Listen To Me Please!

Terkadang memang ada beberapa orang yang hanya butuh untuk didengarkan. Dia berbicara panjang lebar tentang ini itu. Dan jangan dipikir kalau orang tersebut tidak tahu kalau kita itu bukan pada kapasitasnya untuk mengerti hal yang disampaikannya. Yang ia butuhkan hanya ingin curhat, titik!

Seperti pagi ini, ada seorang bapak yang bercerita banyaaak sekali tentang permasalahan dinas yang dihadapinya. Carut-marut program kerja, komunikasi sepihak, masalah anggaran, ketidak berdayaannya menghadapi pejabat atasannya. Padahal kesemuanya itu berimplikasi pada tercapainya kegiatan-kegiatan untuk masyarakat dan kewibawaan pemerintah kotanya.

Melihat bapak ini dari dahulu Gen-Q sudah sangat bersimpatik. Beliau tipe seorang pekerja keras yang rendah hati. Tidak banyak ‘cincong’ kalau kata orang Betawi. Padahal untuk ukuran staff seperti beliau lebih suka perintah sana sini, serahkan sana serahkan sini. Tapi beliau ini lebih suka turun langsung ke lapangan. Mungkin bisa di ibaratkan ‘Umar Bakre’ dalam sebuah lagu milik Bang Iwan Fals.

Didalam Dinasnya sendiri beliau di abaikan karena program yang beliau paparkan itu memihak masyarakat dan itu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Dinasnya beralasan lebih banyak program lain yang lebih mendesak. Jadilah, program yang sudah tersusun dengan rapih menjadi terbengkalai. Dalam Forum Kemasyarakatan beliau malah di olok-olok karena hanya beliau yang mau-maunya mondar-mandir kesana kemari mengerjakan semua hal. Hahh,, sungguh… kalau sobat melihatnya akan sama perasaannya dengan yang Gen-Q rasa, kasihan…


Tapi kalau sobat menyangka ia mengeluhkan pekerjaannya itu pada semua orang, hmm, absolutely wrong karena bahkan dengan sesama jawatannya di Dinas pun beliau tidak suka ‘bercerita’, apatah lagi dengan para anggota Forum. Kemungkinan besar beliau begitu mempercayakan keluhannya itu untuk Gen-Q tampung adalah….. (apa ya, saya juga tidak tau) haha.

Ya sudahlah, mungkin dengan sedikit membagi beban seperti itu ada beberapa orang yang bisa sedikit lega. Walaupun saya sebagai pendengar tidak begitu mengerti bahasannya. Bahkan istilah-istilah yang digunakan saya cari tahu kemudian.

Kalau curahan hati para akhwat sih Gen-Q sering banget. And yess, mereka pun cukup meminta perhatian untuk sekadar di dengarkan. karena seringnya Gen-Q jadi tempat curahan hati (cieee) makanya jadi punya beberapa pengalaman. Bahkan sekarang sudah bisa mengkatagorikan tipe-tipe curhater :D

1. Curhater tipe A, orang yang curhat masalah-masalah sepele. Hal-hal tidak begitu penting juga dia ‘demen’ banget curhat. Orang dengan tipe ini agaknya termasuk tipe extrovert. Memang suka cerita! Dan dia tidak perduli kepada siapa dia cerita, ketemu orang bisa langsung curhat walau tidak kenal-kenal amat.

2. Curhater tipe B, orang yang curhat masalah-masalah pribadi. Terkadang ia akan curhat masalah kenapa dirinya begini, kenapa orang itu begitu yang kalau dipikir-pikir masalah itu bisa diselesaikannya sendiri tanpa curhat. Tapi ia suka saja berbagi hal pribadinya, terutama dengan orang-orang yang ia percaya atau ia nyaman duduk ngobrol dengannya. Tipe ini memang terkenal suka berbicara, tapi tidak semua ia percaya. Jadi mungkin saja ia bicara satu hal dengan orang lain tapi menutup masalahnya dan hanya akan membukanya pada orang-orang tertentu.


3. Curhater tipe C, orang yang curhat hanya kalau dia sedang punya masalah serius yang benar-benar serius. Tipe ini adalah orang yang tidak banyak cerita. Tapi sangat membutuhkan curhat untuk meringankan bebannya. Nah, tipe ini pun dibagi menjadi dua kelompok :

1) Tipe yang hanya butuh di dengarkan, kita tidak perlu repot-repot mencari solusi baginya Karena yang ia butuhkan hanya perhatian dari kita. Tapi, baiknya sesekali tanyakan atau tanggapi sesuai kapasitas.

2) Tipe yang butuh saran atau solusi, ketika orang ini sedang curhat selain kita dengan serius mendengarkan dan memperhatikan juga kita harus mencari jalan terbaik bagi masalahnya. Karena orang dengan tipe ini memang sedang membutuhkan jalan keluar. Dan ketika mereka sudah mempercayakan masalahnya pada kita berarti saran kita pun akan didengarkan (makanya jangan kasih saran asal)

Dari kedua tipe ini, mereka tidak sembarangan curhat kepada setiap orang. Tapi mereka akan curhat kepada orang-orang yang mereka percaya, atau ketika mereka merasa nyaman dengan orang yang akan diajak curhat.

Oya, dan satu saran Gen-Q bagi sobat yang kebetulan suka jadi ‘Kotak Curhat’, sobat harus pandai memilah bentuk curhatnya. Apakah ia membicarakan masalahnya atau membicarakan seseorang yang dikenalnya dan menceritakan aib seseorang itu yang tidak ada kepentingan atas hal itu karena yang ditakutkan adalah jatuh kepada ghibah (ngomongin orang lain). Dan kalau acara curhatan itu terlampau lama, sobat harus pandai ‘ngeles’ agar tidak terlalu berpanjang kalam. Dan kalau misalkan yang curhat itu lawan jenis maka sobat perlu menjaga hati, menjaga mata dan menjaga sikap! Netralkan perasaan sobat, jangan bertendensi apapun.


48 komentar:

  1. hehehe tanks infonya sob :)

    BalasHapus
  2. Bismillah.. ^__^
    Karena manusia adalah mahluk sosial, dan kadang juga jadi mahluk sok sial, suatu masalah kadang menjadi terlalu besar untuk dipendam sendiri, kadang juga menjadi terlalu kecil untuk dibagikan kepada orang lain, apalagi jika orang yang mau dibagi masalah itu adalah orang yang tidak tepat, maka masalah yang besar itu akan terasa lebih aman jika dipendam sendiri.

    Menjadi kotak curhat bisa menjadi kesenangan tersendiri pada kondisi tertentu, setidaknya jika ada orang yang kita ketahui pendiam tapi dia mau curhat kepada kita maka akan ada perasaan bangga, kita merasa diakui dan dibutuhkan.

    Yah, setidaknya ada kesimpulan yang bisa diambil, jika kita suka curhat maka pandai-pandailah memilih orang untuk curhat. Jika kita menjadi kotak curhat maka pandai-pandailah juga menerima 'klien' curhat kita.

    ^__^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bismillah...

      Kalau ada klien berarti Gen-Q agen donk :D ,. Kalau bangga sih gak juga Ndre, senang iya cuz si curhater lebih memilih kita dari pada orang lain (khusus untuk tipe C). It means kita bisa dipercaya orang :)

      Hapus
  3. curhat.. dong.
    bener juga tuh entar malah keliru, harus milih milih dulu ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mama dede, curhat dong.., iya dong...:)

      Hapus
    2. Nah, nah, ini nih... Jangan mentang2 Gen-Q cabi kayak mama dedeh ya :p

      Hapus
    3. tetep cantik kok beneran deh..
      *sungkeman takut pipinya mledak :p ..
      .

      Hapus
  4. yaaah malah diajarin cara ngeles curhatan orang lagi..hehe.
    tapi namanya orang curhat itu beragam motifnya mulai dari penggalangan dukungan, ngrasani orang lain dan juga memang pengen adanya solusi dari orang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asal jangan ngrasani yang jelek2 ya Mas, bisa menimbulkan fitnah, heheheh..:)

      Hapus
    2. Emang piano aja yang di les #apasihgaknyambung ^^ ,. Bapak2 sekalian semoga ngrasani curahan hati Gen-Q di --> http://al-ihtisyam.blogspot.com/2013/06/biarkan-aku-diam.html

      Biarin promo juga :p

      Hapus
    3. lebih baik yuk kita berbuat yang bermanfaat bagi orang lain

      Hapus
  5. Iya menjadi kotak curhat memang kita sebagai sahabat akan lebih baik lagi jika tidak hanya mendengar saja, tapi juga kalau bisa memberikan solusi pemechannya, sesuai dengan kemampuan kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yo yo paman... nanti Gen-Q sekalian buka praktek konsultasi ^^

      Hapus
    2. konsultasi sehat ala islam juga kan

      Hapus
  6. Ternyata ada tipe2nya juga yah mas ?? Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada dong mas,, eheheh

      Hapus
    2. asyiik, dipanggil "mas". berhasil banget penyamarannya, hihi

      Hapus
    3. Gen-Q memang sangat maskulin sekali.. (^,^)/

      Hapus
  7. Jadi berpikir nih mas, saya termasuk tipe yang mana ya ..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masnya curhat dulu, baru Gen-Q kasih tau (ehh, ini malah mengajukan diri) :D

      Hapus
  8. lengkap deh...
    yaudah curhat dulu ve,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke ukh, Gen-Q mendengarkan dengan seksama (^o^)/

      Hapus
  9. aku lebih suka curhat ke buku catatan, kalau sangat penting, baru ke orang yang kupercaya.. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaan nih sama Gen-Q, gak mudah percaya sama orang... mending kalau lagi kesal, senang atawa sedih nulis aja. Puisikah, catatan biasa kah. Tapi enakan puisi kalau Gen-Q... orang2 susah nebak soalnya (oho, sok misterius) ^^

      Hapus
  10. curhat asal memang benar-benar curhat bukan karena ada tendensi, tetep tidak boleh sembarangan pada orang ya mbak, si pencurhat perlu mengungkap masalahnya supaya mengurangi beban pikirannya syukur-syukur jika akhirnya dapat solusi dari curhatnya, bagi yang dicurhati asal bukan terkait gunjingan apalagi jika tidak ada salahnya berlalapang dada untuk menampung karena mendapat kepercayaan, kalau memang tidak ingin dicurhati bisa kok menolak dengan cara yang tidak kentara,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saya rada susah soal tolak menolak orang yang mau curhat pak... asa2 gak enak gitu. Kecuali kalau curhatnya lebih baik madharat seperti seorang suami curhat masalah rumah tangganya dengna istrinya.. wahhh, kalau itu dengan tegas Gen-Q tolak! Kalau dengan curhatnya itu bisa manfaat ada rasa senang juga :)

      Hapus
  11. itu kepala dinasnya siapa yah, penasaran jadinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kang Muro ini dari kemarin mau tau aja... bisa diciduk Gen-Q ntar ^^

      Hapus
  12. apalagi kalau udah hidup rumah tangga pasti akan ada yang curhat tiap hari hehe..

    BalasHapus
  13. kasihan si bapak itu, sudah jarang orang yang seperti dia... mudah-mudahan Allah memudahkan, menentramkan hati, dan melindungi bapak itu...

    dan untuk curhat, saya sudah terbiasa jadi kotak curhat... saya senang bisa mendengarkan mereka yang meminta didengar, soalnya saya orangnya agak pendiam, malas bicara kalau bukan yang penting2... *yaelah*

    BalasHapus
  14. Sungguh langka memang ^^ ., penyabar sekali beliau (Ehh, tapi gegara postingan ini saya jadi kena 'efek cemberut' teman sesama dinasnya yang baca ini postingan! Secara kebetulan dia pinjam kompi buat ngemail, lah blog masih on...)

    Lain kali gak mau lagi ah curhatin rekan kerja di blog :D

    BalasHapus
  15. hmm ada temenku ada yang kalo curhat tuh terus aja bawel tapi kalo kita sanggah malah marah

    BalasHapus
  16. curhat ternyata ada ilmunya dan memang idealnya jangan ngasal ngember ya Mbak.. bisa2 malah jadi banjir ya..
    top banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. banjir dosa tepatnya..
      siapa yg mau mintaa dosa.. ngacung :|

      Hapus
  17. Bismillah,
    Memang harus bisa memilih tempat curhat ya. Salah-salah bisa menjadi aib buat kita. Utamakan curhat pada Sang Khalik, rasanya itu lebih tepat sasaran. Syukron sharenya ukhti :)

    BalasHapus
  18. emang sob..curhat sekarang harus hati-hati lebih-lebih menggunakan media publik ...yahhh...paling aman yaaaa....curhat sama ALLAH...

    BalasHapus
  19. haha, berarti sama kyk aku, aku paling sering bgt tuh menjadi kotak curhat, entah knp semua org lbh suka terbuka dgn ku, mungkin karena kau tipe org yg suka mendengarkan, tanpa pernah ikut campur, atu mungkin karena aku tipe org yg pandai menyimpan rahasia. entahlah, hanya mereka yg tau alasannya.

    BalasHapus
  20. Yang sering saya herankan dari curhater (melalui SMS), terkadang curhat pertama belum saya balas, sudah curhat lagi, lagi dan lagiiii. . .Hihihi

    Saya jgua sering menjadi kotak curhat, Mba. Tapi, saya jarang curhat kepada orang lain, terkecuali Mamah dan Tante. :)Saya paling takut membebani orang lain dengan curhatan2 saya yang tak bergunaaaaaaah. .. :)

    BalasHapus
  21. assalammualaykum Gen-Q...
    saya biasanya juga jadi tempat curhat para teman, ada macam-macam sih memang...kadang mereka banyaaak banget ceritanya...sampai-sampai kewalahan mau nimpali, akhirnya saya cuma bisa diem seribu bahasa.

    tapi asal curhatnya "sehat", saya senang senang saja, malah bersyukur menjadi orang yang mereka percaya...

    kalau saya tipikal yang C2 deh kayaknya----------

    *heran pasti, ceriwis gini kok ngaku C2

    BalasHapus
  22. Q, manusia itu punya satu mulut dua telinga, kesimpulannnya?

    #Always Listening. Always Understanding

    BalasHapus
  23. saya paling butuh nomor 2

    BalasHapus
  24. mungkin kamu punya daya tarik di curhatin bapak2, aku juga soalnya hahahaa

    BalasHapus
  25. Aku termasuk tipe curhater yang mana ya, Mbak, hehe....

    BalasHapus
  26. Kita akan acapkali diusul pilihan.
    Pilihan untuk belajar,
    pilihan untuk mendengar,
    pilihan untuk belajar mendengar,
    dan pilihan belajar UNTUK mendengar.

    loh ini apa toh jadi saya yg curhat :)

    BalasHapus

 

Instagram

Get My G+