Menara, Yo Te Amo!


I was falling in love for the very first time
Sitting down the chair and a friend next to mine
Wondering, am I in a right place
Or should I go and no more space

Believe it or not, perubahan bisa dicapai dengan sekejap! Well, walaupun gak sekejap-kejap amat, tapi dengan sarana yang tepat dan fasilitas yang mendukung... Eh? Bisa kok.

Kalau mengingat beberapa tahun ke belakang Gen-Q suka tersenyum kecut. Kok bisa ya si pop lovers with music addict jadi akhwat? Huehe. Fashion apa yang dulu Gen-Q gak kenal, film apa yang aktornya gak dihafal dan lagu mana yang masuk billboard sebelumnya gak diprediksi? Teman-teman, jangan ditanya lagi... kalau bukan pencinta buku ya pencinta musik, kalau ngobrol bisa ngalah-ngalahin Jessica Alba sama Carson Daly! (VJ tahun berapa ituhh??)

Tapi kalau sobat Gen-Q kebetulan melewati Masjid Raya Bogor hari sabtu dan bertemu, pasti gak akan menyangka kalau ada satu akhwat nubi yang dulunya boro-boro nongkrong di Masjid yang ada seliweran di mall. Yah, jangankan sobat, sahabat-sahabat lama saja terbelalak.

"Ini Erri bukan ya?", "OMG, Erri kenapa lo??? Kesambet!?", "Gue harap lo bisa sadar secepatnya dari aliran sesat itu...." Hiks, miris.

Berawal dari perkenalan dengan seorang akhwat yang asik. Ternyata, dulu pun sewaktu masih gaul (sekarang masih tetep gaul kok) xoxo, senang berdiskusi yang rodo berat. Tentang ini itu yang boro-boro sampai kepikir remaja sekarang yang ngaku gaul. Akhwat itu kemudian mengajak untuk mengikuti kajian di Masjid Raya Bogor. So, why not?

Dan disanalah, perubahan sekejap itu terjadi. Mata mulai memperhatikan, telinga mulai menyaring, akal mulai bekerja dan hati mendadak malu. Ya, malu melihat sekitar akhwat berjilbab lebar, sedangkan Gen-Q waktu itu masih berjeans ria yang kadang ber-capuchone dengan jilbab tipis berwarna. Perasaan dulu itu merasa 'nothing', ketika seorang ustadz memberikan tausyah terasa terasing.

Setelah pertemuan dengan akhwat asik itu, Gen-Q mulai mengakrabkan diri dengan seorang akhwat yang nantinya menjadi role model bagi Gen-Q. Tertutup rapat, anggun, cerdas dan santun, Sannisa namanya. Dengannya Gen-Q banyak mengambil manfaat, dari mulai berbusana syar'i, melebarkan hijab, bertutur kata tertata, bersemangat ibadah dan mengenal ukhuwah. Dan darinya pula arti persaudaraan dalam Islam begitu menyata. Uhibbuki fillah, adalah pesan yang disampaikannya. Dan bukan hanya sekadar kekata, tapi pelukan hangat dengan senyum teduhnya yang berlama. Gadis pemalu ini, semoga Allah merahmati wajahnya dan menjauhkannya dari percikan api neraka, aamiin.

Kemudian bak roket, melesat cepat meninggalkan kumpulan debu. Gen-Q masih teringat ucapan seorang ustadzah yang 'galak-galak tapi baik' itu, "Kamu itu yang belajarnya paling cepat, paling kelihatan perubahannya". Waktu itu Gen-Q hanya tersenyum segaris, padahal dalam hati "Yeah, berhasil... berhasil... hore!". Bagaimana gak terlihat berubah? wong dulu memang gak pernah belajar ngaji, baca Al Qur'an otodidak aja, baca Iqro sendiri. So ketika diajari tajwid, makhorijal hurf ya terlihat sekali bedanya. Tapi gak seperti Bu Umi Salma bilang, belajarnya cepat, tepatnya lebih lama waktu belajarnya. Kalau mungkin ada teman yang belajar hanya dikelas, maka Gen-Q menghafal dan mempraktekannya dirumah tiap hari full! Dan jika galaknya bisa membuat ambruk orang, tapi bagi Gen-Q malah menjadi lecutan. "Halah, bodo lah... emang gue gak bisa biar dikatain jelek juga biarin".

Dan begitu saja… Gen-Q menjadi aktif di Menara, walaupun telat dan gak bisa disebut remaja Masjid (masih ingat usia), tapi ada beberap kegiatan disana yang Gen-Q dan teman-teman sebagai penyelenggaranya.

Markaz Islam Bogor, begitu biasa tempat ini disebut karena memuat berbagai rupa, dari mulai ormas, gerakan Islam, mahzab sampai bedah kitab agama lain juga ada! Dan jika ditempat lain ada beberapa gerakan Islam yang saling bersitegang, di Masjid ini malah kita mendudukannya dalam satu atap, salah satu contohnya bisa baca disini. Sebenarnya banyak lagi kegiatan lain, misal pembahasan fiqih sholat yang menghadirkan Ust. Sarbini pemimpin HASMI dan Ust. Taufik Hulaimy dari IM. Atau atap yang biasa digunakan Buya Yahya yang ‘nyufi’ bergantian digunakan juga oleh Ust. Yayha Badrussalam yang ‘nyalaf’. Salut buat DKM-nya yang gak pilih-pilih (asal bukan yang jelas sesatnya).

Dengan Radio Mars yang mengudara dan kegiatan dakwah tanpa jeda tiap harinya, Masjid Raya Bogor adalah rumah yang sangat nyaman bagi semua orang, wa bil khusus Gen-Q sendiri. Home sweet home, senyaman-nyamannya rumah, sehangat-hangatnya keluarga setelah rumah adalah Masjid Raya Bogor dengan Menara-nya sebagai naungan. Tempat berbagi pikiran, mengeluarkan pendapat dan mengenal banyak orang dan berteman!

Seketika sudah tiga tahun sejak pandang pertama pada menara! Berputar roda, tapi tetap sama. Malam-malam penuh berkah dengan semarak iktikaf, pagi yang cerah dengan tausyah dan siang yang dulu penuh semangat tak akan terganti. Walaupun satu persatu penghuninya meninggalkan 'rumah', tapi akan selalu ada penghuni baru yang akan menghias dinding-dindingnya dengan lafaz 'Subhanallah'.

Menara, Yo Te amo! Aku jatuh cinta...

Keindahanmu menggugah naluri, mengubah pribadi
Kehangatanmu memercikan semangat, menyatakan mimpi
Kesederhanaanmu memalingkan sombong meredam pendengki

Ya Rabb, jadikanlah aku salah satu dari golongan yang Engkau lindungi. Saat ini aku tak bisa sesering dulu mengunjunginya karena ada seseorang yang lebih membutuhkanku disisinya. Dan dalam Lindungan-Mu, lindungi kami, karena Engkaulah sebaik-baik pelindung...
“Ada tujuh golongan yang akan dilindungi Allah dalam lindungan-Nya pada hari tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya: Imam yang adil, pemuda yang rajin beribadah, seorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai, bertemu dan berpisah hanya karena Allah, seorang laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan terhormat dan cantik, lalu ia berkata aku takut kepada Allah, seorang yang menyembunyikan sedekahnya tidak ingin dilihat orang, dan seorang yang mengingat Allah dalam keheningan hingga menitikkan airmata.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

14 komentar:

  1. Masya Allah, jika Allah menghendaki hidayah bagi seorang hamba, maka tidak ada yang bisa menghalangi.
    Pengalamannya gak jauh beda sama saya, bahkan mungkin saya lebih buruk dari saya sebelum bergelut di dunia dakwah.

    BalasHapus
  2. Senangnya membaca postingan ini. Rasanya ikut bahagia dengan kedamain hati yang dimiliki Ry. Semoga terjaga dalam keistiqomahan

    BalasHapus
  3. barakallahu fiikum.

    senengnya... ahaha... sementara itu saya selama ini hanya jadi pengelana yang kesepian yang hanya bisa lihat orang lain asik sedangkan saya tidak bisa bergabung dengan mereka karena mereka yang sangat fanatik golongan. tapi akhirnya saya pun ditakdirkan untuk bisa berkumpul dengan kelompok yang netral. Dan sekarang saya sudah tidak kesepian.

    BalasHapus
  4. ukhti kapan2 main dun ke ciputat, ajarin aku :)

    BalasHapus
  5. alhamdulillah mbak ary berkumpul dengan orang yang cerah-cerah, biasanya sih ikut ikut cerah. Hati jadi tenang dan tentram ya mbak, bahagianya stabil deh.

    BalasHapus
  6. kunjungi juga www.umatmuhammad.com & kolomfadil.blogspot.com ya... :-)

    BalasHapus
  7. السلام عليكم .... إلخ

    BalasHapus
  8. mbak Gen-Q, apa kabar?
    hehehe. . . .
    salam silaturahmi lagi

    BalasHapus
  9. Sesungguhnya tidak ada kata telat dalam hal ini ya, Mbak. Saya juga sudah bukan remaja lagi sesungguhnya, tapi hampir hari ngumpulnya sama remaja masjid. Hehe... Tetep gaul, tapi yang menuju ridha-Nya. Aamiin...

    BalasHapus
  10. cerita masa lalu, masa sekang dan harapan masa depan.

    btw, Ust. Sarbini dan Ust. Yayha Badrussalam itu nyalaf lho *smile

    BalasHapus

 

Instagram

Get My G+