Mata, (Hati) Manusia Beriman

Itulah yang diperbuat keimanan
Membuka mata dan hati
Menumbuhkan kepekaan
Menyirai kejelitaan, keserasian dan kesempurnaan
Iman adalah persepsi baru terhadap alam
Apresiasi baru terhadap keindahan
Dan kehidupan di muka bumi
Diatas pentas ciptaan Allah
Sepanjang malam dan siang
(Sayyid Qutbh)
Jiwa yang beriman itu, peka dan sensitif. Bukan sensitif emosinya sehingga mudah terasa. Bukan pula peka dengan kesalahan yang orang lain lakukan terhadapnya. Tetapi, ia sensitif dengan dosa-dosa yang dilakukannya. Ia peka dengan masalah ummatnya.

Hakikat manusia sejatinya bukan hanya pada kulit muka yang terbuat dari tanah, yakni daging, darah dan tulang, tetapi lebih pada kelembutan Rabbani yang dengannya manusia merasa, beremosi, bereaksi, merasa sakit, dan mengasihi, yaitu hati yang peka. Di antara sifat Mukmin yang paling menonjol adalah bahwa ia memiliki hati yang peka, halus, lembut, dan penuh kasih.

Dengan hati seperti inilah, seorang Mukmin menyikapi semua kejadian dan setiap orang. Orang lemah ia sayangi, kepada orang sakit ia berempati, orang miskin ia santuni, dan orang tak punya ia bantu. Dengan hatinya yang peka dan penuh kasih, tak pernah ia menyakiti dan jauh dari berbuat onar. Dengan hatinya yang peka dan penuh kasih, ia menjadi sumber kebaikan, kebajikan dan kedamaian bagi apa saja dan siapa saja yang ada di sekitarnya.

Namun alangkah langkanya sekarang, menemukan, mata-mata, hati-hati yang terpancarkan keimanan. Bening dalam sangkaan, lembut di lisan dan penuh kasih sayang dalam perbuatan. Sehingga iman itu tidak lagi menjadi bahan cacian-hinaan. Keimanan yang lalai, keimanan yang menyakiti, keimanan yang tak dibukti.


Semoga kita, sobat, diberikan karuniaan iman yang bersih dari penyesatan

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang Maha Pemberi (karunia)” QS. Ali ‘Imran : 8




21 komentar:

  1. semoga kita bisa menjadi manusia2 yang bersih iman dan dekat serta takwa kepada ALLAH SWT ya ...keep happy blogging always..salam dari Makassar :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Ketika keimanan dibarengi taqwa, seribu syaithan penggoda pun akan binasa ^^

      Hapus
  2. gk tau ahh mau komen apa, hny bisa bilang, tulisannya bagus! *smile

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya jadi bingung lah mau balas apa :D

      Hapus
  3. Jiwa yang beriman itu, peka dan sensitif. Bukan sensitif emosinya sehingga mudah terasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dikutip lagi ^^ ., hatur nuhun :)

      Hapus
  4. lama tak singgah diblog keren ini, perubahannya signifikan dan kontroversi hati makin menjadi dilema bagi saya yang masih seperti dulu....hadeh
    pencerahan dan hati jadi kian terasah dan mencoba menyelami mata hatiku masih peka ngga yah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kan akang orangnya gampang nangis. pasti masih peka. peka..longan

      Hapus
    2. Aapa yang berubah maang, satria baja itam? Perasaan kemarin2an juga sama. Insya Allah bener kata Pak Zach, mang ubi tergolong lah orang yang peka. peka..puran

      Hapus
  5. saya kadang masih ambigu Mbak. ruwet di dalam. ada tren ke hanif, ada pula tren ke ketidakmapanan. entahlah, saya hanya menjudge ini proses. tapi kelamaaen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ihz, dia salah konsentrasi :D :D ,. Apalagi saya nanti... juniormu ini pagimana???

      Hapus
  6. Semoga kita selalu menjadi orang yang lurus dan istiqamah fi sabilillah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin,,, Mari dilanjutkan promonya ^^ ., biar #greget :D

      Hapus
  7. Aamiin......
    bicara tentang kepekaan nth kenpa masih bnyk yg pekanya mengarah ke emosional .. benar memang syaitan menggoda manusia sesuai kapsitas/kwlitas orang tersebut... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi sebenarnya kata peka memang ambigu... pasti kalau dalam bahasa Arab berbeda kata ya? Hmm, sayangnya saya belum bisa bahasa Arab

      Hapus
    2. kalo dalm bahasa arab, bukan hnya beda kata, beda huruf atau beda harokat saja sudah beda arti, apalgi bhasa arab kn kya akan kosakatanya... :)

      Hapus
  8. bagus banget nih puisinya,izin aq kutip yasob

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asal jangan lupa sumbernya yasob

      Hapus
  9. Masih terus belajar jadi muslimah yang beriman, Mbakyu.. :)
    Aku mulai dengan memakai kerudung dan pakaian yang syar'i, pelan-pelan mulai ninggalin celana jeans :D

    BalasHapus
  10. wahai sang penggenggam hati jagalah hati kami selalu untuk tetap condong pada Mu ya Rabb.....
    * jaga hati ini lumayan,smoga tetep istiqomah... :)

    BalasHapus
  11. Subhanallah :)
    iman... indahnya!

    BalasHapus

 

Instagram

Get My G+