Westernisasi, Siapa Yang Salah?

“Lebih banyak dari kita yang mengunyah kulit kacang ketimbang isinya. Mengambil yang seharusnya dibuang dan malah membuang yang seharusnya diambil.”

Gambar diatas sengaja saya tampilkan diawal sebagai ‘versus’ dari tulisan bertema serupa oleh Adik saya yang sedang galau, Andrenogen Tauladinoksida. Dalam akhir tulisannya, Westernisasi salah siapa? Didapat sebuah kesimpulan jika wabah westernisasi itu dapat merebak luas dikarenakan ulah bangsa ini sendiri wa bil khusus umat Muslim sebagai mayoritas.

Jika westernisasi diibaratkan seperti arus, maka arus yang dibawanya teramat besar dan menyeluruh. Dari mulai politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan bahkan hingga ke ranah pemikiran!

Dari segi politik, Demokrasi yang kita kenal sekarang bukanlah produk Indonesia tentu. Karena Indonesia sebelum disatukan dulunya berbentuk kerajaan yang coraknya berbeda di tiap-tiap wilayah. Dan dari segi ekonomi system kapitalis yang ada sekarang diimport dari barat. Tidak jauh berbeda dengan segi pendidikan yang kurikulumnya harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari kaum barat.

Yang paling mudah terlihat dan kasat mata adalah dari segi kebudayaan. Wanita-wanita Indonesia yang dulunya anggun berkebaya sekarang berseliweran mengenakan selembar kain berukuran minim. Dari yang dulunya wanita-wanita Indonesia banyak berdiam dirumah, bercengkrama dengan keluarga, beraktivitas yang sesuai dengan fitrahnya, tapi kini kita temukan banyak wanita-wanita Indonesia yang lalu lalang bahkan hingga tengah malam.

Dan coba perhatikan pemuda Indonesia sekarang, banyak yang suka meniru-niru gaya kaum barat dari mulai cara berpakaian, cara bersosialisasi, bahkan cara mereka makan.. Gaya dandanan anak muda Indonesia sekarang malah lebih ‘wow’ dari pada Negara asal tempat dimana budaya itu di import. Pemuda yang suka menggunakan baju ketat, celana ketat (sampai saya merasa kebingungan bagaimana cara mereka meloloskan pakaian juga celana itu melewati tubuh).

Belum lagi ditambah anting-anting yang mencolok mata terus juga rajah tubuh alias tattoo. Dan dengan cueknya berjalan ‘slonong boy’ didepan orang tua plus angguk-angguk kepala, bukan sebagai tanda hormat tapi telinganya sedang dipasang headseat sambil mendengarkan lagu metal (Eh, ini bukan untuk menyindir Zachflass loh, karena beliau kan sudah taubatan nasuhah sekarang). ^^


 
Pemuda-pemudi sekarang akan merasa lebih percaya diri jika membudayakan diri dengan budaya barat. Jelas terlihat bahwa sekarang ini kita mengalami krisis jati diri, bukan hanya sebagai seorang Muslim tapi juga sebagai seorang Indonesia. Terbang melayang budaya Tepo Seliro yang mengedepankan harmoni, keserasian, kerukunan, dan rahmat. Berganti dengan Egoisme yang merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri tanpa memperhatikan keberadaan orang lain.

Ketika kita membicarakan benar salahnya westernisasi, kita terlebih dahulu harus mencerna westernisasi secara global sebelum mengerucut kearah parsial. Seperti diawal tulisan, sangat disayangkan bahwa kebanyakan dari kita tidak bisa memilih mana yang dikonsumsi.

Sebagai contoh sederhana adalah penggunaan teknologi media yang arusnya dibawa oleh kaum barat. Ketika kita sibuk berkorespondensi dengan cara surat-menyurat, kaum barat sudah lebih dimudahkan dengan penemuan teknologi yang dapat mengirimkan surat secara elektronik. Lambat laun kitapun sudah terbiasa menggunakan email dan sms. Belum lagi kalau kita membicarakan produk internet. Tidak terbayangkan betapa kita dimudahkan oleh teknologi satu ini. Memudahkan arus informasi juga menjalin silaturahmi.

Disamping hal-hal postif yang kita peroleh, tentu sisi negative akan selalu membayang dibelakangnya. Terbukti dengan makin banyaknya situs-situs yang menginformasikan kekeliruan dan berujung pada penyimpangan informasi yang sebenarnya. Namun herannya masyarakat Indonesia saat ini malah lebih suka menggunakan produk ini untuk hal-hal yang kurang bermanfaat dan bahkan yang sudah jelas-jelas terlarang bukan hanya dalam ajaran Islam tapi juga budaya Indonesia, seperti situs-situs gossip dan mewabahnya situs-situs pornografi yang justru menjadi daya tarik sendiri bagi kebanyakan kita. Belum lagi media social yang malah dijadikan ajang perdebatan yang menimbulkan bukan hanya kekisruhan tapi juga permusuhan.
 
Dan segi pemikiran sudah tidak terhinggakan lagi saking banyaknya pemikiran-pemikiran yang diimport dari barat! 

Pemikiran import itu dapat dilihat melalui tersebarnya aliran-aliran yang merusak seperti Freudisme, Darwinisme, Marxisme, slogan pengembangan moral (Levy Bruhl) dan pengembangan masyarakat (Durkheim). Juga berkembangnya perhatian terhadap existensialisme, sekularisme, liberalisme, seruan nasionalisme, sukuisme dan kebangsaan.

Mengapa kita tidak mau mengambil ‘sari patinya’? 

Jika ada sebagian dari kita yang kagum kepada Amerika, mengapa tidak mengambil budaya etos kerja serta optimis sehingga dapat meninggalkan budaya kita yang terkenal dengan pemalas. Bukannya membudayakan free sex?!

Jika kita kagum dengan Jepang, mengapa kita tidak mengikuti budayanya yang terkenal karena otoriter dengan waktu sehingga dapat memacu kita untuk tepat waktu. Bukannya membudayakan karouke dan sake?!

Menyalahkan hanya akan membuat semakin terpuruk, membenarkan juga hanya akan menjadikan kita manja. Karena Rasulullah Saw pernah bersabda,

"Kamu pasti akan mengikuti tradisi orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal atau sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke lubang biawak sekalipun kamu akan ikut masuk pula."

Sudah menjadi sunnatulah umat ini akan cenderung mengikuti suatu kaum yang dianggap 'lebih', sehingga seorang ulama besar seperti Ibnu Khaldun berkata,



"Orang kalah selalu berkeinginan mengikuti yang menang dalam segala hal; dalam berpakaian, berperilaku dan adat kebiasaannya."

Terlebih sebagai seorang Muslim, sebenarnya kita 'tidak butuh' westernisasi sebab Islam telah mengajarkan setiap detail bagaimana agar kita tetap eksis tanpa harus mengikis prinsip-prinsip Islamis. Cara kita bernegara, bermasyarakat sudah diatur dengan sangat indah dengan prinsip bersosialisasi dalam Al Qur'an. Begitu juga dengan tradisi-tradisi yang kita lakukan sudah teratur tanpa perlu penambahan. Jadi jika kita memang sedang dilanda krisis jati diri dan membutuhkan role model, mengapa kita tidak kembali ke sebaik-baik kaum untuk dijadikan contoh? Yaitu, sahabat-sahabat Rasulullah Saw yang hidup pada masa beliau, masa khulafaur Rasyidin, masa setelahnya dan kemudian masa setelahnya. 



64 komentar:

  1. bahkan semua aspek kehidupan sudah disusupi lewat program acara tv. Keponakan saya yang baru 3 tahun sudah akrab dengan sinetron dan iklan tivi, serta produk acara tivi yang kebarat-baratan.
    semoga saya dan istri saya kuat untuk mendidik secara islami atau paling tidak jangan menonton televisi.
    saya juga ngerock dan metal dalam konteks aliran musik, tapi pakaian tetep biasa dan wajar.
    apakah masih bisa dikatakan westernis?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga masih suka Simple Plan kok pak, hoho (udah rada dikurangin sih)tapi kalau busana mah Insya Allah gak neko2. Makanya saya lebih cenderung untuk memilih bentuk westernisasi yang bagaimana yang bisa dikatakan negative. Kalau kita menyukai atau mengikuti budaya western dengan tidak menghilangkan ciri kita saya rasa tidak masalah

      Hapus
    2. alhamdulillah tidak termasuk berlebihan ya mbak dan tidak menyerupai suatu kaum kan

      Hapus
    3. setidaknya saya ada temannya, Mas Agus metal, dan Mbak Gen Simple Plan-an.

      Hapus
    4. kadang saya dangdutan

      Hapus
  2. yah itulah gozwul fikri, tidak kasat mata sih, tapi pengaruhnya luar biasa, dengan rumus 3F, FILM, FASHION, FOOD....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ghozwul Fikri 3F itu malah menurut saya tidak seberap bahaya ketimabng yang benar2 ghozwul fikrinya seperti menjadi agnostik

      Hapus
    2. yg tidak begitu rentan kena rumus 3f orang2 ndeso seperti aku, masih bertahan dengan kesederhanaan hehehe

      Hapus
  3. saya ingin menambahkan yang dari bang Muro El Barezy...mungkin sekarang ada tambahnya lagi jadi F5, Film, Fashion, Food, Fun, and Free sex...
    kunjungan perdana...salam kenal :)
    artikelnya sungguh menarik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yupz, terkepung kita... Salam kenal kembali, terimakasih :)

      Hapus
  4. iya adat kita padahal lebih bagus hlo.. lebih rapi dan sopan.. enak dipandang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tuh kan.. kalau kita kembali aja ke budaya zaman dulu Indonesia itu sopan dan santun. Jadi memang perlu pemilahan antara westernisasi yang positive dan negative

      Hapus
    2. iya juga ya gen memang sih terasa seperti jadul tapi kan lebih berpendidikan dari pada zaman sekarang ini yang semakin sulit untuk di perbaiki

      Hapus
  5. terusnya kalau udah begitu kenyataannya kita harus gimana dong?...yu kita singsingkan lengan baju, kita berperang melawan segala bentuk westernisasi terselubung teknologi, mari kita kembali pada kitah sebagai bangsa timur....majuuuuuuu...!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gerak...!!! (^,^)/

      Nah itu udah dijawab sama mamang sendiri, singsingkan lengan baju, yuuuk kita mencangkul ubi! *Ehh

      Hapus
  6. mbak, bukan zachlass, tapi zachlaff :P

    iya tuh bener kata bang muroi, 3F: Film, Fashion, Food.. cuman kalo udah lari ke urusan selera, rada repot ya ukh :( saya pun masih suka musik2 yang melenakan dan berpotensi buesaaar menghilangkan hafalan yang padahal cuman seipriiiiit T_____T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi bukan Wyclaff..? (emang penyanyi hip hop) :D

      Nah itu... selera. Ckckck, masalah kita sama ukh... makanya ini lagi mati-matian puasa musik, hapalan saya ituuu,,, kabur-kaburan.. huuu T.T

      Hapus
    2. salah semuanya. saya kan the Flazz, kadang kadang jadi Hulk, kadang the Thing. yang pasti temennya Wonder Woman.

      Hapus
    3. nah tuh mbak, tersangkanya dateng.. kabuuur

      Hapus
  7. tau Mbak, apa perasaan saya jaman dulu saat bisa meniru budaya barat? bangga dan merasa gagah, padahal sadar kalo itu salah dan nggak normal, dan tidak pantas. fatal kan.. saya yakin begitu juga yang terjadi pada anak2 muda jaman sekarang saat mereka bergaya kebarat2an. mereka perlu dikasih sentuhan dakwah, tapi dengan pendekatan yang lebih "mereka banget".

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saya dulu kena viru westernnya yang berkaitan dengan musik dan film,, malah anehnya saya suka banding2in produk gitu... Astaghfirullah.. Tapi alhamdulillah seiring proses semua itu berubah. Iya pak setuju sekali! Dakwah kepada yang muda harus dengan bahasa mereka :)

      Hapus
    2. benar pak zach.. ala-ala uje gitu ya..

      Hapus
  8. hm... hm.... hm....
    mau komen apa tadi...
    oh ya, westernisasi yah? saya sendiri nggak ngerti apa itu westernisasi,
    tapi gini, saya inget ama pesen dari guru saya waktu SMP dulu, boleh membaur tapi jangan melebur. budaya barat yang masuk biarlah masuk, tapi jangan sampe ikut-ikutan hingga akhirnya melebur, nggak jelas bentuk. Yang namanya besi kalo melebur bentuknya jadi gak jelas. Seorang pandai besi kalo mau bikin pedang kan besinya dilebur dulu, terus dibentuk dah.. nah kalo kita udah lebur, jadi gampang dibentuk sesuai kehendak siapa yang ngeleburin.

    ah bahasanya pusing.. nanti lah saya belajar bahasa dulu ama yang lebih ahli.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belajar sama pandai besi? "Kuatkan dulu akidah sebelum kita bersosialisasi" kitu mereun ndre ^^

      Hapus
  9. bagus sekali artikelnya buat renungan para remaja dan kita semua agar mencukupkan diri dengan mengikuti ajaran islam sesuai syare'at yg benar, ngapain repot2 meniru budaya barat yg sangat jelas bertolak belakang dengan budaya kita...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena semua segi positive yang mungkin kita kagumi dari mereka sudah ada semua dalam Islam, hanya kita yang kurang jeli ^^

      Hapus
  10. seperti itu iia.. makanya saiia berusaha tuk bisa berdiri di atas kaki sendiri :( gag ikut orang laen :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau gak berdiri pakai kaki sendiri nanti jatoh sob :D

      Hapus
  11. tak perlu salahkan sesiapa, yang penting diri sendiri...kita pasti selalu ingat ayat ini, yang baik dari Allah dan yang buruk dari diri sendiri....kalau kita cukup iman di dada, seribu dugaan yg datang pasti takkan goyah kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heuuu,, KY tak bace-bace dulu tau.. Bukan tu maksud ay ^^

      Hapus
  12. Mari berlomba-lomba merubah segala yang ada menuju kebaikan, dimulai dari diri sendiri...^ ^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuuk, mari... Ibda' bi nafsik ;)

      Hapus
  13. menata diri dari awal.. :) untuk meuju Indonesia yg lebih baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Go Indonesia for better..!! *sambil kibar-kibar bendera (^,^)/

      Hapus
  14. akhirnya menjadi kebarat-baratan, dianggap semua yang datangnya dari barat lebih baik karena nilai trendy yang tanpa mempertimbangkan nilai keluhuran moral, memang ada juga sih nilai kita perlu bercermin dari sana misalnya etos kerja dan kedisiplinan yang tinggi.
    nice posting

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dimulai dari satu orang yang dianggap tokoh, di anggap keren lalu diikuti.. sesimple begitu aja padahal. Yupz, makanya diatas saya sedikit menyinggung kalau memang menganggap west itu lebih keren, kenapa gak mencontoh segi positivenya aja?

      Hapus
  15. Mas atau mbak nich ya..(kunjungan perdana hehehe..ya memang spt itulah keadaannya sekarang, utk melemahkan kaum muslim tdk melalui peperangan secara fisik, pasti kalah mereka dan terlalu makan biaya besar. tapi dengan politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, pemikiran? hmm cepet bgt ambruk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Strategi yang dipikirkan secara matang untuk melemahkan umat Islam selepas crusade war... sayangnya malah banyak yang terlena :(

      Hapus
  16. westernisasi itu sebanrx penyakit yg menghilangkan rasa malu, misalx laki2 pake anting2 dianggap keren pdhal memalukan!bs2 dianggap bencong!, laki2 celanax sengaja dikendor2kan sampai terlihat CD bagain belakang dianggap keren pdhal memalukan malah berkesan jijik!, dan msh bnyk lg contoh2 westernisasi yg menghilangkan rasa malu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya itu... tugas kitalah yang walaupun baru sedikit mengerti, wajib mensyi'arkan bahwa yang keren itu kalau bisa hafizh Qur'an, ke daerah-daerah terpencil untuk baksos, pakaian tertutup. Kalau gak ada yang kasih tau kan selamanya mereka pikir itu sesuatu yang keren

      Hapus
  17. Menurut saya sih tergantung kita saja dalam memfilter apa yang kita cerna, saya juga suka melihat film - film barat, terutama yang laga, kadang ada adegan 'panas', namun tidak pernah ingin untuk melakukan hal seperti itu kecuali kelak saya sudah beristri, itung - itung sedikit pengetahuan lah, hehe... :) Kebanyakan yang saya ambil dari film justru kata - kata bijaknya, banyak sekali film dengan pesan - pesan bagus kalau kita mau memperhatikan.

    Dan tidak usah terlalu menuduh produk barat saja, nyatanya sinetron, berita, gossip dan berbagai macam acara tivi dalam negeri lainnya juga memberikan dampak yang buruk. Tiap hari masyarakat dicekoki dengan berita yang tidak membangun pola pikir positif dan produktif, menjadikan cara pikirnya juga ikut - ikutan lelet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Justru disitu kan masalahnya sobat... tidak semua dari kita ini bisa memfiter apa yang baik untuk dicerna, asal comot aja. Nah, justru sekali lagi... adanya sinetron yang menampilkan aurat, kekerasan, hedonisme awalnya dari mana coba? Lanjut gossip, apakah dulu bangsa kita pandai bergossip? Hmmm,, coba diingat-ingat lagi ketika televisi kita isinya tentang padi dan swasembadanya, pendidikan, hiburanpun isinya berasal dari Nusantara yang kaya budaya. Jadi bukan menuduh, tapi begitulah nyatanya

      Hapus
    2. tepat sekali mbak gen-Q jawabannya..salut :))
      memang yg bisa memfilter itu tidak banyak.

      Hapus
  18. Mari kita tunjukkan budaya kita, bahwa budaya bangsa kita adalah budaya yang berbudi pekerti luhur. Salam.

    BalasHapus
  19. semangat untuk terus menunjukkan budaya seorang muslim yang tela diajarkan oleh Rasulullah saw..

    BalasHapus
  20. kalau saya hanya menyukai musik2nya saja mbak, hobi dengar dan maen musik. itu gimana mbk??
    memang cara budaya barat mempengaruhi itu sangatlah halus. buat anak2 zaman sekarang sangat rentan. jika orang tua tidak tegas maka mereka akan mudah saja terjerumus..
    memang kita tidak bisa menyalahkan wasternisasi, sebenarnya org islam sendiri lah yg kurang mau untuk belajar dari Alquran.. padahal sudah komplit semua di Alquran ajaran2 yg benar

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga hobi dengar tidak sampai main musik lho

      Hapus
  21. Menjadi muslim yang bisa memfilter berbagai gaya hidup, budaya yang masuk,,selama itu positif bagi diri dan orang lain,,smoga tidak tergolong umat yang ikut-ikutan tanpa dasar.

    BalasHapus
  22. jika hanya mau menyalahkan, maka semua pihak akan kena.

    banyak yang harus kita kerjakan, jika kita mau melakukan perubahan. salah satunya da'wah bil 'ihsan wal ilmi. dengan ihsan akan membukakan hati mereka, dengan ilmu akan membimbing mereka..dan insya Allah, Allah akan selalu membantu..

    dan senantiasa lah terus mendoakan mereka..

    BalasHapus
  23. yang berbau barat seakan-akan lebih maju dan ngetrand. Budaya sendiri dianggap kuno.

    BalasHapus
  24. maaf sayang, Apakah kamu sering mengenakan gaun kebaya? Dan seberapa mudah hidupmu dengan berbagai tekhnologi yang tercipta dari belahan dunia barat?

    ALLAH MAHA BESAR, BARAT TIMUR semua tercipta berkat kehedak yang maha kuasa. BUDAYA ISLAMISASI or ARABISASI????

    Di Maroko, Tunisia, Mekah, sangat gampang di temukan rumah BORDIL dan KASINO. Apalagi Indonesia? Sedangkan Amerika, kalu tertarik dengan kegiatan Maksiat, hanya di izinkan di L.A - California "TIDAK DI SEMBARANG TEMPAT". dosa urusan pribadi masing masing.

    Makasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat di'sayang'kan jika kita mengomentari sesuatu tanpa MEMBACA terlebih dahulu baik tersirat maupun tersurat. Saya berani jamin gak akan ada komen seperti ini ketika sampai pada kalimat:

      Ketika kita membicarakan benar salahnya westernisasi, kita terlebih dahulu harus mencerna westernisasi secara global sebelum mengerucut kearah parsial. Seperti diawal tulisan, sangat disayangkan bahwa KEBANYAKAN DARI KITA TIDAK BISA MEMILIH MANA YANG DIKONSUMSI

      Bicara teknologi... Kira-kira ketika mencari-cari apa yang namanya westernisasi ada gak yang membahas teknologi :D ., Coba ya... western beda sama modern, cari dah di kamus :D

      Arabisasi? Islam terkait dengan Arab, tapi gak semua Arab terkait dengan Islam... malah banyak juga budaya Arab yang dicela dalam Islam. Harus bisa bedain loh my bro ^^

      Oya, balik lagi nih ke tulisan... coba perhatikan kalimat:

      Jika westernisasi diibaratkan seperti arus, maka arus yang dibawanya teramat besar dan menyeluruh. Dari mulai politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan bahkan hingga ke ranah pemikiran!

      Kelihatan gak 'alurnya'? Maksud tulisan saya... Bentuk bukan benda, tapi benda pasti berbentuk (nah loh anak orang bingung) :D

      Ngomong2 soal maksiat... Ehem,, ehem,, jadi gak enak nih saya karena ketahuan kalau tahu. Pernah jalan2 di Madison Square Aveneue? Mulai remaja sampai dewasa berbusana seperti zamannya Flinstone dulu tuh.. robek sana sini n minim sekali,, miring sana miring sini.. heuu. (Walau gak semua juga) French kiss di bangku taman? Nyaahhh udah biasa kali brother,, sempoyongan tengah malem habis dugem. Aborsi udah jadi biasa, sebiasa mereka ngelakuin surgery ^^

      Absolutely! Dosa urusan pribadi, tapi kami diperintah agar menjadi umat yang berbagi kebaikan bukan untuk pribadi ;)

      Hapus
    2. teknologi lahir dari budaya

      Hapus
  25. assalammualaikum....

    terkait westernisasi, terkadang tak bisa dipungkiri kebaratan juga sebagian masuk kepada kehidupan kita, dan cukup penting kontribusinya.
    Semisal teknologi, transportasi, dsb...
    ini dalam hal positif yah.....


    ehya, ke blog ku ya mbak.
    ada pesanan vectorgrafy udah jadi buat mbak :))))

    BalasHapus
  26. secara mendasar semua kaum muslimin terlibat karena kewajiban iqomatul hujjah ditimpakan kepada setiap kaum muslimin.

    BalasHapus
  27. memang sangat berbahaya nih mbak, malahan saya sudah terkena sedikit dengan filmnya.

    tapi selepas dari semua itu, saya memang paham betuk bahwa budaya mereka sangat arah, bahkan di luarnegeri sana, anak berumur lebih dari 10 tahun sudah terbiasa melakukan kissing di depan publik...

    BalasHapus
  28. budaya barat sudah lama bertapak di nusantara.....kita tiada pilihan kecuali untuk berpegang kepada Alquran dan Al hadis.

    BalasHapus
  29. Tapi harap dibedakan, tradisi islam dengan tradisi arab. Karena tradisi arab pada dasarnya adl peninggalan era jahiliyah.

    Sebaik-baiknya tradisi, adl tradisi lokal suku bangsa indonesia.
    Sebaik-baiknya pemikiran, adl pancasila. Karena beragaman suku bangsa dan agama di indonesia tak bisa disamaratakan.

    BalasHapus
  30. yah, semua itu tergantung kepribadian masing2... dan tentunya niat dlm diri sendiri "mau jadi apa", lingkungan hanya memepngaruhi saja. jika dlm hati udh mantap ingin jd org bener, gak akan terpengaruh oleh lingkungan manapun

    BalasHapus
  31. Kaitan dengan artikel ini, salah satu hal yang perlu direnungkan kembali adalah sistem pendidikan kita. Pendidikan di Indonesia sebagian besar hanya mementingkan kecerdasan otak, tetapi hatinya kurang diperhatikan. Kita ingin mempunyai sistem pendidikan yang mengarah untuk menyehatkan hati sampai menjadi abdan syakuro.

    BalasHapus
  32. yah apa daya..
    semuanya diimpor, jd salah siapa..?

    seharusnya indonesia bisa lebih memberikan ciri pada jatidirinya, jangan mencondongkan pada barat, timur tengah, amrika, rusia, china, japan atau korea....

    :)

    BalasHapus
  33. INDONESIA BUKAN NEGARA ISLAM. Dasar ISIS kalian semua
    Kalau tidak ada westernisasi, negara ini sudah lama tidak akan orang kenal, ini akan menjadi negara terbuang jika pemikiran2 yg lain seperti ANDA. Pahami itu

    BalasHapus

 

Instagram

Get My G+