Pertebal Persamaan, Kikis Perbedaan, Maka Muncul Persatuan


Hal paling mengesalkan bagi saya dan tiada bandingannya adalah memperdebatkan masalah agama. Karena agama bukan untuk diperdebatkan apalagi diperselisihkan tapi diamalkan. Sebisa mungkin saya menjauh dari kegiatan semacam itu. Tetapi, sebagai makhluk social tentu tidak mungkin untuk tidak bersentuhan dengannya.

Yang paling aneh adalah ketika ada yang bertanya “Ukhti, apa pendapat anti tentang ‘blablabla’” lalu ketika dijawab pandangan saya mengenainya dan ternyata bertentangan dengan pendapatnya sendiri ia malah meradang, menghujat. Ada yang mengatakan saya seorang Wahaby, Syi’ah, Ahli Tahlil.. bahkan yang lebih menyakitkan ada yang mengatakan saya seorang munafik hanya karena saya menentang pendapatnya tentang beberapa hal khilafiyah yang bukan pada tataran akidah.

Mereka tidak puas jika saya mengatakan “I’m Muslim, that is it!

Dalam pikiran mereka sudah terbentuk stigma sedemikian rupa bahwa Islam itu harus berkotak-kotak. Punah sudah kasih mereka terhadap sesama Muslim, berganti curiga kemudian menghakimi.

Kebanyakan dari mereka yang suka sekali menstigmatisasi adalah orang-orang yang tidak saling mengenal. Namun demikian, jika mereka tidak mengenal seseorang mengapa mereka mudah-mudah mengatakan hal yang tidak mereka ketahui?

Niatan yang tulus untuk menyatukan tidak dihargai, malah dicerca, dihina dan dikatakan tidak realistis. Padahal tidak satupun ajaran Islam yang menghalalkan pertikaian dalam agama. Allah SWT melalui Rasul-Nya mengajarkan kita tentang akidah yang bersih, yang bahkan seorang Arab pegununganpun akan mudah mengerti dan menerimanya karena Islam berasal dari yang Menguasi manusia.

Allah SWT telah memberikan karakter bagi umat Islam dengan sebutan ummatan wahidah ‘umat yang satu’

“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku” Al Anbiyaa' : 92

Karena itu, sudah selayaknya jika setiap muslim berusaha merealisasikan persatuan tersebut, hingga tercipta satu kekuatan yang hebat dan kokoh untuk menghadapi kekuatan jahat. Rasulullah Saw benar-benar telah memperingatkan kita agar kita tidak berselisih. Karena perselisihan akan menyebabkan timbulnya kelompok-kelompok yang cenderung saling cerca, bahkan saling membunuh.

Al-Qur’an juga telah menegaskan bahwa permusuhan tersebut hanyalah perilaku orang-orang kafir,

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,” Ali 'Imran : 105

Allah SWT telah menetapkan semua kebaikan yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan. Sedangkan berbagai permasalahan dalam Al-Qur’an yang bersifat mujmal (global) dijelaskan rinciannya oleh Rasulullah Saw melalui sunnahnya. Karenanya, persatuan hanya bisa digalang dengan cara berpegang pada Al-Qur’an dan As-Sunnah

“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Jika kalian berpegang teguh pada keduanya, maka kalian tidak akan sesat selamanya. Dua hal itu adalah Kitabullah dan sunnahku” (HR. Hakim)

Penyebab utama perpecahan umat adalah perdebatan dalam masalah-masalah agama, sehingga menyebabkan perselisihan dalam masalah-masalah fundamental, yang akan membawa perpecahan dan tercerai-berai dalam berbagai jalan kesesatan. Karenanya, dalam Al-Qur’an kita temukan perintah untuk senantiasa komitmen pada hukum-hukum Allah SWT dan menjauhi setiap penyakit yang berusaha menembus kemurniannya.

Dalam rangka mengantisipasi perpecahan, Rasulullah Saw memerintahkan kita untuk mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jika terjadi perbedaan pendapat dan dapat mengarah pada perselisihan, maka Rasulullah Saw menyarankan untuk berhenti, sehingga hati dan pikiran kembali jernih dan dapat mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan penuh keikhlasan

“Baca dan pelajarilah Al-Qur’an, selama hatimu bersatu. Jika kalian berselisih paham, maka berhentilah” (HR. Bukhari)

Banyak hadist Rasulullah saw yang melarang perpecahan dan memerintahkan persatuan. salah satunya,

“Sesungguhnya Allah meridhai tiga perkara bagi kalian, yaitu Dia ridha jika kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai dan ketiga setia kepada orang yang telah Allah serahi untuk menjalankan urusan kalian…” (HR. Muslim)

Dampak dari terlibatnya manusia kedalam perselisihan yang berkaitan dengan masalah akidah adalah akidah itu sendiri akan menjadi goyah bagi mereka, iman mereka rapuh sehingga akidah tidak lagi berpengaruh terhadap perilaku individu dan iman tidak lagi mempunyai kekuasaan terhadap amal perbuatan, naudzubillah.

Tahanlah lidah kalian ya ikhwah.. janganlah menyakiti sesama. Gunakan kebaikan yang ada pada kalian untuk kemanfaatan umat. Ilmu kalian tidak bermanfaat, sungguh. Jika hanya terpendam dalam untaian kata tanpa merefleksikannya dalam sikap.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” Ali 'Imran : 103

Sumber bacaan
1. Al-Wafi Syarah Arba’in An-Nawawiyah, hal : 72-74
2. Aqidah Islamiyah : Sayyid Sabiq, hal : 15
3. Tafsir Al-Bayan surah Al Anbiyaa’ & Ali ‘Imron
4. Tafsir Ibnu Katsir surah Ali ‘Imron ayat 103



62 komentar:

  1. sering juga di -bla bla bla - kayak gitu! gue jawab aja... yeeaahhh! #gaya rock! gue wahaby, gue suka tahlil, gue suka bid'ah, kaya muka elo kan bid'ah juga! karna di jaman rosul gak ada muka kayak elo!
    inget sebuah maqolat: balas kesombongan dg ksombongan, konyol dg konyol, gokil dg gokil dsb..
    ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh... kalau saya lebih suka meninggalkannya kalau dirasa lebih banyak madharatnya, “Tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” (Ad-Darimi: 309, al Baihaqi, Syu’abul Iman: 1897)

      Dari pada menghabiskan energi, mending kita, “.. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” Al Baqarah : 148

      Hapus
  2. mantap! suka banget sama tulisan ini ukh ^^

    kalo soal tahlilan, saya ada tulis juga di blog wordpress saya ukh, bolehlah mampir kemari: http://hazelniez.wordpress.com/2013/03/21/bedah-buku-fatwa-kontroversial-yusuf-al-qaradhawi/ hehehehe

    vonis kafir juga pernah saya alami ukh, oleh saudara seiman pula :( divonis kafir gara2 saya dan teman2 terlibat partai, terlibat demokrasi.. sedih banget :(
    padahal kalau muslim bisa *dan mau* bersinergi, betapa indahnya dunia..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemarin sudah niat banget mba Din buat ikut bedah bukunya.. kebetulan penulisnya datang ke Masjid Raya Bogor bersama Ust. Taufik Hulaimy., tapi ternyata waktu itu jadwal ahad sedang padat2nya, banyak tabligh menggiurkan.. salah satunya bedah buku Akmal Syafril tentang Liberal

      Kalau saya Alhamdulillah gak segitunya, hoho. Padahal satu Masjid itu, termasuk dua dari Ustad kita dari Hizbut Tahrir (malah mereka menyarankan untuk memilih incumbent ketika pemilihan gubernur, tidak ketinggalan instruksi dari Habibana Riziq Syihab)

      Sekali lagi Alhamdulillah... saya berada di lingkungan yang sangat mengedepankan ukhuwah. Ketika Sabtu malam ada iktikaf dan ada maulid beserta rebananya, teman2 salafi menyingkir sebentar lalu balik lagi setelah itu mendengarkan ceramah yang membara dari Sekjen FUI. Ketika Buya Yahya berceramah yang salafi memberikan keluasan tempat... andaikan di Masjid lain juga sama...

      Hapus
    2. muantaaapppkkkssss

      di kabupaten sekadau tempat saya tinggal sekarang juga gak ada kotak2an harokah gitu ukh, alhamdulillaah :')

      Hapus
  3. ^____^
    memang orang kebanyakan lebih suka melihat perbedaan daripada persamaan. lebih suka mempermasalahkan hal yang membuat pertikaian daripada persatuan.
    I'm just a muslim itu keren banget. bahkan para imam madzhab pun selalu menyatakan bahwa mereka mungkin salah. sekarang malah banyak orang-orang yang ngakunya mengikuti salah satu madzhab malah nggak sesuai dengan pernyataan imamnya. kita sabar aja ya mbak, toh keimanan dan ketaqwaan itu bukan hak manusia untuk menilai. ^_____^

    Rasulullah saw menyatakan bahwa perbedaan adalah rahmat. Akan tetapi umat muslim sekarang ini banyak yang menjadikan perbedaan sebagai sumber laknat sehingga menyebabkan perselisihan antar golongan sesama muslim. Menyedihkan memang, tapi itulah kenyataan. ^_____^

    btw, mbak tulisannya makin keren aja... salut dah daripada tulisan andre yang isinya cuma celotehan tak berguna. xixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat disayangkan.. padahal suri tauladan kita bersama (bukan Andre Tauladan) merupakan pribadi yang halus, lemah lembut. Generasi sekarang ini yang katanya berlomba-lomba dalam mengatakan, mencintai Rasul, mencintai sunnah Rasul, mencintai ahl bayt Rasul, banyak menyebut-nyebut Rasul tapi pribadinya jauh dari Rasul...

      Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Berlaku lemah lembut inilah akhlaq Muhammad Saw yang di mana beliau diutus dengan membawa akhlaq yang mulia ini.”

      Apa coba pendapat Rasulullah ketika melihat umatnya pada berantem... sedih luar biasa, padahal kata terakhir yang diucapkannya saat wafat adalah "Ummati... Ummati", pertanda begitu sayangnya beliau pada kita, tapi kita yang dicintai malah membuat beliau kecewa :(

      Andaikan banyak yang mengamalkan ayat ini,.

      “Maka disebabkan rahmat dari Allahlah, engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap kasar dan berhati keras, niscaya mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu..” Ali 'Imran : 159

      Hapus
  4. ini luapan emosi yang santun sekali. ya kalau memang lebih banyak mudorotnya lebih baik diam. sebab ada orang yang baru bisa berhenti keangkuhannya dengan cara kita diam. mudah-mudahan selalu bisa menempatkan diri agar nggak termasuk orang yang selalu menganggap dirinya paling benar. semoga jadi pribadi yang lebih baik dengan berpegang teguh al-qur'an dan hadist aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kang... dari pada emosinya marah-marah tak tentu arah lebih baik kita tulis sajah :D

      Hapus
  5. betul banget, kenapa orang2 sering sekali memilah2 agama islam, ada islam syiah yg blaa blaa bla, islam suni yg blaa blaa bla, de el el...
    klo orang tanya ke saya, saya sering jawab aja islam gak ada embel2, hehe
    yang penting dua kalimat syahadat, ALLAH tuhanku, Muhammad Rasulku :)
    ISLAM TAUHID :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Sob, Islam itu identik dengan Tauhid, Satu :)

      Hapus
    2. tapi itulah ketetapan. terpecah2 adalah keniscayaan, selama manusia masih dikuasai nafsu.

      Hapus
  6. hehehe....wallahu a'lam bisshawab, yah begitulah kl kita bersosialisasi.ada yang pro ada yang kontra,aneh2 tapi indah hehe....

    gen, i'm muslim hehehe.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, makhluq sosial ya namanya juga selalu ada pro dan kontra.. I'm proud to be a Muslim ^^

      Hapus
  7. intinya, mari bersahabat dalam satu wadah, yaitu islam sampai akhir khayat...
    ^_^

    BalasHapus
  8. hadeeeeh yang beginian juga marak di fesbuk mbak, saya gak suka jidal tapi suka diskusi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha memang gara-gara temen di pesbuk itu mba saya jadi berantem., makanya saya jadi lebih nyaman di blog :)

      Hapus
  9. nyimak aja dech.., insya Allah semua sdh sy bhs di blog sy.., silahkan dibuka pd label 'manhaj' *smile

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dibawah itu juga saya bahas kok sob... gak baca sampai akhir yaa #nuduh :D

      Hapus
  10. sangat sering saya temukan hal ini. Persis sekali, seperti dilingkungan saya.Mengaku ini mengaku itu, shalat saja masih ditinggalkan.

    cukup katakan bahwa saya muslim. I'm proud be moeslim. titik.

    memang sudah akan saatnya islam terbagi menjadi 73 golongan sesuai hadist Rasulullah, selama ikut sunnah Nabi,dan para sahabat, InsyaAllah kita tetap aman sebagai islam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia... malah ni sob, pernah sampai seseorang teriak "Wallahi... saya gak terima kalau *sensor* di fitnah" ., tapi setelah beberapa waktu dia ngaku juga kalau ngaji juga gak pernah ke Majlisnya (karena saya cecar pertanyaan ini itu)... baca Qur'an juga belum bisa., Hadeeeuuuh

      Hapus
    2. Ea...saya sependapat sama mas sabda....
      Kwajiban pada diri sendiri aja blm tuntas di kerjakan...sdh ngeloncat n berkoar koar ngurusin umat...
      -----------
      Jd buat intropeksi kita semua nih mas :)

      Hapus
  11. saya pernah denger anggota dari anasir tertentu menyatakan bahwa yang bukan dari golongannya adalah..... (susah diungkapkan, kata-kata mereka busuk sekali), rasanya pengin membantah banget. wong sayanya juga nggak pernah memperkarakan mereka koq.
    yang pasti lembaga ini eksis dan banyak kantornya di negeri ini.
    dengan mereka memprovokasi seperti itu, akan ada dong reaksi dari pihak yang dikatain. jadilah benang kusut bernama cerai berai.
    ini loh musuh kita bersama yang sangat berat: ketidaksatuan. wong disuruh bersatu saja sulitnya minta ampuun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya saya tau kantor yang mana itu pak, hoho. Kalau dimaksud yang itu memang kerjaannya bikin perkara karena memang itu kerjaannya, kalau gak begitu kan gak dapat kucuran dana dari luar ^^

      Hapus
  12. ya itulah sob kehidupan sekarang..
    susah banget di suruh bersatu. ya bisa di bilang
    "di adakannya wadah untuk bersatu itu untuk di bantah" ya gi dech., g nyambung ya.. hehehe saya juga bingung nih asob, wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaahh, masih sore dia udah bingung (^,^)/

      Hapus
  13. Blog yang cantik

    Makasih udah kesini :)

    BalasHapus
  14. Agama bukan untuk diperdebatkan tapi untuk diyakini dan diamalkan ,betul sekal itu. HR Bukhori memang bisa menjadi acuan, jika tidak ada manfaatnya lebih baik diam saja.

    BalasHapus
  15. Allah maha benar, menarik sekali punya sahabati blogger seperti panjenengan.

    BalasHapus
  16. ya begitulah jaman sekarang, suka berdebat, sampai-sampai agama jadi bahan perdebatan.. biasanya aku unfriend aja kalau ada teman yang suka berdebat, walaupun niatnya baik, namun tak baik berdebat di depan umum. walaupun dia tidak berdebat denganku, tapi aku tak suka melihat perdebatan.
    mari sama-sama belajar, mengenal Islam lebih dekat, amalkan, dan sampaikan dengan cara yg ma'ruf..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terkadang beberapa orang tidak bisa membedakan antara berdebat dengan yang dimaksud dalam surah An Nahl dengan debat yang dimaksud surah Al Anfal Umm... Dan yang berdebat itupun tidak atau belum mencukupi kualifikasi dalam mendebat.

      Padahal Rasulullah bersabda, hindarkanlah debat walaupun kalau kau benar. Gara-gara salah persepsi jadi absurd pengamalannya, debat untuk ahli kitab dipakai untuk sesama mukmin. Belajar dulu perlahan sambil mengamalkan, itu yang diajarkan sahabat-sahabat Rasul dulu, setuju :)

      Hapus
  17. ini dia yg menyebbkan kita onggok2an pdahal ssmma muslim. Lha wong jalurnya kita sama (aku dan dia) tiba2 saat kita pisah krna gak bisa breng dia jadi merasa ada jeda. krna ia pikir aku tak mengkuti partainya jadi kesannya ada jeda. Dan selalu ku jawab kita muslim dimata Allah sama.

    Kamu mau partai kamu mau enggak dihadapan Allah adalah identitas ahlaknya yg bernaungkan memperjuangan Islam sebenarnya2 karna muslim.

    ohya lebih parah lagi itu. Saya kaget plus heran saat ditanya mahzab kamu apa? dan saya geleng2 kepala saja tanpa membuka mulut. dan org tsbt mnkankan hars jelas dunk.
    Saya jawab saja muslim..muslim... muslim bin muslim.
    asal muslim itu benar. hhehe.. setuju sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika ashobiyah sudah mendera, tidak akan lagi ada ramah menyapa saudara...

      Tapi tidak semua seperti itu, khusnuzhon saja,. Sisihkan yang bersikap ghuluw, berikan tanganmu pada mereka yang tawadhu :)

      “Sesungguhnya Alloh mewahyukan kepadaku agar kalian rendah hati, hingga tidak ada seorang pun yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat aniaya atas yang lain.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah)

      Hapus
  18. perbedaan itu indah ^_^ .. itu ajasih. aku suka perbedaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga suka perbedaan, tapi untuk kreativitas. Terutama blog, paling suka kalau blog aku beda dari yang lain... hoho

      Hapus
  19. Mujadalah/ debat/ diskusi ato apalah terkadang malah menambah masalah, namun tidak bagi mereka yang selalu bisa memandang bahwa segala sesuatu pasti ada hikmah.

    Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah [*] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. An Nahl :125)

    Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

    Salam ta'dhim saya, Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan JANGANLAH KAMU BERBANTAH-BANTAHAN, YANG MENYEBABKAN KAMU MENJADI GENTAR DAN HILANG KEKUATANMU DAN BERSABARLAH. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar Al-Anfaal : 46

      Maha Suci Allah yang menguasai segala hikmah

      Salam ta'zhim saya, Khy :)

      Hapus
    2. So... apa koment saya dan koment Mbak termasuk "berbantahan"?

      Hapus
    3. Bukan begitu maksudnya... Berbantahan itu kan saling mengukuhkan pendapat. Lagi pula kalau melihat asbabun nuzulnya ayat, berbeda teruntuknya antara surah an nahl dan al anfal (kalau tidak salah ini mah). Jadi, komentarnya bisa terhitung sebagai watawas shoubil haq

      Hapus
  20. pada saat dulu mengaji juga diberikan hal seperti ini,, bukan sunni, syiah atau yang lainnya.. tetapi satu muslim.. meskipun dalam hal peribadatan sedikit berbeda tetapi mempunyai inti atau core yang sama yaitu islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tuh, makanya awal-awal tau jadi kaget, segala ada sunni, syiah... padahal kita belajar dulu hanya mengenal Islam saja. Tapi menarik juga sih, kita jadi tau penyimpangan akidah yang terjadi di luar sana sehingga kita bisa terhindar darinya, tapi harus ada basic akidah yang kuat lebih dulu agar tidak mudah terbelokan.

      Ayo dukung gerakan tanamkan akidah yang lurus sejak dini (^_^)/

      Hapus
  21. intipati yg hebat..i'm proud to be MUSLIM....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sam’an wa tho’atan.. (^_^)/

      Hapus
  22. hanya satu MUSLIM sob, tidak perlu terkotak2 seperti kebanyakan terjadi sekarang ini. APalagi ada yang mengkaafirkan yg tidak sejalan dengannya... miris

    BalasHapus
  23. MasyaAllah bagus sekali tulisannya..

    kayaknya semua komentar sudah mewakili yg mau saya katakan..

    ya kita sebaiknya diam saja jika harus berhadapan dengan hal seperti ini y sob, ga usah ikut2an. .
    seharusnya kan sesama muslim itu bersatu, ini malah mencari2 kesalahan..ckck
    kayaknya mereka salah menafsirkan "Ikhtilafi Ummati Rahmah".. yaa jadinya gini nih...

    kayaknya memang sudah mau kiamat nih, ckkcck

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh ada Fian... kirain masih hiatus gara-gara ada praktek yang kemarin itu ^^

      Iya, saya juga senang sekali dengan kebanyakan komen yang ada, rata-rata positif dan mendukung persatuan, menolak pengkotak-kotakan. Alhamdulillah, berarti benar perkiraan saya, lebih banyak yang suka perdamaian & persatuan, hanya mereka tidak bersuara. Disini saya jadi bisa mendengarnya, Alhamdulillah...

      Hapus
  24. orang yang suka berdebat tentang agama sebenarnya orang-orang yang sedang mencari jatidirinya dan baru belajar tentang islam menurut pemahaman orang2 yang mengajari mereka, dan pertentangan2 yang terjadi karena orang2 tersebut tidak lagi menjadikan Rasulullah sebagai panutannya dan juga tidak menjadikan al quran dan al haditz sebagai tuntunannya,
    yang mereka jadikan patokan kebenaran adalah para guru mereka sendiri, yang mereka sembah dan mereka kultuskan, bahkan ironinya melebihi daripada apa yang mereka lakukan terhadap nabiullah... padahal mereka lupa bahwa kebenaran sejati itu datangnya dari ALLAH dan hanya ALLAH YANG MAHA BENAR, kemudian kebenaran sejati disampaikan kepada manusia melalui Rasulullah...bukan melalui siapa2, termasuk bukan melalui para guru yang mengaku sangat memahami tentang Islam....salam :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... Ingin sekali saya berkomentar seperti bapak., tapi lidah saya kelu karena saya tau sekali banyak yang tidak suka dengan komentar seperti ini, padahal inilah nyatanya tapi mereka tidak sadar atau telah tertutup pendengaran dan mata hatinya. Terimakasih sekali pak (^_^)/

      Hapus
    2. wah benar sekali yah.
      saya baru nyadar koemntar ini ngena bgd. yah ternyata, dlu saya juga gtu.
      terima kasih pak ikutan Gen-q

      Hapus
  25. hanya para provokator lah yang senang dan tertawa melihat terpecahnya umat islam. sebenarnya cukup bilang saya Muslim aja, selesai.

    BalasHapus
  26. oohhh indahnya ukhuwah...indahnya persatuan... buruknya perpecahan...

    BalasHapus
  27. Imam Al Auzai berkata : "Jika Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka kebiasaan berdebat dan menghalangi mereka untuk beramal:

    Nyok bekerja, bekerja, dan bekerja, karena kelak kita akan diperlihatkan tentang apa yang sudah kita kerjakan, bukan berapa banyak yg sudah kita debatkan.
    Buat penulis, JEMPOL untuk anda, terus belajar, beramal dan berdakwah,. Salam ukhuwah. :)

    BalasHapus
  28. Masya Allah, belum pernah saya dapet di blog komen sebanyak ini.
    Blognya populer sekali sepertinya. :-)

    BalasHapus
  29. yappss.. masih ada harapan negara kita ini besatu.. !! ^^

    BalasHapus
  30. Benar sekali Teman sekarang ini yang penting Pertebal Persamaan, Kikis Perbedaan, Maka Muncul Persatuan, apabila itu diterapkan oleh kita semua maka semua aman dan damai.
    sangat menarik dan berguna postingannya sobat
    terima kasih sudah berbagi

    BalasHapus
  31. saya pernah mendengar bahwa islam itu sederhana, ketika kamu tidak bisa beridir, maka shalatlah sambil duduk..
    keimanan seseorang satu dengan yang lain berbeda, biarlah Allah yang mengetahui, karena kita hidup di dunia ini kan untuk menyembah-Nya...

    BalasHapus

 

Instagram

Get My G+