Antara Kau & Rizqi


Dalam kitab Shahih Al Jami’ disebutkan sebuah hadits dari Rasulullah Saw yang berbunyi, "Sesungguhnya malaikat Jibril menghembuskan ke dalam hatiku bahwasanya jiwa hanya akan mati sampai tiba masanya dan memperoleh rizqinya, maka bertakwalah kepada Allah, carilah nafkah yang baik, jangan bermalas-malasan dalam mencari rizqi, terlebih mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah karena sesungguhnya Allah tidak akan memberikan apa yang dicarinya kecuali dengan taat kepadaNya.” (HR. Imam Ibnu Majah)
Sahabat, Rizqi adalah ketetapan. Cara menjemputnya adalah ujian. Ujian yang menentukan rasa kehidupan. Sebab, ia lah yang paling terindra dalam hayat kita di dunia.

Di antara makna rizqi adalah segala yang keluar masuk bagi diri dengan anugrah manfaat sejati. Nikmat adalah rasa yang terindra dari sifat maslahatnya. Kasur yang empuk dapat dibeli, tapi tidur yang nyenyak adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di alas Koran yang lusuh, dan bukan di ranjang kencana yang teduh. Hidangan yang mahal dapat di pesan, tetapi lezatnya makan adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di wadah daun pisang bersahaja, bukan di piring emas dan gelas berhias permata.

Atau bahkan, ada yang memandang seseorang tampak kaya raya, namun sebenarnya Allah telah mulai membatasi rizqinya.
Dan tiada dari segala yang melata di bumi melainkan atas tanggungan Allah-lah rizqinya. Dia Maha Mengetahui tempat berdiam dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh yang nyata. ( Huud : 6 )
Konsep ini, penjaminan rizqi tiap makhluq oleh Sang Khaliq yang banyak terluput dari manusia. Lupa bahwa ia dalam naungan Rabb Yang Maha Kaya, Pemilik Segala. Banyak manusia bersibuk dalam harta yang sudah dijaminkan untuknya namun ia menjemputnya dengan cara yang tidak di ridhoi Sang Pemberi. Dengan jalan korupsi, mencuri, menipu atau berlaku curang dan tidak jujur dalam perniagaannya. Dan yang lebih ironi adalah ketika perbuatan itu dilakukan oleh seorang Muslim yang ajaran Al-Qur’an telah pun ia pelajari. Diletakkan dimanakah iman itu ketika perbuatan nista ia lakukan?

Sahabat, sesungguhnya rizqi itu telah tertulis di langit dan diterakan kembali oleh malaikat ketika ruh kita ditiupkan kedalam janin ibunda. Dan telah pun tertulis, hendak diambil dari jalan manapun, hanya itulah yang menjadi jatah kita.

Maka dari itu, janganlah engkau kotori tanganmu dengan mengambilnya dari jalan yang haram. Bersabarlah, hingga ia datang kepada kita dengan jalan yang halal. Usah tergesa, Allah lebih mengetahui pada saat kapan ia lebih diperlukan. Tunggulah ia dengan ikhtiyar usaha dan tengadah doa.
Aku tahu, rizqiku takkan diambil orang, karenanya hatiku tenang. Aku tahu, amalku takkan dikerjakan orang, karenya kusibuk berjuang (Hasan Al-Bashri)


9 komentar:

  1. baguss kata2x...
    jodoh yg baik jg termasuk rezki, menjemputx hrs jln yg halal *smile

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sepakat dengan Bang Rohis, fenomena yang marak saat ini adalah semua dilakukan dengan cara yang instan atau sak penake dewe... Contohnya pacaran...

      Salam dari Pulau Dollar

      Hapus
  2. Ada banyak hal yang perlu digaris bawahi tentang rezeki. Dari beberapa yang saya tulis di bawah ini mungkin masih ada yang kurang.
    1. Rezeki tidak selalu harta, mungkin udara yang masih kita hirup saat ini juga termasuk rezeki. Badan yang sehat, kerabat yang baik,
    2. Biasa orang sunda suka nyebut "milik". Misalnya dalam bahasa Indonesia orang bilang "mungkin belum rezeki", dalam bahasa sunda "can milik euy". Sesuatu yang jadi milik hakikatnya adalah yang sudah dibelanjakan di jalan Allah. Jika suatu saat anda menemukan uang Rp. 10.000, kemudian disedekahkan Rp.3000, maka yang dianggap sebagai "milik" adalah yang 3000. (A.F. Ghazali)
    3. Pada umumnya orang bilang bekerja untuk mencari rezeki. Tapi ketika tidak mendapat uang atau uangnya sedikit, mereka bilang tidak mendapat rezeki. Padahal, bekerja untuk cari uang, biar bisa makan, biar bisa bertahan hidup. Tapi jika tidak punya uang, meskipun masih hidup sering dianggap tidak mendapat rezeki.
    4. Dalam menjemput rezeki harus ikhlas. Karena itulah ikhtiar harus disertai tawakal. Seseorang (lupa siapa) mengatakan, tugas kita hanya berikhtiar, masalah hasil itu urusan Allah.
    5. Apa yang dimiliki saat ini adalah rezeki. Jika bersyukur (dlm bentuk sedekah, infaq, dsb) akan ditambah, jika kufur akan dikurangi (atau adzab lain). (QS Ibrahim :7)
    6. Mungkin ada yang berfikir "cari rezeki susah, padahal caranya udah halal, sementara orang lain pake cara haram rezekinya banyak" (masih money oriented). Sebenarnya, orang yang melakukan hal haram itu tidak mendapat rezeki, karena pada akhirnya mereka akan ditimpa musibah yang berat, baik di dunia maupun di akhirat".
    7. Rezeki tiap orang berbeda, sesuai kemampuan masing-masing. itu yang terbaik, bisa jadi jika diberi lebih malah jatuh ke kekufuran apalagi kurang.(K.H. Zainudin MZ)
    8. Jangan dengan dalih "mencari rezeki" sampai mengabaikan rezeki lain yang sudah didapat. Mencari rezeki, keluarga diabaikan, anak sakit nggak tahu, lalu dapat kabar anak meninggal.
    Mencari rezeki siang-malam, kesehatan terabaikan, sakit, meninggal.
    Mencari rezeki ambil semua proyek, nggak ada yang beres, dituntut, harus bayar denda.
    *nanti ditambahin kalo udah ada inspirasi lagi.

    BalasHapus
  3. ukhti.........Kak ery sedang...bersyukur. ya ukhti begnilah cara sederhana tapi kaya
    Sahabat, Rizqi adalah ketetapan. Cara menjemputnya adalah ujian. Ujian yang menentukan rasa kehidupan. Sebab, ia lah yang paling terindra dalam hayat kita di dunia.

    BalasHapus
  4. Rezeki memang nggak akan putus selagi kita masih hidup. Hanya saja rezeki itu nggak bisa didapetin dengan cara diem aja,tapi harus diikhtiarkan.

    Bagus tulisannya, mantap diksinya.
    Tapi,ada beberapa kata yang nggak sesuai KBBI, ada kata ambigu jadi sepertinyang multitafsir. Contohnya kata terakhir "Usah tergesa," dst.

    Semangat dakwah! ^_^

    BalasHapus
  5. rizqi sudah diatur dan gak akan kmn ,,, tapi klo kita gak bersyukur dan gak kemana2, rizqinya juga akan pergi kemana2 ,,,, :D

    BalasHapus
  6. semua itu sudah di atur oleh Allah termasuk itu rizqi jadi kita di dunia tinggal menjalaninya. gamana cara kita mendapatkan rizqi itu...

    BalasHapus
  7. Subhanallah artikelnya sangat bagus Teh, makasih y...

    BalasHapus
  8. Rizqi jugak membutuhkan ikhtiar ya, Mbak.. :)

    BalasHapus

 

Instagram

Get My G+