10 Tips Menguatkan Iman

By : Ave Ry



Tak seorangpun bisa menjamin dirinya akan tetap terus berada dalam keimanan sehingga meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Untuk itu kita perlu merawat bahkan senantiasa berusaha menguatkan keimanan kita. Tulisan ini berusaha untuk membantu kita dalam usaha mulia tersebut.

Tsabat (kekuatan keteguhan iman) adalah tuntutan asasi setiap muslim. Karena itu tema ini penting dibahas. Ada beberapa alasan mengapa tema ini begitu sangat perlu mendapat perhatian serius.

Pertama, pada zaman ini kaum muslimin hidup di tengah berbagai macam fitnah, syahwat dan syubhat. Semua itu sangat berpotensi menggerogoti iman. Maka kekuatan iman merupakan kebutuhan muthlak. Bahkan lebih dibutuhkan dibanding pada masa generasi sahabat, karena kerusakan manusia di segala bidang telah menjadi fenomena umum.

Kedua, banyak terjadi pemurtadan dan konversi (perpindahan) agama. Jika pada awal kemerdekaan jumlah umat Islam di Indonesia mencapai 90 % maka saat ini jumlah itu telah berkurang hampir 10%. Ini tentu menimbulkan kekhawatiran mendalam. Untuk mengatasinya diperlukan jalan keluar, sehingga setiap muslim tetap memiliki kekuatan iman.

Ketiga, pembahasan masalah tsabat berkait erat dengan masalah hati. Padahal Rasululullah saw bersabda:

إِنَّمَا سُمِّيَ الْقَلْبُ مِنْ تَقَلُّبِهِ إِنَّمَا مَثَلُ الْقَلْبِ كَمَثَلِ رِيشَةٍ مُعَلَّقَةٍ فِي أَصْلِ شَجَرَةٍ يُقَلِّبُهَا الرِّيحُ ظَهْرًا لِبَطْنٍ

“Dinamakan hati karena ia (selalu) berbolak-balik. Perumpamaan hati itu bagaikan bulu yang ada di pucuk pohon yang diombang-ambingkan oleh angin.” (HR. Ahmad)


Dibawah ini hanya beberapa tips dari sekian banyak yang dapat kita lakukan agar iman tetap kuat dalam hati.

1.    Akrab dengan Al Qur’an.

Al Qur’an merupakan petunjuk utama mencapai tsabat. Al Qur’an adalah tali penghubung yang amat kokoh antara hamba dengan Rabbnya. Siapa akrab dan berpegang teguh dengan Al Qur’an niscaya Allah memeliharanya; siapa mengikuti Al Qur’an, niscaya Allah menyelamatkannya; dan siapa yang mendakwahkan Al Qur’an, niscaya Allah menunjukinya ke jalan yang lurus. Dalam hal ini Allah berfirman: “Orang-orang kafir berkata, mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikianlah supaya Kami teguhkan hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).” (Al Furqan: 32-33)

2.    Iltizam (komitmen) terhadap syari’at Allah.

Allah berfirman: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akherat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim. Dan Allah berbuat apa saja yang Ia kehendaki.” (Ibrahim: 27)

Di ayat lain Allah menjelaskan jalan mencapai tsabat yang dimaksud. “Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan (hati mereka di atas kebenaran).” (An Nisa’: 66)

3.    Mempelajari Kisah Para Nabi.

Mempelajari kisah dan sejarah itu penting. Apalagi sejarah para Nabi. Ia bahkan bisa menguatkan iman seseorang. Secara khusus Allah menyinggung masalah ini dalam firman-Nya: “Dan Kami ceritakan kepadamu kisah-kisah para rasul agar dengannya Kami teguhkan hatimu dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran , pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud: 120)

4.    Berdo’a.

Di antara sifat hamba-hamba Allah yang beriman adalah mereka memohon kepada Allah agar diberi keteguhan iman, seperti do’a yang tertulis dalam firmanNya:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Rabb, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (Ali Imran: 8).

Agar hati tetap teguh maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam banyak memanjatkan do’a berikut ini terutama pada waktu duduk takhiyat akhir dalam shalat.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.

“Wahai (Allah) yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada din-Mu.” (HR. Turmudzi)

5.    Berdakwah

Jika tidak digerakkan, jiwa seseorang tentu akan rusak. Untuk menggerakkan jiwa maka perlu dicarikan medan yang tepat. Di antara medan pergerakan yang paling agung adalah berdakwah. Dan berdakwah merupakan tugas para rasul untuk membebaskan manusia dari adzab Allah.

Maka tidak benar jika dikatakan, fulan itu tidak ada perubahan. Jiwa manusia, bila tidak disibukkan oleh ketaatan maka dapat dipastikan akan disibukkan oleh kemaksiatan. Sebab, iman itu bisa bertambah dan berkurang. Jika seorang da’i menghadapi berbagai tantangan dari ahlul bathil dalam perjalanan dakwahnya, tetapi ia tetap terus berdakwah maka Allah akan semakin menambah dan mengokohkan keimanannya.

6.    Dekat dengan Ulama

Senantiasa bergaul dengan ulama akan semakin menguatkan iman seseorang. Tercatat dalam sejarah bahwa berbagai fitnah telah terjadi dan menimpa kaum muslimin, lalu Allah meneguhkan iman kaum muslimin melalui ulama. Di antaranya seperti diutarakan Ali bin Al Madini Rahimahullah: “Di hari riddah (pemurtadan) Allah telah memuliakan din ini dengan Abu Bakar dan di hari mihnah (ujian) dengan Imam Ahmad.”

7.    Meyakini Pertolongan Allah

Mungkin pernah terjadi, seseorang tertimpa musibah dan meminta pertolongan Allah, tetapi pertolongan yang ditunggu-tunggu itu tidak kunjung datang, bahkan yang dialaminya hanya bencana dan ujian. Dalam keadaan seperti ini manusia banyak membutuh-kan tsabat agar tidak berputus asa.

Dan berapa banyak nabi yang berperang yang diikuti oleh sejumlah besar pengikutnya yang bertaqwa, mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan, Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami. Tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akherat. ” (Ali Imran: 146-148)

8.    Mengetahui Hakekat Kebatilan

Allah berfirman: “Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir yang bergerak dalam negeri .” (Ali Imran: 196)

“Dan demikianlah Kami terang-kan ayat-ayat Al Qur’an (supaya jelas jalan orang-orang shaleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berbuat jahat (musuh-musuh Islam).” (Al An’am: 55)

“Dan Katakanlah, yang benar telah datang dan yang batil telah sirna, sesungguhnya yang batil itu pastilah lenyap.” (Al Isra’: 81)

Berbagai keterangan ayat di atas sungguh menentramkan hati setiap orang beriman. Mengetahui bahwa kebatilan akan sirna dan kebenaran akan menang akan mengukuhkan seseorang untuk tetap teguh berada dalam keimanannya.

9.    Memiliki Akhlak Pendukung Tsabat

Akhlak pendukung tsabat yang utama adalah sabar. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam:”Tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabar-an.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Tanpa kesabaran iman yang kita miliki akan mudah terombang-ambingkan oleh berbagai musibah dan ujian. Karena itu, sabar termasuk senjata utama mencapai tsabat.

10.    Mendengar nasehat Orang Shalih

Nasehat para shalihin sungguh amat penting artinya bagi keteguhan iman. Karena itu, dalam segala tindakan yang akan kita lakukan hendaklah kita sering-sering meminta nasehat mereka. Kita perlu meminta nasehat orang-orang shalih saat mengalami berbagai ujian, saat diberi jabatan, saat mendapat rezki yang banyak dan lain-lain.


From: Many Sources

Keras Hati ( Al-Qasawah )

By : Ave Ry


 “ Dzikir menghidupkan hati

Laksana hujan yang menghidupkan bumi kering


Dzikir, selamanya tiada berguna bagi hati-hati yang keras

Apakah batu bisa melunak kala mendengar ucapan penasehat? “


Betapa banyak telinga hati telah mendengar nasehat dan petuah, juga santapan ruhani dari para penasehat pagi dan petang, akan tetapi tidak juga ia mampu meresponnya bahkan kukuh dalam kekerasannya… ayat-ayat al-Qur’an yang sampai kepadanya hanya menambah kekerasan, keangkuhan dan kegersangannya… seakan pada pintunya dibentangkan pintu besi sehingga menghalangi kebenaran dan sejuknya dzikir yang sampai pada pemilik.


Mengenai Kerasnya Hati, Ibnu al-Qayyim mengatakan dalam kitabnya Bada’i al-Fawa’id [3/743], “Tatkala mata telah mengalami kekeringan disebabkan tidak pernah menangis karena takut kepada Allah SWT, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya keringnya mata itu adalah bersumber dari kerasnya hati. Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.”


Nabi saw pun berdoa kepada Allah agar terlindung dari hati yang tidak khusyu’, , “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari hawa nafsu yang tidak pernah merasa kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim).


Tanda-tanda hati yang kotor atau sakit


Fitrah manusia adalah suci dan bersih dalam menjalankan perintah agama, namun terkadang dalam perjalanan kehidupannya, manusia sering lupa dan lalai serta terjerumus dalam sifat-sifat "syaithoniyah". Untuk mengenal lebih jauh tanda-tanda hati manusia yang telah kotor atau sakit, berikut ini salah satu tandanya :


Adanya sifat nifaq ( Munafik ) dalam jiwa manusia,


“ Dan diantara manusia ada yang berkata " kami beriman kepada Allah dan hari akhir ", padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit ( Nifaq ), lalu Allah menambah penyakitnya itu, dan mereka mendapat adzab yang pedih, karena mereka berdusta “. Al Baqarah : 8-10


Jika kita perhatikan ayat-ayat tersebut, maka sifat munafik akan menjadikan hati manusia bertambah kotor dan rusak, karena pada dasarnya manusia yang memiliki sifat nifaq akan terlihat diluar dirinya manis akan tetapi dalam bathinnya dia memiliki sifat-sifat syaithoniyyah.


Syekh az-Zamakhsyari dalam kitab tafsirnya "al-Kassyaf", menggambarkan hati yang sakit karena sifat nifaq dalam diri manusia adalah selalu condong untuk berbuat maksiat kepada Allah Swt.


Sedangkan Syekh Abu Zahrah dalam kitab tafsirnya "Zahratu at-Tafasir", bahwasanya hati akan menjadi keras karena sifat nifaq yang selalu menanamkan kedengkian dan selalu menghinakan orang-orang yang beriman. Penyakit hati tersebut menurut beliau tidak ada obatnya, na'udzubillah.


Membersihkan hati yang kotor


Ketika manusia sudah mulai malas beribadah kepada Allah Swt. Maka sebaiknya bersegeralah beristighfar untuk mendapatkan ampunan dari Allah Swt. Karena ketika kita membiarkan diri kita jauh dari Allah Swt. maka hati sedikit demi sedikit akan kotor dan jika tidak segera di obati hati tersebut akan mengeras,

“ Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga hatimu seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang airnya memancar daripadanya. Adapula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya. Dan adapula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah Swt. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan “. Al Baqarah : 74

Oleh karena itu untuk menghindari kerasnya hati cepatlah kembali kepada Allah dengan memohon ampunan dari-Nya, sebagaiman Allah perintahkan kepada orang-orang yang beriman,

“ Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu kedalam surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya, sedang cahaya mereka memancar dihadapan dan disebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, " Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami, sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu “. At Tahrim : 8

Di antara sebab kerasnya hati adalah :

• Berlebihan dalam berbicara
• Melakukan kemaksiatan atau tidak menunaikan kewajiban
• Terlalu banyak tertawa
• Terlalu banyak makan
• Banyak berbuat dosa
• Berteman dengan orang-orang yang jelek agamanya

Agar hati yang keras menjadi lembut

Disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim di dalam al-Wabil as-Shayyib [hal.99] bahwa suatu ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada Hasan al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id! Aku mengadu kepadamu tentang kerasnya hatiku.” Maka Beliau menjawab, “Lembutkanlah hatimu dengan berdzikir.”

Sebab-sebab agar hati menjadi lembut dan mudah menangis karena Allah antara lain :

• Mengenal Allah melalui nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya
• Membaca al-Qur’an dan merenungi kandungan maknanya
• Banyak berdzikir kepada Allah
• Memperbanyak ketaatan
• Mengingat kematian, menyaksikan orang yang sedang di ambang kematian atau melihat jenazah orang
• Mengkonsumsi makanan yang halal
• Menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat
• Sering mendengarkan nasehat
• Mengingat kengerian hari kiamat, sedikitnya bekal kita dan merasa takut kepada Allah
• Meneteskan air mata ketika berziarah kubur
• Mengambil pelajaran dari kejadian di dunia seperti melihat api lalu teringat akan neraka
• Berdoa
• Memaksa diri agar bisa menangis di kala sendiri

Perbuatan manusia bersumber dari hatinya, maka ketika hatinya selamat dari sifat-sifat yang kotor maka perbuatan tersebut akan mencerminkan prilaku yang islami dan jauh dari maksiat kepada Allah Swt.

Ketahuilah,sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah "Qolbu" yaitu hati ". ( H.R Bukhori ).


- From many sources

Indahnya Silaturahim

By : Ave Ry



Allahu Akbar, Allahu Akbar

La Ilaha Ilallahu, Wallahu Akbar

Gema takbir berkumandang perlahan surut dari pendengaran seiring berlalunya hari yang penuh keberkahan, hari dimana manusia mukmin yang telah menjalankan ibadah shaum bersih dan kembali fithri.

Namun, bagi kebanyakan umat Islam ‘lebaran’ belumlah berakhir, ketukan pintu dirumah-rumah keluarga muslim masih terdengar. Inilah saat-saat yang paling membahagiakan sebenarnya, berkumpul bersama keluarga yang jarang bersua. Bercanda ria sambil mengunyah panganan yang telah susah payah di upayakan hari-hari sebelumnya. Rasanya kelelahan itu terbayarkan…

Entah di Negara lain, tapi di Indonesia Idul Fithri adalah saat para sanak kerabat berkumpul, saling berjabat tangan, berpeluk mesra sesama saudara, menyambung tali persaudaraan, silaturahim. Hal inilah yang mendorong ribuan umat muslim di Indonesia ‘mudik’, istilah yang lazim ketika lebaran atau Idul Fithri tiba. Mengunjungi keluarga yang jauh di ujung sana untuk sekadar melepaskan dahaga akan kerinduan untuk berkumpul bersama orang-orang terkasih yang tidak berjumpa selama satu tahun belakangan atau lebih. Segala upaya dilakukan. Tiket atau biaya perjalanan tidak menjadi masalah, waktu yang lama dalam perjalanan sudah menjadi biasa.

Sadar atau tidak umat muslim di Indonesia telah melaksanakan sunnah rasul-NYA yang mulia. Dengan berkumpul kemudian berbagi, maka hati-hati yang terpisah akan menyatu, memupuk rasa sayang diantara saudara, kemudian lebih jauh di antara teman, lingkungan lalu saudara sesama muslim

“ Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya  Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain , dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. ” An-Nisa’: 1

Memelihara hubungan silaturahim merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya, serta wajib bagi kita untuk menjaganya dengan sebaik-baiknya.

Di antara hikmah dari memelihara hubungan silaturahim itu secara garis besar ada 2 (dua) hal penting. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah saw yang bersumber dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezkinya, dan ingin dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits tersebut di atas dijelaskan tentang hikmah silaturahim, bahwa orang yang menyambung hubungan silaturahim maka Allah SWT akan memberikan kepadanya pahala kebaikan di dunia ini (selain pahala di akhirat), berupa keluasan rezki dan umur yang panjang.

Semoga Allah SWT menjadikan kita umat yang selalu menjaga hubungan tali silaturahim dengan sebaik-baiknya.

Menarik memang tawaran Rasul tentang manfaat silaturahim: luasnya rezeki dan umur yang panjang. Dua hal tersebut merupakan simbol kenikmatan hidup yang begitu besar. Bumi menjadi begitu luas, damai, dan nyaman. Sehingga, kehidupan pun menjadi sangat berarti.

Ah, Indonesiaku tercinta. Wajahmu tidak sesuram yang dibicarakan mereka yang telah patah arang. Masih banyak kebaikan yang engkau sisipkan kedalam sanubari masyarakatnya.

“ dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka…. ” Al-Anfal : 63

Hey Dude, Heaven is so expensive!

By : Ave Ry




"Is it hard being a Muslim?", There is someone who asks. "Not well"


Look around us are filled with a variety of different human types, must be the dream of every man to make it come together in a single uniform umbrella. Whoever he is and whatever his religion, but is it possible?

Too much information in the form of a conspiracy are scattered about a large group who want to make this earth into one under the rule that will be led by the 'prince of freedom', does that make us so afraid of?

As a Muslim I have often wondered why they were so active in spreading the doctrines that teach different things to what I and other Muslims in the Qur'an.

Some claimed not bother to undergo a grueling ritual worship or observe the law of GOD on earth. After all, the law is a lie, a lie that men who pretend to be smart and hungry for power.

Ahh, I was lazy to go into that. Denied them by the same scientific or logical. Their heads are filled with a very chronic disease of ignorance! Let them play with their narrow sense. After all, most of them are people who on paper is the people who are good but then they actually use their brains to fool others.

It's useless to talk to the man who said "Life is only once in this world, there is no such thing as heaven and hell. We must do whatever we like"

See, it's better just ignore it!

I will only discuss the question a friend who said, "Why would a Muslim worship is always busy day and night without stopping. Many of the rules that bind. All this must be calculated with a reward or a sin"

"Do you believe in heaven and hell?"
"Yes, of course"
"It would be easier then"

Why do not you think about this. There was a wealthy businessman who has a lot of employees. He said that at the end of the year he will assess the work of its employees. For employees who behaved well and worked satisfactorily then he would get a mansion complete with its contents. Instead, employees are lazy or misbehave even then he will get punished. Is that reasonable?

Some very hard-working employees. Not only they do their job well, but they also adorn themselves with good manners and polite at last wealthy businessman. They are very obedient and very often flatter and praise the goodness of The Entrepreneur.

Do you think The Entrepreneur will be pleased with them?

Several other employees is not just lazy to work but also misbehave. He ignored the order of The Entrepreneur who have provided much good for them. They even make fun of people who work diligently, saying they were stupid. They assumed that The Entrepreneur is SURE  will give them a luxury home without the hassle of working hard. They believe that The Entrepreneur already make up for their mistakes because they believe that The Entrepreneur is their father???

Do you think The Entrepreneur will be pleased with them?

The logic is very simple for someone who wants to use his mind.

Luxury homes that have been promised The Entrepreneur was very magnificent. Filled with goods coming from a brilliant gold like the Persian court.

Is it so remarkable can be obtained by simply laze around?

No friends!





While there are those who say we are stupid enough to do the prayers so that our knees hurt or our forehead blackened.

While there are those who say we are stupid enough to just cover our bodies to our faces and hands are visible.

While there are those who say we are stupid enough to pick and choose foods and beverages.

While there are those who say we are foolish to overcrowded to the Ka'bah and spend enough money to get there.

We don’t care!

We love our Prophet and the Prophet told us that we must obey the laws that exist in the Qur'an and Sunnah.

And more than that, we loved with all our soul and body, our religion.

Religion which leads us to run a better life. Religion is full of safety. And religion that have shown us the ONE GOD.

GOD is very rich, he has a universe
GOD is so powerful, he set the universe



“And they say, "None will enter Paradise except one who is a Jew or a Christian." That is [merely] their wishful thinking, Say, "Produce your proof, if you should be truthful." 
Al-Baqarah : 111

“ But the ones who believe and do righteous deeds - We will admit them to gardens beneath which rivers flow, wherein they will abide forever. [It is] the promise of Allah , [which is] truth, and who is more truthful than Allah in statement? “  
An-Nisa’ : 122

Tag : ,

7 Menu Favorite Saat Buka Puasa

By : Ave Ry

Tangan sudah dua jam di atas keyboard, tapi belum dapat ide buat nulis.. Lagi blank! Tapi bernafsu untuk memposting (malu deh, jarang update). Terus keingetan kalau lagi puasa. 


So, buat ranking menu favorite buat buka puasa versi sendiri aja ahh :p

Dimulai dari peringkat bawah nih :

7. Bubur Sumsum

Makanan ini dibuat dari tepung beras, rasanya lembut-lembut gimana gitu. Kalau di daerah Jabodetabek, makanan ini gampang banget ditemuin. Murah juga sih soalnya


6. Biji Salak

Eits.. ini bukan bagian dalam buah salak :D ., makanan ini dinamakan biji salak mungkin karena bentuknya yang mirip biji salak. Dibuat dari ubi, dibulet-buletin (apa coba), terus dikasih santan deh sama gula jawa


5. Kue Serabi

Nah, makanan ini juga kalau lagi puasa gini gampang dicarinya. Walaupun banyak variasi yang terilhami dari serabi ini, seperti pancake (iya gak sih?) tapi yang original tetep paling mantap



4. Kue Onde

Sebenarnya orang-orang sering bilang kalau namanya kue klepon. Tapi gak asyik ah, udah kebiasaan bilang kue onde! Tapi lagi nih... Saya lebih suka kue onde yang dijual di daerah condet, kenapa? Soalnya kue ondenya khas, lebih kecil dan tempatnya pakai daun (seperti gambar dibawah) masuknya pas mulut. Kalau yang dijual di abang-abang biasa kegedean, harus dua kali gigit (maklum wanita, makan juga harus anggun) :p Bahannya dari tepung ketan, didalamnya ada gula jawanya gitu, kalau di gigit langsung lumer di mulut. Maknyuss…



3. Pisang Bakar

Kalau yang ini gak tau deh yang lain setuju apa gak, tapi biarin aja ah, lah menu favorite saya sendiri, hehe. Kalau mau mencari sebelum maghrib memang agak susah. Soalnya warung penjual biasanya buka malam. Paling kalau mau belinya di food court (tapi menurut saya malah kurang enak loh), atau buat sendiri aja, simple kok



2. Martabak Telor

Waduh, satu-satunya makanan yang asin disini nih. Makanan yang ini juga kalau sebelum maghrib susah dicari. Kalau di meja ada martabak telor, bakalan rebutan deh, dijamin! Makan satu mah cuma ngotor-ngotorin gigi. Paling sedikit itu satu dus sendiri, huaha



Tadaaaa.. sekarang waktunya peringkat satu, siapakah dia??

Tak lain dan tak bukan adalah si es yang suka bikin teler! Kalau di meja ada es teler, yang lain lewaaaatt.

1. Es Teler

Es serut yang didalamnya ada berbagai macam buah terus dikasih susu dan ada juga yang ditambah sirup. Yang paling simple memang yang paling enak J







Tag : ,

Bukanlah Muslim Jika Tangannya Berat Untuk Memberi

By : Ave Ry



Barangsiapa melepaskan dari seorang muslim satu kesusahan dari sebagian kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya dari sebagian kesusahan hari kiamat; dan barangsiapa memberi kelonggaran dari orang yang susah, niscaya Allah akan memberi kelonggaran baginya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aib dia dunia dan akhirat; Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. (HR. Imam Muslim)

“ Katanya islam Rahmatan Lil’alamin, kok banyak orang miskin, pengemis, semuanya mengaku muslim. Dimana Rahmatnya? “, seorang teman berkata.

Bukan satu dua kali saya mendengar orang-orang ngedumel dengan kalimat yang kurang lebih sama seperti itu. Tersinggung? Jelas!

Kalau yang berkata non-Muslim mungkin bisa dimaklumi, tapi kalau muslim sendiri yang berkata seperti itu bagaimana?

Ini dikarenakan diantara umat Muslim ada yang mengalami krisis identitas. Mereka ini adalah yang memiliki ajaran Islam secara terbatas sehingga terjadi beberapa penyimpangan yang dilakukan umat Muslim.

Hal ini terkait dengan pendidikan agama bagi generasi penerus. Untuk itu, bagi umat Muslim tidak perlu sungkan dalam membentengi diri terhadap ajaran-ajaran Islam yang menyimpang, yakni ajaran yang menghalangi umat Islam, yang menjadi umat terbanyak di Indonesia, untuk bisa menjadi Rahmat bagi seluruh manusia dan alam semesta dengan menyebarkan kasih Allah.

Allah SWT dan Rasul saw mengajak semua umat Islam supaya menjadi rahmat bagi semesta alam. Untuk mencapai itu, indikatornya adalah umat Muslim memberikan kemanfaatan bagi orang lain dan alam semesta. Karena Rahmat bisa berarti cinta kasih.

Dengan demikian, Islam adalah agama yang mengajarkan keselamatan, kemaslahatan, dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.

Karena apabila ada orang yang mengaku beragama tapi tidak memiliki kepedulian pada orang miskin, maka ia adalah pendusta beragama.

Miris memang. Dengan petunjuk yang sedemikian sempurna, tetapi petunjuk yang berasal dari Sang Pembuat Peraturan itu seolah diabaikan. Sehingga orang-orang awam yang lemah imannya dan dangkal akidahnya serta pemahamannya tentang Islam jadi berburuk sangka seperti itu.

Hanya orang-orang yang ‘sakit’ lah yang malah menyalahkan ajaran Islam yang nyata-nyata berasal dari Rabb Pemilik Alam.

Tapi, dengan kesadaran bahwa orang-orang awam kurang mendapatkan pendidikan tentang Islam, maka pantaslah kalau kita sejenak merenung. Siapa sebenarnya yang bersalah dalam hal ini?

Sebelum saya semakin banyak menulis, lebih baik saya beri penjelasan dulu atas hadist yang saya cantumkan di atas tadi.

Hadist tersebut menjelaskan tentang melepaskan kesusahan orang lain dan mengandung makna yang sangat luas, bergantung kepada kesusahan yang sedang diderita oleh orang tersebut. Jika saudara-saudaranya termasuk orang miskin sedangkan ia berkecukupan (kaya), ia harus menolongnya dengan cara memberikan bantuan atau memberikan pekerjaan sesuai dengan kemampuannya; jika saudaranya sakit ia berusaha menolongnya dengan cara membantu membawa ke dokter atau meringankan biayanya; jika suadaranya dililit hutang, maka ia membantu memberikan jalan keluar, baik dengan cara memberi bantuan untuk melunasinya atau memberi arahan yang akan membantu dalam mengatasi hutang saudaranya.

Orang muslim membantu meringankan kesusahan saudaranya yang seiman, menolong hamba yang disukai oleh-Nya, dan Allah SWT., pun akan memberi pertolongan-Nya serta menyelamatkannya dari berbagai kesusahan, baik dunia maupun akhirat,

“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah pun akan menolong kamu semua…” Muhammad : 7

Memperbaiki kesejahteraan merupakan salah satu di antara tiga cara dalam memperbaiki keadaan masyarakat, sebagaimana diungkapkan oleh Abu Hasan dalam kitab “Adab ad-Dunya wa ad-Din”, yakni menjadikan manusia taat; menyatukan rasa dalam hal kesenangan dan penderitaan dan menjaga dari hal-hal yang akan mengganggu stabilitas kehidupan.

Bahkan dalam Islam, sikap untuk memberi terhadap sesama dikaitkan dengan baiknya ke-Islaman seseorang,
"Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw: 'Bagaimanakah Islam yang paling baik?' Nabi saw menjawab: 'Memberi makan (orang-orang miskin), mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal.'"

Dalam pengertian yang lebih luas, keislaman yang baik itu adalah yang memiliki kepekaan terhadap problem sosial, khususnya kesejahteraan. Ini sangat diperhatikan oleh Islam. Sebab Islam adalah agama yang sempurna. Bukan hanya mengatur hubungan dengan Allah, melainkan juga memberikan kemanfaatan kepada sesama. Menolong kaum dhuafa', mereka yang lemah.

“Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya sedekah dapat menambah harta yang banyak. Maka bersedekahlah kalian, niscaya Allah menyayangi kalian.” (Al-Wasail 6: 255, hadis ke 11)

Nah, setelah jelas pada kita bagaimana Islam mengajarkan tentang berbagi pada sesama. Maka, akan mudah bagi kita menjawab siapa yang bersalah dalam hal ini. Ajaran Islam atau Oknum yang mengaku Islam?

Karena pada hakikatnya seorang Muslim adalah manusia-manusia yang tunduk patuh pada aturan Sang Pencipta yang di ajarkan melalui lisan utusan-Nya Rasulullah Muhammad saw. Jadi ketika kita diseru untuk menolong saudara yang sedang dalam kesusahan lalu kita cuek saja, maka tidak ada bedanya kita dengan ahli kitab yang suka membangkang. Jika diperintah mereka berkata ” Kami dengar, tapi kami tidak taat ”.

Marilah saudaraku yang diberikan kelimpahan harta oleh Allah SWT, dilebihkan rezekinya dari sebagian yang lain. Mudahkan tanganmu untuk memberi pada saudaramu yang keadaannya jauh dibawahmu. Tengoklah mereka kaum fakir dhuafa, kaum papa, baik yang menadahkan tangannya atau menyimpannya dalam saku karena izzah agamanya. Janganlah terlalu cintakan dunia yang fana, karena toh akhirnya semua akan kembali pada Pemiliknya. Jadikan hartamu kekal dengan meng-infaq-kannya pada jalan yang di ridhoi-Nya


“ Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. “ Al Baqarah  245
Tag : ,

Anak STM garang..? , Siapa bilang..!

By : Ave Ry


“Ukh, anti bantuin ane ya ngajar di STM”

Ahad kemarin seorang sahabat meminta bantuan untuk mengajar di salah satu STM yang berada di Pasar Minggu. Sekolah ini memang dalam beberapa tahun belakangan rutin mengadakan SIR (Study Islam Ramadhan).

Kontan saya terkejut, STM?

Dalam pikiran berkelebat anak laki-laki dengan celana abu-abu ketat dan ngatung, plus ditambah rantai atau ikat pinggang dengan rambut model anak punk. Lantas dengan seringai seram mengeluarkan suara sumbang dan terdengarlah kata sakti, “tawuran…!!”.

Langsung saya jawab, “Afwan ukh.. enggak ah”

Tapi ternyata, saya adalah seseorang yang gampang terkena bujuk rayu!

Jadilah, dengan setengah hati dan mulut mencibir saya terima tugas super berat ini. Kenapa saya sebut berat? Karena itu tadi, mengajar anak STM tentang Islam. Sudah begitu, ini adalah pengalaman saya yang pertama kali mengajar orang dewasa. Biasanya saya hanya kebagian jatah mengajar anak SD, hoho.

Hari pertama menginjakkan kaki saya langsung masuk kedalam ruangan khusus para mentor. Tidak lagi ikut acara brieving, karena saya dan teman ternyata terlambat setengah jam dari jadwal (contoh buruk, jangan ditiru ya, hehe). Lalu kami diberikan dua helai kertas ukuran A4 yang ternyata berisi materi. Ya, hanya dua lembar untuk jam pelajaran selama dua jam! Otak saya langsung kalang kabut, stress berat.. drop sangat.. lantas memucat..

Dengan jantung berdentum keras saya masuk keruang kelas yang sudah ditentukan. 

Jreeeng… sudah duduk dengan rapi berderet-deret si putih abu-abu. Dengan dagu terangkat keatas saya ucapkan salam, “Assalammu’alaikum..” lalu dengan serempak mereka menjawab.

Strategi… Saya harus punya strategi, pikir saya keras memutar otak. Tadarus! Ya, mumpung ini bulan ramadhan. Akhirnya setelah setengah jam berlalu dengan tadarus dan test tilawah Al Qur’an sendiri-sendiri . tidak lagi punya strategi, saya harus masuk materi inti.

Guest what? Al Qur’an..

Entah karena anugrah atau apa materi ini lumayan ‘nyantol’ dikepala. Jadi, walaupun materi yang diserahkan secara mendadak itu hanya dua lembar tapi saya bisa mengeluarkan cairan pengetahuan dari kepala yang selama ini terpendam (hehe, sombong dikit nih).

Dengan lancar perjalanan mengajar dikelas pertama berakhir. Menyisakan senyum manis yang tersimpan dihati. Senyum manis atas seseorang yang telah mengagetkan saya dengan suaranya yang merdu bak Qori’ dari Saudi Arabia sana. Dengan tajwid dan makhorijal hurf tanpa cela, dengan tatapan halus berisi keluasan iman selaksa makna..



Lanjutannya nanti lagi ahh…



Manisnya Iman

By : Ave Ry




Tiga hal yang bisa membuat seseorang bisa merasakan manisnya keimanan: Mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain, mencintai seseorang karena Allah, dan tidak mau kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak mau dilemparkan ke dalam api. (H.R. Bukhari Muslim)

Imam Nawawi, ketika mengomentari hadits ini di dalam Syarh Muslim menerangkan, makna halawatul Iman adalah:

 (Merasakan nikmatnya melakukan ketaatan)

Seorang hamba yang sudah mendapatkan manisnya iman akan merasa nikmat dalam melakukan ketaatan. Segala perintah Allah akan terasa ringan baginya. Semua larangan Allah akan dengan mudah ditinggalkannya. Ketaatan baginya bukanlah beban. Larangan Allah untuknya bukanlah pembatasan kebebasan, atau pengekangan, tapi akan ia rasakan sebagai suatu bentuk kasih sayang Allah agar ia selamat, baik di dunia maupun di akhirat.

 (Rela memikul seberat apapun beban dan kesulitan, demi mengharap ridha Allah dan Rasul-Nya, dan lebih memilih ridha Allah dan Rasul-Nya ketimbang tawaran keduniaan)

Rasulullah mensifati keimanan di sini sebagai sesuatu yang manis. Manisnya makanan dapat terasa di lidah jika kondisi badan sedang sehat, bilamana badan tak sehat rasa manis itu pun hilang. Begitu juga halnya iman, manisnya tidak akan dirasa jika iman bermasalah…

Rasulullah saw bersabda:
Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, segala perkara baik baginya dan itu tidak terjadi kepada selain orang mukmin. Jika ia diberi kesenangan ia bersyukur, dan itu adalah terbaik baginya. Dan jika ia ditimpa kesulitan ia bersabardan itu adalah terbaik baginya. (HR. Muslim)

Manisnya iman itu harus di cari dan diusahakan, salah satu tips agar kita merasakan manisnya iman adalah, kita harus memiliki satu amalan yang dirahasiakan. cukup kita dan Allah saja yang tahu, rahasiakan amalan itu walau kepada orang terdekat kepada kita sekalipun. Dan satu lagi, untuk meraih manisnya iman banyak-banyaklah berdoa seperti sebuah doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw:

Ya Allah, sesungguhnya aku meminta cintaMu, kecintaan orang yang mencintaiMu, juga amalan yang menyampaikanku kepada kecintaan terhadapMu. Ya Allah, jadikanlah kecintaan terhadapMu melebihi kecintaanku terhadap diriku, hartaku dan air yang dingin.

Bila seseorang senantiasa mengutamakan kecintaan kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya, daripada kepentingan dirinya sendiri, maka akan lahirlah sikap ridha terhadap Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai din-nya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya. Keridhaannya itu dibuktikan dengan selalu menghadiri halaqahnya, terlibat dengan kegiatan dakwah di lingkungannya dan menginfakkan sebagian harta dan waktunya untuk kemaslahatan tegaknya agama Allah swt.

Apa yang dirasakan oleh seseorang bila ia telah ridha terhadap Allah, agama dan Rasulnya?

Pertama, Ia akan merasakan “Istildzadz at-Thaa’ah”, lezatnya ketaatan kepada Allah swt., baik dalam shalatnya, tilawah Qur’annya, pakaian dan pergaulan islaminya, perkumpulannya dengan orang-orang shaleh dan keterlibatannya dalam barisan dakwah

Kedua, Ia juga akan merasakan “Istildzadz al-masyaqat”, lezatnya menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan dalam berdakwah. Kelelahan, keletihan, dan hal-hal yang menyakiti perasaannya akibat celaan orang karena menjalankan syariat Islam, atau bahkan mencederai fisiknya, semua itu semakin membuatnya nikmat dalam berdakwah. Semua inilah yang akan senantiasa melahirkan manisnya Iman.

“Istildzaadz at-thaa’ah”, lezatnya ketaatan kepada Allah ditunjukan oleh wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun wahyu yang memerintahkan mereka untuk berhijab dan menutrup auratnya, mereka langsung meresponnya dengan senang hati dan lapang dada, tanpa merasa berat sedikitpun. Aisyah ra. yang menjadi saksi mata atas hal ini berkata :

 “Semoga Allah merahmati wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun kepada mereka ayat “hendaknya mereka mengenakan kain panjang (jilbab) sampai ke atas dada mereka,” mereka memotong kain-kain mereka, lalu mereka menjadikan kain-kain itu sebagai penutup kepalanya

Abu Ayub Ayub Al-Anshary, ketika mendengar seruan jihad, Dalam surat At-Taubah : 41

 “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” 

Abu Ayub berseru kepada anak-anaknya, “Jahhizuuny! Jahhizuuny!” siapkan peralatan perangku!. Anak-anaknya membujuk agar bapaknya tidak perlu berangkat untuk berjihad, karena usianya sudah udzur, cukup di wakilkan saja oleh anak-anaknya. Abu Ayyub menolak bujukan anak-anaknya seraya berkata : “ketahuilah wahai anak-anakku, yang dimaksud ayat tersebut adalah خِفَافًالَكُمْ وَثِقَالاً لٍي , ringan bagi kalian berat bagiku, beliaupun tetap berangkat dan menemukan syahidnya dalam perjalanan jihad tersebut. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Sedangkan Lezatnya kesulitan (Istildzadz al-masyaqqah) dalam dakwah dirasakan oleh Rasulullah saw., ketika beliau menghadapi ketidaksukaan orang-orang kafir terhadap ajaran Islam, sebagaimana yang ditunjukan oleh masyarakat Thaif ketika Rasulullah saw. hijrah ke sana, yaitu pada saat Nabi menyampaikan dakwahnya, mengajak mereka untuk menerima ajaran Islam, tetapi tidak ada sedikitpun sambutan baik dari para tokoh mereka, bahkan dengan nada yang sangat melecehkan dan menyakitkan, mereka menanggapi dakwah Nabi seraya berkata,

“Coba kau robek kiswah ka’bah jika engkau memang benar-benar utusan Allah.”

Yang lainnya pun turut berkomentar,

“Apa tidak ada lagi orang yang lebih pantas diutus oleh Allah selain engkau?”

Dengan penuh kesabaran dan ketabahan Rasulullah saw. menerima kenyataan pahit tersebut, beliau tetap berlapang dada dan tidak mempermasalahkan tentang penolakan dan penentangan mereka. Oleh karena itu ketika malaikat penjaga gunung Alaihissalaam menawarkan kepada Nabi, bila beliau setuju ia akan mengangkat dua buah bukit yang ada di Thaif lalu ditimpakan kepada mereka, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang Rasulullah saw. menanggapinya seraya berkata,

 “Tetapi aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang rusuk mereka kelak orang-orang (generasi) yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.”

Syaikh Abu Muhammad bin Abi Jamroh mengibaratkan manisnya iman dengan sebuah pohon, sebagaimana firman Allah :

 “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (Ibrahim : 24)

Yang dimaksud kalimat dalam ayat tersebut adalah kalimatul ikhlas لا اله الا الله, batang pohonnya adalah pangkal iman, cabang dan rantingnya adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dedaunannya adalah kepedulian terhadap kebajikan, buahnya adalah amal ketaatan, rasa manisnya adalah ketika memetiknya, dan puncak manisnya adalah ketika matangnya sempurna saat dipetik, disitulah sangat terasa manisnya

Dari Anas ra, dari Nabi saw. bersabda, “Tiga perkara jika kalian memilikinya, maka akan didapati manisnya iman. (Pertama) orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. (Kedua) agar mencintai seseorang semata-mata karena Allah swt. (Ketiga), tidak senang kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah swt, sebagaimana ketidak-senangannya dilempar ke dalam api neraka.” (HR Bukhar Muslim dengan redaksi Muslim)

Dari Al-Abbas bin Abdil Muttalib, bahwasanya ia mendengar Rasulallah saw. bersabda, “Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR. Muslim)

Hadits ini sangat agung maknanya, termasuk dasar-dasar Islam, berkata para ulama, “Arti dari manisnya iman adalah mersakan lezatnya ketaatan dan memiliki daya tahan menghadapi rintangan dalam menggapai ridha Allah dan Rasul-Nya, lebih mengutamakan ridha-Nya dari pada kesenangan dunia, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam hadits tersebut Rasulullah saw. menjelaskan bahwa tiga perkara bila kalian berada di dalamnya maka akan didapati manisnya iman, karena sarat mendapatkan manisnya sesuatu adalah dengan mencintainya, maka barang siapa yang mencintai sesuatu dan bergelora cintanya, maka ketika berhasil mendapatkannya, ia akan merasakan manis, lezat dan kegembiraannya. Karena itu seorang mukmin yang telah mendapatkan manisnya iman yang mangandung unsur kelezatan dan kesenangan akan diiringi dengan kesempurnaan cinta seorang hamba kepada Allah swt. Dan kesempurnan itu dapat diwujudkan dengan3 hal :

Pertama : menyempurnakan cinta kepada Allah yaitu dengan menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari yang lainnya, karena cinta kepada Allah tidak cukup hanya sekedarnya, tetapi harus melebihi dari yang lain-Nya

Kedua : menjadikan cinta kepada Allah menjadi pangkal dari cabang cinta kepada yang lain, yaitu mencintai orang lain semata-mata karena dan untuk Allah swt., sehingga dalam mencintai ia tetap mengikuti prosedur dan mekanisme cinta yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan Sunnah, misalnya tidak berkhalwat, menyegerakan akad nikah dan menghindari perbuatan yang mendekati pada perzinahan. (tidak pacaran) (QS. 24 : 30-31, 33 : 59)

Ketiga  : menolak segala hal yang bertentangan dengan cinta-Nya, yaitu tidak menyukai hal-hal yang bertentangan dengan keimanan melebihi ketidaksukaannya bila dirinya dilemparkan ke dalam api neraka.

Amar bin Yasir berkata, “Ada tiga hal yang barangsiapa berada di dalamnya ia merasakan manisnya keimanan, berinfak dari kekikiran, bersikap adil terhadap manusia dari dirinya, dan mengupayakan keselamatan (salam) bagi alam.” (Diriwayatkan Abdurazzaq, Bukhari mencantumkannya di kitab Al-Iman).

Hadits yang dibawakan oleh Amar bin Yasir ra. tersebut di atas, juga menjelaskan tentang tiga hal yang dapat mendatangkan manisnya iman

Pertama : berinfak secukupnya, tidak berlebihan sehingga menzalimi hak-hak yang lainnya, tapi juga tidak kikir dengan hartanya

Kedua : bersikap objektif, tidak menghalanginya untuk berbuat baik dan adil kepada manusia, walaupun ada kaitannya dengan kepentingan diri sendiri, misalnya walaupun disakiti dan dizalimi oleh seseorang, tetapi tidaka menghalanginya untuk memaafkannya dan tetap berbuat baik kepadanya

Ketiga : Menebarkan kesejahteraan kepada seluruh alam semesta, memperjuangkan sesuatu demi kebaikan manusia dan seluruh makhluk lainnya, seperti dengan melakukan kegiatan amal siasi maupun amal khidam ijtima’i (kegiatan sosial)

Ibnu Rajab berkata dalam kitab Fathul Bari 1/27 : “Maka apabila sebilah hati telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan, karena itulah Nabi Yusuf AS berkata : “Ya Rabb! Penjari lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan kepadaku” (QS. Yusuf : 33)

Source :
  1. Materi Tarbiyah
  2. Saduran dari Situs Bersama Dakwah & Dakwatuna

Belum Berjudul

By : Ave Ry



“Apalagi yang kamu tunggu? Usia sudah lebih dari cukup untuk menikah”

Aku hanya terdiam saat ami berkali-kali membahas hal yang sama. Memang, dalam keluarga kami tidak ada gadis berusia lebih dari dua puluh lima tahun yang belum menikah. Jadi sangat wajar jika ami berkali-kali membahas hal itu dalam hampir tiap obrolan kami. 

“Ami malu sama saudara-saudara yang lain. Tiap kali pertemuan keluarga mereka selalu menanyakan kapan kamu akan menikah. Kamu kan tahu sendiri.”

Sungguh ami, nia pun ingin segera menikah.

“Bukankah kamu yang ingin mendapatkan suami yang baik agamanya? Lantas kenapa kamu menolak Zaky? Dia itu kan sudah baik agamanya, bagus bacaan Qur’annya. Lalu apa lagi?”

Lagi-lagi aku hanya bisa diam dan menundukkan kepala. Aku benar-benar tak tahu lagi harus berkata apa. Alasan yang aku kemukakan kemarin tidak masuk akal menurut siapapun juga. “Bukankah sudah menjadi kewajiban istri untuk mengikuti suami kemana saja dia mau membawa kita? Jadi apa masalahnya jika dia mau membawa kita untuk tinggal bersama orangtuanya?” begitu selalu yang orang-orang katakan ketika aku mengemukan alasan mengapa aku menolak.

“Ami capek sama kamu nia! Apa kamu gak takut kalau nanti kamu tidak akan pernah menikah karena menolak seorang pria sholeh? Kan kamu yang lebih tahu agama”

Percakapan terhenti dengan berlalunya ami dari beranda rumah kami.

Ya Rabb, rasanya ingin aku bersimpuh meminta maafnya karena tidak bisa menjadi anak yang berbakti. Aku belum bisa mengabulkan apapun juga permintaan ami. Tapi lidahku kelu, tenggorokanku sesak dan mataku berusaha untuk tidak menumpahkan linangan airnya.

“Lia gak habis pikir kak. Kenapa sih kakak menolak akh Zaky? Beliau itu orangnya baik kak. Kalau kita kekurangan dana aja beliau yang suka nambahin. Orangnya gak pelit. Mending kakak baca-baca buku lagi deh tentang pernikahan. Lia tuh sedih tau gak kak! Lia kenal sama akh Zaky, Lia udah anggap akh Zaky itu abang Lia sendiri”

Sebenarnya aku sedikit emosi ketika temanku Lia yang mulanya menyodorkan biodata kepadaku itu mulai memaksaku untuk menerima. Aku merasa seperti terintimidasi. Dengan bahasanya yang lugas dia mengungkapkan bahwa sebagai seorang istri itu harus manut dengan suami. Belum lagi aku jadi teringat saat proses ta’aruf seorang temannya berkata padaku, “Tidak ada manusia yang sempurna sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tidak baik menjadi orang yang terlalu perfeksionis”. 

Abi, salahkah Nia karena telah mengecewakan orang-orang ini?

“Lia, tolong sampaikan pada beliau : ‘Afwan Ya Akhi, ana tidak bisa meneruskan proses ta’aruf ini lebih lanjut. Ana sadar akan menjadi pihak yang bersalah karena telah mengulur-ngulur waktu. Membuang-buang waktu antum. Sebenarnya selama ini ana sedang memantapkan hati, karena ana tidak mau ceroboh dalam mengambil keputusan sehingga ana membutuhkan waktu yang lama untuk berpikir. Tapi ternyata sampai batas ini ana tetap tidak bisa. Ana harap semoga hal ini tidak menjadikan ukhuwah kita sebagai Muslim menjadi rusak. Sekali lagi ana mohon maaf, Allahul musta’an.. Salam takzim ana untuk kedua orangtua antum. Barakallahu fikum’.”

Mungkin aku akan menyesalinya suatu saat nanti. Tapi sungguh, tahukah kalian? Aku memiliki sebuah cita-cita. Aku ingin membangun sebuah keluarga diatas landasan keimanan yang kokoh. Aku ingin memiliki anak-anak yang akan menjadi pembela-pembela agama-Nya, seorang Mujahid. Aku ingin memiliki anak-anak yang akan menjadi ulama yang besar sekaligus ilmuwan. Aku ingin memiliki anak-anak yang yang akan menjadi hafizh-hafizh Al Qur’an. Aku ingin anak-anakku kelak sangat bersemangat untuk datang ke Majelis ilmu syar’i, berdekatan dengan ulama-ulama tsiqoh. Berlebihankah? Jika ya, aku akan katakan : itulah cita-cita. Jika tidak, maka aku akan katakan : Aku tidak melihat teladan itu dalam dirinya.



“Wajar ukht, ana juga sudah lebih dari sepuluh tahun berkecimpung dalam organisasi ini. Tapi memang tidak semuanya mempunyai ghiroh yang tinggi dalam tholabul ‘ilmy. Islam itu bukan hanya sekedar rajin sholat, rajin puasa dan bisa baca Qur’an, tapi lebih dari pada itu. Jika beliau tidak ada minat dan semangat dalam menuntut ilmu seberapa lamanya pun masuk organisasi ini tetap saja akan seperti itu. Jika sudah malas membaca-baca buku lantas bagaimana jadinya?”

“Syukron Ya Cha..”

- Copyright © Al-Ihtisyam - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -