7 Menu Favorite Saat Buka Puasa

By : Ave Ry

Tangan sudah dua jam di atas keyboard, tapi belum dapat ide buat nulis.. Lagi blank! Tapi bernafsu untuk memposting (malu deh, jarang update). Terus keingetan kalau lagi puasa. 


So, buat ranking menu favorite buat buka puasa versi sendiri aja ahh :p

Dimulai dari peringkat bawah nih :

7. Bubur Sumsum

Makanan ini dibuat dari tepung beras, rasanya lembut-lembut gimana gitu. Kalau di daerah Jabodetabek, makanan ini gampang banget ditemuin. Murah juga sih soalnya


6. Biji Salak

Eits.. ini bukan bagian dalam buah salak :D ., makanan ini dinamakan biji salak mungkin karena bentuknya yang mirip biji salak. Dibuat dari ubi, dibulet-buletin (apa coba), terus dikasih santan deh sama gula jawa


5. Kue Serabi

Nah, makanan ini juga kalau lagi puasa gini gampang dicarinya. Walaupun banyak variasi yang terilhami dari serabi ini, seperti pancake (iya gak sih?) tapi yang original tetep paling mantap



4. Kue Onde

Sebenarnya orang-orang sering bilang kalau namanya kue klepon. Tapi gak asyik ah, udah kebiasaan bilang kue onde! Tapi lagi nih... Saya lebih suka kue onde yang dijual di daerah condet, kenapa? Soalnya kue ondenya khas, lebih kecil dan tempatnya pakai daun (seperti gambar dibawah) masuknya pas mulut. Kalau yang dijual di abang-abang biasa kegedean, harus dua kali gigit (maklum wanita, makan juga harus anggun) :p Bahannya dari tepung ketan, didalamnya ada gula jawanya gitu, kalau di gigit langsung lumer di mulut. Maknyuss…



3. Pisang Bakar

Kalau yang ini gak tau deh yang lain setuju apa gak, tapi biarin aja ah, lah menu favorite saya sendiri, hehe. Kalau mau mencari sebelum maghrib memang agak susah. Soalnya warung penjual biasanya buka malam. Paling kalau mau belinya di food court (tapi menurut saya malah kurang enak loh), atau buat sendiri aja, simple kok



2. Martabak Telor

Waduh, satu-satunya makanan yang asin disini nih. Makanan yang ini juga kalau sebelum maghrib susah dicari. Kalau di meja ada martabak telor, bakalan rebutan deh, dijamin! Makan satu mah cuma ngotor-ngotorin gigi. Paling sedikit itu satu dus sendiri, huaha



Tadaaaa.. sekarang waktunya peringkat satu, siapakah dia??

Tak lain dan tak bukan adalah si es yang suka bikin teler! Kalau di meja ada es teler, yang lain lewaaaatt.

1. Es Teler

Es serut yang didalamnya ada berbagai macam buah terus dikasih susu dan ada juga yang ditambah sirup. Yang paling simple memang yang paling enak J







Tag : ,

Bukanlah Muslim Jika Tangannya Berat Untuk Memberi

By : Ave Ry



Barangsiapa melepaskan dari seorang muslim satu kesusahan dari sebagian kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya dari sebagian kesusahan hari kiamat; dan barangsiapa memberi kelonggaran dari orang yang susah, niscaya Allah akan memberi kelonggaran baginya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aib dia dunia dan akhirat; Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. (HR. Imam Muslim)

“ Katanya islam Rahmatan Lil’alamin, kok banyak orang miskin, pengemis, semuanya mengaku muslim. Dimana Rahmatnya? “, seorang teman berkata.

Bukan satu dua kali saya mendengar orang-orang ngedumel dengan kalimat yang kurang lebih sama seperti itu. Tersinggung? Jelas!

Kalau yang berkata non-Muslim mungkin bisa dimaklumi, tapi kalau muslim sendiri yang berkata seperti itu bagaimana?

Ini dikarenakan diantara umat Muslim ada yang mengalami krisis identitas. Mereka ini adalah yang memiliki ajaran Islam secara terbatas sehingga terjadi beberapa penyimpangan yang dilakukan umat Muslim.

Hal ini terkait dengan pendidikan agama bagi generasi penerus. Untuk itu, bagi umat Muslim tidak perlu sungkan dalam membentengi diri terhadap ajaran-ajaran Islam yang menyimpang, yakni ajaran yang menghalangi umat Islam, yang menjadi umat terbanyak di Indonesia, untuk bisa menjadi Rahmat bagi seluruh manusia dan alam semesta dengan menyebarkan kasih Allah.

Allah SWT dan Rasul saw mengajak semua umat Islam supaya menjadi rahmat bagi semesta alam. Untuk mencapai itu, indikatornya adalah umat Muslim memberikan kemanfaatan bagi orang lain dan alam semesta. Karena Rahmat bisa berarti cinta kasih.

Dengan demikian, Islam adalah agama yang mengajarkan keselamatan, kemaslahatan, dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.

Karena apabila ada orang yang mengaku beragama tapi tidak memiliki kepedulian pada orang miskin, maka ia adalah pendusta beragama.

Miris memang. Dengan petunjuk yang sedemikian sempurna, tetapi petunjuk yang berasal dari Sang Pembuat Peraturan itu seolah diabaikan. Sehingga orang-orang awam yang lemah imannya dan dangkal akidahnya serta pemahamannya tentang Islam jadi berburuk sangka seperti itu.

Hanya orang-orang yang ‘sakit’ lah yang malah menyalahkan ajaran Islam yang nyata-nyata berasal dari Rabb Pemilik Alam.

Tapi, dengan kesadaran bahwa orang-orang awam kurang mendapatkan pendidikan tentang Islam, maka pantaslah kalau kita sejenak merenung. Siapa sebenarnya yang bersalah dalam hal ini?

Sebelum saya semakin banyak menulis, lebih baik saya beri penjelasan dulu atas hadist yang saya cantumkan di atas tadi.

Hadist tersebut menjelaskan tentang melepaskan kesusahan orang lain dan mengandung makna yang sangat luas, bergantung kepada kesusahan yang sedang diderita oleh orang tersebut. Jika saudara-saudaranya termasuk orang miskin sedangkan ia berkecukupan (kaya), ia harus menolongnya dengan cara memberikan bantuan atau memberikan pekerjaan sesuai dengan kemampuannya; jika saudaranya sakit ia berusaha menolongnya dengan cara membantu membawa ke dokter atau meringankan biayanya; jika suadaranya dililit hutang, maka ia membantu memberikan jalan keluar, baik dengan cara memberi bantuan untuk melunasinya atau memberi arahan yang akan membantu dalam mengatasi hutang saudaranya.

Orang muslim membantu meringankan kesusahan saudaranya yang seiman, menolong hamba yang disukai oleh-Nya, dan Allah SWT., pun akan memberi pertolongan-Nya serta menyelamatkannya dari berbagai kesusahan, baik dunia maupun akhirat,

“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah pun akan menolong kamu semua…” Muhammad : 7

Memperbaiki kesejahteraan merupakan salah satu di antara tiga cara dalam memperbaiki keadaan masyarakat, sebagaimana diungkapkan oleh Abu Hasan dalam kitab “Adab ad-Dunya wa ad-Din”, yakni menjadikan manusia taat; menyatukan rasa dalam hal kesenangan dan penderitaan dan menjaga dari hal-hal yang akan mengganggu stabilitas kehidupan.

Bahkan dalam Islam, sikap untuk memberi terhadap sesama dikaitkan dengan baiknya ke-Islaman seseorang,
"Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw: 'Bagaimanakah Islam yang paling baik?' Nabi saw menjawab: 'Memberi makan (orang-orang miskin), mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal.'"

Dalam pengertian yang lebih luas, keislaman yang baik itu adalah yang memiliki kepekaan terhadap problem sosial, khususnya kesejahteraan. Ini sangat diperhatikan oleh Islam. Sebab Islam adalah agama yang sempurna. Bukan hanya mengatur hubungan dengan Allah, melainkan juga memberikan kemanfaatan kepada sesama. Menolong kaum dhuafa', mereka yang lemah.

“Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya sedekah dapat menambah harta yang banyak. Maka bersedekahlah kalian, niscaya Allah menyayangi kalian.” (Al-Wasail 6: 255, hadis ke 11)

Nah, setelah jelas pada kita bagaimana Islam mengajarkan tentang berbagi pada sesama. Maka, akan mudah bagi kita menjawab siapa yang bersalah dalam hal ini. Ajaran Islam atau Oknum yang mengaku Islam?

Karena pada hakikatnya seorang Muslim adalah manusia-manusia yang tunduk patuh pada aturan Sang Pencipta yang di ajarkan melalui lisan utusan-Nya Rasulullah Muhammad saw. Jadi ketika kita diseru untuk menolong saudara yang sedang dalam kesusahan lalu kita cuek saja, maka tidak ada bedanya kita dengan ahli kitab yang suka membangkang. Jika diperintah mereka berkata ” Kami dengar, tapi kami tidak taat ”.

Marilah saudaraku yang diberikan kelimpahan harta oleh Allah SWT, dilebihkan rezekinya dari sebagian yang lain. Mudahkan tanganmu untuk memberi pada saudaramu yang keadaannya jauh dibawahmu. Tengoklah mereka kaum fakir dhuafa, kaum papa, baik yang menadahkan tangannya atau menyimpannya dalam saku karena izzah agamanya. Janganlah terlalu cintakan dunia yang fana, karena toh akhirnya semua akan kembali pada Pemiliknya. Jadikan hartamu kekal dengan meng-infaq-kannya pada jalan yang di ridhoi-Nya


“ Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. “ Al Baqarah  245
Tag : ,

Anak STM garang..? , Siapa bilang..!

By : Ave Ry


“Ukh, anti bantuin ane ya ngajar di STM”

Ahad kemarin seorang sahabat meminta bantuan untuk mengajar di salah satu STM yang berada di Pasar Minggu. Sekolah ini memang dalam beberapa tahun belakangan rutin mengadakan SIR (Study Islam Ramadhan).

Kontan saya terkejut, STM?

Dalam pikiran berkelebat anak laki-laki dengan celana abu-abu ketat dan ngatung, plus ditambah rantai atau ikat pinggang dengan rambut model anak punk. Lantas dengan seringai seram mengeluarkan suara sumbang dan terdengarlah kata sakti, “tawuran…!!”.

Langsung saya jawab, “Afwan ukh.. enggak ah”

Tapi ternyata, saya adalah seseorang yang gampang terkena bujuk rayu!

Jadilah, dengan setengah hati dan mulut mencibir saya terima tugas super berat ini. Kenapa saya sebut berat? Karena itu tadi, mengajar anak STM tentang Islam. Sudah begitu, ini adalah pengalaman saya yang pertama kali mengajar orang dewasa. Biasanya saya hanya kebagian jatah mengajar anak SD, hoho.

Hari pertama menginjakkan kaki saya langsung masuk kedalam ruangan khusus para mentor. Tidak lagi ikut acara brieving, karena saya dan teman ternyata terlambat setengah jam dari jadwal (contoh buruk, jangan ditiru ya, hehe). Lalu kami diberikan dua helai kertas ukuran A4 yang ternyata berisi materi. Ya, hanya dua lembar untuk jam pelajaran selama dua jam! Otak saya langsung kalang kabut, stress berat.. drop sangat.. lantas memucat..

Dengan jantung berdentum keras saya masuk keruang kelas yang sudah ditentukan. 

Jreeeng… sudah duduk dengan rapi berderet-deret si putih abu-abu. Dengan dagu terangkat keatas saya ucapkan salam, “Assalammu’alaikum..” lalu dengan serempak mereka menjawab.

Strategi… Saya harus punya strategi, pikir saya keras memutar otak. Tadarus! Ya, mumpung ini bulan ramadhan. Akhirnya setelah setengah jam berlalu dengan tadarus dan test tilawah Al Qur’an sendiri-sendiri . tidak lagi punya strategi, saya harus masuk materi inti.

Guest what? Al Qur’an..

Entah karena anugrah atau apa materi ini lumayan ‘nyantol’ dikepala. Jadi, walaupun materi yang diserahkan secara mendadak itu hanya dua lembar tapi saya bisa mengeluarkan cairan pengetahuan dari kepala yang selama ini terpendam (hehe, sombong dikit nih).

Dengan lancar perjalanan mengajar dikelas pertama berakhir. Menyisakan senyum manis yang tersimpan dihati. Senyum manis atas seseorang yang telah mengagetkan saya dengan suaranya yang merdu bak Qori’ dari Saudi Arabia sana. Dengan tajwid dan makhorijal hurf tanpa cela, dengan tatapan halus berisi keluasan iman selaksa makna..



Lanjutannya nanti lagi ahh…



Manisnya Iman

By : Ave Ry




Tiga hal yang bisa membuat seseorang bisa merasakan manisnya keimanan: Mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain, mencintai seseorang karena Allah, dan tidak mau kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak mau dilemparkan ke dalam api. (H.R. Bukhari Muslim)

Imam Nawawi, ketika mengomentari hadits ini di dalam Syarh Muslim menerangkan, makna halawatul Iman adalah:

 (Merasakan nikmatnya melakukan ketaatan)

Seorang hamba yang sudah mendapatkan manisnya iman akan merasa nikmat dalam melakukan ketaatan. Segala perintah Allah akan terasa ringan baginya. Semua larangan Allah akan dengan mudah ditinggalkannya. Ketaatan baginya bukanlah beban. Larangan Allah untuknya bukanlah pembatasan kebebasan, atau pengekangan, tapi akan ia rasakan sebagai suatu bentuk kasih sayang Allah agar ia selamat, baik di dunia maupun di akhirat.

 (Rela memikul seberat apapun beban dan kesulitan, demi mengharap ridha Allah dan Rasul-Nya, dan lebih memilih ridha Allah dan Rasul-Nya ketimbang tawaran keduniaan)

Rasulullah mensifati keimanan di sini sebagai sesuatu yang manis. Manisnya makanan dapat terasa di lidah jika kondisi badan sedang sehat, bilamana badan tak sehat rasa manis itu pun hilang. Begitu juga halnya iman, manisnya tidak akan dirasa jika iman bermasalah…

Rasulullah saw bersabda:
Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, segala perkara baik baginya dan itu tidak terjadi kepada selain orang mukmin. Jika ia diberi kesenangan ia bersyukur, dan itu adalah terbaik baginya. Dan jika ia ditimpa kesulitan ia bersabardan itu adalah terbaik baginya. (HR. Muslim)

Manisnya iman itu harus di cari dan diusahakan, salah satu tips agar kita merasakan manisnya iman adalah, kita harus memiliki satu amalan yang dirahasiakan. cukup kita dan Allah saja yang tahu, rahasiakan amalan itu walau kepada orang terdekat kepada kita sekalipun. Dan satu lagi, untuk meraih manisnya iman banyak-banyaklah berdoa seperti sebuah doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw:

Ya Allah, sesungguhnya aku meminta cintaMu, kecintaan orang yang mencintaiMu, juga amalan yang menyampaikanku kepada kecintaan terhadapMu. Ya Allah, jadikanlah kecintaan terhadapMu melebihi kecintaanku terhadap diriku, hartaku dan air yang dingin.

Bila seseorang senantiasa mengutamakan kecintaan kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya, daripada kepentingan dirinya sendiri, maka akan lahirlah sikap ridha terhadap Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai din-nya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya. Keridhaannya itu dibuktikan dengan selalu menghadiri halaqahnya, terlibat dengan kegiatan dakwah di lingkungannya dan menginfakkan sebagian harta dan waktunya untuk kemaslahatan tegaknya agama Allah swt.

Apa yang dirasakan oleh seseorang bila ia telah ridha terhadap Allah, agama dan Rasulnya?

Pertama, Ia akan merasakan “Istildzadz at-Thaa’ah”, lezatnya ketaatan kepada Allah swt., baik dalam shalatnya, tilawah Qur’annya, pakaian dan pergaulan islaminya, perkumpulannya dengan orang-orang shaleh dan keterlibatannya dalam barisan dakwah

Kedua, Ia juga akan merasakan “Istildzadz al-masyaqat”, lezatnya menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan dalam berdakwah. Kelelahan, keletihan, dan hal-hal yang menyakiti perasaannya akibat celaan orang karena menjalankan syariat Islam, atau bahkan mencederai fisiknya, semua itu semakin membuatnya nikmat dalam berdakwah. Semua inilah yang akan senantiasa melahirkan manisnya Iman.

“Istildzaadz at-thaa’ah”, lezatnya ketaatan kepada Allah ditunjukan oleh wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun wahyu yang memerintahkan mereka untuk berhijab dan menutrup auratnya, mereka langsung meresponnya dengan senang hati dan lapang dada, tanpa merasa berat sedikitpun. Aisyah ra. yang menjadi saksi mata atas hal ini berkata :

 “Semoga Allah merahmati wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun kepada mereka ayat “hendaknya mereka mengenakan kain panjang (jilbab) sampai ke atas dada mereka,” mereka memotong kain-kain mereka, lalu mereka menjadikan kain-kain itu sebagai penutup kepalanya

Abu Ayub Ayub Al-Anshary, ketika mendengar seruan jihad, Dalam surat At-Taubah : 41

 “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” 

Abu Ayub berseru kepada anak-anaknya, “Jahhizuuny! Jahhizuuny!” siapkan peralatan perangku!. Anak-anaknya membujuk agar bapaknya tidak perlu berangkat untuk berjihad, karena usianya sudah udzur, cukup di wakilkan saja oleh anak-anaknya. Abu Ayyub menolak bujukan anak-anaknya seraya berkata : “ketahuilah wahai anak-anakku, yang dimaksud ayat tersebut adalah خِفَافًالَكُمْ وَثِقَالاً لٍي , ringan bagi kalian berat bagiku, beliaupun tetap berangkat dan menemukan syahidnya dalam perjalanan jihad tersebut. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Sedangkan Lezatnya kesulitan (Istildzadz al-masyaqqah) dalam dakwah dirasakan oleh Rasulullah saw., ketika beliau menghadapi ketidaksukaan orang-orang kafir terhadap ajaran Islam, sebagaimana yang ditunjukan oleh masyarakat Thaif ketika Rasulullah saw. hijrah ke sana, yaitu pada saat Nabi menyampaikan dakwahnya, mengajak mereka untuk menerima ajaran Islam, tetapi tidak ada sedikitpun sambutan baik dari para tokoh mereka, bahkan dengan nada yang sangat melecehkan dan menyakitkan, mereka menanggapi dakwah Nabi seraya berkata,

“Coba kau robek kiswah ka’bah jika engkau memang benar-benar utusan Allah.”

Yang lainnya pun turut berkomentar,

“Apa tidak ada lagi orang yang lebih pantas diutus oleh Allah selain engkau?”

Dengan penuh kesabaran dan ketabahan Rasulullah saw. menerima kenyataan pahit tersebut, beliau tetap berlapang dada dan tidak mempermasalahkan tentang penolakan dan penentangan mereka. Oleh karena itu ketika malaikat penjaga gunung Alaihissalaam menawarkan kepada Nabi, bila beliau setuju ia akan mengangkat dua buah bukit yang ada di Thaif lalu ditimpakan kepada mereka, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang Rasulullah saw. menanggapinya seraya berkata,

 “Tetapi aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang rusuk mereka kelak orang-orang (generasi) yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.”

Syaikh Abu Muhammad bin Abi Jamroh mengibaratkan manisnya iman dengan sebuah pohon, sebagaimana firman Allah :

 “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (Ibrahim : 24)

Yang dimaksud kalimat dalam ayat tersebut adalah kalimatul ikhlas لا اله الا الله, batang pohonnya adalah pangkal iman, cabang dan rantingnya adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dedaunannya adalah kepedulian terhadap kebajikan, buahnya adalah amal ketaatan, rasa manisnya adalah ketika memetiknya, dan puncak manisnya adalah ketika matangnya sempurna saat dipetik, disitulah sangat terasa manisnya. 

Dari Anas ra, dari Nabi saw. bersabda, “Tiga perkara jika kalian memilikinya, maka akan didapati manisnya iman. (Pertama) orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. (Kedua) agar mencintai seseorang semata-mata karena Allah swt. (Ketiga), tidak senang kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah swt, sebagaimana ketidak-senangannya dilempar ke dalam api neraka.” (HR Bukhar Muslim dengan redaksi Muslim)

Dari Al-Abbas bin Abdil Muttalib, bahwasanya ia mendengar Rasulallah saw. bersabda, “Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR. Muslim)

Hadits ini sangat agung maknanya, termasuk dasar-dasar Islam, berkata para ulama, “Arti dari manisnya iman adalah mersakan lezatnya ketaatan dan memiliki daya tahan menghadapi rintangan dalam menggapai ridha Allah dan Rasul-Nya, lebih mengutamakan ridha-Nya dari pada kesenangan dunia, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam hadits tersebut Rasulullah saw. menjelaskan bahwa tiga perkara bila kalian berada di dalamnya maka akan didapati manisnya iman, karena sarat mendapatkan manisnya sesuatu adalah dengan mencintainya, maka barang siapa yang mencintai sesuatu dan bergelora cintanya, maka ketika berhasil mendapatkannya, ia akan merasakan manis, lezat dan kegembiraannya. Karena itu seorang mukmin yang telah mendapatkan manisnya iman yang mangandung unsur kelezatan dan kesenangan akan diiringi dengan kesempurnaan cinta seorang hamba kepada Allah swt. Dan kesempurnan itu dapat diwujudkan dengan3 hal :

Pertama : menyempurnakan cinta kepada Allah yaitu dengan menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari yang lainnya, karena cinta kepada Allah tidak cukup hanya sekedarnya, tetapi harus melebihi dari yang lain-Nya

Kedua : menjadikan cinta kepada Allah menjadi pangkal dari cabang cinta kepada yang lain, yaitu mencintai orang lain semata-mata karena dan untuk Allah swt., sehingga dalam mencintai ia tetap mengikuti prosedur dan mekanisme cinta yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan Sunnah, misalnya tidak berkhalwat, menyegerakan akad nikah dan menghindari perbuatan yang mendekati pada perzinahan. (tidak pacaran) (QS. 24 : 30-31, 33 : 59)

Ketiga  : menolak segala hal yang bertentangan dengan cinta-Nya, yaitu tidak menyukai hal-hal yang bertentangan dengan keimanan melebihi ketidaksukaannya bila dirinya dilemparkan ke dalam api neraka.

Amar bin Yasir berkata, “Ada tiga hal yang barangsiapa berada di dalamnya ia merasakan manisnya keimanan, berinfak dari kekikiran, bersikap adil terhadap manusia dari dirinya, dan mengupayakan keselamatan (salam) bagi alam.” (Diriwayatkan Abdurazzaq, Bukhari mencantumkannya di kitab Al-Iman).

Hadits yang dibawakan oleh Amar bin Yasir ra. tersebut di atas, juga menjelaskan tentang tiga hal yang dapat mendatangkan manisnya iman

Pertama : berinfak secukupnya, tidak berlebihan sehingga menzalimi hak-hak yang lainnya, tapi juga tidak kikir dengan hartanya

Kedua : bersikap objektif, tidak menghalanginya untuk berbuat baik dan adil kepada manusia, walaupun ada kaitannya dengan kepentingan diri sendiri, misalnya walaupun disakiti dan dizalimi oleh seseorang, tetapi tidaka menghalanginya untuk memaafkannya dan tetap berbuat baik kepadanya

Ketiga : Menebarkan kesejahteraan kepada seluruh alam semesta, memperjuangkan sesuatu demi kebaikan manusia dan seluruh makhluk lainnya, seperti dengan melakukan kegiatan amal siasi maupun amal khidam ijtima’i (kegiatan sosial)

Ibnu Rajab berkata dalam kitab Fathul Bari 1/27 : “Maka apabila sebilah hati telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan, karena itulah Nabi Yusuf AS berkata : “Ya Rabb! Penjari lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan kepadaku” (QS. Yusuf : 33)

Source :
  1. Materi Tarbiyah
  2. Saduran dari Situs Bersama Dakwah & Dakwatuna

Belum Berjudul

By : Ave Ry



“Apalagi yang kamu tunggu? Usia sudah lebih dari cukup untuk menikah”

Aku hanya terdiam saat ami berkali-kali membahas hal yang sama. Memang, dalam keluarga kami tidak ada gadis berusia lebih dari dua puluh lima tahun yang belum menikah. Jadi sangat wajar jika ami berkali-kali membahas hal itu dalam hampir tiap obrolan kami. 

“Ami malu sama saudara-saudara yang lain. Tiap kali pertemuan keluarga mereka selalu menanyakan kapan kamu akan menikah. Kamu kan tahu sendiri.”

Sungguh ami, nia pun ingin segera menikah.

“Bukankah kamu yang ingin mendapatkan suami yang baik agamanya? Lantas kenapa kamu menolak Zaky? Dia itu kan sudah baik agamanya, bagus bacaan Qur’annya. Lalu apa lagi?”

Lagi-lagi aku hanya bisa diam dan menundukkan kepala. Aku benar-benar tak tahu lagi harus berkata apa. Alasan yang aku kemukakan kemarin tidak masuk akal menurut siapapun juga. “Bukankah sudah menjadi kewajiban istri untuk mengikuti suami kemana saja dia mau membawa kita? Jadi apa masalahnya jika dia mau membawa kita untuk tinggal bersama orangtuanya?” begitu selalu yang orang-orang katakan ketika aku mengemukan alasan mengapa aku menolak.

“Ami capek sama kamu nia! Apa kamu gak takut kalau nanti kamu tidak akan pernah menikah karena menolak seorang pria sholeh? Kan kamu yang lebih tahu agama”

Percakapan terhenti dengan berlalunya ami dari beranda rumah kami.

Ya Rabb, rasanya ingin aku bersimpuh meminta maafnya karena tidak bisa menjadi anak yang berbakti. Aku belum bisa mengabulkan apapun juga permintaan ami. Tapi lidahku kelu, tenggorokanku sesak dan mataku berusaha untuk tidak menumpahkan linangan airnya.

“Lia gak habis pikir kak. Kenapa sih kakak menolak akh Zaky? Beliau itu orangnya baik kak. Kalau kita kekurangan dana aja beliau yang suka nambahin. Orangnya gak pelit. Mending kakak baca-baca buku lagi deh tentang pernikahan. Lia tuh sedih tau gak kak! Lia kenal sama akh Zaky, Lia udah anggap akh Zaky itu abang Lia sendiri”

Sebenarnya aku sedikit emosi ketika temanku Lia yang mulanya menyodorkan biodata kepadaku itu mulai memaksaku untuk menerima. Aku merasa seperti terintimidasi. Dengan bahasanya yang lugas dia mengungkapkan bahwa sebagai seorang istri itu harus manut dengan suami. Belum lagi aku jadi teringat saat proses ta’aruf seorang temannya berkata padaku, “Tidak ada manusia yang sempurna sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tidak baik menjadi orang yang terlalu perfeksionis”. 

Abi, salahkah Nia karena telah mengecewakan orang-orang ini?

“Lia, tolong sampaikan pada beliau : ‘Afwan Ya Akhi, ana tidak bisa meneruskan proses ta’aruf ini lebih lanjut. Ana sadar akan menjadi pihak yang bersalah karena telah mengulur-ngulur waktu. Membuang-buang waktu antum. Sebenarnya selama ini ana sedang memantapkan hati, karena ana tidak mau ceroboh dalam mengambil keputusan sehingga ana membutuhkan waktu yang lama untuk berpikir. Tapi ternyata sampai batas ini ana tetap tidak bisa. Ana harap semoga hal ini tidak menjadikan ukhuwah kita sebagai Muslim menjadi rusak. Sekali lagi ana mohon maaf, Allahul musta’an.. Salam takzim ana untuk kedua orangtua antum. Barakallahu fikum’.”

Mungkin aku akan menyesalinya suatu saat nanti. Tapi sungguh, tahukah kalian? Aku memiliki sebuah cita-cita. Aku ingin membangun sebuah keluarga diatas landasan keimanan yang kokoh. Aku ingin memiliki anak-anak yang akan menjadi pembela-pembela agama-Nya, seorang Mujahid. Aku ingin memiliki anak-anak yang akan menjadi ulama yang besar sekaligus ilmuwan. Aku ingin memiliki anak-anak yang yang akan menjadi hafizh-hafizh Al Qur’an. Aku ingin anak-anakku kelak sangat bersemangat untuk datang ke Majelis ilmu syar’i, berdekatan dengan ulama-ulama tsiqoh. Berlebihankah? Jika ya, aku akan katakan : itulah cita-cita. Jika tidak, maka aku akan katakan : Aku tidak melihat teladan itu dalam dirinya.



“Wajar ukht, ana juga sudah lebih dari sepuluh tahun berkecimpung dalam organisasi ini. Tapi memang tidak semuanya mempunyai ghiroh yang tinggi dalam tholabul ‘ilmy. Islam itu bukan hanya sekedar rajin sholat, rajin puasa dan bisa baca Qur’an, tapi lebih dari pada itu. Jika beliau tidak ada minat dan semangat dalam menuntut ilmu seberapa lamanya pun masuk organisasi ini tetap saja akan seperti itu. Jika sudah malas membaca-baca buku lantas bagaimana jadinya?”

“Syukron Ya Cha..”

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong

By : Ave Ry


“ Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.. “ Al Baqarah : 153

Allah SWT menjelaskan bahwa sebaik-baik alat bantu dalam menghadapi berbagai musibah adalah kesabaran dan shalat. Hal ini juga diterangkan Allah SWT oleh ayat sebelumnya dalam Surah yang sama,

“ Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', “ Al Baqarah : 45

Sesungguhnya seorang hamba adakalanya mendapat nikmat kemudian mensyukurinya atau ditimpa bencana tetapi sabar dalam menghadapinya. Dalam sebuah hadist yang dijelaskan dalam kitab Musnad Imam Ahmad, Rasulullah Saw bersabda,


Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin itu, tidaklah menetapkan sesuatu melainkan hal itu baik baginya. Jika mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. ( HR. Muslim )


Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa kesabaran bisa dibagi dalam tiga bentuk yaitu :

1. Sabar ketika meninggalkan berbagai hal yang diharamkan dan perbuatan dosa
2. Sabar ketika melakukan ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT
3. Sabar dalam menerima dan menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan

Sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdurrahman bin Zaid binAslam, “ Kesabaran terdapat dalam dua pintu: Pertama, sabar dalam menjalankan hal-hal yang dicintai Allah SWT walaupun terasa berat bagi jiwa dan raga. Kedua, sabar dalam menjauhi hal-hal yang dibenci oleh Allah SWT walaupun sangat diinginkan hawa nafsu. Jika seseorang telah melakukan hal itu, maka ia benar-benar termasuk orang-orang sabar yang Insya Allah akan memperoleh keselamatan. “

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Beliau juga berkata, “ Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:
1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain.

Secara bahasa sabar artinya tertahan. Orang Arab mengatakan, “Qutila fulan shabran” (artinya si fulan dibunuh dalam keadaan “shabr”) yaitu tatkala dia berada dalam tahanan atau sedang diikat lalu dibunuh, tanpa ada perlawanan atau peperangan. Dan demikianlah inti makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian syar’i.

Ia disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung penahanan lisan untuk tidak berkeluh kesah, menahan hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan dalam bentuk menampar-nampar pipi, merobek-robek kain dan semacamnya. Maka menurut istilah syari’at sabar artinya: Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya.

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95).

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Di dalam al-Qur’an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan”

Karena sabar merupakan poros, sekaligus inti dan asas segala macam kemuliaan akhlak. Jika kita telusuri lebih lanjut ternyata hakekat seluruh akhlak mulia, sabar selalu menjadi asas atau landasaannya. Misalnya :

1. ‘Iffah (menjaga kesucian diri) adalah merupakan bentuk kesabaran dalam menahan diri dari memperturutkan syahwat.
2. Syukur adalah bentuk kesabaran untuk tidak mengingkari nikmat dari Allah SWT.
3. Qana’ah (merasa cukup dengan apa yang ada) adalah sabar dengan menahan diri dari angan-angan dan keserakahan.
4. Hilm (lemah lembut) adalah kesabaran dalam mengendalikan amarah.
5. Pemaaf adalah sabar untuk tidak membalas dendam.

Demikian pula keutamaan akhlak lainnya, semuanya bersumbu pada kesabaran. Dengan kata lain secara psikologis kita bisa memaknai kesabaran sebagai suatu kemampuan untuk menerima, mengolah, dan menyikapi kenyataan. Jadi sabar adalah upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu untuk mencapai ridho Allah SWT.

Maka orang yang sabar adalah orang yang mampu menempatkan diri dan bersikap optimal dalam setiap keadaan. Sabar bukanlah sebuah bentuk keputus asaan tapi merupakan optimisme yang terukur. Ketika menghadapi situasi dimana kita harus marah misalnya maka marahlah secara bijak dan diniatkan untuk kebaikan bersama.

Sedangkan sholat adalah ibadah yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan gerakan dan bacaan tertentu seperti yang telah dicontohkan Rasulullah SAW. Sholat adalah ibadah paripurna yang memadukan olah pikir, gerak, dan rasa. Ketiganya terpadu secara serasi dan selaras dan saling melengkapi. Dalam sholat terintegrasi proses latihan meletakkan kendali diri secara proporsional, mulai dari gerakan, inderawi, aql, dan pengelolaan nafsu yang pada akhirnya akan menghasilkan jiwa yang bersifat muthma’innah.

Orang yang memiliki jiwa muthma’innah inilah yang pada akhirnya akan mampu mengaplikasikan nilai-nilai sholat dalam keseharian yaitu nilai-nilai yang didominasi kesabaran paripurna. Prakteknya tercermin dalam sikap penuh syukur, pemaaf, lemah lembut, penyayang, tawakal, qana’ah, menjaga kesucian diri, istiqomah dsb. Dengan kata lain, orang yang sholatnya baik dalam hidupnya akan dipenuhi sifat sabar yang tercermin dalam tingginya akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itulah maka Rasulullah, para sahabat, dan orang-orang shaleh menjadikan sholat sebagai istirahat, sarana pembelajaran, media pembangkit energi, sumber kekuatan dan pemandu untuk meraih kemenangan. Ketika mendapat rezeki melimpah, sholatlah ungkapan kesyukurannya. Ketika beban hidup makin berat, maka sholatlah yang meringankannya. Ketika rasa cemas membelenggu, sholatlah yang membebaskannya.
Maka tak heran bila khubaib bin Adi ketika akan menjalani eksekusi mati, dedengkot kafir quraisy memberi kesempatan untuk mengajukan permintaan terakhirnya. Apa yang dia minta? Ternyata yang diminta adalah kesempatan untuk sholat. Dengan kusyuk sholat dua rakaat ditunaikan. Selepas itu beliau berkata,”Andai saja aku tidak ingin dianggap takut dan mengulur-ulur waktu niscaya akan kuperpanjang lagi sholatku ini”.

Memang sholat yang baik akan menghasilkan kemampuan bersabar. Sebaliknya kesabaran yang baik akan menghasilkan sholat yang berkualitas yaitu terjadinya dialog dengan Allah SWT sehingga melahirkan kenikmatan, ketenangan yang tak terhingga di hati. Barangsiapa yang mampu merasakan nikmatnya berdialog dengan Allah SWT didalam Sholat maka niscaya Allah SWT akan membuka lebar-lebar pintu pertolonganNya.

Ingatlah juga janji Allah SWT,

“ Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya akan Allah berikan jalan keluar dan Allah akan berikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka. ” Ath Thalaq : 2-3

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi Saw bersabda,

Ketahuilah, sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran. Bersama kesempitan pasti akan ada jalan keluar. Bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan.” (HR. Abdu bin Humaid di dalam Musnadnya dan Al Haakim dalam Mustadrak ‘ala Shahihain, III/624).

Source :
- Kitab Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid I
- Artikel muslim.or.id
- Artikel untaianhikmah.blogspot.com


Penggalan Huruf Di Awal Surat Dalam Al-Qur’an

By : Ave Ry



Penggalan huruf-huruf yang terdapat pada awal beberapa surat adalah huruf-huruf yang hanya Allah saja yang mengetahui maknanya. Pendapat seperti ini diriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali Ibn Thalib dan Ibnu Mas’ud Radhiallahuanhum.

Sebagian ahli Bahasa Arab mengatakan bahwa Ia adalah huruf-huruf Mu’jam. Allah mencukupkan menyebut sebagian darinya dan tidak menyebutkan selebihnya yang seluruhnya berjumlah 28 huruf, sebagaimana seseorang mengatakan “Anakku dapat menulis huruf Alif, Ba, Ta, Tsa…” artinya anak tersebut bisa menulis 28 huruf-huruf hijaiyyah, hanya saja ia menyebutnya sebagian saja.” Demikian yang diceritakan Ibnu Jarir (Tafsir ath-Thabari).

Dilihat dari hikmah disebutkannya huruf-huruf hijaiyyah di awal-awal surat ini, terlepas dari makna yang terkandung di dalamnya, bahwa penggalan huruf-huruf yang disebutkan itu dimaksudkan untuk menunjukkan mukjizat Al-Qur’an dan menjelaskan bahwa makhluq tidak bisa membuat tandingannya. Padahal ia hanyalah rangkaian dari penggalan huruf-huruf yang biasa mereka gunakan dalam percakapan sehari-hari.

Menurut As-Suyuti, pembukaan-pembukaan surat (awail Al-Suwar) atau huruf-huruf potongan (Al-Huruf Al-Muqatta’ah) ini termasuk ayat-ayat mutasyabihat. Sebagai ayat-ayat mutasyabihat, para ulama berbeda pendapat lagi dalam memahami dan menafsirkannya. Dalam hal ini pendapat para ulama pokoknya terbagi dua. Pertama, kelompok ulama yang memahaminya sebagai rahasia yang hanya diketahui Allah. As-Suyuti memandang pendapat ini sebagai pendapat yang mukhtar (terpilih). 

 “Dari Ibnu Abbas, berkata ia : “Alif Lam Ra, Ha’ Mim dan Nun adalah huruf-huruf Al-Rahman yang dipisahkan (Dikeluarkan oleh Ibn Abi Hatim dari Jalan Ikramah).

“Dari Ibnu Abbas tentang Kaf, Ha’ Ya,’Ain, Sad, berkata ia : “Kaf dari  Karim (Pemurah), Ha dari Hadin (Pemberi Petunjuk), Ya dari Hakim (Bijaksana), ‘Ain dari Alim (Maha Mengetahui) dan Sad dari Sadiq (Yang benar). (Dikeluarkan oleh Al-Hakim dan lainnya dari jalan Said Ibn Jubair).

Ada pendapat mengatakan bahwa huruf-huruf itu adalah nama-nama bagi Al-Qur’an, seperti al-Furqan dan al-Zikir.

Az-Zamakhsyari mengatakan, “Huruf-huruf tersebut tidak disebutkan keseluruhannya di awal Al-Qur’an, namun penyebutannya diulang-ulang untuk menguatkan tantangan dan ketidakmampuan manusia menyainginya. Sebagaimana halnya beberapa kisah yang penyebutannya diulang-ulang. Dan telah diulang-ulang juga tantangan dari Allah secara terang-terangan dalam banyak ayat.”

Ada yang disebutkan satu huruf saja, seperti Shad, Nun, Qaf. Ada yang disebutkan dua huruf, seperti Ha Mim. Ada yang tiga huruf, seperti Alif Lam Mim. Ada yang empat huruf, seperti Alim Lam Mim Ra. Dan ada yang lima huruf, seperti Kaf Ha Ya ‘Ain Shad. Karena demikianlah Uslub (Metode) Bahasa Arab dalam pembentukan kalimat. Ada yang satu huruf, dua, tiga, empat dan ada yang lima huruf, tidak ada yang lebih dari itu.

Oleh karena itu setiap surat yang dibuka dengan huruf-huruf ini pasti disebutkan didalamnya penjelasan tentang kehebatan dan kebesarannya. Hal itu dapat diketahui melalui penelitian. Itulah yang ditemui dalam 30 surat.

“Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa “ Al Baqarah : 1-2

“Alif laam miim. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya “Ali 'Imran : 1-2

“Alif laam mim shad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. “Al A'raaf : 1-2

“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji “ Ibrahim : 1

“ Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah “Thaahaa : 1-2

“ Thaa Siim Miim. Inilah ayat-ayat Al Quran yang menerangkan “  Asy Syu'araa' : 1-2

“ Thaa Siin. (Surat) ini adalah ayat-ayat Al Quran, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan, “An Naml : 1

“ Thaa Siin Miim. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah)” Al Qashash

“ Yaa siin. Demi Al Quran yang penuh hikmah “ Yaasiin : 1-2

“ Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. “ Fushshilat : 1-2

“ Haa Miim. 'Ain Siin Qaaf. Demikianlah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, mewahyukan kepada kamu dan kepada orang-orang sebelum kamu. “  Asy Syuura : 1-3

Dan ayat-ayat lain yang menunjukkan kebenaran pendapat para ulama tersebut bagi siapa saja yang mau menelitinya.

“ Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka ” Fussilat : 26

Ulama salaf berpendapat bahwa “Fawatihus Suwar” telah disusun sejak zaman azali sedemikian rupa supaya melengkapi segala yang melemahkan manusia dari mendatangkannya seperti Al-Qur’an.

Oleh karena i’tiqad bahwa huruf-huruf ini telah sedemikian dari azalinya, maka banyaklah orang yang tidak berani menafsirkannya  dan tidak berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap huruf-huruf itu. 

Huruf-huruf itu dipandang masuk dalam golongan mutasyabihat yang hanya Allah sendiri yang tahu artinya.
Huruf-huruf itu, sebagaimana pernah ditegaskan oleh Asy-Syabi, ialah rahasia dari pada Al-Qur’an ini.
Ali ibn Abi Thalib pernah berkata :

 “Sesungguhnya bagi setiap kitab ada saripatinya, sari pati Al-Qur’an adalah huruf-huruf Hijaiyah”.

Abu Bakar Ash-Shiddiqie pernah berkata :

 “Pada setiap kitab ada rahasianya, dan Rahasia dalam Al-Qur’an ialah permulaan surat-suratnya”.

Dalam hal ini Prof. Hasbi Ash-Shiddiqie menegaskan bahwa dibolehkannya mentakwilkan huruf-huruf tersebut asal tidak menyalahi penetapan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam pada itu yang lebih baik kita serahkan saja kepada Allah. Wallahu’alam..

Source :
-          Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1
-          MasBied.com

Aku & FAJRI FM ( PI )

By : Ave Ry



Aku yakin, jika kita bersungguh-sungguh untuk memperbaiki diri dan mencari jalan yang lurus, maka Allah SWT akan memberi kemudahan jalan bagi kita untuk menemukannya. Aku, tiga tahun yang lalu adalah seorang penggemar musik yang kerap dilantunkan oleh penyanyi atau band-band asing. Dengan kadar ke-Islaman yang bisa di bilang kurang kalau tidak awam. Tapi anehnya kala itu aku merasa menjadi orang Islam yang baik karena aku merasa tidak pernah melakukan dosa-dosa besar. Tapi perasaan itu kini lenyap tanpa bekas.

Qodarullah, aku terperangkap dalam sebuah kelompok sesat yang sangat mengerikan bagiku. Pada awalnya aku dengan semangat menggebu mengikuti dengan tekun setiap kegiatan mereka. ‘Kajian’  mereka sangat menggugah hatiku. Pembahasan seputar betapa pentingnya peran kita sebagai umat Islam yang telah ‘Hijrah’ untuk menegakkan Daulah Islamiyah yang ditegakkan sesuai pemahaman mereka. Tiga bulan berlalu pada saat itu, tapi hati kecilku entah kenapa sering memberontak atas apa-apa yang mereka beri tahu padaku.

Mereka bilang sholat yang kita lakukan selama ini tidak wajib karena pada saat ini belum ‘Futuh’, jilbab itu artinya menjaga keamanan kelompok. Walaupun hatiku memberontak tapi aku tidak bisa membantah karena mereka menyodorkan ayat-ayat Al-Qur’an dhadapanku. Ingin rasanya aku bertanya pada seseorang yang mengerti agama ini dengan baik, tidak seperti aku yang kala itu benar-benar awam. Tapi, mereka bilang aku tidak boleh bercerita pada siapapun. Selama itu aku hanya merenung. Dalam kegelisahan yang sangat aku berdoa agar Allah SWT menuntunku kejalan yang lurus.

Aku mungkin adalah salah satu manusia abad ini yang keranjingan pada teknologi internet. Hatiku yang demikian gelisah akhirnya membuatku berpikir, bagaimana kalau aku mencari tahu tentang kelompok ini lewat internet. Akhirnya dengan waktu yang tidak begitu lama dan menautkan bukti-bukti aku menemukan bahwa ternyata aku masuk dalam kelompok NII KW IX yang berafiliasi dengan Ma’had Al-Zaytun di Indramayu. Perasaanku begitu kalutnya kala itu. Ingin rasanya bercerita pada keluarga, tapi aku merasa percuma karena aku tahu keluargaku pun sama awamnya denganku.

Aku ingin bertanya tapi aku tidak tahu bertanya pada siapa. Aku ingat saat itu aku mencoba bertanya pada salah satu teman di Facebook yang aku ingat diantara teman-teman Indonesiaku sedikit sekali yang punya nama ‘Islami’. Jadi, ketika aku menemukan nama Islami dan domisilinya Indonesia aku langsung bertanya padanya “ Maaf, apakah anda mengenal Islam dengan baik? “. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan lawan bicaraku itu via Facebook. Dengan sedikit percakapan akhirnya ia menyarankanku untuk mendengarkan siaran FAJRI FM.

Sungguh lucu ketika mengingat saat pertama mendengarkan siarannya. Mulai hari pertama, kedua, ketiga aku perhatikan tidak ada musik! Siarannya full dengan Kajian Islami dan diselingi dengan Murottal Qur’an. Telingaku yang terbiasa mendengarkan musik agak ajaib juga begitu terus-menerus mendengarkan siaran FAJRI FM. Secara perlahan aku paham kenapa Radio ini tidak menperdengarkan lagu-lagu. Ternyata banyak mendengarkan lagu itu membuat hati menjadi keras. Tapi, Alhamdulillah aku masih bisa mendengarkan nasyid-nasyid Islami yang menggugah semangat dan kadang juga membawa perasaan terhanyut dengan pengalaman atau kisah orang yang mendapatkan hidayah. Menurutku sangat pas sekali antara nasyid yang melatar belakangi dan kisah yang dipaparkan itu sendiri, juga pembawa acaranya yang membawakannya dengan baik dan penuh penghayatan.

Secara bertahap aku mulai memperbaiki tata cara sholatku, bagaimana cara berdo’a, dzikir setelahnya, bersikap pada teman, orang tua dan keluarga. Pada bulan-bulan awal aku mendengarkan siaran FAJRI FM adalah saat yang menakjubkan bagiku, sekaligus juga aku mendapatkan cemoohan dari keluargaku sendiri. Adikku bilang begini, “ Ya elah kak, udah kayak di Arab aja dengerin ginian terus, bosen tau! “. Saat itu aku cuek saja, tapi seketika itu juga adikku merubah gelombang Radionya. “ Sok alim “, begitu katanya. Tiap kali aku mau mendengarkan FAJRI FM, Radio dirumahku langsung digunakan sebagai pemutar CD Player. Terdengarlah musik-musik itu kembali. Tapi itu tidak seberapa, aku sampai menangis tak tertahankan saat Ibuku bilang “ percuma dengerin beginian tapi kelakuan masih gak bener “ lalu Ibuku mematikan Radionya kala itu. Sungguh aku tidak bisa menahan tangis lagi, hatiku benar-benar sakit. Aku akui aku bukanlah orang yang baik apalagi alim. Tapi, aku mau berusaha untuk memperbaiki diri dan merubah perilaku hidupku menjadi lebih baik. 

Tak ada satupun dari keluargaku yang suka mendengarkan kajian-kajian Islami. Keinginanku yang sangat besar untuk memperdalam pengetahuanku tentang Islam membuatku bertahan untuk terus mendengarkan siaran FAJRI FM. Aku tak menghiraukan kicauan berisik keluargaku. Saat setelah Shubuh Ayahku dengan tekun menonton berita di Televisi, aku sudah bersiap didepan Radioku untuk mendengarkan kajian pagi. Saat setelah Isya Ibuku dengan mengharu biru menonton sinetron, aku sudah siap dengan buku catatanku kalau-kalau ada yang perlu dicatat dari kajian malam. Saat menunggu kendaraan atau tengah berada di kendaraan umum aku pasang headseat untuk mendengarkan Adab-adab Islami dan setelah itu dilanjut dengan Murottal Qur’an.

Assalammu'alaikum...

By : Ave Ry

Dari Abdullah bin Amr, bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, "Islam bagaimanakah yang lebih baik?" Maka beliau menjawab, "Memberi makan dan mengucap salam kepada orang yang engkau kenal dan tidak engkau kenal."

Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:
1.      Islam memiliki nilai humanisme yang sangat tinggi. Sebab Islam bukan hanya mengatur hubungan kepada Allah, melainkan juga pada sesama.

2.      Memberikan makan kepada fakir miskin dan upaya meningkatkan kesejahteraan mereka merupakan salah satu ajaran Islam yang sekaligus menunjukkan betapa tingginya humanisme Islam;

3.      Muslim hendaknya menciptakan kedamaian di manapun ia berada. Menyebarkan salam kepada siapapun, baik yang dikenal maupun tidak adalah bagian dari upaya ini, sepanjang tidak dikhawatirkan mereka itu orang kafir;

4.      Rasulullah adalah teladan terbaik yang sangat luar biasa. Beliau menjawab pertanyaan dengan jawaban yang paling tepat sesuai dengan kebutuhan penanya.
Ucapan salam, yaitu "Assalamu'alaikum warohmatulloh wabarakatuh" memiliki arti.
Arti dari masing-masing katanya:

1. "salam", yg berarti "selamat".
2. " 'alaikum", yg berarti "atas kalian"
3. "rahmatullooh", yg berarti "rahmat ALL
AH"
4. "barokaatuh", yg berarti "barokah dari ALL
AH"

So, ucapan salam bila diucapkan :
Assalaamu alaikum ......... 10 kebaikan
warahmatulloh ..................20 kebaikan
wabarokatuh..................... 30 kebaikan

Didalam tradisi Yahudi ternyata juga memiliki kemiripan loh., hanya berbeda lafazh pengucapan aja 

Shalom aleichem (atau sholom aleichem) (bahasa Ibrani שלום עליכם shālôm ʻalêḵem; bahasa Yiddish שלום־עליכם şolem aleyxem) adalah sebuah salam dalam bahasa Ibrani, yang berarti "Damai kiranya menyertaimu". Jawaban yang tepat adalah "Aleichem shalom".

Bentuk salam seperti ini lazim ditemukan di Timur Tengah. Salam ini dilakukan dalam bentuk jamak - sehingga digunakan untuk menyalami banyak orang - meskipun misalnya digunakan untuk satu orang saja. Sebuah penjelasan religius untuk hali ni ialah bahwa orang menyalami baik tubuh maupun jiwa.

Shalom Aleichem juga merupakan ejaan alternatif bagi nama samaran penulis Yiddish Sholom Aleichem.
Shalom dapat juga diterjemahkan dengan "Damai": damai yang dirasakan secara pribadi, ketenangan dan keseimbangan mental yang mendalam, yang dirasakan sebagai hadiah bagi kita yang menghargai Allah.


- Copyright © Al-Ihtisyam - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -