanlah
Dendangan lagu tanda ikatanku
Kepadamu teman
Agar ikatan ukhuwah kan
Bersimpul padu
(Brother)

Duh, duh... Tiap kali mendengar lagu milik Brother ini disenandungkan, Ave Ry tidak pernah bisa menahan senyum. Sebuah syair tentang Ukhuwah, persahabatan yang menjemput persaudaraan hingga waktu tak terkatakan.

Tidak terhitung banyaknya kajian yang membahas tentang Ukhuwah. Maka dari itu Ave Ry ingin berbagi tentang ukhuwah yang penuh warna, dimana dalam jalinannya terdiri dari warna-warna khas. Warna yang mencerminkan karakter seseorang. Karena tentunya yang disebut ukhuwah itu terdiri lebih dari satu orang yang asal-usulnya pun beragam.

Sobat, dalam ukhuwah kita akan mendapati banyak sekali perbedaan. Perbedaan fisik, perbedaan budaya sampai perbedaan pemikiran. Lalu bagaimana kita mensikapinya? Ya tentu saja dengan jalan saling kenal mengenal, seperti ayat dibawah ini;

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal....." (QS  Al Hujuraat : 13)

Karena dalam perkenalan akan menumbuhkan pemahaman lalu terciptalah persaudaraan yang erat dengan dikokohkan oleh saling tolong-menolong. Perbedaan-perbedaan itu selayaknya warna-warni. Salim A. Fillah dalam bukunya “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim” mengatakan;

Tentang warna-warni itu? Ya, Islam tidak menghapus karakter-karakter khas pribadi pemeluknya yang tidak bertentangan dengan ‘aqidah. Islam justru membingkainya menjadi kemuliaan karakter yang masing-masing berkontribusi dalam peradaban yang menyejarah.

Indah bukan? Islam sama sekali tidak menafikan perbedaan 'warna', bahkan membingkainya menjadi satu keselarasan warna yang diikat kedalam satu ikatan kokoh, Ukhuwah Islamiyah. Karena masing-masing warna tentu memiliki keunikan tersendiri yang dengannya masing-masing dari kita akan saling melengkapi.

Warna-warni yang memiliki makna... Nah, sobat kira-kira berada dalam warna apa? Check yuk!

Merah, sang berani. Pemimpin diantara yang lainnya. Karakter yang terwakili biasanya tegas, keras, berani dan tak pantang menyerah. Sering kali terlihat egois dan mau menang sendiri tapi tetap bisa bijaksana dalam menyikapi keadaan..

Jingga, si lembut. Selalu berusaha untuk menenangkan. Kalem dan pemalu. Jingga selalu terlihat menyenangkan dan mendamaikan. Tipe yang gampang “dibodohi” karena kepolosannya..

Kuning, sang pencerah suasana. Lincah, tak kenal henti dalam bergerak. Selalu berusaha riang dimana pun dan kapan pun berada. Terkadang menyilaukan tapi selalu ditunggu kehadirannya. Sering kali memusingkan orang lain karena perilakunya yang terlalu ribet..

Hijau, si teduh. Damai dan dapat membuat suasana menjadi hidup. Selalu peduli sesama dan sangat peka. Mementingkan orang lain dari pada kepentingan dirinya sendiri. Sang penengah suasana. Terkadang lupa akan kebutuhan dirinya sendiri..

Biru, yang tenang namun mendalam. Tempat sejuk, sesejuk langit ketika memandangnya. Tempat yang cocok jika kau ingin didengarkan. Selalu terbuka untuk menerima orang lain. Terkesan menutup diri karena tidak bisa mengungkapkan segala sesuatu yang dirasanya..

Ungu, si kompleks. Perpaduan antara biru dengan merah. Di satu sisi punya keberanian tapi terkadang lemah dalam mempertahankan pendapatnya. Sang kompetitif sejati. Selalu bisa hidup dimana pun ia berada..

Pernah lihat pelangi kan.... Warna-warni pantulan cahaya itu menjadi terlihat indah karena sejajar. Begitu pula dalam ukhuwah kita, tidak akan sedap dipandang jika terdapat warna yang mendominasi. Justru karena masing-masing memiliki keunikan tersendiri perbedaan warna itu terlihat indah. Jika kita menikmatinya dan membuatnya menjadi bagian dalam hidup kita. Saling mengerti tentang kondisi teman–teman dan saudara–saudari kita adalah hal yang wajib untuk kita lakukan jika kita ingin menjadi pelangi. Maka biarlah warna–warni itu tetap hadir dengan kekhasannya.Membawa kebahagiaan bagi orang-orang yang memandangnya.

Teruntuk sahabat-sahabatku, yang mengajarkan arti ukhuwah bukan melalui teks buku

Ukhtuna, Ana Uhibbukum Fillah!

"Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam" (HR. Bukhari & Muslim)

Mata, (Hati) Manusia Beriman

By : Ave Ry
Itulah yang diperbuat keimanan
Membuka mata dan hati
Menumbuhkan kepekaan
Menyirai kejelitaan, keserasian dan kesempurnaan
Iman adalah persepsi baru terhadap alam
Apresiasi baru terhadap keindahan
Dan kehidupan di muka bumi
Diatas pentas ciptaan Allah
Sepanjang malam dan siang
(Sayyid Qutbh)
Jiwa yang beriman itu, peka dan sensitif. Bukan sensitif emosinya sehingga mudah terasa. Bukan pula peka dengan kesalahan yang orang lain lakukan terhadapnya. Tetapi, ia sensitif dengan dosa-dosa yang dilakukannya. Ia peka dengan masalah ummatnya.

Hakikat manusia sejatinya bukan hanya pada kulit muka yang terbuat dari tanah, yakni daging, darah dan tulang, tetapi lebih pada kelembutan Rabbani yang dengannya manusia merasa, beremosi, bereaksi, merasa sakit, dan mengasihi, yaitu hati yang peka. Di antara sifat Mukmin yang paling menonjol adalah bahwa ia memiliki hati yang peka, halus, lembut, dan penuh kasih.

Dengan hati seperti inilah, seorang Mukmin menyikapi semua kejadian dan setiap orang. Orang lemah ia sayangi, kepada orang sakit ia berempati, orang miskin ia santuni, dan orang tak punya ia bantu. Dengan hatinya yang peka dan penuh kasih, tak pernah ia menyakiti dan jauh dari berbuat onar. Dengan hatinya yang peka dan penuh kasih, ia menjadi sumber kebaikan, kebajikan dan kedamaian bagi apa saja dan siapa saja yang ada di sekitarnya.

Namun alangkah langkanya sekarang, menemukan, mata-mata, hati-hati yang terpancarkan keimanan. Bening dalam sangkaan, lembut di lisan dan penuh kasih sayang dalam perbuatan. Sehingga iman itu tidak lagi menjadi bahan cacian-hinaan. Keimanan yang lalai, keimanan yang menyakiti, keimanan yang tak dibukti.


Semoga kita, sobat, diberikan karuniaan iman yang bersih dari penyesatan

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang Maha Pemberi (karunia)” QS. Ali ‘Imran : 8



Bangkit, Semangatlah!

By : Ave Ry

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: 'Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.' Akan tetapi hendaklah kau katakan: 'Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.' Karena perkataan seandainya dapat membuka pintu syaithan."
(HR. Muslim)


Dalam syarahnya imam An Nawawi menjelaskan,

“Bersemangatlah dalam melakukan ketaatan pada Allah, selalu berharaplah pada Allah dan carilah dengan meminta tolong pada-Nya. Jangan patah semangat, yaitu jangan malas dalam melakukan ketaatan dan jangan lemah dari mencari pertolongan. ” (Syarh Shahih Muslim, 16: 194).

Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi menyebutkan ada tiga cara agar tidak kendor semangat dalam belajar yang beliau simpulkan dari hadits di atas:

1.      Semangat untuk meraih ilmu yang bermanfaat. Ketika seseorang mendapatkan hal yang bermanfaat tersebut, hendaklah ia terus semangat untuk meraihnya.

2.      Meminta tolong pada Allah untuk meraih ilmu tersebut.

3.      Tidak patah semangat untuk meraih tujuan.

Al Junaid berkata,

“Tidaklah seseorang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh dan penuh kejujuran, melainkan ia akan meraihnya. Jika ia tidak seluruhnya, ia pasti meraih sebagiannya.”

Bagi tiap muslim, karya tak boleh berjeda. Karena,"Sesungguhnya siang dan malam berkarya dalam dirimu. Maka berkaryalah". pesan Umar bin Abdul Aziz suatu ketika. Maka tak ada lagi alasan dan rasa malas. Kalaupun ia hadir dna memaksa, hempaskan saja ! Kalaupun ia datang walau hanya menyapa saja, biarkan ia berlalu. karena banyak yang telah bersedia hati menunggu karya-karya kita.

Ingatkah kita akan hadis Rasulullah berikut ini :

"Barang siapa yang hari ini lebih baik dibandingkan yang terdahulu, maka dia termasuk orang yang sukses. Barang siapa yang hari ini sama seperti yang terdahulu, maka dia termasuk orang yang tertipu. Barang siapa yang hari ini lebih buruk dibandingkan yang terdahulu, maka dia termausk orang-orang yang merugi dihadapan Allah swt"

Jadi, orang sukses adalah today is better than yesterday. Hari ini harus lebih baik dibandingkan dengan yang terdahulu dan tentu saja, tomorrow will be better than today, hari esok akan lebih baik dibandingkan hari ini. So, masihkah kita bermalas-malasan. Teruslah melangkah, teruslah semangat berkarya. Dalam kondisi bagaimanapun, kita harus senantiasa memberikan yang terbaik untuk umat. Senantiasa menyalakan semangat, dan membuktikan pada semesta bahwa Islam adalah rahmat.

Berkarya tidak harus menulis, tapi bagaimana membuat sebuah tulisan di jiwa, hati dan pikiran kita untuk berdakwah sehingga melahirkan terus dan terus kader-kader dakwah. Membentuk sosok-sosok idaman umat yang baru. Membentuk manusia-manusia perubah baru. Memang semua itu membutuhkan waktu yang lama. Tapi inilah sebuah proses sahabat. Karena tiada sesuatu yang instan jika ingin menghasilkan sesuatu yang berkualitas. Justru yang instan-instan itu kurang bagus dan kurang berkualitas. Marilah kita membentuk jundi-jundi baru.


"Bangkitlah hati bersama cahaya yang bersinar. Kembangkan sayap-sayapmu hingga malam berlalu dan tibanya fajar, akan di sambut dengan senyuman dan lafaz ayat suci-Mu sebagai tanda syukur kebahagiaan. Setetes air mata mensucikan jiwa dan pikiran sebagai tanda rindu dan cintaku pada-Nya"

Nenek & Daun

By : Ave Ry


Kisah ini saya dapatkan dari sebuah artikel di FP Facebook. Membacanya membuat mata berlinang... Merasa malu dengan selipan pongah yang terkadang bergelayut tanpa sadar. Semoga dengan membacanya membuat kita sadar..... Semoga bermanfaat!

***

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh.


Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid.

Ia lalu mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan.

Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan yang ada sebelum perempuan tua itu datang.

Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ.

Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya.

“Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan seperti biasa.

Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu.

Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat:

pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya;

kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya ini tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat dari Kanjeng Nabi Muhammad saw....

Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah saw...

Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi saw..menjemput saya.

Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.”

Kisah yang diceriterakan oleh seorang Kiai Madura, D. Zawawi Imran, ini bisa membuat bulu kuduk kita merinding.

Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus.

Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal di hadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur:

Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah saw?

Wanita Tua inilah Sosok Bidadari Surga......

”Allahumma Shollii Alaa Sayyidina Muhammad wa ‘Alaa Aali Sayyidina Muhammad

Find Your Way To Say, “Alhamdulillah”

By : Ave Ry
Ada nggak diantara sobat yang pernah ngerasa, “Jadi dia enak ya” entah karena ‘si dia’ itu lebih dalam materinya, fisiknya, pendidikannya, keluarganya, dll. Kalau laki-laki nggak tau juga deh, since Gen-Q wanita, hehe. Nah, yang namanya wanita itu cenderung untuk ngerasain hal ini. Misalnya aja pengalaman Gen-Q dengan teman-teman. Dulu itu seriiing banget mengalami yang namanya kurang self confidence, penyebabnya? Selalu ngerasa kurang!

“Dia mah enak, keluarganya berasal dari keluarga berpendidikan tinggi, dia oke banget deh kerjanya di Bank Nasional udah gitu cantik lagi, dia kan dari kecil udah diajarin ini itu… aku?”. Teruus aja, daftarnya nggak selesai-selesai. Padahal udah banyak tau yang namanya diri itu nggak boleh kebanyakan mengeluh, “La Tahla!” tapi manusia itu cepat sekali lupanya…

Tapi beruntunglah jika dari kealpaan sobat bisa menemukan ‘jalan pulang’ yaitu kembali ingat.

Dan kejadian ahad kemarin itu adalah salah satu cara Allah SWT untuk mengembalikan Gen-Q dari kealpaan dari yang namanya bersyukur.

Seorang teman semasa SMA dulu sms “Ry ada acara nggak minggu, kalau nggak ada temenin yuk ada acara anak yatim” begitu bunyinya. Setelah menimbang prioritas acara, maka setelah Liqo pukul 12 siang pun Gen-Q akhirnya menyetujui datang dan sampai pukul 14-nya (jaraknya jauh juga ya). Mulai pukul 15 pun anak-anak yatim berdatangan ke Masjid di dekat Murobbi teman SMA itu. Subhanallah, giat ya, padahal acara baru mulai pukul 16.

Di acara itu dibagikan dari mulai sekotak snack, nasi box, sajadah dan nggak ketinggalan amplopnya. Dan taukah sobat? Semua biaya itu ditanggung oleh teman saya itu. Well, memang beliau bilang pernah bernazar pada Murobbi ingin buat acara dengan anak yatim. Saya pikir waktu itu biaya dibagi beberapa orang, secara untuk 40 paket itu kan lumayan juga. Dan setelah tau ternyata semua biaya berasal dari teman saya pikir, “Yah, dia kan kerja di Bank, wajar”.

Sebelum acara dimulai seharusnya teman saya memberikan kata sambutan, tapi beliau malu lantas minta diwakilkan Murobbi. Dan inilah saat yang membuat Gen-Q tersentak “Adik-adik… mari kita do’akan kak … agar lekas sembuh..” Lekas sembuh? Memang siapa yang sakit?. “Kita do’akan semoga kak … diangkat penyakitnya sama Allah, karena kak … sekarang ini menderita penyakit Kanker Payudara..”

Masya Allah, tidak dapat terbendung air mata saat mengaminkan do’a dari sang guru. Ternyata teman yang selama ini selalu terlihat sempurna di mata memiliki problemanya sendiri, dan beliau pun tak pernah bercerita tentang masalah satu ini. Gen-Q menjadi begitu malu, malu pada kedermawanannya, malu pada sikap tawakalnya, dan malu pada caranya berusaha untuk menyembuhkan dirinya. Ya, cara itu dengan berbagi syukur beliau dengan memberikan sebagian rizqi yang Allah SWT berikan dengan jalan yang paling baik, yaitu menyantuni anak yatim.

“Fa bi ayyi ala I robbi kuma tukadzdziban..”, Ya, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Sekitar Masjid bergemuruh dengan lantunan surah Ar-Rahman, 40 anak yatim, bapak-bapak DKM, teman-teman dan entah berapa banyak malaikat yang turut mendo’akan. Semoga langkahmu selalu dalam keberkahan-Nya teman…

Sadar, dengan sesadar-sadarnya.

Tidaklah patut membandingkan kenikmatan yang diberikan Allah SWT pada seseorang dengan melupakan nikmat-Nya yang diberikan pada kita

Tengoklah lagi, perhatikan, jika belum bertemu maka periksa ulang nikmat apa yang diberikan Allah SWT kepada kita yang ternyata tidak diberikan-Nya pada orang lain. Ternyata sungguh banyak, namun kita lebih banyak lagi lalai. Sobat, kesehatan adalah rizqi yang amat sangat besar, waktu luang pun merupakan rizqi yang tak akan kembali, begitu juga kefahaman dalam agama. Dan, kedamaian hati tanpa tuntutan hutang juga merupakan rizqi..

“Ada dua buah nikmat yang banyak orang tertipu oleh keduanya; yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari )

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” (HR Bukhari dan Muslim).


“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan jadikan ia beramal.” Dikatakan, “Apakah dijadikan beramal itu?” Beliau bersabda, “Allah bukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridla kepadanya.” (HR Ahmad dan Al Hakim dari Amru bin Al Hamq).

Dan jangan sobat anggap sebuah musibah adalah murka Allah, jika musibah diberikan pada mereka yang tha’at, justru itu merupakan kebaikan yang diberikan Allah SWT bagi mereka di dunia, untuk menggugurkan dosa, meningkatkan derajat.

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR Ahmad dan Bukhari dari Abu Hurairah).

Nah, bagi sobat yang masih lalai akan nikmat Allah, yuk kita kita cari sama-sama, cari cara untuk mengucapkan Alhamdulillah…

"Janganlah kalian lalai sehingga kamu melupakan kasih sayang (ar-rahman)." (HR Tirmidzi)



- Copyright © Al-Ihtisyam - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -