Ukhtuna, ana uhibbukum fillah..


“ Assalammu’alaikum ukh, kaifa haluky? “

“ Wa’alaikum salam, khair Alhamdulillah. Anti kemana aja, udah 2 kali ana nggak liat anti di halaqah kita “

Aku menggeser sedikit tempat duduk untuk mempersilahkan seorang gadis anggun yang mengenakan jilbab besar berwarna hijau. Dalam senyum hatiku berkata ‘ngomong apa sih mereka nggak mudeng’, bahasanya itu loh… 

Biasanya aku tidak suka menguping pembicaraan orang lain, masa bodoh saja. Tapi kali ini aku pertajam pendengaran demi mendengar obrolan kedua gadis berjilbab besar disampingku. Agak risih berdekatan dengan mereka. Bukannya risih dengan mereka, tapi aku mendadak risih dan merasa tidak nyaman dengan jins ketat yang sekarang aku kenakan, baju atasan yang walaupun longgar tapi pergelangan tanganku kerap terlihat. Belum lagi jilbab ‘gaul’ yang kukenakan.

Pagi yang tiap kali menyapaku dibawah atap Stasiun Kereta Api menuju tempat mata pencaharian memang selalu menghadirkan adegan-adegan yang membuat setiap harinya terasa tidak mudah terlupakan. Dalam diamku menunggu selalu kuperhatikan lalu lalang manusia yang terlihat tanpa henti memadati stasiun ini. Bertemu dengan banyak orang, mendengarkan sepintas percakapan, memperhatikan hingga tanpa sadar aku jadi terbiasa menghapal karakter orang-orang ini mulai dari cara berpakaian mereka, cara berbicara, hingga cara mereka menunggu datangnya kereta api sama sepertiku.

Kedua gadis itu terus membayangi langkahku menuju tujuan, bahkan aku beberapa kali melihat gadis-gadis seperti mereka itu disekitar tempatku bekerja di dekat kampus IPB Dermaga. Berbagai rasa bercampur baur, mulai dari iri, kagum, sampai aku pernah mengerutkan dahi karena memikirkan ‘apa nggak ribet tuh pakai jilbab gede begitu, belum lagi gerahnya minta ampun!’

***
“ Oh, ya? Boleh, saya memang sedang mencari pengajian. Kapan? “

“ Sabtu ini, di Masjid Raya Bogor, jam delapan. Nanti kalau Erry mau kita janjian disini aja “

“ Oke, sabtu ya jam delapan “

Aku ingat belum genap satu minggu aku bertemu gadis berjilbab besar, tapi hari ini seorang gadis seperti mereka bercakap-cakap dengan ramah dan mengajak untuk mengikuti kajian yang rutin diadakan di Masjid Raya Bogor. Aku tidak tahu apakah ini keinginan atau do’a yang terjawab atau tidak karena jauh sebelum inipun aku sangat ingin berkumpul dengan mereka tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Teman-temanku saat ini tidak tertarik kurasa jika aku membicarakan tentang dunia islam lebih dalam, makanya keinginan seperti itu hanya mengendap saja jauh didasar sana.

***

“ Hari ini bertemu dengan dua orang wanita sholehah yang masih muda-muda. Senang mendapat teman baru “

Status facebook di beranda yang baru saja kubaca kontan membuatku nyengir sendiri. ‘dia belum tau kali gue ikut ngaji aja baru, pakai rok begini juga baru, hehe’. Walau merasa kelewatan karena ke-Ge-eR-an sendiri tapi tetap senang rasanya mendapat first impression yang diluar dugaan itu. Wanita sholehah? Aamiin.. 

Aku belajar banyak dari si empunya akun Windi Sekenhom yang menulis status itu. Imajinasinya luar biasa, sampai aku suka berkerut-kerut kalau mendengarnya berujar. Kalau di rata-rata mungkin nilai confidence-nya itu Sembilan dari sepuluh! Karakter manusia yang cenderung gampang down seperti aku ini memang payah! Tingkat kepercayaan diri yang amat mengkhawatirkan, sampai seringkali ingin menenggelamkan diri didasar tanah apabila berada di sekitar orang-orang yang tidak kukenal dengan baik. Perasaan tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa. Itik buruk rupa yang bentuk juga rupanya tidak mengundang selera.

“ Gue tau Lu bisa Ry, Lu bakalan jadi blogger yang hebat. Jangan biarin rasa nggak pede Lu membuat Lu jadi down. Ayo bangkit sahabat, Gue tau Lu bisa “

“ Gue juga pernah Ry punya perasaan kayak gitu. Teman-teman gue semuanya udah jadi orang semuanya. Sedangkan gue masih disini aja. Tapi terus gue mikir kalau kehidupan ini tujuan akhirnya bukan itu Ry, tapi nanti di akhirat sana. Mau kemana kita, apa surga atau neraka. Itu yang harus kita utamakan. Jangan ribut masalah dunia tapi kita lalai sama cita-cita yang lebih utama bagi manusia, yaitu surga “

“ Percaya deh Ry, Allah itu punya rencana bagi tiap-tiap hamba-Nya. Yang menurut kita bagus belum tentu bagus di Mata Allah, begitu juga sebaliknya. Sama seperti Icha, kalau Icha sih maunya nikah muda tapi apa boleh buat ternyata orang tua Icha melarang. Harus selesain kuliah dulu, terus kerja, dll “

Windi, Rini, Icha.. Berteman dengan mereka memberikan asupan vitamin yang sangat bermanfaat. Belum lagi Sisi Marissa yang sudah membawaku ke berbagai tempat yang menumbuhkan semangat ber-tholabul ‘ilmi.

***
“ Erry mau ikut liqo Cha. Cariin yah tempatnya “

 Tenang aja Ry, nanti Icha bilang sama murobbi biar Erry bisa dapat liqo yang yang paling deket “
Satu tahun, tidak terasa dari percakapan singkat di Stasiun Kereta Api, sekarang berubah entah berapa derajat dari mulai penampilan sampai pandanganku terhadap sesuatu. Perlahan tapi pasti aku mengulurkan jilbab, memperbaiki sikap dan menambah dosis santapan rohani. 

Melihat, mendengar, memperhatikan, menganalisa, memilah, menyimpulkan kemudian mencontoh. Hanya DIA Yang Maha Mengetahui-lah betapa hati ini terpaut pada rumah-Nya dan manusia-manusia yang memakmurkannya. Berada bersama mereka membuat kegelisahan dan kebingungan menghilang, mengikis rasa keterpurukan dan ketidak-berhargaan. 

Sisi, Windi, Icha, Rini, Isma, Weni, Dolyna, Rima, Azira, masing-masing pribadi mereka adalah HERO bagiku. Sentuhan kata-kata dan perbuatan mereka membantuku untuk membentuk diriku yang sekarang ini.



***
“ .. Panggil aja Erry , “

“ Alhamdulillah, kita mendapatkan saudara baru. Semoga bisa menjadi penyemangat buat antuna sekalian “
Tidak menyangka, aku ‘terdampar’ disini. Disebuah rumah asri, mengikuti halaqah (perkumpulan) kecil yang di ikuti wanita-wanita muda berjilbab besar. Masih tersenyum, teringat peristiwa yang sudah berlalu hampir dua tahun lalu. Tidak ada perasaan minder sekarang, tidak juga gelisah dan kebingungan. 

“ Ukh, ahad nanti ikut ya ke Masjid Istiqlal, rihlah.. “

Agak norak sih, dari lahir sampai sekarang belum pernah ke Masjid terbesar se-Asia tenggara ini, padahal tempat aku lahir dekat dengan Tugu Monas. Jadi ketika teman-temanku meledek aku biarkan saja.

“ Mau nangis rasanya ukh.. Baca bismillah dulu sebelum masuk lapaknya “

“ Haha, anti ini orang Jakarta tapi mainnya ke Bogor terus sih.. “

“ Biarin lah, punya cita-cita Sholat di Masjid Istiqlal udah tercapai, ntar Sholat Di Masjid Cordova terus terakhir Sholat di Masjid Al-Haram “

“ Aamiin… “

Vita, Norma, Santi, Juju, Sari, Rena, Widi, Hani, masing-masing pribadi mereka adalah HERO bagiku. 

Sentuhan kata-kata dan perbuatan mereka membawa keceriaan dan penyemangat bagiku saat ini.


***
“ Assalammu’alaikum ukh, kaifa haluky? “

“ Wa’alaikum salam, khair Alhamdulillah. Anti kemana aja ukh, dua pekan nggak ikut liqo “

Gadis muda dengan jilbab besarnya yang melambai menepuk pundakku dari belakang. 

Kupikir Allah membenciku, tapi ternyata jalan-Nya memang agak berliku untuk menempatkanku di tengah-tengah manusia yang berjuang untuk memperoleh keridhoan-Nya. 

Ukhtuna, ana uhibbukum fillah..


Tulisan ini diikutsertakan pada Lovely Little Garden's First Give Away


10 komentar:

  1. pantas kuping panazzz ada yang ngomongin. ^^ semangat perubahan menggapai ridha dan syurga Allah!!

    BalasHapus
  2. Saya bantu menenarkan nama saudari., biar cepet-cepet... :p

    BalasHapus
  3. Salam kenal ya ukhti... Blog nya cantik sekali. :)

    Terima kasih partisipasinya, tercatat sebagai peserta Lovely Little Garden's First Five Away.

    Salam ukhuwah ya ukhti...

    BalasHapus
  4. sepertinya ceritanya tentang ummahat? hehe
    sekedar mampir dan absen, salam ukhuwah ^_^

    BalasHapus
  5. Double Thumbs dah untuk suatu perubahan yang terkadang sulit untuk dilakukan...
    :)

    BalasHapus
  6. Iyyeeyy., udah terdaftar... Salam kenal balik mbak Niken & Keep Ukhuwah :)

    Saya belum jadi ibu-ibu Kang Abbas... heu, Keep Ukhuwah ya khy :)

    Sipp Zyi ^^

    BalasHapus
  7. Saya bnr2 suka dnegan gaya penulisan cerita di atas. Bagus banget, Mbak. Sangat menginspirasi.

    BalasHapus
  8. Maaf kalo salah mohon dikoreksi, bukannya seharusnya "ukhtunna, nahnu nuhibbukunna fiilllah" karna dzamir/kata ganti u/muannats itu kunna bukan kum

    BalasHapus
  9. Bisa jadi begitu kang Sugiantoro... maklum belajarnya juga baru jadi bahasa ala kadarnya (jadi malu kasih judul gede2 tapi salah, heu) udah terlanjur tapinya masuk ke daftar GA-nya mbak Niken. Insya Allah koreksian antum jadi koreksian untuk tulisan ini. Syukron katsir...

    Alhamdulillah senior kang Irham, coba2 moga aja berhadiah ^^

    BalasHapus

 

Instagram

Get My G+