Giveaway Senangnya hatiku: My First Wish List Terkabul!

By : Ave Ry

Senangnya hatiku bisa mengikuti Giveaway lagi. Gagal yang pertama coba yang kedua. Gagal yang kedua ini ... marah-marah sama yang buat Giveaway., hehe


Sesuai tema, Giveaway ini sangat menyenangkan hati saya. Karena tidak ada hal yang paling menyenangkan menurut saya dari pada menceritakan kebahagiaan kita atas suatu nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita. Selalu bersyukur untuk pemberian-Nya sekecil apapun, apalagi kalau pemberian itu sesuatu yang menjadi wish kita.

Sekitar hampir dua tahun lalu saya membaca sebuah buku tentang harapan yang jika ingin terkabul maka hendaknya kita menuliskan harapan-harapan itu. Pada waktu itu saya bingung mau menulis harapan apa karena saya merasa sudah cukup dengan segala apa yang ada pada saya. Lalu saya coba-coba saja menuliskan keinginan-keinginan yang saya rasa tidak mungkin saya dapat mengusahakannya (karena sesuatu itu terlalu mahal atau terlalu sulit) tapi sangat saya inginkan.

Berhubung kehidupan saya hanya dalam batasan cukup-cukup saja, maka dari itu saya terbiasa untuk tidak menginginkan sesuatu diluar batas yang bisa saya usahakan. 

Waktu itu saya menuliskan wish list seperti ini :

1.      Memiliki Kitab Tafsir Ibnu katsir
2.      Sirah Ibnu Hisyam 2 Jilid
3.      Pergi ke Cordova, Meddina Az Zahra, Andalusia, Spain
4.      Berangkat Haji beserta Orang tua
5.      Dll

Setelah menuliskannya di selembar kertas A4, kemudian saya print. Kertas itu saya simpan saja diselipan sebuah buku tulisan Aidh al Qarny.

Selang waktu beberapa bulan, saya sudah melupakan keseluruhan wish list yang pernah saya tulis. Saya beranggapan hal itu menjadi sebuah hal yang konyol! Tapi, sudahlah. Kembali pada sifat saya yang dulu, takut berharap, sehingga tidak mau menginginkan apapun karena perasaan tidak terpenuhi adalah sesuatu yang sangat saya benci.

Malam hari ketika beristirahat sambil mendengarkan siaran sebuah radio, saya tertarik untuk mengikuti sebuah perlombaan menulis yang diadakan radio tersebut. Perlombaannya cukup mudah menurut saya, karena kita hanya perlu menuliskan pengalaman kita selama menjadi pendengar radio tersebut.
Apa susahnya menuliskan sebuah pengalaman? Sebenarnya pada waktu itu saya berniat untuk mengikuti lomba menulis tersebut hanya karena saya ingin tulisan saya ‘dibaca’ saja. Selama ini saya kurang percaya diri dengan tulisan saya. Maka banyak tulisan-tulisan saya yang melayang-layang tak tentu arah.

Satu hal yang membuat saya tertarik adalah karena disebutkan bahwa hadiahnya buku! Entah kenapa saya tergila-gila dengan buku. Melihat berjajar buku di Toko Buku saja sudah bisa mengalihkan perhatian saya dari apapun. Saya betah berjam-jam mengelilingi rak-rak buku itu. Walaupun setelahnya merasakan kesedihan yang dalam ketika pulang hanya bisa menenteng satu atau dua buah buku saja.
Cita-cita memiliki perpustakaan pribadi jadi terasa amat sangat sulit.


Mulailah saya menuliskan pengalaman-pengalaman saya bersama radio itu. Pada waktu itu saya tidak merasakan kesulitan apapun, mengalir begitu saja tanpa hambatan. Dari mulai satu kalimat ke kalimat berikutnya, sehingga tanpa sadar sudah empat halaman. Padahal saya pikir untuk perlombaan menulis semacam itu paling hanya dua halaman saja yang diperlukan. Siapa yang mau membaca pengalaman seseorang sampai berhalaman-halaman?

Dari mulai jam delapan malam sampai hampir menjelang jam sepuluh malam saya menyelesaikannya. Kemudian keesokan pagi saya baru mengirimkannya via email.

Selama jeda menuju pengumuman pemenang lomba saya merasakan hal yang paling aneh karena baru pertama kali itu saya mengikuti lomba menulis. Saya merasa tidak akan menang karena tulisan yang aneh semacam itu tidak akan mungkin menarik minat panitia, bahkan untuk sekadar membaca juga mereka akan bosan.

Tapi disaat yang sama saya juga sangat menginginkan hadiahnya. Walaupun saya tidak tahu buku apa yang akan diberikan, tapi saya tetap sangat menginginkan buku-buku itu. Waktu itu saya berpikir buku-buku yang akan diberikan sebagai hadiah adalah buku-buku ke-Islam-an atau materi dakwah dari radio tersebut. Yang penting judulnya buku!

Mulailah saat yang ‘deg-degan’… antara tidak PD dan Ingin. Hingga ketika hari-hari saat akan dimumkan saya mengatakan pada diri saya sendiri “ Sudahlah, tidak usah berharap. Pasti peserta lomba itu adalah orang-orang yang sudah sering mengikuti lomba atau lebih dahsyat kisah maupun cara menuliskan pengalamannya. Dibandingkan dengan saya yang baru pertama kalinya ikutan lomba “

Saya ingat betul, pada waktu hari Jum’at pukul delapan malam saat pengumuman dilaksanakan sebelum acara kajian malam dimulai. Berada disamping radio itu persis! Pembawa acara menyebutkan satu persatu pemenang lomba dari mulai juara ketiga, Bapak bla bla bla, juara kedua Ummu bla bla bla. Sampai saat itu saya sudah hope less. Harapan untuk menjadi juara tiga saja tidak kesampaian. Jadi tidak mungkinlah menjadi juara dua apalagi pertama. Maka ketika saat pengumuman juara pertama, saya sudah mulai akan beranjak dari radio tersebut, tapi saya penasaran juga siapa yang menjadi juara pertamanya. Antara malas mendengar lagi dan penasaran akhirnya saya tetap berada disamping radio.

“ Juara pertama…. Saudari Herriyati “ .

“ Aaaarrrgggggghhhhhhhhhhh….!!! “

Rasanya jantung mau copot! Keluarga yang ketika itu sedang menonton acara teve menyangka saya terkena setrum listrik karena tiba-tiba berteriak sampai membuat orang kaget.

Pada waktu itu saya tidak percaya betul, sampai saya menyuruh adik saya untuk mendengarkan pengumuman itu bersama-sama ketika diulang di akhir acara kajian malam itu. Ternyata pendengaran saya tidak salah.

Acara tabligh akbar yang nantinya akan dilaksanakan penyerahan hadiah lomba berlangsung sangat meriah. Peserta yang hadir sangat ramai dan begitu antusias mendengarkan tausyah. Tibalah disaat akhir pengumuman sekaligus penyerahan hadiah. Saya hampir tidak bisa bernafas akibat detak jantung yang begitu kencang karena harus berdiri dihadapan ratusan hadirin. Ketika tiba giliran saya, saya melirik dan menimbang-nimbang kira-kira apa hadiahnya. Tanpa diduga kotak hadiahnya besar dan berat! Sampai panitia mengatakan mereka saja nanti yang membawakannya ke tempat saya, bahkan ketika diserahkanpun saya cukup ‘menyentuh’ karena sang penyerah hadiah yang memegangnya (Ust. Herman Saptadji, syukron..)


Ketika sampai ditempat, teman-teman yang menemani saya pada waktu itu ikut-ikutan riuh, “ Ayo, Ry,,, buka, buka “ tadinya saya berniat untuk membuka hadiah dirumah saja. Tapi karena desakan mereka (heu..) akhirnya saya buka juga hadiah itu.

Kotak hadiah yang besar itu, yang saya duga adalah kumpulan buku-buku Islami, Majalah Intisari Hasmi atau materi dakwah perlahan saya buka dengan sangat hati-hati. Ketika bungkus kado dilepas terlihat kotak kardus yang sangat ‘aneh’. Saya menyobek bagian perekat, dan… taadaaaa..

Satu set lengkap Kitab Tafsir Shahih Ibnu Katsir Sembilan jilid!



Subhanallah… Hanya Allah SWT yang mengetahui betapa saat itu saya ingin meneteskan air mata jika saja tidak malu karena masih berada disekeliling hadirin yang belum beranjak pulang.

Saya tidak dapat berkata-kata sampai teman-teman saya yang ramai mengguncang-guncang bahu saya. “ Erry… Keinginan lo tercapai Ry “ , “ Ihh, ngiri.. mau kitab tafsirnya.. “

Dengan perasaan bahagia yang tak terkatakan saya membawa pulang kitab-kitab itu dengan dibantu teman-teman saya yang baik hati itu. Kotak kardus kami tinggalkan, diganti dengan kantung plastik sehingga masing-masing membawa beberapa buah kitab.

Sesampainya dirumah, tepatnya dikamar saya langsung meletakkannya di rak buku dan memandanginya sampai lama. Ketika saya akan merapihkan buku-buku yang lain selembar kertas terjatuh dari buku La Tahzan. Kertas wish list saya. And guess what? Kitab Tafsir Ibnu Katsir berada dalam urutan pertama dari daftar keinginan saya satu tahun lalu.

My First Wish List Terkabul!

Masya Allah, besar rasa syukur yang saya haturkan pada waktu itu. Hanya dengan bermodalkan Empathalaman tulisan sederhana, sebagai gantinya Allah SWT menganugrahkan saya Sembilan jilid buku setebal masing-masing Delapan Ratus halaman.
Mulai saat itu, saya tidak lagi meragukan bahwa Allah SWT akan mengabulkan keinginan kita. Dan saya semakin terpacu untuk memenuhi kamar saya dengan buku-buku yang bermanfaat.


( Semoga dengan ini bisa bertambah lagi ).  (^_^)/


Sederhanakan Penampilanmu...

By : Ave Ry

Wanita Muslimah yang sadar akan berpakaian dan berpenampilan sederhana, tidak berlebih-lebihan dalam berhias, berpakaian dan berpenampilan.


“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” Al-Ahzab: 33

Allah melarang para wanita untuk tabarruj ( berhias atau berpenampilan yang ditujukan wanita kepada mata-mata orang yang bukan muhrim  ), setelah memerintahkan mereka menetap di rumah. Tetapi apabila ada keperluan yang mengharuskan mereka keluar rumah, hendaknya tidak keluar sembari mempertontonkan keindahan dan kecantikannya kepada laki-laki asing yang bukan muhrimnya. Allah juga melarang mereka melakukan tabrruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliyah terdahulu. Apa maksud tabarruj jahiliyah terdahulu itu?

Mujahid berkata, “Wanita dahulu keluar dan berada di antara para laki-laki. Inilah maksud dari tabarruj jahiliyah terdahulu.”

Qatadah berkata, “Wanita dahulu kalau berjalan berlenggak-lenggok genit. Allah melarang hal ini.”
Muqatil bin Hayyan berkata, “Maksud tabarruj adalah wanita yang menanggalkan kerudungnya lalu nampaklah kalung dan lehernya. Inilah tabarruj terdahulu di mana Allah melarang wanita-wanita beriman untuk melakukannya.”

Ibnu Abu Najih meriwayatkan dari Mujahid, “Janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” Dia (Mujahid) berkata, “Wanita dahulu berjalan-jalan di hadapan kaum (laki-laki). Itulah tabarruj Jahiliyah.”

Dan di antara kerusakan tabaruj yang paling besar adalah penyerupaannya wanita-wanita muslimah dengan wanita kafir, baik dari kalangan orang-orang nashrani maupun selain mereka, seperti dalam masalah berpakaian, dengan memakai pakain pendek dan ketat, tidak menutupi rambutnya, serta membiarkan bagian tubuhnya yang elok di pandang oleh lelaki lain, , padahal Rasulullah saw telah melarang kita untuk menyerupai orang kafir, beliau pernah bersabda:


"Barangsiapa yang menyerupai sebuah kaum maka ia sama seperti mereka". (HR Abu Dawud, Ibnu Hiban dan Imam Ahmad)

Sesungguhnya wanita muslimah akan menghiasi diri dengan perhiasan yang di halalkan dan keindahan yang telah di syari'atkan. Dia juga akan mengenakan pakaian bagus dan menarik, dengan tidak menyimpang dan berlebih-lebihan. Semuanya itu adalah kebaikan yang di halalkan oleh Allah, dan itu pula yang disebut sebagai kesedderhanaan yang di serukan dan di perintahkan oleh Islam.

Yang demikian itulah yang menjadikan perbedaan yang nyata serta menjadikan tampil beda antara wanita yang senantiasa di selimuti dengan kesederhanaan lagi bijak denga wanita yang berlebih-lebihan dan tidak bisa menggunakan akalnya karena telah di perbudak oleh dunia mode yang ala kebarat-baratan dan kemewahan.

Demikian itulah sikap wanita muslimah yang senantiasa menyadari dan memperhatikan petunjuk agamanya serta berpegang teguh pada hukum-hukum agamanya yang penuh toleransi antara sesamanya. Dimana pakaiannya bersih, bagus, menarik, rapi dan wajar yang di kenakan dengan tujuan untuk memperlihatkan dan mensyukuri ni'mat Allah dengan tidak berlebih-lebihan dan sombong serta senantiasa menonjolkan kesederhaannya.

Oleh karena itu setiap wanita muslimah di tuntut untuk senantiasa menghiasi dirinya dengan kehidupan yang penuh dengan kesederhanaan, karena Allah sendiri sangat membenci orang-orang yang suka berlebih-lebihan

Tag : ,

Jangan Habiskan Waktumu Untuk Mengeluh

By : Ave Ry


Islam mengajarkan agar ummatnya tidak berkeluh kesah mengenai masalah dan ujian/cobaan yang sedang dihadapi. Karena dalam hidup di dunia ini tidak akan datar-datar saja, mesti ada ujian cobaan..ada senang dan duka , ada hitam dan putih, ada lapang dan sempit, ada sehat dan sakit dan sebagainya. Oleh kareana itu mengapa harus mengeluh? karena semua itu pasti akan terjadi dalam diri kita ini yang hidup di dunia.

"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir." Al Maariij : 19-21

Memang dalam ayat ini tertera bahwa manusia itu ‘sudah dari sananya suka mengeluh’, tapi Allah menyebutkan pada awal selanjutnya bahwa terdapat pengecualian terhadap orang-orang yang shalat, berinfaq, percaya pada hari pembalasan, takut pada azab-Nya, sampai pada ayat ke 33 dari surah Al Ma’arij ini. Allah SWT menyebutkan bahwa pengecualian itu diperuntukan bagi mereka dan balasan bagi mereka tidak lain adalah surga yang dimuliakan.
Dalam hidup, kita sering sekali mendengar kata-kata keluhan seperti berikut ini atau bahkan kita juga pernah mengucapkannya. Tapi yakinlah bahwa Allah itu Maha pengasih dan Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Sehingga Ia menjawab keluh kesah hamba-Nya secara indah dalam Al Qur'an.

Kenapa aku di uji seperti ini?

Allah menjawabnya di Al Ankabut: 2-3
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi ?Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Kenapa aku tidak mendapat yang aku inginkan?
Allah menjawabnya di Al Baqoroh: 216
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”

Kenapa ujian seberat ini?
Allah menjawabnya di Al Baqoroh: 286
Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Kenapa aku frustasi?
Allah menjawabnya di Ali Imran: 139
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yg paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman”

Aku sudah tak sanggup lagi..!
Allah menjawabnya di Yusuf: 12
“….dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yg kafir.”

Ada sebuah kisah yang sangat menarik . Seorang pria datang menemui Yunus ibn Ubaid. Ia mengeluh di depannya.
“Hidupku susah sekali…,”ujarnya. “Entah aku harus berbuat apa. Hidupku benar-benar susah. Dunia ini begitu sempit untukku. Ah, aku tak tahu harus berbuat apa… Duhai, mengapa ini semua terjadi padaku…,” begitulah ia seperti tidak akan berhenti menyampaikan semua keluhannya.
Yunus ibn Ubaid menarik nafas. Sangat dalam.
“Maafkan aku, saudaraku… Bolehkah aku bertanya padamu??” ujarnya.
“Silahkan, Tuan…”
“Bagaimana jika kedua matamu diganti dengan 1000 dinar? Maukah engkau??” Tanya Yunus ibn Ubaid.
“Apa?? Tidak mungkin, Tuan. Bagaimana mungkin aku mengganti kedua mataku hanya dengan 1000 dinar???!”
“Bagaimana dengan kedua telingamu??”
“Ah, mustahil, Tuan. Bagaiamna aku akan mendengar nanti??”
“Kalau begitu, lidahmu sajalah…”
“Tidak, Tuan. Apakah Anda ingin saya jadi bisu hanya karena 1000 dinar??!”
Begitulah Yunus ibn Ubaid terus mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Hingga akhirnya, Yunus ibn Ubaid mengatakan, “Lihatlah, saudaraku. Kulihat betapa banyaknya nikmat Allah padamu. Lalu mengapa engkau harus mengeluh hingga seolah-olah tidak lagi ada harapan untuk hidup??”
Pria itu tersipu. Lalu pamit meninggalkan Yunus ibn Ubaid.

Karena itu maka mulai dari sekarang jauhilah sikap kita dari sifat keluh kesah karena sedikit hal yang hilang atau berkurang dari kenikmatan yang Allah SWT berikan ternyata karunia-Nya jauh lebih besar lagi dari apa yang luput dari kita. Lagi pula, sejatinya setiap tetes kenikmatan itu berasal dari-Nya juga sehingga kita sebagai hamba seharusnya senantiasa ikhlas apabila sedikit dari banyak itu diambil kembali oleh-Nya
Jika kita pernah mengeluh dalam kehidupan dan menyadarinya, maka segeralah kita beristighfar dan memohon ampunan dari Allah SWT. Semoga Alloh mengampuni dosa-dosa kita yang selama ini sering berkeluh kesah atas setiap permasalahan yang kita hadapi. Semoga juga Alloh SWT meneguhkan dan menegarkan iman kita dalam setiap persoalan dan kesulitan yang kita hadapi.

Tag : ,

Jangan Sia-siakan Waktumu

By : Ave Ry
Banyak yang sering berkata, “Aku nggak ada waktu !”, seakan-akan mereka di dalam sebuah kesibukan yang sangat bermanfaat, akan tetapi kenyataannya ternyata masih banyak waktu mereka yang kosong
Di lain pihak, banyak pula yang ingin “Membunuh waktu…” karena waktu mereka yang sangat terbuang-buang.  mereka bingung mau diapakan waktu tersebut..

Waktu sangat penting, itu terlalu berharga untuk disia-siakan atau diabaikan. Orang bijaksana adalah orang yang memperhatikan waktu dan tidak memperlakukannya sebagai wadah untuk diisi dengan hal-hal murah dan bicara sia-sia.

“Hai orang-orang yang beriman , bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, seungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”  Al-Hasyr : 18

Al waktu kas saif (waktu ibarat pedang), begitulah pepatah arab menyebutkan. In lam taqtho’hu yaqtho’uka (kalau kau tak memotongnya maka dia yang akan memotongmu).

Memotong waktu itu adalah dengan tidak membiarkannya sia-sia sedang dipotong oleh waktu adalah dibuai oleh waktu dalam kesia-siaan. Karena hidup hanya sebentar, maka bila kita tak memanfaatkannya dengan baik maka kita akan menyesal selamanya.

Ibnu ‘Umar berkata, “Kalau engkau berada di waktu pagi jangan sekedar menunggu datangnya waktu sore. Kalau engkau berada di waktu sore jangan sekedar menunggu datangnya waktu pagi.

Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan gunakanlah masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari. 6053, Kitab ar-Raqaa’iq)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata,

”Salah satu bukti kebijaksanaan takdir dan hikmah ilahiyah, yaitu barangsiapa yang meninggalkan apa yang bermanfaat baginya -padahal memungkinkan baginya untuk memetik manfaat itu lantas dia tidak mau memetiknya – maka dia akan menerima cobaan berupa disibukkan dengan hal-hal yang mendatangkan madharat terhadap dirinya. 

Barangsiapa meninggalkan ibadah kepada ar-Rahman, niscaya dia akan disibukkan dengan ibadah kepada berhala-berhala. Barangsiapa meninggalkan cinta, harap dan takut kepada Allah maka niscaya dia akan disibukkan dalam kecintaan kepada selain Allah, berharap dan takut karenanya.
Nikmat waktu adalah nikmat yang sangat besar, akan tetapi banyak orang yang menyia-nyiakannya dengan menghabiskan untuk keperluan yang kurang penting atau bahkan sia-sia. Menyia-nyiakan waktu sangat bertolakbelakang dengan memanfaatkan detik demi detik yang dilakukan para ulama soleh terdahulu, seperti contoh berikut ini.

Ibnu Mas’ud
Beliau salah seorang shahabat Nabi yang mulia, beliau pernah berkata, “Aku belum pernah menyesali sesuatu seperti halnya aku menyesali tenggelamnya matahari, dimana usiaku berkurang, namun amal perbuatanku tidak juga bertambah

Ibnul Khayyath An-Nahwi
Konon beliau belajar di sepanjang waktu, hingga saat beliau sedang berada di jalanan. Sehingga terkadang beliau terjatuh ke selokan atau tertabrak binatang.

Amir bin Abdi Qais
Beliau seorang tabi’in yang zuhud. Ada seorang pria berkata kepadanya, “Mari berbincang-bincang denganku”. Amir bin Abdi Qais menjawab, “Tahanlah matahari (Cobalah hentikan perputaran matahari), jangan biarkan ia berputar, baru aku akan berbincang-bincang denganmu. Karena sesungguhnya waktu ini senantiasa merayap dan bergerak maju, dan setelah berlalu ia tak akan kembali lagi. Maka kerugian akibat tak memanfaatkan waktu adalah jenis kerugian yang tidak dapat diganti atau dicarikan kompensasinya. Karena setiap waktu membutuhkan amal perbuatan sebagai isinya”

Hammad bin Salamah
Musa bin Isma’il At-Tabudzaki pernah menuturkan, “Kalau aku mengatakan kepada kalian bahwa Hammad bin Salamah tak pernah tertawa, niscaya aku tidak berdusta. Beliau itu memang orang  yang sangat sibuk. Kegiatannya hanya meriwayatkan hadits, membaca, bertasbih atau shalat. Beliau membagi-bagi waktu siangnya hanya untuk itu saja”
Muridnya sendiri, Abdurrahman bin Mahdi, pernah menuturkan, “Kalau ada orang yang berkata kepada Hammad bin Salamah, “Engkau akan meninggal besok”, niscaya beliau tidak akan mampu lagi untuk menambah sedikitpun dalam amalnya” (maksudnya, ia pasti segera memaksimalkan amalnya di detik-detik terakhir hidupnya).

Yunus bin Al-Mu’addab menegaskan, “Hammad bin Salamah meninggal dunia saat beliau shalat”. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya
Begitulah sebagian potret kehidupan ulama dalam memanfaatkan waktu, bagaimana dengan kita?

Semoga Allah SWT memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua agar bisa memanfaatkan kesempatan dan keluasan waktu yang diberikan untuk berbekal bagi kehidupan akhirat.
Tag : ,

Secangkir Kopi Yang Membuat Heboh...

By : Ave Ry
Pagi ini tidak terlalu sama seperti biasa, bawaan malas dimulai sejak kaki melangkah menuju tempat bekerja. ‘hawanya’ panas, penat ditambah angkutan umum yang merepotkan hingga harus berjalan beberapa meter menuju perkampungan dikarenakan perbaikan jalan belum juga terselesaikan. Belum-belum sudah tersugesti “ hari ini sepertinya tidak akan menyenangkan “.

Disaat-saat kritis seperti itu Britney Spears bersuara “ Notice me… “, di layar ponsel tertera new sms --> “Kala malas menerpa, bayangkan jutaan orang di sana menginginkan apa yang sekarang kita miliki… Pekerjaan yang layak, fasilitas yang tersedia, teman-teman terbaik yang kita punya.. Lantas pantaskah kita berdiam dan hanya bermalas-malasan belaka? Tidakkah kita ingin mengubah keadaan sehingga mereka bisa menikmati apa yang kita rasakan? BANGUN! BERGERAK! SEMANGAT!”

Oops, I did it again! ( Hari ini temanya Britney Spears (^_^)/ ., ). Eh, bukan salah… Oops, kok si pengirim pesan tau ya kalau saya sedang malas tingkat tinggi.  Lagi ‘ Futur ‘ ? Nggak juga. Lagi ‘ Galau ‘ ? Alhamdulillah juga nggak. Lagi butuh challenge baru, ya, tantangan yang membuat semangat kembali menggebu. Rutinitas yang itu-itu saja terkadang membosankan, membuat kreatifitas seseorang menjadi tumpul! Maka diawali dengan Bismillah, saya melangkahkan kaki menuju Rumah-Nya untuk ‘ Laporan Pagi ‘ dengan sebuah do’a tersirat agar DIA menumbuhkan benih-benih semangat baru di hati yang terancam keruh.

Beginilah, pukul 08.30 pun kantor masih sepi. Entah apa yang mereka lakukan di bawah sana, di kantin kah? Lapangan kah? Smoking Room kah? Yang jelas hanya ada Koran baru tersaji yang menyapa saya di lobby. Hmmm., mau buat apa kita…? (^,^)/

Celingak-celinguk… Eh, ada White Coffee tuh di meja. Kemungkinan kemarin ‘ ibu-ibu arisan ‘ tidak menghabiskan semua jatah persediaan kopi di ruangan kami. Dari kemarin setiap ditawarkan saya selalu menggeleng, “ katakan TIDAK untuk korupsi! “ ( ini jadi seperti promo partai anu (^.^)/ ., ). Tapi yang ini mah bukan korupsi, memang kami diberi jatah mengopi ( asyik lohh.. ).

Dibuka sachetnya, dituang air panas kedalam cangkir lalu diaduk… Yupz! Is that simple..

Pekerjaan sudah diselesaikan dari kemarin, kemarinnya lagi dan kemarinnya lagi… jadi saat ini saya boleh bermalas-malasan., hoho. Hmmm, ternyata menyenangkan juga menghirup kopi, menyeruputnya sedikit demi sedikit sambil mencoba mengingat kembali pesan-pesan Sayd Quthb : jangan buang waktu melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Gunakan sebanyak-banyak kesempatan untuk mengkaji Al Qur’an. Baca, tadabbur, amalkan! Keberkahan akan hadir bila seorang hamba selalu dekat dengan mushafnya.

Oke, oke… siap laksanakan! Dimulai dari menyelesaikan bacaan tafsir Az Zumar yang belum terselesaikan kemarin sore. Sambil berpikir “ Kira-kira apa hukumnya kalau membaca Tafsir Al Qur’an sambil minum kopi? “

“ Teh, Bu Bettynya ada? Saya mau menyerahkan Renja.. “

“ Bu Betty sedang keluar bu.. “

“ Kalau teh Riska ada? “

“ Teh Riska kayaknya masih di kantin bu “

“ Kalau bu Yuli? “

“ Masih dibawah semua bu, belum pada naik “

“ Yah, saya mau menyerahkan Renja… masa saya harus balik lagi. “

( Kasihan juga melihat wajah si teteh yang memelas, memahami bahwa jarak antara gedung Balaikota dan Bappeda tuh lumayan. Dari Balaikota lantai 5 turun, jalan beberapa meter menuju gedung Bappeda, sampai disana harus naik pula ke lantai 3. Sampai di tempat ternyata manusia belum tersedia kecuali saya )

Tapi apa boleh buat, saya tidak berani menerima amanah yang bukan wewenang saya untuk menerimanya. Dengan senyum tulus saya katakan,

“ Maaf teh, lebih baik nanti teteh balik lagi aja kesini agak siangan. “

Dengan langkah lemas si teteh berjalan menjauhi meja saya dan mendekati pintu untuk keluar, tapi sebelum keluar si teteh masih sempat berkata,

“ Hmmm, harum amat ini baunya. Bau kopi, enak kayaknya… “

Saya : uhuk, uhuk..!!

Menjelang pukul 09.30 satu per satu manusia-manusia berdatangan

“ Eh, bau kopi nih! Siapa yang ngopi ya? Harum amat baunya… “

Saya : uhuk, uhuk..!!

“ was wes wos… eleh eleh, wangi amat iye teh kopi… white coffee nya? Saha atuh? “

“ Iya, saya juga dari tadi nyariin siapa yang ngopi, baunya harum gini “

Saya : uhuk, uhuk..!!

( hadeuuh., ini tenggorokan menjadi gatal. Dikira TBC bisa-bisa nih ).

Dalam hati, “ Segitunya apa?! Perasaan kemarin mereka itu beramai-ramai ngopi biasa aja, nggak ada yang teriak-teriak wangi kopi. Tapi saya sekali-kalinya ngopi jadi heboh begini karena harumnya tersebar kemana-mana. Sumpah deh, nggak saya semprotin pewangi kok kedalam ruangan!

Dengan mindik-mindik saya berusaha menghabiskan kopi agar tidak menjadi bahan perbincangan lagi, kebetulan cangkir saya ‘umpetin’ dibelakang Cpu. Hasrat yang tinggi untuk segera menghabiskan kopi membuat saya tidak menghiraukan senyum Pak Haji. Ampuuun, deh. Sampai di teliti begitu sambil matanya semangat banget mengitari meja dan sampailah pada Cpu. Jackpot! Yupz, disitulah sumbernya. Pak Haji tersenyum makin lebar…

Saya : uhuk, uhuk..!!

Akhirnya tanpa ba bi bu saya buru-buru langsung menenggak habis kopi yang masih tersisa banyak.

“ Uhuk, uhuk, uhuk, uhuk, uhuk..!! “

Masya ALLAH... Saking bersemangatnya sampai lupa kalau kopi itu ternyata masih lumayan panas. Menyemburlah bertetes-tetes air kopi hingga menyebabkan waktu menjadi beku. Semua orang mendadak frozen. Tidak bergerak, bersuara, bahkan berkedip pun tidak. Mereka semua menoleh kearah saya yang tidak hanya dipenuhi tetes-tetes air kopi tapi juga plus, plus air mata dan air hidung…

Hari yang paling tidak menyenangkan sepanjang masa…

Islam Is The Only Way

By : Ave Ry
Kita sering mendengar nama Islam disebut. Banyak pula yang mengaku memeluk agama Islam. Namun ketika ditanya, “Apa arti agama Islam?” mungkin banyak orang tak bisa menjawabnya. Bahkan mungkin juga seorang yang punya latar belakang akademik duniawi yang tinggi (mahasiswa, dosen, guru, dst) kesulitan utk memaparkan hal ini. Kenapa? Karena kebanyakan dari kita tak mau serius mempelajari agama kita.

Definisi agama Islam yang mulia ini, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama adalah

الإِسْلَامُ هُوَ إِسْتِسْلَامُ لِلَّهِ بِالتَّوْحِيْدِ وَالْإِنْقِيَادُ لَهُ بِالطَّعَةِ وَالْبَرَاءَةُ مِنَ الشِرْكِ وَأَهْلِهِ

“ Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk kepada-Nya dgn ketaatan & berlepas diri dari kesyirikan & pelakunya. ”

Kita perjelas satu persatu definisi tersebut.

1.      AL ISTISLAMU LILLAHI BIT TAUHID

Berserah diri kepada Allah dengan cara hanya beribadah kepada-Nya & tidak kepada selain-Nya. Artinya kita benar-benar melakukan peribadatan & segala bentuk penghambaan hanya kepada Allah Ta’ala.

“Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak & tak pula diperanakkan & tak ada seorangpun yang setara dgn Dia.” Al-Ikhlas : 1-4)

2.      WAL INQIYAADU LAHU BIT TOO’AH

Tunduk kepada-Nya dengan penuh kepatuhan pada segala perintah-Nya. Artinya, seorang muslim menundukkan segala bentuk ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah Allah SWT & Rasul-Nya. Mungkin kita tak sadar, bahwa selama ini kita belum taat kepada Allah SWT & Rasulullah  sebagaimana yang diperintahkan oleh syari’at. Bahkan kita terjatuh pada perilaku orang-orang jahiliyyah yang lebih  mengedepankan ketaatan kepada tetua yang jika ditelusuri ternyata tak mengajarkan hal-hal yang sesuai dengan syari’at-Nya.

“ Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul." Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya." Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? “ Al- Maaidah : 104

3.      WAL BAROOATU MINASYIRKI WA AHLIHI

Berlepas diri dari syirik & pelakunya. Jika seseorang berserah diri hanya kepada Allah Ta’ala & tak kepada yang lain, maka ia akan berlepas diri dari kesyirikan & pelakunya. Karena sungguh sia-sialah seluruh amalan seorang muslim jika ia melakukan kesyirikan.

“…Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” Al- An’am : 88

Islam merupakan kebenaran mutlak yang datang dari Allah SWT Tidak ada kebenaran selain Islam, tak ada agama lain yang benar selain Islam. Maka siapa yang menginginkan agama selain Islam berarti dia memilih kebatilan & menjadi orang yang tak beruntung/rugi.

Keyakinan bahwa Islam  satu-satunya Agama Yang Benar  adalah termasuk perkara yang bersifat qath’I,  tsawabit dan badihiy /pasti, tetap dan jelas (minal umuridl-dloruriyah fid din).

Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada para rasul-Nya sejak nabi Adam , Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada nabi penutup Muhammad saw, sebagai hidayat  dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa dan menjamin kesejahteraan materiil dan spirituil duniawi dan ukhrawi.

Antara Islam sebagai agama samawi terakhir dan agama wahyu sebelumnya  jelas mempunyai hubungan yang erat karena keberadaannya merupakan mata rantai terakhir agama Allah

Kebenaran-kebenaran fundamental dan nilai-nilai hidup yang bersifat universal yang pernah diajarkan oleh para nabi dan rasul terdahulu  dikukuhkan dan dilestarikan. Sementara beberapa aturan yang merupakan realisasi dan nilai-nilai universal disesuaikan dengan perkembangan hidup ini.

Dalam Al-Qur'an, Allah telah menegaskan sendiri tentang kebenaran Islam sebagai agama bagi seluruh umat manusia

 “Apakah selain agama Allah yang mereka cari, padahal hanya kepada-Nya tunduk siapapun yang ada di langit-langit dan di bumi baik karena taat maupun terpaksa. Dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan. “Ali Imran : 83

Ayat di atas menjelaskan bahwa agama yang benar adalah agama yang datang dari Allah SWT.

 “Sungguh agama yang diridlai di sisi Allah adalah agama Islam” Ali Imran:19

Barangsiapa yang mencari agama lain selain Islam maka ia tidak akan diterima dan kelak di akhirat tergolong orang-orang yang merugi. Ali Imran ; 15    

Secara garis besar, ajaran Islam mencakup 4 aspek, yaitu:

1.      AQIDAH, yaitu aspek keyakinan atau keimanan kepada perkara-perkara yang dijelaskan  dalam rukun Iman. Aqidah adalah merupakan fundasi ajaran Islam yang sifat ajarannya pasti, mutlak kebenarannya, terperinci dan monoteistis. Ajaran intinya adalah mengesakan Tuhan (tauhid). Oleh karena itu, ajaran aqidah Islam yang tauhidi sangat menentang segala bentuk kemusyrikan.

2.      IBADAH, yaitu aturan-aturan tentang tata cara hubungan manusia dengan Allah atau segala cara dan upacara pengabdian yang bersifat ritual yang telah diperintahkan dan diatur cara-cara pelaksanaannya dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi. Seperti, shalat, puasa, haji, dan lain-lain.

3.      AKHLAK, yaitu aturan tentang perilaku lahir dan batin yang dapat membedakan antara perilaku yang terpuji dan tercela,  antara yang salah dan yang benar, antara yang patut dan yang tidak patut (sopan); dan antara yang baik dan yang buruk. Sifat ajaran akhlak Islam adalah universal, eternal, dan absolut, dan akhlak yang benar menurut Islam adalah akhlak yang dilandasi dengan iman yang benar.

4.      MU'AMALAH, yaitu aturan tentang hubungan manusia dengan manusia dalam rangka memenuhi kepentingan atau kebutuhan hidupnya, baik yang primer maupun yang sekunder. Contohnya, ialah berdagang, perkawinan; termasuk masalah hukum pidana dan hukum tata negara.  (Zaky Mubarok, dkk: 78-80)

Penegasan Allah SWT dalam Al-Qur'an yang mengatakan bahwa Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai satu-satunya agama yang benar ajarannya dapat dikuatkan dengan alasan dan bukti sebagi berikut:

1)      Islam sebagai agama yang jelas asal usulnya, yaitu sebagai agama wahyu yang terakhir.

2)      Islam dibawa oleh seorang Nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW.

3)      Ajaran Islam diterangkan dalam Al-Qur'an sebagai kitab suci terakhir bagi seluruh umat manusia.

4)      Ajaran Islam tidak ada yang bertentangan dengan fitrah manusia, tetapi mengatur seluruh aspek kehidupan manusia (manusia).

5)      Ajaran Islam tertumpu pada ajaran mengesakan Tuhan dan bertujuan menjadikan manusia sebagi sumber kabaikan.

6)      Ajaran Islam dapat diamalkan dengan mudah dan praktis oleh orang yang beriman (tidak memerlukan upacara yang rumit), dan semua ajarannya baik dan lurus sesuai dengan fitrah manusia yang tidak mau dipersulit dan yang kecenderungannya kepada yang baik dan lurus.

Dinul Islam mempunyai karakteristik yang tidak dimiliki agama lain dan sekaligus merupakan kekuatannya,

1)      Agama Islam adalah agama Allah (dinullah), yakni seluruh ajarannya  bersumber dari Allah SWT baik  melalui wahyu langsung (Al-Qur'an) maupun tidak langsung (Hadits Nabi).

2)      Agama  Islam mengandung ajaran-ajaran yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. (syumul).

3)      Agama Islam berlaku untuk seluruh umat manusia sampai akhir zaman (al-'umum)

4)      Agama Islam mengandung ajaran-ajaran yang sesuai dengan fitrah manusia

5)      Agama Islam menempatkan akal manusia pada tempat yang sebaik-baiknya

6)      Agama Islam berfungsi sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta

Segala perkara telah dijelaskan oleh agama Islam, mulai dari hal yang dianggap kecil sampai hal-hal besar ada aturannya. Inilah yang menyebabkan orang-orang musyrikin, Yahudi & Nasrani iri hati & dengki kepada umat Islam.

Seorang sahabat Salman Al Farisi  berkata, “Kaum musyrikin berkata kepada kami, “Apakah Nabi kalian mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai (masalah) tata cara buang air?”  Maka Salman  menjawab, “Benar, sungguh beliau  telah melarang kami menghadap ke kiblat ketika buang air besar atau buang air kecil, beliau  melarang kami beristinja’ (membersihkan kotoran setelah buang air) dgn tangan kanan, & beliau  melarang kami beristinja’ kurang dgn 3 batu, & melarang kami beristinja’ dgn kotoran atau tulang” (HR. Muslim no. 262)

“Hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan Aku telah cukupkan bagimu nikmat-Ku dan aku telah meridlai Islam sebagai agamu untukmu. Al Ma’idah : 3

From Many Sources
Tag : ,

Terus, Gue Harus Bilang Wow Gitu!

By : Ave Ry


Satu kata, PRIHATIN...

Sejujurnya saya sebelumnya tidak tahu-menahu kalau kalimat judul tulisan ini agak-agak menyerempat tag iklan sebuah produk, maklum jarang update televisi. Kalimat ini agak mengganggu saya dalam beberapa hari terakhir akibat seringnya muncul komentar baik diucapkan dengan lisan secara langsung maupun melalu media social seperti facebook dan twitter. Kenapa mengganggu? Yah, sebagai seorang muslim saya diajarkan untuk bersikap dan juga berpikir perduli terhadap sesama, sedangkan kalimat ini secara ‘tersirat’ mengungkapkan sikap apatis, tidak perduli.

Melalui sebuah komentar yang terlihat di wall facebook ada sebuah statement yang membuat saya gemas

“ Parah gila jalanan macet total “
“ Biasa… buruh lagi demo “
“ Kurang kerjaan banget sih! “
“ eh, gak boleh gitu loh, mereka kan demo gara2 hak mereka gak terpenuhi “
“ Terus, gue harus bilang wouww githuu? “

Lalu ada lagi, komentar langsung yang saya dengar 

“ Tu abang apa gak ada jualan laen apa?! Segala maenan kertas kayak gitu dijual. Emang ada yang mau beli? “

“ Ya, namanya juga usaha. Kan cari kerja juga susah udah gitu belum tentu semua orang dapet pendidikan yang tinggi Dit… “

“ Terus, gue harus bilang woouuuww gitu! Ehh, itu mah derita mereka kale “

Sikap seperti inikah generasi muda sekarang? Generasi muda Indonesia yang mana ketika sebelum mencapai kemerdekaannya sudah dikenal dengan asas toleransinya yang tinggi, gotong-royong, tepo seliro.
Apalagi kalau kita berbicara dalam koridor ajaran Islam, dalam sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir Rasulullah bersabda:

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling cinta-mencintai dan mengasihi di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit dengan tidak bisa tidur dan demam. ( Mutafaq ‘alaih ).

Dengan menjamurnya virus-virus berbahaya seperti ini maka tidak heran jika kita akan melihat seorang ibu tua dengan bayi yang tengah menangis dalam gendongannya berdiri didepan bangku didalam bus ataupun kereta api dimana sudah duduk manis seorang pemuda atau pemudi yang berpura-pura tertidur.

Mungkin akan ada beberapa orang yang menganggap hal kecil seperti ini terlalu dibesar-besarkan. Ya, memang benar kalimat ini adalah sebuah kalimat simple yang entah tanpa sadar atau tidak dapat diucapkan oleh siapa saja. Tetapi bukankah  semua hal besar di dunia ini rata-rata berawal dari hal kecil?

Pada awalnya hanya kalimat ‘gaul-gaulan’ saja, kemudian lama-kelamaan akan menjadi mind-set kita,

‘ Masalah itu memang sudah ada dan tetap akan ada, jadi kenapa harus repot? Biarkan saja seperti itu ‘

Begitu kira-kira nantinya. Tidak akan terjadi sekarang, memang. Tapi tunggu saja hari, bulan hingga tahun-tahun berikutnya. Karena kalimat yang diucapkan kemudian didengarkan secara terus-menerus perlahan akan terekam dengan baik dalam otak. Karena sejatinya otak kita tidak akan memilah-milah hal-hal apa saja yang masuk -baik maupun buruk- namun kitalah yang berkewajiban untuk menyaringnya.

“ Yahh, baju gue kecipratan saus nih “
“ Terus, gue harus bilang wow gitu! “

“ Si Adi kabarnya gak bisa ngelanjutin kuliah karena masalah biaya “
“ Terus, gue harus bilang wow gitu! “

“ Buruh demo minta dihapuskan system out sourcing “
“ Terus, gue harus bilang wow gitu! “

“ Amerika tidak berbuat apa-apa atas perbuatan salah seorang warganya yang sudah menghina Nabi Muhammad saw dalam filmnya, Innocence of Moslem “
“ Terus, gue harus bilang wow gitu! “


Wahai generasi muda Indonesia, akan kemana kita?
Wahai generasi Islam penerus ajaran para Nabi, bagaimana kita akan bersikap?


Anak-anak Adam adalah anggota satu sama lainnya,
Mereka diciptakan dari mutiara yang satu
Apabila salah satu dari mereka tertimpa kesulitan suatu penyakit
Maka anggota-anggota yang lain akan merasakan penderitaan tersebut
Apabila engkau tidak mengambil faedah dari bencana orang lain
Maka ketahuilah, bahwa engkau tidak layak dinamakan sebagai anak Adam.


Tunjukkanlah kearifan dalam jiwa mudamu, karena dari lisanlah semua berawal. Perhatikan ucapan agar tidak sia-sia para pendahulu kita berjuang demi tiap hembusan kemerdekaan yang kita hirup jika yang dapat kita hadirkan adalah hanya berupa ungkapan ketidak perdulian.

Apakah kalian tidak mendengar? Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan siksaan karena air mata, atau karena kesedihan hati, tapi dengan ini —sambil menunjuk lisan beliau—, atau Allah akan memberikan Rahmat-Nya”.
( HR Tirmidzi )

- Copyright © Al-Ihtisyam - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -